NovelToon NovelToon
Setelah Mati, Aku Hidup Kembali Untuk Balas Dendam

Setelah Mati, Aku Hidup Kembali Untuk Balas Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Dia meninggal dalam kesengsaraan, dikhianati oleh suami dan sahabatnya sendiri. Tapi takdir memberinya tiket pulang ke masa lalu. Siren terbangun kembali di tubuh mudanya, lima tahun sebelum tragedi itu menghancurkan hidupnya. Kali ini, dia bukan lagi istri penurut yang naif. Dengan ingatan utuh tentang setiap kebohongan Fadli dan setiap rencana jahat Nia, Siren bersiap memainkan skenario baru. "Kalian pikir aku lemah? Tunggu saja sampai kalian melihat siapa yang sebenarnya memegang kendali." Di kehidupan barunya, Siren tidak hanya fokus menghancurkan karir dan rumah tangga Fadli, tetapi juga membangun imperiumnya sendiri. Di tengah permainan kucing-kucingan yang penuh sarkasme dan ketegangan ini, hadir Arya Wijaya—konglomerat dingin yang di kehidupan sebelumnya ia abaikan. Arya bukan sekadar pelarian. Dia adalah sekutu cerdas yang menyadari perubahan drastis pada Siren. Bersama Arya, Siren mengubah air mata menjadi senjata, dan rasa sakit menjadi bahan bakar untuk bangkit. Siap-siap m

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MAKAN SIANG

Restoran The Skyline di lantai 45 Wijaya Tower sepi pada jam makan siang hari kerja. Hanya ada tiga meja yang terisi, semuanya oleh eksekutif yang berbicara dengan suara rendah. Aku melangkah masuk, dan pramugari restoran langsung membungkuk hormat sebelum memandu aku ke meja paling privat di sudut ruangan—meja yang menghadap langsung ke pemandangan kota Jakarta dari balik kaca panoramic.

Arya sudah duduk di sana. Ia mengenakan kemeja putih lengan panjang tanpa dasi, lengan bajunya digulung sampai siku, memperlihatkan forearms yang tegap. Di hadapannya hanya ada segelas air mineral dan tablet tipis yang layarnya menyala redup. Saat melihatku, ia berdiri, dan menarik kursi untukku dengan gerakan yang halus namun tetap berwibawa.

"Selamat siang, Siren," ucapnya, suaranya berat namun hangat. Tidak ada gelar formal. Tidak ada jarak profesional yang kaku seperti di ruang rapat. Hari ini, ia memanggilku dengan nama depan. Dan itu terasa... berbeda. Lebih personal. Lebih intim.

"Selamat siang, Tuan Arya," balasku sambil duduk. Aku meletakkan tas di sisi kursi, lalu menatapnya. "Terima kasih sudah menyiapkan tempat ini."

"Kemenangan pertama Anda layak dirayakan di tempat yang tenang," jawabnya, kembali duduk di seberangku. Matanya menelusuri wajahku, seolah memastikan bahwa aku benar-benar baik-baik saja setelah proses notarisasi tadi pagi.

"Bagaimana perasaan Anda? Bukan secara strategis. Tapi secara... manusiawi."

Pertanyaan itu mengejutkanku. Di dunia bisnis, tidak ada yang pernah bertanya tentang perasaanku setelah sebuah kesepakatan besar. Yang mereka tanyakan selalu tentang angka, timeline, atau risiko berikutnya. Tapi Arya? Ia menanyakan jiwaku.

Aku menghela napas pelan, membiarkan bahu ku turun sedikit.

"Jujur? aku Sangat lega. Tapi juga... aneh. Seperti baru saja melepas beban yang telah kugendong selama lima tahun, tapi tubuhku belum sepenuhnya percaya bahwa beban itu benar-benar hilang."

Arya mengangguk perlahan, ekspresinya penuh pengertian.

"Itu wajar. Tubuh dan pikiran butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan kebebasan. Jangan paksa diri Anda untuk merasa 'senang' sekarang. Cukup rasakan leganya. Sisanya akan datang dengan sendirinya."

Pelayan datang membawa menu. Arya memesankan steak salmon dan salad untukku, serta grilled chicken untuk dirinya sendiri, tanpa perlu bertanya apa yang kuinginkan. Ia tahu. Atau setidaknya, ia cukup peka untuk memilih makanan yang tidak terlalu berat, mengingat emosiku masih aktif pasca-notarisasi.

"Sementara kita menunggu makanan," ucap Arya, mendorong tabletnya ke arahku,

"saya ingin membahas langkah berikutnya. Tim intelijen saya telah menyelesaikan analisis mendalam terhadap struktur keuangan Nia Tanjung. Dan hasilnya... lebih buruk dari yang kita duga."

Aku mengambil tablet itu, mataku menyapu data yang terpampang di layar. Grafik aliran dana, daftar transaksi mencurigakan, dan foto-foto dokumentasi yang diambil secara diam-diam. Napasku tercekat sesaat saat melihat satu baris data yang ditandai merah.

"Dia... dia menggunakan rekening atas nama ibu kandungnya untuk mencuci uang suap?" tanyaku dengan suara bergetar bukan karena sedih, tapi karena marah yang tertahan.

"Benar," jawab Arya, nadanya datar tapi mengandung amarah yang sama.

"Dan bukan hanya itu. Dia juga telah mengajukan pinjaman pribadi senilai lima ratus juta rupiah dari perusahaan tempat dia bekerja, dengan jaminan palsu berupa sertifikat tanah milik Fadli yang sebenarnya sudah dibebani hipotek ganda. Jika pinjaman itu jatuh tempo bulan depan dan tidak bisa dibayar, perusahaan itu akan menyita aset Fadli—aset yang seharusnya menjadi bagian dari pembagian perceraian Anda."

mataku menyipit menatap Arya, "Dia mencoba mencuri sisa-sisa kekayaannya bahkan sebelum perceraian resmi selesai?"

"Tepat sekali," jawab Arya, matanya terkunci padaku.

"Nia bukan sekadar selingkuhan. Dia adalah parasit yang terorganisir. Dan jika kita tidak bertindak sekarang, dia akan berhasil menggerogoti aset Anda sebelum Anda sempat menikmatinya."

"Apa rekomendasimu?" tanyaku, suaraku kini stabil kembali. Emosi telah berubah menjadi fokus tajam.

"Pertama," ucap Arya, jari telunjuknya mengetuk layar tablet,

"kita blokir semua akses Nia ke sistem perbankan Fadli hari ini juga. Saya sudah menyiapkan surat kuasa khusus yang bisa Anda tanda tangani setelah makan siang. Dengan dokumen itu, bank akan membekukan semua rekening terkait dalam waktu dua jam."

"Kedua," lanjutnya,

"kita laporkan pinjaman fiktif Nia ke divisi compliance perusahaan tempat dia bekerja. Bukan sebagai ancaman. Tapi sebagai fakta hukum yang tidak bisa dibantah. Mereka akan melakukan investigasi internal, dan dalam waktu tujuh hari kerja, Nia akan diskors tanpa gaji. Tanpa penghasilan, dia tidak akan mampu membayar cicilan pinjamannya. Dan ketika default terjadi, aset Fadli akan aman karena klaim perusahaan akan kalah prioritas dibanding hak sah Anda sebagai mantan istri."

Aku mengangguk, otakku bekerja cepat mencerna strategi itu. "Dan ketiga?"

Arya tersenyum tipis. Senyum yang jarang kulihat darinya. Senyum seorang predator yang menikmati permainan.

"Ketiga," ucapnya pelan,

"kita biarkan Nia berpikir dia masih memegang kendali. Kita tidak akan mengonfrontasinya langsung. Kita biarkan dia terus bergerak, terus membuat kesalahan, terus menggali kuburnya sendiri. Karena setiap langkah ceroboh yang dia ambil adalah bukti tambahan yang bisa kita gunakan nanti—bukan hanya untuk menghancurkannya secara finansial, tapi juga secara sosial."

Aku menatapnya, jantungku berdegup kencang. Bukan karena takut. Tapi karena kagum. Arya tidak hanya memberiku senjata. Ia mengajariku cara menggunakannya dengan presisi bedah.

"Kamu sangat... teliti," gumamku, suaraku hampir berbisik.

"Saya belajar dari yang terbaik," balasnya, matanya tidak lepas dari wajahku. Ada sesuatu di tatapan itu. Sesuatu yang lebih dalam dari sekadar apresiasi profesional. Sesuatu yang membuat udara di antara kami terasa lebih tebal, lebih hangat.

Makanan datang. Kami makan dalam keheningan yang nyaman. Bukan keheningan canggung, tapi keheningan dua orang yang saling memahami tanpa perlu kata-kata. Setiap gigitan terasa seperti ritual kecil—ritual merayakan kemenangan, merayakan aliansi, merayakan awal dari sesuatu yang lebih besar.

Setelah makan, Arya menyerahkan surat kuasa khusus yang telah dicetak dan siap ditandatangani. Aku membacanya dengan seksama, memastikan setiap klausul sesuai dengan strategi yang telah dibahas. Lalu, dengan tangan yang stabil, aku menandatangani di atas garis yang disediakan.

"Dokumen ini akan saya kirimkan ke bank dalam satu jam," ucap Arya, menerima kembali kertas itu.

"Dan sore ini, saya akan personally menghubungi head of compliance di perusahaan Nia. Pastikan semuanya berjalan sesuai rencana."

Aku mengangguk, lalu menatapnya lama. "Tuan Arya... kenapa kamu melakukan semua ini? Bukan hanya sebagai mitra bisnis. Tapi sebagai... seseorang yang peduli?"

Arya terdiam sejenak. Matanya menatapku, dan untuk pertama kalinya, aku melihat kerentanan di balik ketenangan abadinya.

"Karena saya melihat wanita yang tidak menyerah pada kehancuran," ucapnya akhirnya, suaranya rendah dan jujur.

"Karena saya melihat kekuatan yang langka. Dan karena..." Ia berhenti, menelan ludah, seolah kata-kata berikutnya adalah sesuatu yang belum pernah ia ucapkan kepada siapa pun.

"karena saya ingin melindungi sesuatu yang akhirnya membuat saya merasa hidup lagi."

Udara di antara kami berubah. Ketegangan romantis yang selama ini tertahan kini mengalir deras, tak terbendung. Aku menatap matanya, dan ia menatap balik. Tidak ada kata-kata yang perlu diucapkan. Semua telah tersirat dalam keheningan yang penuh makna.

Permainan baru saja memasuki babak keenam. Dan kali ini, aku tidak hanya bermain untuk balas dendam. Aku bermain untuk sesuatu yang lebih berharga. Sesuatu yang mungkin, akhirnya, worth fighting for.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!