Lima tahun menikah tanpa keturunan, Sekar dicap "mandul" oleh keluarga Danuwijaya yang terpandang. Puncaknya, sang suami—Rendra—membawa pulang Kirana yang tengah hamil, lalu menjadikannya istri kedua dengan alasan, *"Kamu tak bisa memberi keturunan, Sekar."*
Dipaksa menandatangani izin poligami, difitnah, dipermalukan di grup keluarga, bahkan pelayan setianya disingkirkan—Sekar akhirnya memilih pergi. Ia menggugat cerai, membawa apa yang menjadi haknya, dan berbalik dari keluarga yang selama ini menginjaknya.
Takdir mempertemukannya dengan Mayjen Arka Prawiranegara—jenderal berdarah dingin di medan, namun seorang duda yang lembut pada kedua anak angkatnya. Pria yang menyelamatkannya, membelanya di depan umum, dan berjanji: *"Seumur hidup, hanya kamu. Tak akan ada istri kedua."*
Lalu takdir menampar semua yang pernah menghinanya—**Sekar hamil. Kembar tiga.** Dan hasil pemeriksaan medis membongkar kebenaran yang selama ini dikubur: **yang mandul bukan Sekar… tapi Rendra.**
Saat namanya bersinar sebagai nyonya jenderal dan bunda dari tiga bayi, Rendra datang berlutut, memohon kembali. Sekar hanya tersenyum dingin, mengelus perutnya, dan berkata pelan:
*"Kamu yang dulu tak menghargai. Sekarang… kamu sudah tak pantas lagi, Mas Rendra."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Bab 33: Tagar yang Membakar
Keesokan paginya, nama Sekar sudah lebih dulu bangun daripada dirinya.
Ketika ia turun ke ruang makan Vila Reksonegoro, layar televisi menampilkan wajahnya saat merobek pernyataan pelepasan aset. Potongan video yang sama diputar berulang-ulang, diselingi gambar Hartono membentak petugas hotel dan Kirana menutupi wajah.
Di sudut layar, dua tagar terus bergerak.
#Danuwijaya
#SekarReksonegoro
Ningsih duduk di meja dengan dua laptop, satu tablet, dan kopi yang sudah dingin. "Sudah lebih dari enam juta tayangan dari akun utama saja, Mbak. Potongan dari siaran tamu belum dihitung."
"Komentar yang mengancam?"
"Sudah saya pisahkan dan kirim ke tim hukum. Akun yang menyebarkan alamat Vila juga sudah dilaporkan."
Bening berdiri di dekat jendela, memperhatikan kendaraan yang lewat di jalan bawah. Sejak subuh, dua mobil media mencoba berhenti di gerbang.
Pak Djoyo menaruh sepiring nasi goreng di depan Sekar. "Makan dulu. Internet tidak akan menjadi lebih bijak kalau kamu kelaparan."
Sekar baru mengambil sendok ketika telepon dari pengacaranya masuk.
Tiga stasiun televisi menawarkan wawancara eksklusif. Satu program infotainment menawarkan bayaran yang cukup untuk membeli rumah di pinggir Jakarta apabila Sekar bersedia menangis di depan kamera dan menceritakan semua keburukan rumah tangganya.
"Tolak semuanya," kata Sekar.
"Mereka akan menulis bahwa Ibu takut menjawab."
"Biarkan. Keluarkan satu pernyataan saja. Seluruh perkara akan kami serahkan kepada proses hukum. Minta publik tidak menyerang anak atau menyebarkan data pribadi siapa pun."
Pengacaranya terdiam sebentar. "Termasuk bayi Kirana?"
"Terutama bayi itu."
Sekar menutup telepon lalu memaksa dirinya menyuap nasi. Rasanya nyaris tidak ada.
Ia pernah membayangkan kebenaran akan terasa seperti kemenangan. Yang datang justru gelombang besar yang tidak dapat dikendalikan siapa pun.
Netizen menggali laporan tahunan yayasan Danuwijaya, proyek-proyek pencitraan, foto keluarga harmonis, dan pidato Hartono tentang moral. Semua disandingkan dengan rekaman malam tadi. Orang-orang yang selama bertahun-tahun memuji nama Danuwijaya kini berlomba menjadikannya lelucon.
Menjelang siang, sebuah akun anonim mengunggah materi baru.
Tangkapan layar itu memperlihatkan Kirana meminta Yanti menyiapkan narasi bahwa Sekar mengalami gangguan emosi. Ada pula percakapan tentang tamu bayaran, pengarahan wartawan, dan rencana membuat Sasa menangis di dekat kamera agar Kirana terlihat sebagai ibu muda yang diserang perempuan kejam.
Ningsih memperbesar gambar. "Ini tidak ada dalam berkas kita."
"Artinya bukan pihak kita yang mengunggah."
"Seseorang dari dalam keluarga mereka?"
Sekar membaca gaya bahasanya. Pesan-pesan itu berasal dari grup yang seharusnya hanya dapat diakses segelintir orang.
"Atau seseorang ingin kita percaya begitu," katanya. "Simpan, jangan sebarkan ulang."
Bening menatap layar. "Kalau asli, mereka mulai saling menikam."
"Orang yang tenggelam akan menginjak bahu orang terdekat."
Siang itu, Hartono muncul di depan kediaman Danuwijaya untuk membacakan pernyataan. Ia menyebut keluarganya korban manipulasi digital, menuduh video telah dipotong, dan menyatakan akan mengambil langkah hukum terhadap pihak yang menyebarkan fitnah.
Sayangnya bagi Hartono, seorang tamu telah merekam seluruh acara dari awal hingga akhir.
Video berdurasi hampir satu jam diunggah tidak sampai sepuluh menit setelah pernyataannya berakhir. Publik dapat melihat bahwa layar bukti tidak dipotong dari konteks lain. Mereka juga mendengar sendiri isi dokumen yang hendak dipaksa untuk ditandatangani Sekar.
Tagar baru muncul.
#SalahkanEditan
Kali ini bahkan beberapa mitra bisnis Danuwijaya menjaga jarak secara terbuka.
Telepon Vila tidak berhenti berdering. Ningsih mematikan nomor utama setelah Pak Djoyo tiga kali menerima pertanyaan dari reporter yang menyamar sebagai petugas pengiriman.
Menjelang sore, sebuah mobil memasuki halaman setelah pemeriksaan ketat.
Ratih turun membawa koper kecil.
Sekar berdiri di teras. "Ibu seharusnya tetap di tempat yang aman."
"Tempat aman seorang ibu ada di dekat anaknya," jawab Ratih. "Kalau kamu masih ingin mengusir Ibu, lakukan setelah Ibu minum teh. Perjalanan tadi macet."
Sekar hampir tertawa, tetapi matanya lebih dulu panas.
Ratih memeluknya tanpa bertanya apakah malam tadi ia takut. Pelukan itu tidak meminta Sekar menceritakan ulang luka untuk membuktikan bahwa ia pantas disayangi.
"Ibu melihat semuanya," bisik Ratih. "Kamu berdiri seperti Eyang Wiryo."
"Saya gemetar setelah masuk mobil."
"Berani bukan berarti tidak gemetar."
Mereka masuk bersama.
Arka tidak menelepon sepanjang hari. Ia hanya mengirim satu pesan menjelang magrib.
`Jangan baca semua komentar. Makan. Tidur.`
Sekar membalas dengan foto piring kosong.
`Perintah pertama selesai.`
Balasan muncul beberapa detik kemudian.
`Bagus. Tinggal dua.`
Sudut bibir Sekar terangkat. Ningsih melihatnya, tetapi cukup bijak untuk tidak berkomentar.
Pada hari kedua, pengacara Sekar mengeluarkan pernyataan singkat. Tidak ada wawancara, tidak ada tangisan, dan tidak ada seruan menghukum siapa pun melalui media sosial.
Seluruh perkara akan diserahkan kepada hukum. Privasi anak-anak harus dihormati.
Sikap itu justru membuat dukungan membesar.
Pada hari ketiga, Bayu menelepon dari kantor Reksonegoro Group.
"Kak, saham kita tidak terganggu, tapi dewan mulai gelisah. Wartawan bertanya apakah Kakak akan kembali aktif."
"Apa jawabanmu?"
"Bahwa itu keputusan keluarga dan pemegang saham."
Bayu menurunkan suara. "Ada orang di pihak ibu yang juga tidak ingin Kakak kembali. Mereka takut pembagian pengaruh berubah."
Sekar berdiri di depan jendela, memandang kabut turun di kebun.
"Siapa?"
"Belum bisa kupastikan. Tapi pertanyaan tentang hak waris Kakak muncul terlalu cepat."
"Jangan menuduh siapa pun tanpa dokumen. Amankan notulen rapat, perubahan kuasa, dan daftar transaksi."
"Baik."
Satu perang belum selesai. Perang lain rupanya sudah menunggu di rumah ibunya sendiri.
Malam itu, pesan dari Bambang masuk.
`Jangan membesar-besarkan masalah keluarga. Tarik semua tuduhan sebelum nama kita ikut hancur.`
Sekar membacanya dua kali.
Tidak ada pertanyaan apakah dirinya selamat setelah dibius. Tidak ada kemarahan karena putrinya nyaris dijadikan barang tukar. Yang dikhawatirkan Bambang tetap satu hal: nama keluarga.
Sekar menyimpan tangkapan layar, lalu mengarsipkan percakapan tanpa membalas.
Hari keempat, ruang tamu Vila terasa seperti pusat pemantauan kecil. Televisi menayangkan rangkuman berita. Bening menerima laporan keamanan. Ratih membantu Pak Djoyo menyortir surat. Sekar dan pengacara memeriksa bukti mana yang aman dibawa ke proses perceraian.
Ningsih yang sejak pagi menatap tablet tiba-tiba berhenti menggulir layar.
Wajahnya berubah.
"Mbak."
Sekar menoleh.
"Ada akun yang mengunggah analisis hukum. Mereka bilang bahan di layar malam itu diperoleh secara ilegal." Ningsih menyerahkan tablet. "Mereka menandai organisasi advokat, kantor notaris, dan beberapa media. Sekarang akun-akun lain mulai menanyakan apakah semua bukti harus ditolak."
Di layar, satu kalimat dicetak dengan huruf besar.
Bukti curian tidak pernah menjadi kebenaran.
Sekar menutup berita televisi dengan pengendali.
Ruangan mendadak sunyi.
Danuwijaya gagal mengalahkannya dengan kebohongan.
Kini mereka akan mencoba mengalahkan kebenaran melalui cara kebenaran itu diperoleh.