Sejak kecil, Sekar hanya "anak nomor dua" di rumahnya sendiri.
Semua yang terbaik selalu untuk sang kakak, Laras—si sulung yang sempurna, cerdas, dan dibanggakan. Sekar? Cukup pakai baju bekas kakaknya, tidur di kamar bekas gudang, dan tersenyum saat dilupakan.
Maka ketika Laras membawa pulang tunangannya saat Lebaran—**Damar Wirajaya**, pewaris konglomerat yang dingin, tampan, dan kaya raya—Sekar pikir pria itu tak ada urusannya dengannya.
Ia salah besar.
Karena tatapan datar Damar selalu berhenti terlalu lama… di wajahnya. Karena hadiah, perhatian, dan "kebetulan-kebetulan" itu semua mengarah padanya. Dan pada satu malam yang tak bisa ia ceritakan pada siapa pun, Sekar menyadari kebenaran yang mengerikan:
**Bukan kakaknya yang diinginkan pria itu. Tapi dirinya.**
Damar tak akan melepaskannya. Dengan utang miliaran rupiah, perjanjian pranikah yang mengikat, dan kuasa yang bisa menghancurkan seluruh keluarganya, ia menyeret Sekar ke dalam pernikahan yang tak pernah Sekar inginkan—sementara satu-satunya cinta yang tulus, sahabat kecilnya **Rangga**, hanya bisa menatap dari kejauhi.
Tapi Sekar bukan lagi gadis yang menunduk dan menerima.
Di balik senyum patuhnya, ia menghitung. Ia menunggu. Dan ketika rahasia kelahirannya sendiri terbongkar—bahwa darah yang mengalir di tubuhnya jauh lebih rumit dari yang siapa pun tahu—Sekar berhenti menjadi mangsa.
Kali ini, dialah yang memegang pisau.
*Berapa harga sebuah kebebasan? Sekar siap membayarnya—sampai tetes terakhir.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Bab 8: "Kebetulan Searah"
Dua hari kemudian, tubuhku terbukti benar.
Sejak Damar masuk ke ruang tamu, telapak tanganku terus basah. Ia datang tepat waktu dengan kemeja biru gelap dan map tipis di tangan. Sikapnya sempurna. Ia menyalami Ayah, membungkuk sopan kepada Ibu, lalu duduk di sebelah Mbak Laras tanpa sekali pun mencariku.
Seharusnya aku lega.
"Sekar, tehnya," bisik Ibu tajam dari dapur.
Aku membawa nampan ke ruang depan. Pembicaraan tentang tanggal lamaran, daftar seserahan, dan keluarga yang akan datang dari Surabaya berhenti sesaat ketika aku menaruh cangkir.
"Terima kasih," kata Damar.
Matanya terangkat.
Hanya sepersekian detik, tetapi kulit di pergelanganku terasa nyeri lagi.
Aku mundur dan memilih berdiri dekat pintu dapur. Selama dua jam berikutnya, Ibu memanggilku untuk menambah teh, mengambil kue, mencari pulpen, dan memindahkan kursi. Semua tugas yang memastikan aku tak pernah benar-benar bisa menjauh.
Mbak Laras tampak bahagia. Sesekali Damar menoleh kepadanya dan menjawab dengan tenang. Mereka terlihat pantas berdampingan. Aku hampir berhasil menganggap ketakutanku sebagai kesalahan sampai ia berkata tanpa melihatku, "Sekar tidak ikut memberi pendapat?"
"Dia belum paham urusan beginian," jawab Ibu.
"Justru yang belum pernah menikah biasanya lebih objektif."
Tawa kecil memenuhi ruangan. Aku tidak ikut.
Menjelang sore, pertemuan selesai. Mbak Laras menerima telepon dari kantornya. Ayah pergi ke belakang memeriksa pompa air. Aku sudah hendak mengurung diri di kamar ketika Ibu memanggil lagi.
"Sekar, antar Mas Damar ambil dokumen di kantor notaris. Sekalian beli pita untuk contoh seserahan."
Aku menatapnya. "Kenapa aku?"
"Mbakmu ada urusan kantor. Ayah sedang repot. Mas Damar belum hafal daerah sini."
"Dia pasti punya sopir."
Wajah Ibu mengeras. "Jangan bikin calon kakak iparmu merasa tidak diterima. Cuma sebentar."
Damar berdiri di belakangnya, map terselip di bawah lengan. "Kalau Sekar keberatan, tidak perlu."
Ia memberiku jalan keluar dengan suara paling sopan, tepat di depan Ibu yang tidak mungkin membiarkanku mengambilnya.
"Dia nggak keberatan," jawab Ibu untukku.
Lima menit kemudian aku duduk di kursi penumpang sedannya. Aku memasang sabuk pengaman dan menempel sedekat mungkin pada pintu. Aroma interior kulit bercampur dengan wangi dingin dari bajunya.
Aroma yang sama.
Jemariku meraba gagang pintu.
"Kantor notarisnya di Jalan Riau?" tanyaku.
"Rencananya begitu."
"Rencananya?"
Damar menyalakan mesin. "Dokumennya sudah dikirim ke tempat lain. Kita ambil di sana."
Mobil meninggalkan perumahan. Jalan yang kami ambil bukan menuju pusat pertokoan yang disebut Ibu. Aku membuka peta di ponsel.
"Ini arah yang salah."
"Macet di depan."
"Peta bilang lancar."
"Peta tidak selalu tahu segalanya."
Suaranya tetap datar. Tidak defensif, tidak marah. Seolah fakta bisa berubah karena ia mengatakannya.
Aku mengirim lokasi langsung kepada Rangga tanpa menulis apa pun. Balasan muncul beberapa detik kemudian.
Mau ke mana?
Aku belum sempat menjawab ketika Damar berkata, "Kamu masih mencari pekerjaan?"
Ponselku turun ke pangkuan. "Iya."
"Perusahaan logistik di utara kota tidak cocok untukmu."
Darah surut dari wajahku. "Dari mana Mas tahu?"
"Laras bilang kamu melamar ke beberapa tempat."
Mbak Laras tidak tahu alamat surel yang diberikan Rangga.
"Saya bisa menempatkanmu di salah satu anak perusahaan Wirajaya. Posisi proyek, sesuai jurusanmu."
"Nggak perlu."
"Gajinya cukup untuk menyewa apartemen sendiri. Bukankah itu yang kamu inginkan?"
Aku menoleh tajam. "Mas tahu dari siapa?"
Ia tidak menjawab. Mobil berbelok ke jalan lebih sepi, lalu berhenti di bawah deretan pohon. Tidak ada kantor notaris. Hanya kedai kopi kecil di seberang dan beberapa ruko tutup.
"Turunkan aku."
Damar mematikan mesin.
Klik halus terdengar dari pintu.
Kunci otomatis.
Napas di dadaku langsung memendek. Aku menarik gagang sekali, dua kali.
"Buka pintunya."
"Kamu suka pedas," katanya, seolah kami masih membicarakan pekerjaan. "Tapi setelah sakit, kamu mengurangi sambal. Kamu suka warna biru, tidak suka parfum manis, dan menyimpan uang di balik casing ponsel saat bepergian."
Tanganku mencengkeram ponsel.
"Kenapa Mas tahu semua itu?"
"Saya memperhatikan."
"Aku nggak minta diperhatikan."
Untuk pertama kalinya, sesuatu bergerak di wajahnya. Bukan marah. Hampir seperti rasa ingin tahu.
"Semua orang ingin diperhatikan, Sekar."
"Bukan seperti ini. Buka pintunya."
Ia memandangku lama. Tatapan itu sama tenangnya dengan tangan yang menahan pergelanganku dalam kegelapan. Tubuhku mulai gemetar, tetapi aku memaksa punggung tetap tegak.
"Jangan takut," katanya pelan. "Saya tidak akan menyakitimu."
Jantungku menghantam tulang rusuk.
Orang yang tidak berniat menyakiti tidak perlu mengunci pintu untuk menjelaskannya.
Aku mengangkat ponsel. "Ayah menungguku. Lokasiku juga sudah kukirim. Kalau aku nggak pulang dalam lima belas menit, Rangga akan menyusul."
Nama itu membuat mata Damar berubah setipis bayangan awan.
"Rangga Saputra?"
"Buka pintunya."
Kami saling menatap. Aku bisa mendengar detik lampu sein yang lupa dimatikan.
Tik. Tik. Tik.
Lalu kunci terbuka.
"Silakan," katanya.
Aku mendorong pintu dan turun hampir tersandung. Sebelum menutupnya, aku menoleh.
Damar sudah kembali memasang wajah calon menantu sempurna. "Katakan kepada Ibu bahwa dokumennya sudah selesai. Saya akan mengantar pitanya nanti."
"Aku nggak akan berbohong untuk Mas."
"Kamu sudah melakukannya sejak malam hujan itu."
Suara di jalan seolah hilang.
Aku menatapnya, tetapi Damar hanya meraih kemudi. "Hati-hati menyeberang."
Mobil bergerak pergi, meninggalkanku di tepi jalan dengan lutut lemas.
Aku memesan ojek online dan mengirim pesan kepada Rangga bahwa aku aman. Sepanjang perjalanan pulang, aku mengulang kalimat Damar sampai kata-katanya kehilangan bentuk.
Rangga menelepon sebelum motorku mencapai lampu merah pertama.
"Kenapa lokasimu berhenti di jalan sepi?"
"Ada perubahan rencana."
"Kamu sama siapa?"
Aku melihat punggung pengemudi di depanku. Nama Damar sudah berada di ujung lidah, tetapi rasa bersalah kepada Mbak Laras menahannya.
"Kenalan keluarga. Aku sudah di ojek sekarang."
"Aku jemput di minimarket dekat rumahmu."
"Nggak perlu."
Hening sesaat. "Kar, ini iya supaya aku diam lagi?"
Aku memejamkan mata. "Tolong pantau lokasiku sampai aku tiba. Itu saja."
"Baik. Tapi jangan matikan sambungan."
Ia tetap di telepon tanpa memaksaku bicara. Suara kendaraan dan napasnya menjadi tali tipis yang menghubungkanku kembali pada jalan, pada orang lain, pada sesuatu di luar tatapan Damar.
Ketika aku akhirnya melihat gerbang perumahan, barulah jemariku berhenti gemetar dan ponsel bisa kulepas dari dada.
Rangga baru memutus sambungan setelah mendengar pagar rumahku dibuka.
Di depan rumah, Ibu bertanya kenapa aku pulang sendiri. Kukatakan ada urusan mendadak dan langsung masuk sebelum ia bisa menahan.
Kusandarkan punggung pada pintu kamar. Tanganku masih menggenggam ponsel begitu keras hingga jari-jari sakit.
Damar telah membiarkanku pergi.
Entah kenapa, justru itulah yang paling menakutkan.