Mala Jinaya tidak pernah menyangka satu malam akan mengubah seluruh hidupnya.
Ia hanya seorang junior di sebuah perusahaan yang terbiasa menunduk, mengalah, dan berkata "nggak apa-apa" setiap kali rekan senior memanfaatkannya.
Sampai sebuah kejadian membuatnya harus menikah diam-diam dengan Rafael Ibra—lead engineer yang bahkan nyaris tidak pernah ia temui di kantor.
Tidak ada pesta.
Tidak ada cinta.
Bahkan, tidak ada perasaan apapun di antara mereka.
Hanya sebuah pernikahan yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Dan yang lebih buruk, mereka harus berpura-pura tidak saling mengenal di tempat kerja.
Namun akankah mereka akan tetap begitu? atau ada yang berubah seiring berjalannya waktu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon songjihee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
07. Semakin Kalut
Ibra membiarkan Naya meluapkan seluruh emosinya hingga tenaga gadis itu benar-benar habis. Ibra tidak mengatakan apa-apa untuk beberapa saat.
Kepala Naya bersandar lemas di dada Ibra, napasnya naik turun tidak teratur, dan tangannya yang tadi memukul kini hanya mampu mencengkeram kain kemeja Ibra dengan jemari gemetar.
Dada Ibra terasa nyeri, tetapi ia bahkan tidak memedulikannya. Yang terus terbayang di kepalanya hanyalah wajah Naya sejak pagi tadi sangat ketakutan, kebingungan, dan tatapan kosong yang seolah tidak tahu harus berpegangan pada siapa.
Ia mengusap punggung Naya dengan gerakan sangat perlahan, penuh kehati-hatian.
"Dengar saya, Naya..." bisik Ibra dengan suara berat dan dalam. "Saya tahu kata maaf dari saya enggak akan pernah bisa ngembaliin apa yang hilang dari kamu hari ini. Tapi saya janji, saya enggak akan pernah lari."
Naya tidak tahu bagaimana caranya mengatakan bahwa orang yang paling ingin ia temui sejak pagi justru adalah orang yang paling ia takut kecewakan. Bunda dan Ayah.
Naya menggeleng pelan, suaranya tercekik dan hampir tenggelam dalam deru angin sungai. "K-kalau Bunda tahu... Bunda gimana. A-ayah juga pasti marah... Aku takut."
Perkataan Naya yang parau membuat Ibra makin memejamkan mata rapat-rapat. Penyesalan itu makin dalam menggores hatinya. Sungguh alur gila yang terjadi, namun menyesali tak akan membuat semua kembali.
"Bunda kamu enggak akan tahu apapun dari saya sebelum kamu sendiri yang siap mengatakannya," tegas Ibra pelan. "Tapi kalau nanti... kalau nanti ada konsekuensi yang harus kita hadapi, kamu enggak sendirian. Saya yang akan berdiri paling depan di hadapan Bunda sama Ayah kamu."
Naya memejamkan matanya rapat-rapat. Rasa takut, rasa berdosa pada ibunya, serta trauma luka lama yang tersimpan rapat di pergelangan tangannya seolah melebur jadi satu beban raksasa yang menindih dadanya sampai sesak.
Kemungkinan-kemungkinan mengerikan begitu jelas tergambar di kepala.
Setelah beberapa menit hening yang hanya dihiasi deru angin sungai dan deburan air di bawah jembatan. Ibra melonggarkan pelukannya perlahan. Ia membimbing Naya kembali ke mobil, membukakan pintu, dan memastikan gadis itu duduk dengan aman, lalu memasangkan sealtbelt.
Sepanjang perjalanan menuju rumah Naya. Naya hanya menatap kosong ke luar jendela, tak mengeluarkan suara, sementara Ibra fokus menyetir sambil terus melirik kondisi Naya yang tampak begitu lelah.
Saat mobil akhirnya berhenti beberapa meter dari pagar rumah sederhana milik Naya, Ibra mematikan mesin.
"Naya," panggil Ibra lembut sebelum Naya keluar.
Naya berhenti, jemarinya tertahan di pintu mobil.
"Nomor saya sudah ada di HP kamu," ujar Ibra, suaranya terdengar sangat serius dan tulus.
"Kapan pun kamu merasa takut, pusing, atau butuh sesuatu... hubungi saya. Kamu punya hak penuh atas tanggung jawab saya. Jadi, jangan simpan semuanya sendirian."
Naya tidak menjawab. Ia hanya mengangguk tipis tanpa berani menatap mata Ibra, lalu membuka pintu mobil dan melangkah turun. Tubuhnya masih terasa lemas dan kakinya masih sedikit pincang, namun ia berusaha berjalan setegar mungkin menuju pintu depan rumahnya.
Tangannya bahkan sudah terangkat untuk membuka pintu ketika terdengar suara langkah tergesa-gesa dari dalam.
Dari balik kemudi, Ibra memperhatikan punggung Naya masuk ke dalam rumah sampai pintunya tertutup rapat. Ibra menyandarkan kepalanya di setir mobil, menghembuskan napas panjang yang amat berat.
Satu malam kelam telah berlalu, meninggalkan takdir rumit yang kini mengikat garis hidup Ibra dan Naya entah sampai kapan.
"Ya Tuhan, apa rencana-Mu," lirih Ibra dengan tatap kosong.
****
Ratna—Bunda Naya memeluk tubuh putrinya erat-erat usai pintu tertutup. Pelukan hangat yang biasanya menjadi tempat paling aman di dunia, kini justru membuat dada Naya makin sesak. Menyadari kalau dirinya sudah sangat mengecewakan bundanya.
"Naya! Kamu ke mana aja, Sayang? Bunda sama Ayah khawatir setengah mati semalaman telepon, tapi kamu enggak angkat-angkat!" bisik Bunda dengan suara bergetar. "Ayahmu bahkan tidur jam tiga subuh nungguin kabar kamu."
Naya membeku dalam dekapan ibunya. Ia memejamkan mata rapat-rapat, menguatkan diri agar air matanya tidak menetes di pundak Bunda.
"Maaf, Bunda..." jawab Naya lirih, mencoba menyusun nada suara setenang mungkin.
Satu detik. Dua detik. Naya harus menelan seluruh tangis yang kembali naik ke tenggorokannya sebelum akhirnya memaksakan sebuah kebohongan keluar.
"Semalam... semalam acaranya kemalaman. HP Naya mati kehabisan baterai. Terus... Naya nginep di rumah Gea, temen kantor Naya yang pernah Naya ceritain itu." Bohong, Naya tak pernah bercerita apapun, ini murni alibinya saja.
Naya membuang pandangannya ke lantai, tidak sanggup menatap manik mata ibunya. Rasa bersalah yang teramat besar membakarnya karena telah melontarkan kebohongan sebesar ini.
Ia hanya ingin melindungi orang tuanya. Ia tak sanggup membayangkan Ayah dan Bunda hancur jika tahu kenyataan pahit yang sebenarnya. Ia tak akan pernah bisa membayangkan itu.
"Kenapa enggak kabarin lewat HP Gea, Nak?" tanya Bunda lembut, menguraikan pelukannya dan menatap wajah pucat putrinya.
"Naya ketiduran, Bun... ketiduran karena capek banget," bisik Naya tertunduk. "Naya enggak apa-apa kok, Bun. Naya mau langsung mandi dulu ya, mau istirahat."
Bunda menatap lekat-lekat jejak memerah di sekitar mata Naya dan raut wajahnya yang begitu muram.
"Kamu nangis?"
Naya langsung menggeleng. "Enggak."
Jawaban itu terlalu cepat.
Bunda tidak langsung percaya, tetapi ia juga tidak memaksa. Tangannya hanya mengusap pipi Naya pelan, seolah sentuhan sederhana itu cukup untuk mengatakan bahwa ia ada di sana.
"Ya sudah... mandi ganti baju ya, Nak," ujar Bunda mengusap kepala Naya dengan kasih sayang. Di dalam hatinya, Bunda menyelipkan doa tulus agar anak tunggalnya itu selalu dalam lindungan Tuhan dan selalu baik-baik saja.
Naya melangkah cepat masuk ke dalam kamarnya di lantai dua, mengunci pintu rapat-rapat.
Begitu kunci berputar, Naya menyandarkan punggungnya pada pintu.
Baru sekarang ia berani menarik napas panjang.
Namun napas itu justru berubah menjadi isakan.
Tanpa membuang waktu, ia menyalakan speaker kecil di atas mejanya, memutar daftar lagu dengan volume lumayan kencang untuk menutupi penderitaannya, seperti biasa. Begitu musik memenuhan ruangan, Naya langsung masuk ke kamar mandi.
Begitu air shower mengalir, Naya merosot perlahan ke lantai kamar mandi. Lututnya ditarik ke dada dan kedua tangannya memeluk tubuh sendiri erat-erat.
Air terus mengalir, membasahi rambut dan wajahnya. Entah mana yang lebih deras, air dari shower atau air mata yang sejak tadi tak tertahan.
Sakit. Rasanya sakit sekali.
Naya menangis tanpa suara selama beberapa detik sebelum akhirnya isakannya pecah.
"Maaf, Bunda..."
Kalimat itu keluar berkali-kali di sela tangisnya.
Bukan karena ia merasa bersalah atas apa yang terjadi kepadanya, melainkan karena ia takut kehidupan orang tuanya ikut hancur setelah mengetahui semuanya. Dadanya kian sesak, sampai-sampai tak sadar tangannya meremas kuat dada kirinya, tepat dimana jantungnya berdetak.
****
Di sebuah apartemen mewah kawasan pusat kota, Ibra baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit pinggangnya. Rambutnya yang basah meneteskan air ke lantai.
Ibra menyambar ponselnya yang masih di charger di atas nakas, menggeser layar untuk memeriksa notifikasi. Ia berharap ada pesan atau panggilan masuk dari perempuan bernama Naya itu. Namun, layarnya bersih, tidak ada pesan sama sekali.
Menghembuskan napas berat sembari menyandarkan tubuhnya pada pinggiran meja, Ibra mengacak rambutnya. Logikanya mulai bekerja menyusun kepingan-kepingan ingatan semalam.
Ada yang sangat aneh.
Ibra tahu betul semalam ia mabuk berat, tetapi ia sadar betul dirinya menyewa kamar 1004 itu atas namanya sendiri untuk beristirahat. Lalu mengapa Naya bisa berada di dalam kamarnya?
Ibra terdiam sejenak, mencoba mengingat semuanya.
Kamar itu ia pesan sendiri, atas namanya. 1004 itu nomor dari kamar yang ia pesan. Dan setahunya, ia pergi ke kamar itu seorang diri.
Lalu, bagaimana Naya bisa sampai di sana?
Ingatan samar melintas—Ibra ingat saat bertanya pada Naya di perjalanan pulang tadi. Naya mengaku dengan suara parau bahwa hal terakhir yang ia ingat setelah dipaksa minum alkohol adalah rasa tubuhnya dipapah, lalu semuanya gelap.
Ibra terdiam cukup lama.
Ingatan itu membuat rahangnya mengeras.
Kalau Naya memang dibawa ke kamar itu dalam keadaan tidak sadar, berarti ada sesuatu yang tidak ia ketahui.
Dan seseorang pasti tahu bagaimana semuanya bermula.
Tak lama rasa bersalah yang teramat dalam kembali mencengkeram dada Ibra. Ia tahu persis, alkohol tidak membuat kenyataan itu menjadi lebih ringan. Apa pun yang sebenarnya terjadi semalam, Naya berada dalam keadaan tidak berdaya ketika semuanya terjadi. Begitupun dirinya.
Dan dia tidak bisa mengabaikan kenyataan bahwa perempuan itu kini menanggung akibat yang begitu besar.
Ibra kembali mengacak rambutnya, sangat frustrasi. Kenapa jadi begini? Lantas matanya kembali menoleh pada layar ponsel, menataonya lama sebelum meraihnya.
Dengan tangan gemetar, Ibra membuka room chat, mengetikkan sebuah kalimat singkat kepada mamanya
^^^Ibra|^^^
^^^Ma, Ibra bikin kesalahan besar.^^^
Pesan itu terkirim. Namun Ibra tidak langsung meletakkan ponselnya.
Jemarinya masih menggantung di atas layar, seolah ada banyak hal lain yang ingin ia katakan tetapi tidak tahu bagaimana menyampaikannya.
Kejadian ini tidak masuk akal. Ia berpikir kemungkinan negatif yang bisa saja dilakukan oleh kesengajaan seseorang. Rasa bersalah Ibra pun kini bercampur dengan sesuatu yang lain.
Kecurigaan.
Ibra yakin ada bagian dari kejadian semalam yang sengaja disembunyikan seseorang.
Ada dorongan kuat di dalam dirinya yang menegaskan bahwa ini bukan sekadar kebetulan tragis akibat alkohol.
Ibra mengepalkan tangannya erat-erat. Ini harus diselidiki sampai tuntas.
Ibra menatap layar ponselnya sekali lagi. Ia belum tahu siapa yang membawa Naya ke kamar itu.
Tapi ia akan mencari tahu.
Makasih thor lanjut up ya