NovelToon NovelToon
Obsesi Gila Grayson

Obsesi Gila Grayson

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Jumarlin

Aurelia Calista seorang remaja anak satu-satunya dari keluarga sederhana Bayu dan Lila. Walaupun mereka hidup sederhana tapi Aurelia tidak kurang kasih sayang dari kedua orang tuanya.

Berbeda dengan pria bernama Grayson Balindra seorang anak broken home yang ditinggal bercerai oleh orang tuanya sehingga pemuda itu tidak mendapatkan peran apapun baru saja pindah ke sekolah aurelia. Pertemuan pertamanya dengan gadis itu membuat Grayson tertarik dan terobsesi. Dari situlah hidup Aurelia yang biasa tenang seketika berubah.

Bagaimana kisah selanjutnya, yuk baca. Obsesi gila Grayson.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumarlin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Suasana di dalam rumah sederhana keluarga Bayu dan Lila selalu berhasil menjadi tempat pelarian paling nyaman setelah seharian lelah beraktivitas di luar. Rumah mungil bercat krem dengan halaman depan yang dipenuhi tanaman pot milik Lila itu memancarkan aura ketenteraman yang tidak bisa dibeli dengan uang sebanyak apa pun.

Matahari telah sepenuhnya tenggelam, digantikan oleh temaram lampu kuning hangat yang menerangi ruang makan. Aroma sedap masakan rumahan—tumis kangkung dan ikan goreng garing—menguap ke seluruh ruangan, berpadu sempurna dengan gelak tawa kecil yang tercipta di meja makan.

Aurelia duduk di kursi kayu berpelitur cokelat tua, menikmati suapan nasi hangat sambil mendengarkan cerita ayahnya tentang pekerjaan di kantor kelurahan.

"Jadi, waktu bapak-bapak itu protes soal saluran air tersumbat, Papa langsung ajak mereka turun tangan membersihkan selokan bersama-sama. Eh, malahan jadi akrab sambil makan gorengan di pos ronda," cerita Bayu dengan mata berbinar, meletakkan sendoknya sejenak sambil tersenyum lebar.

Lila yang duduk di samping suaminya hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum gemas. "Ada-ada saja Papa ini. Bukannya diselesaikan lewat rapat resmi, malah diajak nongkrong di pos ronda."

Aurelia ikut terkekeh renyah, memperlihatkan lesung pipi manis di sebelah kanannya. "Papa sih gitu, tapi justru karena itu warga sekitar jadi hormat banget sama Papa. Kalau pejabat kelurahannya ramah kayak Papa, warganya pasti adem ayem terus."

"Tentu saja dong, Nak. Hidup itu sederhana kok, yang penting kita bisa bermanfaat buat orang lain dan nggak merugikan siapapun," jawab Bayu bijak, mengelus puncak kepala putrinya penuh kasih sayang.

Meskipun Aurelia sudah lama bersekolah di SMA Tunas Bangsa dan kini duduk di kelas sebelas, kasih sayang dan perhatian yang diberikan oleh Bayu dan Lila sama sekali tidak pernah berkurang sedikit pun. Baginya, rumah ini adalah benteng pertahanan terbaik dari segala penat dan kejenuhan di dunia luar—terutama dari kehadiran makhluk aneh bin menyebalkan bernama Grayson Balindra yang tiba-tiba datang mengusik ketenangannya.

Ngomong-ngomong soal anak baru itu, tiba-tiba bayangan bola mata amber yang tajam dan sorot mata menatapnya lekat-lekat di kelas tadi siang terlintas di benak Aurelia. Seketika itu juga, selera makannya sedikit terusik. Gadis itu mendengus pelan sambil menusuk potongan timun di piringnya dengan garpu.

"Kenapa, sayang? Kok makanannya malah diaduk-aduk begitu? Ikan goreng buatan Mama kurang asin ya?" tanya Lila menyadari perubahan ekspresi di wajah putrinya.

Aurelia mengerjap, lalu buru-buru menggelengkan kepala sambil tersenyum manis menenangkan sang ibu. "Eh, nggak kok, Ma! Masakan Mama selalu paling enak di dunia. Aurelia cuma lagi mikirin tugas sejarah dari Pak Joko yang numpuk banget."

"Namanya juga sekolah, Nak. Dinikmati dan dijalani dengan ikhlas ya. Jangan terlalu dibawa stres," timpal Bayu menasihati.

"Iya, Pa," sahut Aurelia patuh.

Selepas makan malam dan membantu Lila membereskan piring kotor di dapur, Aurelia berpamitan untuk masuk ke kamarnya di lantai dua. Kamar bernuansa pastel itu tampak rapi dengan rak buku tersusun rapi di sudut ruangan dan meja belajar menghadap langsung ke jendela luar yang menampilkan pemandangan malam perumahan.

Aurelia merebahkan diri sejenak di atas tempat tidurnya yang berseprai motif bunga-bunga kecil. Ia menghela napas panjang, menatap langit-langit kamar sambil memikirkan kejadian hari ini.

Anak baru itu benar-benar aneh, batin Aurelia bermonolog sendiri.

Sudah lama sejak pertama kali ia menginjakkan kaki di SMA Tunas Bangsa, berbagai tipe siswa sudah pernah ia temui—mulai dari yang hobi bolos, tukang pamer, sampai anak-anak teladan seperti Kak Galang sang ketua OSIS. Namun, baru kali ini ia menemukan sosok seperti Grayson Balindra. Pemuda itu tidak hanya arogan dan ugal-ugalan di jalan raya, tetapi cara ia menatap Aurelia seolah-olah menyiratkan sesuatu yang tersembunyi di balik sorot mata amber-nya yang dingin. Ada rasa penasaran yang dominan, tetapi juga ada aura posesif yang aneh dan membuat bulu kuduknya meremang.

"Ah, sudahlah! Kenapa juga aku jadi memikirkan cowok nyebelin itu sih," gerutu Aurelia pelan pada dirinya sendiri, meraup bantal guling untuk menutupi wajahnya karena merasa kesal.

Ia kemudian bangkit dari tempat tidur, melangkah menuju meja belajar, dan membuka tas ranselnya untuk mengeluarkan buku catatan sejarah serta PR matematika. Ia tidak ingin membuang waktu memikirkan hal-hal tidak penting yang hanya akan merusak suasana hatinya yang damai.

Di luar jendela kamarnya, malam semakin larut. Suara jangkrik bersahutan di kebun kecil samping rumah, menciptakan melodi penenang yang khas. Aurelia menyalakan lampu meja belajarnya, membuka lembar demi lembar buku catatan dengan telaten, menikmati kesunyian malam di dalam rumah sederhananya yang penuh cinta.

Tanpa Aurelia sadari sedikit pun, jauh di seberang sana, di dalam kamar bernuansa gelap sebuah rumah mewah di kawasan elit, seseorang sedang menatap layar ponsel dengan seringai tipis yang mengerikan.

Sebuah pesan singkat baru saja masuk ke ponsel Grayson, dikirim oleh Rian:

Data lengkap Aurelia Calista sudah di tangan, Bos. Anak tunggal, tinggal di perumahan sederhana Blok C, anak baik-baik, rajin, dan... sepertinya dekat banget sama ketua OSIS.

Grayson membaca pesan itu berulang-ulang. Bola mata amber-nya menyala di dalam kamar yang hanya diterangi lampu kota dari luar jendela. Ia mengetikkan balasan singkat dengan ibu jarinya:

Bagus. Mulai besok, awasi setiap gerak-geriknya. Jangan biarkan siapa pun mendekatinya.

Dan di tengah kehangatan serta kedamaian rumah keluarga Bayu malam itu, badai besar yang dikemas dalam bentuk obsesi gila sesungguhnya sedang bersiap menyambut kedatangan sang gadis keesokan harinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!