Ini adalah cerita tentang seorang Putra Suci dari aliran lurus yang dikhianati gurunya sendiri. Tubuhnya dihancurkan dan tulangnya dicabut satu per satu sebelum ia dibuang hidup-hidup ke dasar Kegelapan.
Namun, ia tidak memilih mati.
Dengan sisa kekuatan yang dimilikinya, ia mencabut tulang fananya yang rapuh dan menggantinya dengan tulang para musuh yang telah ia bunuh.
Setiap tulang menjadi sumber kekuatan baru. Setiap rasa sakit membawanya selangkah lebih dekat pada jalan kultivasi yang menentang kehendak langit.
Di sisinya berdiri seorang iblis wanita yang menguasai Seni Darah. Dengan sihir terlarang itu, ia menyatukan kembali tubuh sang Putra Suci yang telah hancur dari dalam.
Bersama, mereka menapaki jalan berdarah menuju Surga Sembilan Lapis.
Ia tidak kembali untuk menuntut keadilan.
Ia kembali untuk mencabut tulang punggung para dewa dan menjadikannya singgasana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Bayangan Bisu di Paviliun Utara
Sekte Awan Ungu dulunya merupakan salah satu dari tiga sekte aliran lurus menengah di wilayah selatan. Sekte ini terkenal karena racun dan formasi bayangannya.
Namun malam ini, tempat itu telah berubah menjadi benteng Istana Dao Surgawi.
Dari kejauhan, tujuh lapis formasi pertahanan berbentuk kubah ungu menyelimuti seluruh sekte. Cahaya samar terus berdenyut di permukaannya, sementara di dalam, ribuan murid Pembentukan Fondasi dan Inti Emas berjaga dalam kelompok-kelompok kecil.
Ratusan kereta perang spiritual memenuhi alun-alun.
Istana Dao Surgawi telah menjadikan Sekte Awan Ungu sebagai markas untuk memburu Mo Xie.
Di luar jangkauan para penjaga, dua sosok berdiri di antara pepohonan pinus.
Ling'er menyipitkan mata dan mengamati sekte di kejauhan.
"Tiga formasi penekan aura, dua formasi pelacak jiwa, dan satu formasi pemantul serangan Jiwa Baru Lahir."
Tatapannya menembus kegelapan.
"Tiga komandan Jiwa Baru Lahir menjaga tempat ini. Satu berada di Paviliun Utara, satu di Menara Timur, dan satu lagi di Aula Utama."
Senyum tipis muncul di wajahnya.
"Kalau kita menyerang formasi utama, mereka akan segera mengepung kita."
"Kalau begitu, jangan serang dari depan." Mo Xie memutar lehernya.
Krek!
Senyum dingin muncul di wajahnya. "Kita kurangi jumlah mereka lebih dulu."
Tatapannya jatuh pada Paviliun Utara yang berdiri agak terpisah dari bangunan utama.
"Mulai dari yang paling luar." Mo Xie menyentuh dadanya.
Sangkar Besi Sembilan Kutukan terasa kokoh di balik kulitnya.
"Kau tetap di sini." Ia menatap Ling'er. "Masukkan racunmu ke sumber air mereka. Aku akan membungkam Paviliun Utara."
Ling'er tersenyum. "Jangan terlalu lama bermain dengan mangsamu."
Tubuhnya perlahan berubah menjadi genangan darah.
Dalam sekejap, darah itu meresap ke dalam tanah dan menghilang tanpa meninggalkan jejak.
Mo Xie kemudian melangkah keluar dari hutan.
Setiap kali kakinya menyentuh tanah, Domain Penghancur Gunung bergerak perlahan di bawah kendalinya. Tekanan di sekitar tubuhnya berubah, membuat langkahnya tidak menimbulkan suara dan tidak meninggalkan riak Qi sedikit pun.
Bahkan hawa pembunuhnya tertahan rapat di dalam tubuh.
Daun yang diinjaknya pun tidak bergerak. Mo Xie seperti bayangan tanpa wujud.
Ia berjalan melewati lapisan pertama formasi.
Cahaya ungu bergetar ketika tubuhnya menyentuh batas formasi, tetapi sebelum riak itu menyebar, Domain Penghancur Gunung telah menekannya kembali.
Mo Xie berhasil masuk.
Beberapa saat kemudian, ia tiba di Paviliun Utara.
Lima puluh penjaga mengelilingi paviliun kayu hitam bertingkat tiga. Salah satu regu yang terdiri dari lima murid Pembentukan Fondasi Puncak sedang berpatroli di sekitar bangunan.
Mo Xie muncul di belakang penjaga terakhir.
Srat!
Cakar Harimau Kegelapan menembus tenggorokannya.
Penjaga itu bahkan tidak sempat mengeluarkan suara. Tubuhnya masih sempat berjalan dua langkah sebelum akhirnya ambruk.
Mo Xie sudah berada di belakang penjaga kedua.
Srat!
Kemudian yang ketiga.
Keempat.
Kelima.
Dalam beberapa tarikan napas, seluruh regu telah menjadi mayat tanpa sempat memberi peringatan.
Mo Xie terus bergerak.
Ia melintasi bayangan pilar sebelum melompat ke dinding paviliun. Domain Penghancur Gunung membalik arah daya tarik di bawah kakinya sehingga tubuhnya dapat berjalan di dinding seolah-olah sedang menapaki tanah datar.
Para penjaga di lantai dua tidak menyadari kedatangannya.
Cakar obsidiannya bergerak dalam diam.
Satu tenggorokan robek. Satu jantung hancur. Satu tubuh jatuh tanpa suara.
Begitu pula di lantai tiga.
Tak ada teriakan. Tak ada perlawanan.
Satu demi satu nyawa menghilang sebelum para penjaga sempat menyadari bahwa kematian telah berada tepat di samping mereka.
Ketika Mo Xie tiba di kamar utama, lima puluh penjaga Paviliun Utara telah menjadi mayat.
Pintu kamar itu tidak terkunci.
Di dalam, seorang pria paruh baya duduk bersila di depan lilin spiritual. Ia mengenakan jubah perang ungu berlapis emas.
Dialah Komandan Lu Feng, ahli Jiwa Baru Lahir Awal dari Istana Dao Surgawi.
Ia sedang bermeditasi sambil menunggu kedatangan Leluhur Pedang Pembelah Angin dan sama sekali tidak menyadari bahwa seluruh penjaga di luar telah mati.
Mo Xie berdiri beberapa langkah di hadapannya. Ia menghentikan Domain Penghancur Gunung.
Suara napasnya terdengar di dalam ruangan yang sunyi.
Lu Feng membuka matanya. Dalam sekejap, ekspresinya berubah.
"Kau!"
Qi di dalam tubuhnya meledak. Tangannya langsung meraih pedang besar yang terletak di sampingnya.
"Penyu..."
Mo Xie telah bergerak sebelum ia sempat menyelesaikan ucapannya.
Boom!
Domain Penghancur Gunung meledak di bawah kakinya.
Jarak beberapa langkah lenyap dalam sekejap.
Lengan Kera Iblis ditarik ke belakang. Sangkar Besi Sembilan Kutukan menahan tekanan besar yang muncul dari tubuhnya, memungkinkan seluruh kekuatan terkumpul pada satu titik.
Seni Iblis Kuno: Hantaman Pemecah Langit!
Boom!
Tinju Kera Iblis menghantam perut Lu Feng. Pelindung Qi langsung hancur.
Zirah emas di tubuhnya retak lalu pecah. Tinju itu menembus pertahanan dan menghantam Dantian dengan kekuatan yang mengerikan.
Dantian Lu Feng bergetar hebat.
Jiwa Baru Lahir yang bersemayam di dalamnya segera berusaha melarikan diri.
Namun sudah terlambat.
Kekuatan tinju Kera Iblis telah menembus hingga ke lautan jiwanya.
Prak!
Jiwa Baru Lahir itu hancur menjadi cahaya emas. Tubuh Lu Feng terlempar menembus dinding paviliun.
Bang!
Ia jatuh di antara reruntuhan dan tidak bergerak lagi.
Komandan Jiwa Baru lahir Awal telah mati hanya dalam satu pukulan.
Saat itulah...
Formasi penjaga Sekte Awan Ungu bergetar hebat.
Lonceng peringatan meraung di seluruh sekte.
Ribuan murid berhamburan keluar dari kediaman mereka. Cahaya pedang bermunculan di langit, sementara para penjaga mulai bergerak menuju Paviliun Utara.
Dari Menara Timur dan Aula Utama, dua sosok melesat ke udara.
Dua komandan Jiwa Baru Lahir lainnya akhirnya menyadari bahwa musuh telah menyusup ke dalam sekte.
Mo Xie berdiri di tengah reruntuhan Paviliun Utara.
Asap tipis keluar dari Lengan Kera Iblisnya. Ia mengepalkan tangan dan merasakan kekuatan yang masih berdenyut di dalam tubuhnya.
Tidak ada rasa sakit.
Sangkar Besi Sembilan Kutukan telah menahan tekanan pukulan tadi dengan sempurna.
Mo Xie mengangkat wajah. "Satu tiang telah runtuh." Senyumnya perlahan melebar. "Dua lagi."
Tatapannya tertuju pada dua sosok yang semakin mendekat dari kejauhan.
"Semoga kalian lebih kuat."
Jauh di bawah tanah, Ling'er membuka matanya.
Senyum merah perlahan muncul di wajahnya.
Sumber air Sekte Awan Ungu telah berubah menjadi kolam racun.
Dan tanpa diketahui siapa pun di atas permukaan, racun itu mulai mengalir menuju setiap penjuru sekte.