Ares Sudibyo, pewaris keluarga kaya, tidak pernah percaya pada perempuan. Sejak ibunya meninggalkan ayahnya demi pria yang lebih kaya, ditambah pengkhianatan yang dialami pamannya dan dirinya sendiri, Ares memilih menjauh dari pernikahan.
Namun, pertemuannya dengan Alisha Prameswari secara tidak sengaja mengubah sesuatu dalam dirinya. Aroma tubuh Alisha justru membuatnya penasaran karena tubuhnya sama sekali tidak menunjukkan penolakan, sensasi yang tak pernah ia rasakan dari perempuan lain.
Ketika mengetahui Alisha membutuhkan biaya pengobatan untuk adiknya, Ares menawarkan sebuah kontrak: menanggung seluruh biaya pengobatan, dengan syarat Alisha bersedia memenuhi kebutuhan biologisnya. Setiap kali bersama Ares, Alisha harus menutup mata, sebuah aturan yang tak pernah dijelaskan.
Ares yakin hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan. Namun ketika ketergantungan mulai tumbuh, sanggupkah ia melepaskan Alisha yang memilih mengakhiri kontrak dan mencari pendamping baru dalam hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Masa Lalu yang Belum Selesai
Alisha sudah cukup jauh ketika Arga masih berdiri di tempatnya. Tatapannya mengikuti perempuan itu sampai menghilang di balik pintu menuju area kantor.
“Pak Arga.”
Dimas yang sejak tadi menunggu beberapa langkah di belakang akhirnya bersuara.
Arga menoleh.
“Meeting kita lima belas menit lagi.”
“Ya.” Arga masih melirik ke arah tempat Alisha menghilang. “Perempuan tadi...”
Dimas mengikuti arah pandangannya. “Alisha?”
Arga mengangguk. “Dia kerja di sini?”
“Iya," jawab Dimas. “Bagian administrasi.”
Arga mengangguk kecil, lalu menoleh saat mendengar suara pintu lift terbuka.
Begitu mereka masuk, Arga menekan tombol lantai tujuan. Pintu lift menutup.
“Sudah lama kerja di sini?” tanya Arga.
“Lumayan.”
Arga menyandarkan punggungnya di dinding lift, kedua tangannya dimasukan ke dalam saku celana. “Sudah nikah?”
Dimas menoleh. “Setau saya belum, Pak.”
“Setau?” ulang Arga.
“Dia jarang cerita soal kehidupan pribadi, Pak," jelas Dimas.
"Oh," gumam Arga. Lift terus bergerak naik. “Dia tinggal sendiri?”
“Sepertinya sama adiknya," jawab Dimas. "Orang tuanya sudah meninggal."
Arga yang semula bersandar santai perlahan berdiri tegak. “Adiknya masih sekolah?”
“Iya, Pak.”
“Kerja Alisha kelihatannya cukup sibuk.”
“Dia memang sering buru-buru kalau sudah selesai kerja," sahut Dimas. "Katanya harus ke rumah sakit.”
Arga menoleh. “Adiknya sakit?”
Dimas mengangguk. “Leukemia.”
Ekspresi Arga berubah tipis. “Parah?”
“Cukup serius." Dimas menatap angka di lift yang terus berjalan. "Setau saya masih menjalani pengobatan.”
Arga terdiam.
Dimas melanjutkan setelah beberapa saat. “Alisha punya gangguan pendengaran. Tapi masih bisa mendengar pakai alat bantu.”
Pintu lift terbuka.
Dimas hendak melangkah keluar, tetapi Arga masih berdiri di tempatnya. “Namanya?”
“Raka.”
Arga menoleh. “Kamu tau cukup banyak?”
Dimas tersenyum tipis. “Saya beberapa kali datang ke sini untuk urusan kerja sama, Pak. Alisha yang sering ngurus dokumen dari pihak mereka.”
Arga mengangkat sebelah alisnya. “Jadi?”
“Kalo gak salah, saya pernah beberapa kali lihat dia terburu-buru pulang setelah menerima telepon dari rumah sakit. Pernah juga dengar staf sini membicarakan adiknya.”
Dimas berhenti sejenak. “Bukannya saya sengaja nyari tau, Pak. Informasinya memang sempat terdengar.”
Arga menatapnya beberapa detik. “Dan soal nama Raka?”
“Waktu salah satu dokumen dikirim ke saya, ada nomor kontak darurat yang mencantumkan nama adiknya. Saya ingat karena beberapa kali nama itu muncul dalam pembicaraan staf.”
Arga mengangguk pelan. “Begitu.”
Dimas melangkah keluar dari lift.
Arga menyusul. “Cari tau sedikit tentang Alisha.”
Dimas menoleh. “Bagian mana, Pak?”
“Yang wajar.” Arga berhenti sebentar sebelum menambahkan, “Jangan sampai dia tau.”
Dimas mengangguk. “Siap.”
Mereka berjalan menuju ruang meeting. Namun sebelum pintu dibuka, Arga kembali bertanya, “Dia sering ke rumah sakit?”
Dimas menoleh. “Setau saya, cukup sering.”
Arga tidak berkata apa-apa lagi. Tangannya sudah menyentuh gagang pintu. Namun pikirannya masih tertahan pada perempuan yang tadi bertabrakan dengannya.
Alisha.
***
Rendra Sudibyo datang ke kantor menjelang sore. Kedatangannya bukan untuk mengambil alih pekerjaan Ares. Setelah menyerahkan posisi CEO kepada keponakannya, Rendra memang hanya mengawasi keputusan besar dan urusan strategis perusahaan. Selebihnya, ia lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengurus investasi dan perjalanan bisnis.
Namun setiap beberapa waktu sekali, ia tetap datang untuk melihat perkembangan perusahaan secara langsung.
Orang yang pertama kali ditemuinya bukan Ares, melainkan Reki.
“Laporan perkembangan kuartal ini sudah saya siapkan, Tuan.” Reki menyerahkan tablet.
Rendra menerimanya sambil duduk di sofa ruang kerja. “Kamu aja yang jelasin.”
Reki mengangguk. Ia memang orang yang paling sering mendampingi Ares dalam urusan perusahaan. Berbeda dengan Ares yang cenderung menjelaskan seperlunya, Reki terbiasa memeriksa angka sampai detail terkecil.
Hampir dua puluh menit kemudian, Rendra meletakkan tablet. “Bagus.”
“Terima kasih, Tuan.”
Rendra melepaskan kaca matanya. “Ares di mana?”
“Sudah pulang, Tuan.”
Alis Rendra bertaut. “Pulang?”
“Iya.”
Rendra menatap ke arah dinding kaca yang menampilkan pemandangan kota. “Jam segini?”
Reki melirik jam tangannya. “Sudah cukup sore.”
Rendra bersandar. “Kenapa? Ada perempuan yang merayu lagi?”
Reki hampir tersedak. “Nggak, Tuan.”
“Yakin?”
Reki mengangguk mantap. “Yakin.”
Dahi Rendra berkerut samar. “Berarti ada masalah lain.”
Reki menggeleng. “Nggak ada, Tuan.”
Rendra menatapnya beberapa detik. “Reki.”
“Iya?”
“Kamu kenal Ares sejak SMA, 'kan?” Rendra melipat tangan di depan dada. “Sampai kuliah?”
“Iya.”
“Berarti kamu orang yang paling tau perubahan dia.”
Reki mulai merasa tidak nyaman. “Tuan mau nanya apa?”
“Kenapa Ares seperti itu terhadap perempuan?”
Reki diam.
Rendra melanjutkan, “Aku tau tentang ibunya. Aku juga tau tentang pernikahanku sendiri yang gagal. Tapi menurutku, itu gak cukup membuat seseorang sampai seperti Ares.”
Reki menunduk sebentar. "Soal itu, sebaiknya Tuan tanyakan langsung sama Tuan Ares."
“Dia nggak pernah mau cerita kalo aku tanya. Jawabannya selalu sama.” Rendra mendengus. “‘Nggak ada apa-apa.’”
Reki tersenyum tipis. “Tuan Ares memang begitu.”
“Dan kamu juga sama.”
Senyum Reki langsung hilang.
Rendra mencondongkan tubuh. “Sekarang kamu cerita.”
“Tuan, saya—”
“Kalo gak, minggu depan ikut aku ke Singapura.”
Reki mengerjapkan mata. “Untuk apa?”
“Kerja," jawab Rendra dengan nada suara datar.
“Saya gak ada agenda ke sana," ujar Reki.
“Mulai sekarang ada," Rendra menatap Reki serius.
“Tuan...”
“Kalo masih belum mau cerita, bulan depan kita pindah ke Eropa.”
Reki menatapnya tidak percaya. “Ini ancaman?”
“Anggap aja motivasi.”
“Tuan tau saya gak mau tinggal di luar negeri.” Reki mulai panik. Ia tahu pasti Rendra bisa melakukannya dan pria paruh baya itu tidak suka asal bicara.
“Makanya aku yakin kamu bakal bicara.”
Reki menghela napas panjang.
Rendra tersenyum puas. “Nah. Begitu lebih mudah.”
Reki menggeleng. “Tuan benar-benar manfaatin kelemahan saya.”
“Yang penting berhasil," ujar Rendra ringan.
Reki akhirnya menyerah. “Sejak SMA, banyak perempuan yang deketin Tuan Ares.”
“Karena dia tampan?” tebak Rendra.
“Karena dia tampan, pintar, dan keluarganya punya uang," papar Reki.
Rendra mendengus kecil. “Lalu?”
Reki menghela napas pelan. “Nggak ada yang benar-benar tulus.”
Rendra menatapnya serius. “Kamu yakin?”
“Setidaknya dari yang saya lihat.” Reki bersandar. “Waktu SMA sampai awal kuliah, Tuan Ares sebenarnya pernah menyukai seseorang.”
Rendra sedikit mengangkat alis. “Serius?”
“Iya.”
Sudut bibir Rendra terangkat tipis. “Ini baru.”
“Jangan senang dulu, Tuan," ujar Reki membuat senyum Rendra menghilang.
Reki mengalihkan pandangannya ke arah dinding kaca seolah melihat jauh ke masa lalu. “Perempuan itu memang terlihat sangat menyukai Tuan Ares. Selalu nyari Tuan Ares, perhatian, bahkan sering bilang kalo Tuan Ares satu-satunya orang yang dia butuhin.”
“Lalu?” Rendra tak sabar menunggu kelanjutannya.
“Setelah mereka dekat, Tuan Ares sangat memanjakannya. Apa pun yang dia butuhin, dikasih Tuan Ares.”
Rendra mengangguk pelan. “Dan perempuan itu?”
“Menikmatinya," jawab Reki.
“Cuma itu?” Rendra tampak tidak puas. Ia menatap Reki beberapa detik. “Apa yang dia lakukan sampai Ares berubah kayak sekarang?”
Reki tidak langsung menjawab. Kali ini, wajahnya tidak lagi menunjukkan sedikit pun senyum. “Dia bukan cuma ngambil apa yang Tuan Ares berikan, Tuan.”
...✨“Masa lalu memang tidak bisa diubah, tetapi luka yang belum selesai bisa membuat seseorang menghukum masa kini atas kesalahan yang tidak pernah dilakukannya.”...
...“Tidak semua orang yang datang setelah luka berniat menyakiti. Kadang, kita hanya terlalu sibuk melindungi diri sampai lupa memberi kesempatan pada seseorang untuk membuktikan bahwa ia berbeda.”...
...“Ada cerita yang sengaja dikubur karena terlalu menyakitkan untuk diingat. Namun seberapa dalam pun disimpan, masa lalu selalu menemukan cara untuk kembali mengetuk.”✨...
.
To be continued
Raka pengertian, kakaknya di suruh sering-sering tidur di rumah, tidak perlu nungguin dirinya.
Alisha jadi bisa punya waktu untuk suaminya, kalau tidak bisa nungguin Raka. Tidak harus cari alasan kalau Raka tanya-tanya.
Alisha setelah sarapan pergi ke rumah sakit.
Raka sudah dipindahkan ke ruang lain, masih di lantai yang sama.
Ares tetap memikirkan kenyamanan Raka dan Alisha dengan memindahkan ruang rawat serta ada sofa.
Pak Darto pengurus rumah memberikan sebuah kartu akses untuk masuk rumah kepada Alisha. Dan memberi tahu Alisha kalau pakaian sudah disiapkan di lemari, termasuk perlengkapan mandi, dan makeup atas perintah Ares.
Ares baik sekali. Alisha juga disediakan sopir untuk mengantarnya pergi. Tapi Alisha memilih naik ojek online.
Ares juga menuruti kemauan Alisha untuk tidak memindahkan adiknya ke kamar perawatan VIP.
Ares memberikan surat pernikahan mereka setelah mendengar penjelasan Alisha kenapa sampai minta surat itu.
Ares tak lupa mengelupas foto dirinya terlebih dahulu, sebelum memberikan surat itu kepada Alisha.
Sampai segitunya, biar Alisha benar-benar nggak mengenal wajahnya.
kalo iya, itu sangat berbahaya, dalam kondisi tertentu, dia bisa berbuat nekat....
semoga Alisa dan Raka masih dalam pengawasan orang-orangnya Ares
cukup mantan mu si Reni yg ribet
kamu jangan ikutan res
Semangat Kak Nana.. Up Bab Barunya ya, Kak 🙏🙏🙏
kacau ini orang 🤣🤣
takut ga bisa tanggung jawab sama tatapan mu.
pengecut dia takut kalah sama rasa bersalah nya🫣😔