NovelToon NovelToon
Penulis Terakhir Langit Yang Retak

Penulis Terakhir Langit Yang Retak

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi Timur
Popularitas:196
Nilai: 5
Nama Author: Tubagus Abidin

Di Kekaisaran Xuan-Mo, realitas adalah tinta, dan kekuasaan adalah keindahan goresan. Mereka yang bisa menulis hukum alam dengan kuas emas diperlakukan sebagai dewa, sementara mereka yang gagal hanyalah noda yang harus dihapus.
Ren Zexian lahir dengan kutukan "Mata Void"—ia tidak bisa melihat keindahan ilusi dunia, hanya kerangka rapuh di baliknya. Dianggap sampah oleh klan kaligrafer elit, ia bekerja sebagai penghapus buku terlarang, hidup dalam diam hingga suatu hari ia menemukan sebuah halaman kosong yang berdarah.
Saat "The Fade" mulai menelan desa asalnya, mengubah manusia menjadi hampa tanpa ingatan, Ren menyadari bahwa kekacauan ini bukanlah bencana alam, melainkan suntingan yang disengaja oleh Dewan Langit. Dengan kuas patah dan teknik terlarang yang memungkinkan ia "menghapus" keberadaan musuh, Ren memulai perjalanan berbahaya mendaki 9 Provinsi Mengambang.
Ia bukan pahlawan yang akan melukis dunia baru. Ia adalah editor yang akan memotong bagian-bagian busuk dari cerita ini,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tubagus Abidin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Asrama Kertas Basah

Asrama Rendah Klan Kaligrafi Naga bukanlah tempat untuk beristirahat. Itu adalah kandang bagi mereka yang dianggap "cukup berguna" untuk dipelihara, namun "terlalu kotor" untuk disentuh dengan tangan telanjang.

Terletak di bagian paling bawah kompleks asrama, tepat di sebelah saluran pembuangan limbah tinta dari paviliun elit di atasnya, bangunan ini terbuat dari kayu lapuk yang selalu lembap. Dinding-dindingnya berlumut hijau pekat, dan udara di dalamnya berbau asam, campuran antara jamur, keringat basi, dan sisa-sisa Qi yang busuk.

Ren Zexian menerima kamar nomor 404—sebuah kotak sempit berukuran dua kali tiga meter tanpa jendela, hanya sebuah ventilasi kecil di dekat langit-langit yang tertutup jaring laba-laba tebal. Kasurnya hanyalah tumpukan jerami yang ditutupi tikar anyaman kasar, dan selimutnya terasa kaku karena kotoran yang menumpuk selama bertahun-tahun.

Ia meletakkan tas goni kecilnya di sudut ruangan, lalu duduk di tepi kasur. Tubuhnya masih terasa pegal akibat pertarungan tadi siang, tapi pikirannya jauh lebih lelah. Ia berhasil masuk. Ia sekarang resmi menjadi murid tingkat terendah Klan Naga. Tapi kemenangan ini terasa hambar, seperti memakan nasi yang sudah basi.

Di sini, ia bukan lagi Ren si Pemulung yang bebas. Ia adalah properti Klan. Setiap gerakannya akan diawasi. Setiap napas akan dihitung.

Tiba-tiba, pintu kamarnya didorong terbuka tanpa ketukan.

Seorang pemuda tinggi besar berdiri di ambang pintu, menghalangi cahaya redup dari lorong. Wajahnya lebar, dengan hidung pesek dan mata sipit yang licik. Di belakangnya, dua orang lainnya mengintip dengan senyum merendahkan.

"Ini dia," kata pemuda besar itu, suaranya berat dan serak. "Si jenius lumpur dari Lembah Abbu."

Ren tidak bangkit. Ia tetap duduk, menatap pria itu dengan tatapan datar. "Ada apa?"

"Aku Long Wei," kata pemuda itu, melangkah masuk ke dalam kamar sempit itu hingga memenuhi sebagian besar ruang. "Ketua Asrama Rendah. Dan di sini, ada aturan. Aturan pertama: pajak perlindungan."

Long Wei menjulurkan tangannya, telapak tangan menghadap ke atas. "Setiap minggu, kau harus memberikan setengah dari jatah pil Qi-mu, atau sepuluh tetes Tinta Murni jika kau punya. Jika tidak... well, kecelakaan di asrama ini sering terjadi. Orang bisa terpeleset, jatuh tangga, atau lupa cara bernapas saat tidur."

Ren menatap tangan itu. Ini adalah pemerasan klasik. Di Lembah Abbu, ia biasa menghadapi hal serupa, tapi di sana ia bisa lari atau bersembunyi. Di sini, ia terjebak.

"Aku tidak punya pil Qi," jawab Ren jujur. "Dan aku juga tidak punya Tinta Murni."

Long Wei tertawa, suara yang kasar dan tidak menyenangkan. "Kalau begitu, kau bekerja. Ada tumpukan gulungan latihan di aula selatan yang perlu dibersihkan dari residu Qi gagal. Kau akan mengerjakannya setiap malam setelah jam belajar. Tanpa upah. Itu harga untuk tinggal di sini."

Ren menghela napas. Ini adalah cara mereka mematahkan semangat murid baru. Memaksa mereka bekerja sebagai budak hingga kelelahan, sehingga tidak punya waktu atau energi untuk berlatih. Jika ia menolak, mereka akan membuatnya menderita secara fisik. Jika ia menerima, ia akan kehilangan waktu berharga untuk mencari informasi tentang Lin.

"Aku akan mempertimbangkannya," kata Ren dingin.

Wajah Long Wei mengeras. "Kau pikir kau siapa? Kau baru saja masuk berkat keberuntungan bodoh melawan Li Jian yang ceroboh. Di sini, kekuatan adalah hukum. Dan kau... kau lemah."

Long Wei mengangkat kakinya, hendak menendang kursi kayu satu-satunya di kamar itu sebagai peringatan.

Tapi sebelum kakinya menyentuh kursi, Ren bergerak.

Gerakannya begitu cepat sehingga hampir tak terlihat oleh mata telanjang. Ia tidak menyerang Long Wei. Ia menyerang ruang di antara mereka. Dengan ujung jari telunjuknya, ia mengetuk udara tepat di depan lutut Long Wei.

Karakter tak terlihat: "Licin".

Energi Qi tipis yang ia keluarkan mengubah koefisien gesekan lantai kayu di bawah kaki Long Wei menjadi nol seketika.

Whoosh!

Kaki Long Wei tergelincir hebat. Tubuhnya yang besar kehilangan keseimbangan, dan ia jatuh telentang dengan bunyi gedebuk yang keras, kepala membentur lantai kayu. Dua pengikutnya di belakang pintu terbelalak, tidak percaya melihat ketua mereka dikalahkan oleh trik konyol seperti itu.

Long Wei meringkuk kesakitan, memegang kepalanya yang benjol. Matanya menyala karena kemarahan dan rasa malu. "Kau... kau berani—"

"Aku hanya membantu kau membersihkan lantai," potong Ren, suaranya tetap tenang, meski jantungnya berdegup kencang. Ia tahu ia mengambil risiko besar. Menggunakan teknik aneh di depan saksi bisa membahayakan identitasnya. Tapi ia harus menetapkan batas sejak awal. Jika ia menunjukkan kelemahan sekarang, ia akan dihancurkan.

"Dengarkan baik-baik, Long Wei," kata Ren, mencondongkan tubuh ke arah pria yang masih tergeletak itu. "Aku di sini untuk belajar, bukan untuk menjadi budakmu. Jika kau atau anak buahmu mencoba menggangguku lagi, aku tidak akan sekadar membuatmu terpeleset. Aku akan membuatmu lupa bagaimana cara berjalan selamanya."

Ancaman itu disampaikan dengan nada datar, tanpa emosi, yang justru membuatnya lebih menakutkan. Long Wei menatap mata Ren—mata hampa yang tidak memantulkan ketakutan maupun kemarahan, hanya kehampaan yang dalam. Ada sesuatu yang salah dengan pemuda ini. Sesuatu yang tidak alami.

Long Wei bangkit dengan susah payah, mengusap debu dari bajunya. Wajahnya merah padam, tapi ia tidak berani menyerang lagi saat itu. Instingnya mengatakan bahwa Ren berbeda dari murid-murud lain yang pernah ia tindas.

"Kita lihat nanti, Zexian," geram Long Wei. "Ingat, malam ini ada pertemuan wajib di Aula Utama. Jangan terlambat. Atau aku akan pastikan namamu dicoret dari daftar murid."

Dengan isyarat tajam, Long Wei dan kedua pengikutnya pergi, meninggalkan Ren sendirian dalam keheningan kamar yang pengap.

Ren menghela napas panjang, bahunya merosot. Tangannya gemetar sedikit. Ia baru saja menyatakan perang terhadap penguasa asrama. Ini bukan langkah yang bijak. Tapi ia tidak punya waktu untuk permainan politik. Ia butuh akses ke Perpustakaan Cabang Klan, dan satu-satunya cara mendapatkannya adalah dengan menunjukkan nilai lebih, bukan dengan menjadi korban perundungan.

Ia membuka tas goninya, mengeluarkan gulungan anatomi dari Master Wei. Ia harus menghafal poin-poin vital tubuh manusia malam ini juga. Jika ia ingin bertahan di sarang naga ini, ia harus tahu persis di mana harus menusuk agar lawan lumpuh tanpa meninggalkan bekas luka yang mencurigakan.

Malam harinya, Aula Utama Asrama Rendah dipenuhi oleh ratusan murid baru. Mereka duduk bersila di lantai batu yang dingin, wajah-wajah mereka penuh dengan kecemasan dan harapan. Di atas panggung rendah, berdiri seorang instruktur berusia paruh baya dengan wajah ketat dan cambuk kulit di pinggangnya. Instruktur Ma.

"Selamat datang di neraka kalian," kata Instruktur Ma, suaranya menggema tanpa bantuan Qi. "Banyak dari kalian berpikir bahwa masuk ke Klan Naga adalah tiket menuju kekayaan dan kekuasaan. Kalian salah. Ini adalah tiket menuju penderitaan. Hanya satu dari seratus dari kalian yang akan naik ke Paviliun Menengah. Sisanya? Kalian akan dibuang kembali ke jalanan, atau lebih buruk, menjadi bahan eksperimen untuk pil-pil gagal."

Sebuah desisan ketakutan menyebar di antara para murid.

"Malam ini, kita akan melakukan tes dasar," lanjut Instruktur Ma. "Menulis karakter 'Kuat' (Qiang) di udara menggunakan jari kalian. Saya akan menilai kestabilan aliran Qi dan keindahan goresan. Yang gagal, akan dihukum dengan berdiri di tengah hujan tinta semalaman."

Satu per satu, murid dipanggil ke depan. Sebagian besar gagal. Goresan mereka gemetar, tidak stabil, atau terlalu tipis. Hukuman pun dijatuhkan. Teriakan kesakitan terdengar saat beberapa murid dipaksa keluar ke halaman belakang yang sedang diguyur hujan asam tinta.

Saat giliran Ren tiba, ia melangkah ke depan. Ia merasakan tatapan sinis Long Wei dari barisan belakang.

Ren mengangkat tangan kanannya. Ia tidak mencoba menulis dengan indah. Ia tidak mencoba meniru gaya kaligrafi standar yang diajarkan. Ia mengingat struktur karakter 'Kuat' dari sudut pandang Mata Void-nya. Ia melihatnya bukan sebagai simbol, tapi sebagai rangkaian tekanan dan ketegangan.

Ia menggoreskan udaranya.

Goresannya tidak bersinar emas atau biru seperti murid lain. Goresannya berwarna abu-abu gelap, padat, dan berat. Saat ia menyelesaikan goresan terakhir, udara di sekitarnya seolah-olah menjadi lebih berat selama sepersekian detik. Karakter itu tidak menghilang segera; ia bertahan di udara, bergetar pelan, seolah-olah memiliki massa fisik.

Instruktur Ma menghentikan langkahnya. Matanya menyipit, mendekati karakter abu-abu itu. Ia mengulurkan tangan, mencoba menyentuhnya. Jari-jarinya tertahan, seolah-olah ada dinding tipis di udara.

"Ini..." gumam Instruktur Ma, kebingungan. "Ini bukan Qi standar. Ini... padat. Seperti timah."

Ia menoleh ke Ren, tatapannya tajam. "Dari mana kau belajar teknik ini?"

"Dari mengamati beban," jawab Ren singkat. "Kekuatan bukan tentang cahaya, Tuan Instruktur. Kekuatan adalah tentang menahan tekanan."

Instruktur Ma terdiam lama. Kemudian, ia mengangguk pelan. "Lulus. Tapi ingat, Zexian. Keanehan akan menarik perhatian. Dan di Klan Naga, perhatian bisa berarti kematian."

Ren menunduk hormat, lalu kembali ke tempatnya. Ia bisa merasakan pandangan puluhan mata tertuju padanya. Beberapa penuh iri, beberapa penuh curiga, dan Long Wei... Long Wei menatapnya dengan kebencian murni.

Ren tahu ia telah menonjol. Ia telah membuat kesalahan. Tapi ia tidak bisa menjadi biasa. Menjadi biasa berarti dilupakan. Dan jika ia dilupakan, ia tidak akan pernah menemukan obat untuk Lin.

Saat pertemuan berakhir, Ren berjalan keluar aula, merasa lelah hingga ke tulang. Hujan tinta mulai turun lagi di luar, deras dan dingin. Ia menarik tudungnya, siap menghadapi malam yang panjang.

Tiba-tiba, sebuah secarik kertas kecil terselip di saku bajunya. Ren berhenti, merogoh sakunya. Kertas itu berasal dari seseorang yang melewatinya di kerumunan tadi.

Di atas kertas itu, tertulis dengan tulisan tangan yang rapi dan elegan:

"Pertemuan di Perpustakaan Cabang, Lorong 7, tengah malam. Datang sendiri. Bawa kuasmu. - S"

Ren menatap huruf 'S' itu. Siapa S? Sahabat? Spy? Atau jebakan lain?

Ia melipat kertas itu, menyimpannya dekat dengan kulitnya. Malam ini akan menjadi malam yang panjang. Dan di Klan Naga, rahasia adalah mata uang yang lebih berharga daripada emas. Ia harus memutuskan apakah akan mengambil risiko itu.

Dengan langkah mantap, Ren menyusuri lorong-lorong gelap asrama, menuju kegelapan yang mungkin menyimpan jawaban, atau mungkin menyembunyikan pisau yang siap menancap di punggungnya.

1
Anime aikō-kā
..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!