Malam pesta pertunangan yang seharusnya jadi malam paling membahagiakan, **Laras Wirasena**—pianis muda dari keluarga terpandang—malah memergoki tunangannya sendiri, **Radithya Adiwangsa**, pewaris Grup Adiwangsa, sedang bermain api dengan asistennya di balik pintu yang terbuka sedikit.
Belum sempat Laras mengamankan bukti, ponselnya direbut dan videonya dihapus—oleh **Bramantya**, adik kandung Radit yang terkenal nakal, urakan, dan tak kenal aturan. Bukannya membela, cowok itu malah menyeringai menantang:
> *"Menggodaku buat balas dendam ke abangku?"*
Laras cuma menginginkan satu hal: membatalkan tunangan dan lepas dari keluarga yang menjualnya demi sebuah proyek bisnis raksasa. Tapi malam itu mengubah segalanya. Sekali, dua kali... lalu malam-malam rahasia yang tak terhitung lagi jumlahnya.
Yang tak Laras sadari: di balik topeng *bad boy* itu, Bram menyimpan sebuah bekas luka di pinggang, sebuah tato Latin di jarinya, dan satu rahasia yang telah ia pendam bertahun-tahun. Pria yang katanya cuma cari senang ini ternyata pernah menahan sebuah peluru demi menyelamatkan nyawanya di sebuah gedung konser di luar negeri—dan telah mencintainya diam-diam, jauh sebelum takdir "mempertemukan" mereka.
Ketika perselingkuhan sang tunangan meledak di depan seluruh undangan, ketika kembang api pecah di atas panggung juaranya, ketika satu ciuman viral mengguncang seluruh negeri—Laras akhirnya harus memilih: terus berpura-pura, atau mengakui bahwa satu-satunya pria yang benar-benar mencintainya justru adik dari pria yang mengkhianatinya.
Tapi Bram tak datang hanya untuk mencintainya. Ia datang untuk merebut kembali segalanya—dan menjatuhkan abangnya sendiri, sampai ke titik terdalam.
> *"Sekarang dia mantan tunanganmu, pacarku, dan calon adik iparmu. Kenapa, Mas?"*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Bab 9
Jemput Aku
Pipi kanan Laras terbakar.
Ia menatap tiara yang tergeletak di lantai. Satu safir besar masih berada di tempatnya. Tidak ada berlian yang lepas, hanya kait beludru di dalam kotak yang patah.
Bu Widuri mengusap telapak tangannya sendiri, seolah baru menyadari apa yang ia lakukan.
"Kamu sudah nggak tahu sopan santun," katanya.
Pak Broto memanggil pelayan untuk mengambil kotak itu, lalu menatap Laras tanpa sedikit pun menanyakan sakitnya.
"Masuk kamar. Mulai besok kamu di rumah dulu. Renungkan sikapmu."
"Bapak mau mengurung saya?"
"Jangan pakai kata berlebihan. Kamu istirahat beberapa hari sampai emosimu stabil."
"Emosi saya sangat stabil."
"Kalau begitu, kamu seharusnya bisa mengikuti keputusan keluarga."
Malam itu, pintu kamar Laras tidak dikunci dari luar. Tidak ada penjaga berdiri di depan. Bentuk kurungannya jauh lebih rapi daripada itu.
Keesokan pagi, sopir pribadinya tidak datang.
Mbak Ranti menelepon untuk mengatakan bahwa pihak keluarga telah membatalkan latihan konser dengan alasan Laras kurang sehat. Pertemuan dengan sponsor dipindahkan. Undangan acara amal ditolak tanpa bertanya kepadanya.
Di grup WhatsApp keluarga besar, Bu Widuri menulis bahwa Laras kelelahan setelah jadwal pertunjukan yang padat dan perlu beristirahat beberapa hari di rumah.
Doakan Laras cepat pulih, tulisnya.
Belasan pesan doa masuk. Tidak ada yang tahu ponsel Laras masih di tangannya sementara mobil, jadwal, dan akses keluar telah diambil.
Saat Laras turun untuk sarapan, dua pelayan berjaga dekat foyer.
"Saya mau keluar sebentar," katanya.
Salah satu pelayan tersenyum kaku. "Maaf, Non Laras. Ibu bilang Non harus istirahat."
"Saya cuma mau ke minimarket."
"Biar kami yang belikan."
Gerbang depan tetap bisa dibuka, tetapi satpam menerima perintah untuk tidak membiarkan Laras berjalan keluar sendirian. Kalau ia memaksa, mereka akan menelepon Pak Broto.
Tidak ada kekerasan. Hanya kesopanan yang berlapis-lapis sampai berubah menjadi tembok.
Pada hari pertama, Laras menghubungi Kirana.
Suara sahabatnya pecah oleh pengumuman bandara. "Aku balik malam ini. Serius. Aku sudah di gate."
"Bukannya kamu harus ke Surabaya Fashion Week?"
"Harus. Masalahnya pesawatku belum terbang dari tadi pagi. Sekarang katanya kru lewat batas jam kerja. Aku bisa ganti penerbangan, tapi kursi berikutnya besok."
"Jangan pulang. Selesaikan pekerjaanmu."
"Ras, kamu baru ditampar dan dikurung. Koleksi bajuku bisa menunggu."
"Nggak bisa. Ada timmu yang bergantung padamu. Aku masih bisa mengurus ini."
"Telepon polisi?"
"Mereka tidak mengunci pintu. Mereka akan bilang saya sakit dan keluarga sedang menjaga. Sebelum ada ancaman nyata, ini cuma akan jadi gosip."
"Telepon Rakai."
Laras melihat jam London di layar. Adiknya sedang berada dalam minggu presentasi akhir semester. Kalau Rakai tahu, ia akan membeli tiket pertama ke Jakarta dan mungkin menghajar Radit sebelum pesawatnya mendingin.
"Kai terlalu jauh."
"Terus kamu mau minta tolong siapa?"
Nama satu huruf berada di bagian atas daftar percakapan Laras.
V.
"Aku pikirkan," jawabnya.
Pada hari kedua, Laras berhenti mencoba keluar.
Ia mengenakan pakaian rumah, makan siang bersama Bu Widuri tanpa bicara, lalu kembali ke kamar. Ia membiarkan pelayan percaya dirinya mulai menurut.
Sore itu, rangkaian bunga dari Radit tiba bersama sekeranjang vitamin. Kartu kecilnya berbunyi, Cepat sembuh, sayang. Kita masih harus memilih mahar.
Beberapa menit kemudian Radit menelepon lewat video. Bu Widuri berdiri di pintu kamar sampai Laras mengangkat.
"Wajahmu kenapa?" tanya Radit begitu melihat sisi kanan pipinya yang masih samar merah.
Laras menoleh kepada ibunya. "Tanya Ibu."
Bu Widuri masuk ke bingkai dan tersenyum. "Alergi. Kulit Laras memang sensitif."
"Aku kirim dokter ke rumah," kata Radit.
"Nggak perlu."
"Aku khawatir. Kamu juga membatalkan latihan."
"Katanya aku perlu istirahat."
"Bagus kalau kamu akhirnya mau mendengarkan keluarga." Nada Radit lembut, tetapi kalimatnya terasa seperti kunci lain yang diputar. "Aku akan datang besok. Kita bahas detail akad di rumah saja supaya kamu nggak capek."
Laras memutus panggilan tanpa menjawab.
Bu Widuri segera mengambil ponselnya. "Kenapa kamu bersikap begitu?"
"Ibu bilang saya sakit ke semua orang. Saya sedang memainkan perannya."
"Besok perbaiki sikapmu di depan Radit."
Laras merebahkan diri dan menarik selimut. "Tentu."
Kepatuhan mendadak itu membuat ibunya akhirnya pergi. Begitu pintu menutup, Laras bangkit dan mulai memetakan satu-satunya malam ketika Radit belum sempat datang.
Ia tidak berniat berada di kamar itu saat matahari terbit dan calon pengantinnya mengetuk pintu.
Sambil berlatih dengan keyboard digital dan headphone, ia mencatat suara di bawah. Pergantian satpam pukul sebelas malam. Pelayan dapur pulang lewat pintu samping pukul setengah dua belas. Sensor gerak di taman belakang rusak setelah hujan dan belum diperbaiki.
Pintu samping menuju lorong layanan dibuka dengan kode empat angka. Seorang pelayan menekannya di depan Laras tanpa menutup tangan.
Malam ketiga, Pak Broto makan malam di luar. Bu Widuri minum obat tidur lebih awal. Laras naik ke kamar pukul sepuluh dan sengaja meminta susu hangat agar pelayan melihatnya masuk.
Ia menaruh bantal di bawah selimut, mematikan lampu, lalu menunggu.
Pukul sebelas dua puluh, hujan tipis turun.
Laras mengenakan gaun rajut selutut yang dipakainya di rumah. Mantel ada di lemari dekat foyer, terlalu dekat dengan kamera utama. Ia hanya mengambil tas kecil, ponsel, kartu, dan satu pasang sepatu datar.
Pada pukul sebelas tiga puluh dua, pintu kamar terbuka.
Ia menuruni tangga belakang tanpa menyalakan lampu. Dari dapur terdengar suara wadah plastik ditumpuk. Dua pelayan sedang bersiap pulang.
Laras bersembunyi di ruang penyimpanan sampai mereka melewati lorong, lalu mengetik kode pintu samping.
Empat. Tujuh. Dua. Satu.
Lampu panel berubah hijau.
Udara malam langsung menampar kulitnya. Hujan telah berhenti, tetapi angin membawa sisa dingin dari jalan yang basah. Laras menutup pintu perlahan, menyusuri dinding luar, lalu keluar lewat gerbang layanan saat petugas berganti posisi.
Baru setelah mencapai dua blok dari vila, ia berani berlari.
Sepatu datarnya memercikkan air. Gaun rajut itu menyerap udara lembap dan menempel pada kaki. Ia terus berjalan sampai rumah-rumah besar di belakangnya tinggal pagar tinggi dan lampu taman.
Di persimpangan, Laras berhenti di bawah lampu jalan yang pernah menjadi tempat Bram menunggunya.
Tangannya gemetar, bukan karena takut tertangkap, melainkan karena dingin yang mulai masuk ke tulang.
Ia menelepon Kirana. Panggilan tidak tersambung. Pesan terakhir sahabatnya menunjukkan pesawat akhirnya lepas landas menuju Surabaya dua jam lalu.
Rakai berada lebih dari sebelas ribu kilometer jauhnya.
Mbak Ranti tinggal di apartemen yang alamatnya diketahui keluarga. Kalau Laras datang ke sana, Pak Broto akan menemukannya sebelum pagi.
Ia tidak punya tempat pergi.
Laras membuka WhatsApp. Kontak V masih disematkan di bagian paling atas. Sejak pertemuan di tangga darurat, Bram hanya mengirim hasil skrining laboratoriumnya dan satu pesan pendek.
Masih hidup?
Laras tidak pernah menjawab.
Ia menekan nama V, lalu memilih hapus kontak. Kotak konfirmasi muncul.
Kalau ia menghapusnya sekarang, ia bisa memotong satu kesalahan dari hidupnya. Tidak ada lagi Bram yang muncul di koridor, di depan rumah, atau di pikirannya pada saat-saat terburuk.
Angin berembus. Laras memeluk dirinya sendiri.
Jarinya tetap menggantung di atas tombol hapus.
Lalu ia membatalkan.
Ia mengirim lokasi waktu nyata selama satu jam. Di bawah peta kecil itu, Laras mengetik dua kata.
Jemput aku.
Tanda centang berubah biru hampir seketika.
V: Beneran nyariin aku?
V: Bukan taktik ngulur waktu?
Laras mengetik, lalu menghapus. Mengetik lagi.
Laras: Kalau nggak mau, biarkan.
Telepon masuk sebelum pesan itu terkirim.
"Jangan pindah," kata Bram tanpa salam. Suara mesin terdengar di belakangnya. "Tunggu dua puluh menit."
"Aku nggak bilang aku menunggu."
"Kamu kirim lokasi ke aku. Jangan sok kuat sekarang."
"Bram."
"Dua puluh menit, Laras. Tetap di bawah lampu."
Panggilan putus.
Laras ingin marah karena diperintah. Namun ia tetap berdiri di sana.
Menit-menit berikutnya bergerak lambat. Dua mobil melewati persimpangan tanpa berhenti. Seorang pengemudi ojol menoleh sekilas kepada perempuan bergaun tipis yang berdiri sendirian di kawasan elite, lalu melanjutkan perjalanan.
Pada menit kedelapan belas, sepasang lampu depan menyapu tikungan.
Mobil hitam Bram berhenti terlalu cepat di tepi jalan.
Pintu pengemudi terbuka. Bram turun tanpa mematikan mesin. Ia mengenakan celana santai dan kemeja yang kancingnya tidak sejajar, seolah benar-benar berangkat sebelum sempat melihat cermin.
Begitu melihat Laras, langkahnya berubah lebih cepat.
"Kamu keluar pakai begini?"
Laras belum sempat menjawab. Bram sudah melepas mantel dan membungkus tubuhnya dari bahu sampai lutut. Kehangatan yang tertinggal di kain itu mengenai kulit Laras, membuat tubuhnya justru gemetar lebih keras.
Bram menarik kerah mantel sampai menutupi lehernya. "Tanganmu dingin banget."
"Aku baik-baik saja."
"Bohong."
Ia menarik Laras ke dalam pelukan.
Untuk pertama kalinya, Laras tidak mendorong.
Lengannya bergerak sendiri, melingkari pinggang Bram dan mencengkeram kain kemejanya. Dada lelaki itu hangat. Suara detak jantungnya lebih nyata daripada jalan basah, gerbang tinggi, atau rumah yang baru saja Laras tinggalkan.
"Aku nggak mau ke hotel," katanya, tetapi suaranya pecah di tengah kalimat.
Bram menundukkan dagu ke puncak kepalanya. "Kita nggak ke hotel."
Mata Laras memanas.
Satu tetes air jatuh ke kemeja Bram sebelum ia sempat memastikan apakah itu sisa hujan atau air matanya sendiri.