Pada tahun 1940-an di Jayakarta, Bella Anastasya, seorang pemburu jejak (tracker) tangguh, bertaruh nyawa demi mencari ibunya yang hilang secara misterius selama sepuluh tahun.
Demi melacak petunjuk, Bella terpaksa bekerja sama dengan Gilang Fahrezi, pengusaha kaya pemilik jaringan informan terbesar di kota. Penelusuran berdarah ini membawa mereka menyusup ke fasilitas militer rahasia, tempat eksperimen parasit ilegal yang mengubah manusia menjadi monster mengerikan. Di sana, Bella harus berjuang melawan ancaman monster sekaligus menghadapi kenyataan pahit tentang takdir sang ibu.
akankah Bella menemukan sang Ibu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Van pen., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Matahari pagi menyiramkan pendar keemasan di atas jalanan kota tua yang mulai ramai. Udara dingin berembus tipis di antara deretan bangunan bata merah berarsitektur klasik. Lampion-lampion lorong telah padam, digantikan riuh aktivitas warga yang berlalu-lalang.
Di tengah kerumunan itu, Gilang dan Ujang melangkah pelan menyusuri jalanan tanah. Sejak pagi-pagi sekali, raut wajah Ujang sudah ditekuk dengan dahi berkerut rapat. Kekesalan jelas tergambar dari tiap langkah kakinya yang menghentak keras. Sementara Gilang tetap melangkah santai, membiarkan mereka terhanyut di antara hiruk-pikuk kota yang baru terbangun.
"Kenapa kita tidak menemukan satu pun petunjuk? Aku sudah menyisir restoran dan kedai teh favorit Emma, butik, toko sepatu... semuanya! Mereka tidak tahu apa-apa. Kenapa bisa begitu?!" cerocos Ujang meluapkan kekesalannya pada sang atasan.
Sementara Gilang yang mendengar ocehan itu hanya berjalan santai menembus kerumunan.
Ujang mengangkat tangannya, menunjuk ke udara dengan gemas. "Bagaimana mungkin, hah? Aku bahkan mendatangi kantor becak langganannya," ia menoleh tajam ke arah Gilang. "Mereka juga menggeleng! Tidak ada yang melihat, apalagi mengantarnya!"
Ujang menghela napas berat lalu berkacak pinggang, hingga kedua sisi jas warna krimnya terangkat sedikit. "Aduh... apa dia hilang diterpa angin?" keluhnya gusar.
Ocehan Ujang terus mengalir tanpa henti. Namun Gilang sang bos hanya mendengarkan dengan tenang sembari terus mengayunkan langkah.
"Astaga, hilang tanpa jejak!" Ujang menunjuk Gilang gemas. "Ha! Menguap lebih tepatnya. Menguap begitu saja di udara!" serunya kesal sebelum melempar pandang ke tanah.
"Setiap orang pasti meninggalkan jejak ke mana pun mereka pergi. Hanya saja, kita belum menemukannya," tanggap Gilang santai. Kedua tangannya tenggelam di dalam saku celana.
Di belakang mereka, mata-mata Ichikawa pria yang kemarin diperlakukan Gilang layaknya sopir pribadi tampak membuntut dari jauh. Kali ini ia tidak sendiri; ada seorang rekan yang duduk di kursi kemudi di sampingnya. Pria itu menundukkan kepala, berpura-pura tak memperhatikan. Namun mobil Jeep hitamnya melaju terlalu rapat, alih-alih menjaga jarak aman agar tidak ketahuan.
Ujang berpura-pura tidak melihat mobil itu, lalu mendesiskan kata-kata sarkastis, "Omong-omong, apa benar kita sekarang sedang dibuntuti? Mereka meremehkan kita atau bagaimana, sih?"
Ia melanjutkan dengan nada makin sengit, "Sudah jelas sekali kalau mereka itu dari tadi menguntit kita. Aku sampai kesulitan pura-pura tidak tahu. Dasar amatiran!"
Gilang tersenyum tipis mendengar ocehan bawahannya yang sejak tadi nampak begitu sengit.
Langkah Gilang dan Ujang mendadak terhenti. Mata Gilang membelalak pelan ketika menangkap kerumunan warga yang menyemut di depan pegadaian miliknya Griya Harta Emas. Tanpa membuang waktu, mereka berdua bergegas menerobos kerumunan.
Di dalam ruangan Griya Harta Emas, suasana tampak kacau. Seorang pemuda berkimono dengan sebilah samurai terselip di pinggangnya baru saja memukul Aska hingga tersungkur menabrak pagar besi perlindungan. Pria itu tampaknya mengamuk lantaran porselen bawaannya tak laku saat dilayani Ujang sebelumnya.
"Ayo cepat jawab aku! Katakan, menurutmu warna apa ini, hah?!" bentak pria berkimono itu sembari membungkuk. Sebelah tangannya mengangkat sebuah cangkir porselen keramik putih.
"Em... E-emmm... warna putih," jawab Aska tersengal-sengal. Napasnya tak beraturan dengan sudut bibir yang berdarah akibat pukulan keras tadi.
Pria berkimono itu mencengkeram gagang samurai di pinggangnya. "Lalu kau sebut apa porselen putih seperti ini di Nusantara?!"
"Ge-gerabah putih, Pak..." jawab Aska pelan, memberanikan diri menatap wajah sang pria.
Pria itu berbalik membanting badan, memamerkan porselen tersebut kepada teman-temannya di belakang, lalu kembali menghardik Aska. "Kalau begitu, apa ini?! Kau dengar, tidak?! Aku tanya apa ini?!" bentaknya seraya menggoyang-goyangkan porselen di tangannya.
Secara tak terduga, Gilang muncul dari arah belakang dan langsung merebut porselen itu dari genggaman sang pria. Pria berkimono itu tersentak kaget, matanya membelalak begitu menyadari sang pemilik tempat telah tiba.
Gilang mengangkat porselen itu ke udara, mengamatinya sejenak. "Coba kita lihat... Menurutku, ini terlalu jelek untuk disebut gerabah putih yang bagus. Malah kelihatan seperti tembikar murah biasa," ujar Gilang dingin, terang-terangan menghina barang tersebut.
Pria itu mengangkat kedua alisnya, tidak terima barang bawaannya dilecehkan. "Tapi aku bayar dua ratus ribu untuk benda itu!" sergahnya sengit.
"Lalu kenapa?" tanya Gilang menatap datar.
"Berapa yang bisa kau berikan kalau kubuat benda ini jadi jaminan?" tantang pria itu.
"Apa kau punya surat jaminan tertulis?" Gilang mengangkat sedikit dagunya. "Tanda terimanya juga tidak masalah."
Pria bersamurai itu melirik ragu ke kiri sebelum kembali menatap Gilang tajam. "Aku tidak punya benda-benda seperti itu."
Aska perlahan bangkit berdiri dari lantai sembari memegangi bagian tubuhnya yang sakit. Di dekat pintu belakang, Ujang berdiri mengawasi dengan raut siaga, sementara Aska menatap sang bos penuh harap.
"Kau bayar dua ratus ribu untuk pispot yang harganya cuma seribu," ucap Gilang seraya menggelengkan kepala samar. "Tanpa surat jaminan atau tanda terima? Menurutku, sudah jelas kau ditipu. Ini bukan urusan pegadaian, seharusnya kau lapor ke kantor polisi," tambah Gilang lalu menyodorkan pispot itu kembali tepat ke arah perut sang samurai.
Gilang mengukir senyum tipis. Namun pria itu sama sekali tidak terima usahanya gagal. Ia tampaknya sedang sangat membutuhkan uang tunai. Jemarinya mencengkram pispot keramik itu makin erat.
"Dengar, Mas Gilang... kenapa kau tidak membantuku dan terima saja pispot ini? Lagipula, aku dengar rumor kalau Ichikawa bakal menyita seluruh aset milikmu!" ujar pria bersamurai itu dengan nada meremehkan sambil menaikkan satu alisnya.
"Kata siapa?" tanggap Gilang singkat, ekspresinya tetap datar tanpa riak ketakutan.
"Rumor menyebar secepat kilat di Kota Tua," pria itu menengadah sombong. "Griya Harta Emas bakal punya pemilik baru sebentar lagi. Kalau semua asetmu disita, apa artinya pispot murah ini bagimu, hah?"
Gilang mengalihkan pandangannya sebentar, lalu terkekeh pelan. "Coba lihat si brengsek satu ini..." gumamnya. Ia menggelengkan kepala. "Sebenarnya apa yang sedang kau bicarakan?"
"Apa?! Kau sebut aku 'brengsek'?!" gertak pria bersamurai itu tak terima.
"Jangan mengganggu bisnisku dan pergilah dengan tenang. Kau bisa dihajar babak belur kalau terus memaksaku seperti ini!" tegas Gilang penuh penekanan. "Lagipula, kalau bisa... jangan bicara pakai dialek Nusantara. Pelafalanmu sangat jelek! Jelek sekali!" lanjutnya makin tajam.
"BRENGSEK! MATI KAU!" teriak pria itu murka.
PRANGGG!
Ia melempar pispot keramik itu kuat-kuat ke lantai hingga hancur berkeping-keping. Amarah para samurai lain ikut menyulut. Seketika bunyi SRINGGG! bergema nyaring saat mereka menarik sebilah demi sebilah samurai dari sarungnya.
"Hei!" teriak Ujang dari balik pintu.
Tanpa buang waktu, Ujang menarik pistol dari balik jasnya lalu melangkah cepat ke depan, menodongkan senjata api itu tepat ke arah kerumunan samurai.
Tak kalah siaga, Bibi Sinta muncul membawa senjata laras pendek siap tembak, disusul Aska yang turut mencabut pistol dari dalam jaketnya. Dalam sekejap, moncong-moncong senjata api telah mengunci posisi para samurai yang mengepung.
Pria pembawa katana itu melirik waspada ke sekeliling. Suasana di dalam ruangan Griya Harta Emas mendadak tegang memuncak.
Gilang berdiri tenang di tengah-tengah kepungan, melangkah mendekat ke arah sang pimpinan samurai.
"Pemilik Griya Harta Emas adalah aku, Mas Gilang Fahrezi. Dan hal itu tidak akan pernah berubah," ancam Gilang dingin. "Kalau kau berani membuat keributan di rumah gadaiku, atau mencoba merampokku... kau harus bersiap-siap."
"Pilihannya cuma dua: kau mati, atau hampir mati," tambah Gilang memberi ultimatum.
Pria itu menarik napas berat, otaknya berputar keras menimbang dua pilihan buruk yang disodorkan Gilang. Namun karena ia terlalu lama terdiam ragu, lengan Ujang yang memegangi pistol mulai bergetar karena kelelahan.
Beberapa menit berlalu dalam ketegangan yang ganjil. Tangan kanan Ujang masih bergetar hebat, menodongkan pistol tepat ke arah selangkangan sang samurai.
"Aduh... apa lagi ini? Tanganku pegal!" keluh Ujang tiba-tiba, memecah ketegangan. "Astaga, sakit sekali... Ini pasti gara-gara faktor usia!"
Pistol di tangan Ujang makin bergetar tak terkontrol, mengancam area sensitif sang samurai.
"Lihat tuh..."
"Awas..."
"Awas lepas kunci tembaknya..."
"Hei!" bentak sang samurai panik sambil spontan menggeser kakinya merapat.
"Tunggu apa lagi?" tanya Gilang menatap datar pria itu.
Melihat todongan senjata api dan pistol Ujang yang makin tak stabil, pria bersamurai itu menelan ludah. Ia bergantian menatap Gilang dan Ujang, lalu memilih mundur pelan dan melangkah pergi keluar dari pegadaian. Anak buahnya bergegas mengekor di belakang.
Gilang memandangi punggung mereka yang menjauh dengan sunggingan senyum tipis di wajahnya.