Di malam ulang tahun sang mertua, Raka menyiapkan satu meja penuh masakan—dan menunggu sendirian sampai dingin, karena istri, anak, dan mertuanya malah pergi ke ruang VIP mewah yang dipesan Sebastian, sang cinta lama. Malam itu juga Raka berhenti jadi "kacung": ia mengajukan cerai, pergi tanpa menuntut sepeser pun harta keluarga Prawira, dan melangkah keluar dengan kepala tegak.
Semua orang menyangka si menantu numpang itu akan merengek balik dalam 24 jam. Yang tidak mereka tahu: Raka bukan sekadar pelukis mural berbakat yang bisa membangun kerajaannya sendiri dari nol lewat siaran langsung dan ukiran—ia adalah **putra sejati yang hilang dari Dinasti Giok Adiwangsa**, keluarga konglomerat nomor satu yang mencarinya belasan tahun. Dan perempuan sederhana yang diam-diam mengejarnya? Dialah **Anindya, Sang Ratu Konglomerat Wibisana**, yang menyembunyikan kekayaan triliunan demi cinta yang ia pendam 15 tahun.
Saat Raka naik dari "menantu buangan" jadi tuan muda dinasti giok, saat setiap penghinaan dibalas dengan bukti, bakat, dan kuasa—mantan istri, mertua matrealistis, dan sang cinta lama satu per satu menyesal setengah mati. Larasati akhirnya berlutut memohon rujuk.
Tapi maaf, Bu—**anak dari Ratu Konglomerat sudah dalam kandungan, dan aku tak akan menoleh lagi.**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dimas Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Bab 17 — Melawan Klien Nakal dengan Bukti
Vivi tahu jam Nindya tidak palsu. Raka belum sempat memikirkan akibatnya karena satu klien memutuskan bahwa popularitas Studio Nusa Karya dapat dipakai sebagai alasan untuk tidak membayar.
Proyeknya adalah mural pada kafe keluarga di Jakarta Selatan. Nilai kontrak Rp48.000.000, dengan uang muka enam puluh persen dan pelunasan setelah pemeriksaan akhir. Pemilik memilih sendiri warna dari tiga sampel, menyetujui sketsa, serta menandatangani perubahan letak logo dua kali.
Raka menyelesaikannya sesuai jadwal.
Pada hari pemeriksaan, pemilik berdiri di depan dinding bergambar kebun kopi dan menggeleng.
"Warnanya tidak sesuai bayangan saya. Terlalu gelap."
Raka membuka map. "Sampel nomor dua dipilih dan ditandatangani Bapak. Ini foto warna di bawah lampu siang dan lampu kafe."
"Foto bisa menipu. Saya tidak puas, jadi sisa pembayaran saya tahan."
"Bagian mana yang tidak memenuhi standar kontrak?"
"Saya tidak perlu menjelaskan. Klien adalah raja."
Di sudut ruangan, seorang pria bernama Beni menahan dengusan. Ia teman lama Raka dari masa bermain musik dan baru dua hari membantu mengatur jadwal Studio Nusa Karya.
Raka tetap tenang. "Klien berhak mendapat pekerjaan sesuai kontrak. Penyedia jasa berhak menerima pembayaran setelah standar itu dipenuhi. Kalau Bapak menginginkan warna baru di luar sampel, saya buat addendum dan biaya perubahan."
"Tidak. Ulang seluruhnya gratis, atau anggap tidak ada pelunasan."
"Kita bisa menunjuk pemeriksa independen," tawar Raka. "Kalau material atau warna berbeda dari sampel, saya menanggung biaya pemeriksaan dan perbaikan. Kalau hasilnya sesuai, Bapak membayar pemeriksaan serta pelunasan."
Pemilik itu menepis map. "Saya tidak butuh orang lain mengajari saya melihat warna."
Penolakan tersebut dicatat dalam berita acara yang ditandatangani dua saksi dari tim kerja. Klien menolak membubuhkan tanda tangan, sehingga Raka menulis statusnya apa adanya dan mengirim salinan melalui email pada hari yang sama.
Pemilik pergi tanpa menandatangani berita acara penolakan. Malam itu kafe tetap dibuka. Pelanggan duduk di depan mural, mengambil foto, dan menandai lokasi.
Pada jam yang sama, sebuah video muncul.
Seniman viral arogan. Hasil berbeda dari pesanan, minta bayar penuh, lalu mengancam pemilik usaha kecil.
Gambar mural dibuat lebih gelap dengan filter. Bagian ketika pemilik berkata "ulang gratis" dipotong. Puluhan akun baru mengulang tuduhan bahwa Raka memakai material murah, datang terlambat, dan menolak revisi.
Beni menaruh laptop di meja kontrakan. "Gue bisa balas satu per satu."
"Jangan. Pertama pisahkan kritik, opini, dan klaim fakta."
Mereka membuat tiga kolom. Komentar yang hanya berkata karya itu jelek dibiarkan. Klaim faktual—material palsu, keterlambatan, ancaman—ditautkan ke bukti masing-masing. Akun yang menyebar wajah pelanggan tanpa izin dilaporkan ke platform.
"Lo sudah menyimpan semua?" tanya Beni.
Raka membuka folder proyek.
Ada video sebelum kerja, kondisi dinding, nomor batch cat, tanda terima material, sampel warna bertanda tangan, pesan perubahan logo, rekaman harian dari sudut tetap, daftar jam masuk, serta video pemeriksaan akhir. Semua memiliki cap waktu dan cadangan cloud. Ia juga menyimpan CCTV kafe yang diberikan resmi untuk kepentingan dokumentasi area kerja—hanya bagian yang mencakup tim dan telah disepakati.
"Gue membuat setiap proyek seolah suatu hari seseorang akan menyangkalnya," kata Raka.
"Kedengarannya menyedihkan."
"Kedengarannya murah dibanding kehilangan puluhan juta."
Pengacara Wisnu meninjau paket bukti. Ia menyarankan somasi untuk sisa pembayaran Rp19.200.000 dan permintaan koreksi atas klaim faktual palsu. Data pribadi, percakapan tak relevan, dan wajah pelanggan harus disamarkan bila Raka memberi penjelasan publik.
Beni menghubungi pemasok agar faktur dan batch dapat dikonfirmasi langsung bila diperlukan. Mereka juga membuat salinan baca-saja dengan nilai hash untuk video asli, sehingga versi publik yang disamarkan tidak merusak jejak berkas sumber.
Pemasok memberi konfirmasi tertulis pada hari itu juga dan menyimpan duplikat catatan pengiriman di sistemnya untuk pemeriksaan berikutnya.
Raka mengikuti semuanya.
Unggahan Studio Nusa Karya tidak memakai judul marah. Halaman pertama hanya bertuliskan: Standar kontrak, hasil kerja, dan hak kedua pihak.
Halaman berikutnya memperlihatkan sampel warna bertanda tangan di samping foto tanpa filter. Video cap waktu menunjukkan tim datang sesuai jadwal. Faktur pemasok dan nomor batch membantah bahan palsu. Potongan pemeriksaan memperlihatkan Raka menawarkan addendum, sementara pemilik menolak menulis alasan ketidakpuasan tetapi tetap membuka kafe menggunakan mural tersebut.
Di halaman terakhir, Raka menulis:
Kritik selera tidak perlu dibungkam. Namun tuduhan tentang bahan, waktu, dan ancaman harus dapat dibuktikan. Saya meminta pembayaran sesuai kontrak dan koreksi fakta, bukan pujian.
Beni mengunggahnya dan mengunci semua file asli agar metadata tidak berubah.
Dalam dua jam, arus komentar berbalik.
Kalau hasilnya ditolak, kenapa kafe tetap pakai muralnya untuk foto promosi?
Sampel warna ada tanda tangannya.
Ini bukan seniman arogan. Ini klien mau revisi gratis.
Beberapa akun penuduh menghapus unggahan. Beni sudah menyimpan tautan, tangkapan layar, dan waktu penghapusan.
Pemilik kafe menelepon menjelang tengah malam.
"Hapus postinganmu. Kita selesaikan baik-baik."
"Bayar sisa sesuai kontrak, tanda tangani berita acara, dan koreksi tiga klaim palsu: material, keterlambatan, serta ancaman. Setelah itu saya tandai sengketa selesai. Bukti tetap menjadi arsip."
"Kau menghancurkan nama usaha saya."
"Saya tidak menyebut nama usaha pada unggahan awal. Warganet mengenalinya dari video yang Bapak unggah sendiri."
Tak ada jawaban.
Pagi berikutnya, Rp19.200.000 masuk ke rekening Studio Nusa Karya. Akun kafe mengunggah koreksi bahwa material sesuai faktur, pekerjaan selesai tepat waktu, dan tidak ada ancaman dari Raka. Mereka tetap menyatakan perbedaan selera—hak yang tidak Raka paksa untuk dicabut.
Ia mengunggah pembaruan singkat: pembayaran selesai, sengketa ditutup. Tidak ada seruan menyerang kafe.
Pengikut Studio Nusa Karya naik melewati lima puluh ribu. Lebih penting, dua calon klien mengirim pesan bahwa sistem dokumentasi Raka membuat mereka merasa aman.
Raka lalu menyerahkan satu lembar penawaran kerja kepada Beni.
"Masa percobaan tiga bulan. Gaji dasar mengikuti batas kerja yang berlaku, ditambah bonus per proyek yang lo kelola. Tugas dan akses akun dipisah. Lo tidak menyentuh rekening."
Beni membaca sampai akhir. "Gue kira teman lama dapat perlakuan khusus."
"Lo dapat. Gue jelaskan semua sebelum lo sempat salah."
Beni tertawa dan menandatangani.
Dari kontrakan sebelah, Nindya menonton pembaruan terakhir. Ia tidak memberi gift, tidak menelepon media, dan tidak meminta timnya menutup akun mana pun. Raka telah menyelesaikan serangan dengan satu hal yang bahkan kekayaan tak dapat menggantikannya: kebiasaan menjaga bukti.
Ketika Beni bertanya apakah semua proyek memang direkam sedetail itu, Raka menutup folder dan menjawab,
"Setiap pekerjaan. Suatu hari, bukti kecil bisa menjatuhkan kebohongan yang jauh lebih besar."