GADISKU SEORANG BAR-BAR adalah kisah komedi-aksi romantis tentang dua orang yang terlalu gengsi untuk mengaku saling mencintai, hingga akhirnya harus merobohkan seisi kota demi bisa mengikat janji seumur hidup.
Senja, seorang stuntwoman temperamental berdarah dingin, dan Gala, jurnalis investigasi nekat yang bertarung dengan rasa ingin tahu dan keputusasaan, akhirnya memutuskan hubungan dua tahun mereka yang penuh dengan pertengkaran. Namun, pertengkaran di sebuah kafe itu tidak berakhir begitu saja. Terbelenggu oleh ego yang setinggi langit, mereka menyepakati Taruhan 30 Hari: siapapun yang gagal mendapatkan pacar baru yang lebih baik dalam waktu satu bulan harus mengakui kekalahan, balikan, dan diharamkan mengucapkan kata “putus” selamanya.
Permainan gengsi tersebut dengan cepat lepas kendali dan berubah menjadi kekacauan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kopi Robusta Satu Tangan dan Peta Bawah Tanah London
Suara gemeretak kayu bakar yang dilahap api menjadi satu-satunya melodi yang memecah kesunyian di dalam pondok batu bata tua tersebut. Di luar jendela, kabut tebal khas pedesaan Inggris mulai merayap turun, menyelimuti padang rumput basah di wilayah Surrey, sekitar satu jam perjalanan darat dari batas kota London.
Helikopter siluman Sersan Broto telah mendarat dengan aman di halaman belakang pondok yang dulunya merupakan rumah aman (safe house) milik agen rahasia MI6 era Perang Dingin. Tempat itu sudah lama ditinggalkan, namun Sersan Broto selalu punya cara untuk mempertahankan akses ke fasilitas-fasilitas usang semacam ini.
Setelah adrenalin pertempuran di puncak Matterhorn mereda, kelelahan fisik dan mental akhirnya menghantam mereka. Tidak ada baku tembak, tidak ada hitung mundur bom, dan tidak ada kejar-kejaran absurd. Hanya ada keheningan yang terasa berat, namun sangat dibutuhkan.
Gala duduk bersandar di sebuah sofa beludru tua yang agak berdebu. Tangan kanannya bertumpu di atas bantal, berbalut perban putih yang rapi. Aroma salep luka bakar bercampur dengan wangi kayu pinus dari perapian. Di sebelahnya, Senja sedang membersihkan laras pistolnya dengan gerakan lambat dan metodis, matanya sesekali melirik ke arah tangan suaminya dengan sorot penuh kekhawatiran.
"Masih perih, Gal?" tanya Senja pelan, meletakkan kain flanelnya. Ia menyentuh punggung tangan Gala yang tidak terluka dengan lembut.
Gala tersenyum tipis, sebuah senyuman yang jauh lebih tenang dari biasanya. "Sedikit nyut-nyutan kalau dipakai gerak, Nja. Tapi seenggaknya telapak tangan gue nggak berubah jadi arang. Cuma… agak susah aja kalau nanti harus bikin latte art di kedai kopi."
Senja menyandarkan kepalanya di bahu Gala, menghela napas panjang. "Kadang aku mikir, Gal. Apa kita benar-benar harus sejauh ini? Berurusan dengan mafia antariksa, brankas es, saudara kembar kakekmu… Aku cuma mau kita hidup tenang. Buka kedai kopi jam delapan pagi, tutup jam delapan malam. Menghitung uang receh di laci kasir, bukan menghitung triliunan dolar yang tertahan di server antah berantah."
"Aku juga, Nja," balas Gala pelan, matanya menatap kobaran api di perapian. Ia mengingat kembali wajah hologram Mbah Tejo. "Tapi kakek gue nitipin tanggung jawab ini bukan tanpa alasan. Kalau uang lima puluh triliun dolar itu jatuh sepenuhnya ke tangan Mbah Danu, dunia yang kita kenal bakal hancur. Orang-orang kecil bakal terus diperas utang seumur hidup. Kakek gue—si tukang jahit dari Sleman itu—udah berani ngelawan sistem dunia. Masa cucunya cuma mau sembunyi?"
Di dapur terbuka yang menyatu dengan ruang tengah, terdengar suara air mendidih. Vanya sedang menyeduh kopi hitam menggunakan French press berkarat yang ia temukan di lemari, sementara Siska menggelar sebuah cetak biru fisik berukuran besar di atas meja makan kayu jati.
Sersan Broto duduk di ujung meja, menikmati kehangatan teh hitam pekat sambil merokok. Asap kreteknya berpadu dengan aroma kopi bubuk Robusta yang sengaja dibawa Vanya dari ransel cadangan Gala.
"Merapat ke sini, anak-anak muda," panggil Sersan Broto, mengetuk meja dengan ujung korek apinya. "Kita punya waktu sekitar dua belas jam sebelum jaringan intelijen Mbah Danu menyisir daratan Inggris. Kita harus merencanakan langkah selanjutnya saat pikiran kita masih jernih."
Gala bangkit perlahan, dibantu Senja, lalu berjalan menuju meja makan. Pak Joko, yang sejak tadi duduk meringkuk di dekat perapian sambil menjahit sarung tenunnya yang robek menggunakan benang seadanya, ikut mendekat sambil membetulkan kacamata minusnya yang kini dilem selotip di bagian tengah.
"Di mana persisnya sisa dana itu tertahan, Sis?" tanya Vanya, membagikan cangkir-cangkir logam berisi kopi panas ke atas meja.
Siska menekan beberapa tombol di tabletnya yang retak, menghubungkannya ke sebuah proyektor mini. Citra tiga dimensi dari peta bawah tanah kota London terpancar di atas cetak biru.
"Saat Gala memutus arus di Matterhorn, sistem fail-safe analog Mbah Tejo aktif. Dana lima puluh triliun dolar itu tidak kembali ke rekening asal, dan tidak berhasil ditransfer ke rekening Danu. Dana itu kini terkunci di dalam Buku Besar Sentral—sebuah server hibrida mekanis-digital yang terletak tepat di bawah The City of London, distrik finansial tertua di dunia," jelas Siska sambil menunjuk sebuah titik merah di bawah gedung Bank of England.
"Jaringan gorong-gorong era Victoria," gumam Sersan Broto, menghembuskan asap rokoknya. "Dulu, sebelum ada internet, bank-bank besar di London menggunakan tabung pneumatik dan lorong bawah tanah untuk memindahkan emas dan surat utang. Dewan Komisaris memanfaatkannya sebagai pusat data yang tidak bisa diretas lewat satelit."
Gala menyesap kopinya perlahan. "Terus, gimana caranya Mbah Danu mencairkan uang itu? Dia kan bawa tabung silindernya."
Siska menatap Gala dengan serius. "Tabung itu hanya memuat rute dan algoritma untuk membuka brankasnya, Gal. Namun untuk mengesahkan perpindahan hartanya, sistem Mbah Tejo membutuhkan DNA override. Darah asli keturunan Tejo Prasetyo. Mbah Danu tidak bisa menggunakannya karena dia adalah saudara kembar yang memiliki kode genetik tersendiri yang sudah ditandai sebagai 'musuh' oleh sistem Mbah Tejo."
"Singkatnya," sahut Senja, matanya menajam, "Danu butuh Gala. Hidup-hidup. Dia akan menjebak kita masuk ke sana, memaksa Gala meneteskan darahnya ke pemindai, lalu membunuh kita semua setelah dananya cair."
Keheningan kembali mengambil alih ruangan. Suara rintik hujan mulai terdengar mengetuk atap seng pondok, menambah kesan kelam pada situasi mereka. Menyerang markas bawah tanah Dewan Komisaris di jantung kota London sama saja dengan berjalan sukarela ke dalam kandang singa.
Tiba-tiba, Pak Joko berdehem, meletakkan cangkir kopinya. Mantan Grand Master itu memperbaiki kerah kemejanya yang kusut.
"Kalian terlalu fokus pada taktik militer," kata Pak Joko dengan nada tenang yang jarang ia tunjukkan. "Kalian lupa bahwa The Board of Directors pada dasarnya adalah sebuah dewan direksi perusahaan. Mereka bukan diktator militer, mereka adalah bankir, rentenir, dan aristokrat."
Semua mata menoleh ke arah Pak Joko.
"Maksud Bapak?" tanya Gala, sedikit bingung melihat bosnya tiba-tiba berbicara layaknya analis ekonomi.
"Danu tidak bisa bergerak secara terbuka di London. Distrik finansial itu diawasi oleh MI5 dan otoritas keuangan global. Kalau Danu mengerahkan pasukan bersenjata ke bawah Bank of England, saham gabungan mereka akan anjlok dalam hitungan menit karena kepanikan pasar," jelas Pak Joko, matanya berkilat cerdas di balik lensa retaknya.
Pak Joko menunjuk peta di atas meja. "Danu akan menggunakan pasukan 'hantu'—orang-orang berjas rapi, tanpa senjata api berat, mungkin hanya senjata senyap dan taktik ruang tertutup. Ini bukan perang darat, Broto. Ini adalah perampokan bank, dan kita harus bermain layaknya perampok yang lebih pintar dari manajernya."
Sersan Broto tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh respek yang jarang ia berikan kepada siapa pun. "Analisis yang bagus, Joko. Kau tidak sepenuhnya tidak berguna rupanya."
Pak Joko mendengus bangga. "Tentu saja. Saya mungkin kehilangan posisi Grand Master, tapi saya masih tahu cara kerja orang-orang serakah."
Broto mematikan rokoknya di asbak kaleng. "Kalau begitu, kita tidak akan menyerbu mereka dari depan. Kita akan menyusup melalui jalur perawatan kereta bawah tanah yang sudah mati, masuk ke dalam gorong-gorong Victoria, dan menunggu Danu di depan pintu brankas sentral itu. Biarkan dia membawa silindernya ke sana, lalu kita rebut di detik terakhir."
Gala menatap tangannya yang diperban, lalu menatap wajah-wajah di sekelilingnya. Mertuanya yang legendaris, istrinya yang tangguh, dua agen elit yang tak kenal takut, dan mantan bosnya yang licik namun cerdik. Mereka adalah kelompok yang paling tidak masuk akal untuk menyelamatkan ekonomi dunia, namun mereka adalah satu-satunya yang tersisa.
"Baiklah," ucap Gala pelan, meletakkan cangkir kopinya di atas meja dengan mantap. "Sistem kakek gue butuh darah gue buat buka pintu utamanya? Kita kasih darah gue. Tapi kali ini, uang bensin Revo gue bakal dicairkan sekalian sama bunga-bunganya."
Di luar pondok, badai hujan Inggris mulai turun menderas, menyapu kabut pagi. Namun di dalam, tidak ada kepanikan. Hanya ada fokus, persiapan, dan ketenangan yang mematikan sebelum mereka terjun ke dalam kegelapan kota London untuk mengakhiri segalanya.