NovelToon NovelToon
Meluluhkan Hatimu

Meluluhkan Hatimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: ibu ditca

Menjadi korban keegoisan orang tuanya pasca perceraian, membuat Auri lebih memilih mantan ART nya untuk menjadi walinya.

Perjalanan hidup Auri sejak masih kanak-kanak memang tak mudah. Bahkan kehidupan cintanya pun seolah tak berpihak padanya.

Namun sosok pemuda yang tak pernah ia sangka, hadir dalam hidupnya. Dan perlahan mengubah alur hidup Auri.

Ikuti perjalanan hidup Auri yukkk
Welcome di tulisan receh Mak Othor. Semoga Mak Othor bisa konsisten menulis lagi yakk...
Yang kemarin terpaksa hiatus.
terimakasih semua...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ibu ditca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

"Mukanya di tekuk begitu Bu?"tanya pak Awan.

"Kesel pak, macet banget di luar sepagi ini. Ngga bisa apa ya mereka tuh beroperasinya jangan di jam sibuk seperti ini."

Pak Awan tersenyum tipis.

"Ya...mereka juga cuma kerja Bu, orang atasnya yang mengatur mereka kan" celetuk salah seorang guru yang tadi mendengar obrolan Auri dan Awan.

"Ya ...bener sih Bu. Cuma apa ya, ini lho akses masuk ke sana tuh tepat di hadapan gerbang sekolah kita. Ini sangat menggangu aktivitas kita, terutama anak-anak."

Sesama rekan guru pun setuju dengan ucapan Auri.

"Tapi kayaknya pak kepsek juga pasti sebelumnya udah ngasih ijin kali, ngga mungkin ngga. Ya kan?" kini pak Awan bersuara lagi.

Kali ini tak ada yang bersuara, mereka hanya bisa mengangguk setuju dengan ucapan Awan.

Satu persatu dari mereka pun keluar dari ruang guru itu menuju ke kelas mereka masing-masing.

Tinggallah Auri dan Awan yang tersisa. Awan curi-curi pandang pada Auri dengan melakukan aktivitas yang di perlambat.

"Saya duluan pak Awan...."

"Tunggu Bu Auri!"

Auri berhenti sebentar lalu berdiri tepat di depan meja Awan.

"Nanti sore ada waktu setelah pulang mengajar?" tanya Awan. Auri mengigit bibir bawah nya dengan pelan.

Ada keinginan untuk menolak, tapi ia pun merasa tak enak karena untuk ke sekian kalinya ia menolak ajakan Awan.

Auri hanya tak ingin rekan sejawatnya itu merasa jika dirinya memberi harapan palsu. Tapi ia juga tak enak....

"Eum... belum tahu pak Awan, lihat nanti saja ya. Saya duluan!" sapanya sambil melangkah agak cepat dengan flat shoes nya. Tubuh mungilnya makin terlihat tak terlalu tinggi.

Awan menatap punggung kecil itu yang kian menjauh.

Sesulit ini membuka hati mu untuk orang baru, Auri? Batin Awan.

Awan cukup mengenal Ikhsan, mantan kekasih Auri. Mereka teman SMA dulu. Hanya saja saat kuliah, mereka berbeda jurusan. Dan mereka kembali di pertemukan di dunia pendidikan.

Bedanya, Awan berdinas di SLB sedangkan Ikhsan di kantor dinas pendidikan.

Sedikit kesenjangan di pangkat mereka tentunya.

Awan pun sudah siap dengan materi yang akan dia ajarkan pada anak didiknya. Kebetulan anak didiknya tidak ada yang DS seperti di kelas Auri, namun kebanyakan yang tuna wicara dan tuna rungu. Namun dari segi fisik, mereka terlihat sama seperti anak-anak pada umumnya.

❤️❤️❤️❤️

Candra mendengus pelan dan sesekali melihat jam di pergelangan tangannya.

"Kenapa bos?"

"Di kampung begini aja macet!" gerutunya. Rino berdecak sambil menggeleng pelan. Ia membuka kacanya sebentar.

"Macet kenapa sih ,tumben banget?"

"Biasa A, proyek perumahan tuh di depan sana. Mobilnya gede-gede,bikin macet!"

Candra menolehkan kepalanya ke arah Rino saat mendengar obrolan pengendara motor di samping mobil mereka.

Rino kembali menutup kaca itu dengan pelan. Awalnya ia hanya ingin melihat situasi, tapi ternyata bosnya malah mendengar sendiri keluhan warga terdampak kemacetan.

"Udah tau kan kenapa kemarin gue ngoceh soal jam operasional???" tanya Rino tanpa menatap Candra.

Candra memalingkan wajahnya ke sisi yang lain. Ia terlalu gengsi untuk setuju dengan apa yang Rino katakan.

Perlahan mobil mereka pun tiba di lokasi proyek.

Candra memasang masker sekaligus topi proyeknya, diikuti oleh Rino di belakangnya.

Puluhan truk menyebar ke segala sisi lahan yang sangat luas tersebut. Ada beberapa kendaraan roda empat yang mungkin milik para petinggi proyek.

Penanggung jawab proyek itu menghampiri Candra dan Rino lalu menyambut kedatangan mereka.

Candra mendengarkan apa yang orang-orang lapangan katakan tentang proyek mereka.

Matanya sesekali tertuju pada gerbang sekolah SLB itu. Ada beberapa anak yang terlihat bermain di halaman sekolah. Mungkin mereka aman dari bahaya luar, tapi bagaimana dengan debu? Suara-suara bising?

"Nanti arsitek yang akan ..."

"Jam berapa anak-anak di sekolah itu masuk dan keluar sekolah pak?" tanya Candra tanpa menoleh pada orang lapangan tadi.

Rino turut menoleh ke arah tatapan Candra.

"Jam tujuh masuk Mas, pulangnya jam dua biasanya. Kenapa ya mas?"

Candra menggeleng pelan.

"Silahkan lanjutkan!" pinta Candra.

❤️❤️❤️❤️

Erina sedang menyiapkan bekal makan siang yang akan ia bwa ke kantor suaminya.

Angeline sendiri sudah rapi dengan stelan simpelnya. Menjadi model sekaligus desainer di butiknya sendiri tentu prestasi yang tak bisa di remehkan bukan?

"Mam, mau ke kantor papi?"

"Iya sayang, request papi kamu!" jawab Erina. Angeline sering memanggilnya mami kadang mama, begitu juga ke papanya.

Tapi ke ibu kandungnya, ia memanggil bunda. Namun ibu kandungnya sudah lama meninggal sejak Angeline berusia delapan tahun. Dan tak lama kemudian, Erina menikah dengan Damar.

Aneh memang, anak tirinya di rawat tapi anak kandungnya tak tahu di mana rimbanya!

"Mau bareng Angel aja, Ma?"

"Eum...boleh ?" tanya Erina.

"Hehehe ya boleh lah Mami! Bentar ya, Angel makan dulu. Masakan mami udah menggoda lidahku dari tadi. Pantes aja papi minta di anterin makan siang terus" kata Angeline.

Erina tersenyum tipis mendengar pujian anak tirinya itu.

Esther...apa kabar mu ,Nak? Batin Erina saat melayani Angeline makan siang.

Di sini mami merawat Angeline sepenuh hati, tapi mami tidak tahu keadaan anak mami sendiri. Pasti kamu sudah besar juga seperti Angeline. Batin Erina.

❤️❤️❤️❤️❤️

[Kalau papa mau, mama bisa kok nemenin papa keluar kota juga. Sekalian mama jenguk Candra, ya Pa?] kata Sinta.

[Ma, Candra belajar jauh dari mama baru hitungan hari. Bahkan masih bisa di hitung dengan hitungan jam. Biarin dia dewasa!]

Sinta membuang nafasnya lewat mulut. Sebenarnya ia bisa saja langsung menyusul si bungsu di kabupaten Xxx.

Tapi suaminya pasti tak mengijinkannya. Bukan tidak perduli, tapi karena suaminya ingin si bungsu belajar tanggung jawab dengan hidupnya yang tidak selamanya menjadi ABG. Dan selalu bergantung pada mamanya.

[Oke Ma, papa jalan sekarang]

[Ya udah, papa hati-hati. Bilang sama supir, ngga usah ngebut-ngebut]

[Ya Ma]

Panggilan itu berakhir. Sinta pun melakukan aktivitasnya yang lain.

❤️❤️❤️❤️

Abah Aceng berdiri menatap tumpukan karung padi yang ada di gudang. Gudang itu terpisah dengan rumah panggung bambunya.

Rumah panggung bambu itu memang di bangun atas permintaan Auri. Dulu, gudang inilah rumah Aceng saat masih bekerja di ibukota bersama istrinya.

Rumah kecil, yang tak boleh di hancurkan oleh Auri karena katanya biar rumah itu tetap menyimpan kenangan masa muda umi dan Abahnya.

"Jual aja padi nya, Bah. Sebentar lagi panen" kata umi Salamah yang sedang menyapu halaman.

Abah Aceng menoleh.

"Iya ya Mi, tapi Abah nunggu si neng dulu. Gimana juga, semuanya punya si neng. Abah cuma mengelola lahannya aja."

Salamah mengelap tangannya ke daster gombrongnya dan menghampiri suaminya.

Ia ikut memandangi tumpukan padi itu.

Sepasang suami istri itu memanfaatkan uang pemberian Estu untuk masa depan Auri. Mereka tak rakus untuk menguasainya sendiri. Justru mereka mengelolanya agar apa yang menjadi hak Auri semakin berkembang.

Mungkin memang kasih sayang dari keduanya begitu penuh untuk Auri. Namun bagaimana pun juga, Auri masih memiliki orang tua kandung yang lengkap.

Salamah turut terdiam di samping Aceng. Apa yang mereka pikirkan mungkin jauh lebih rumit di bandingkan hanya dengan sekedar menjual hasil panen itu.

❤️❤️❤️❤️

Terimakasih 🤗 ✨

1
Asriani Rini
Semsngat mak author semoga suaminya cepat sembuh
indy
Semangat kakak💪
Endang 💖
menarik,tp plisssss up tiap hari y thor
sakura
...
Asriani Rini
Aku kasih buga biar rajin up tiap hari
Asriani Rini
Lanju thor banyak banyakup nya biar kita enggak penasaran trrus 🙏🏻
Dhina Dindin
next yuk semangat ya Bun...selalu dinanti😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!