wanita miskin yg biasa-biasa saja tiba tiba jadi putri bangsawan?
violenne lavienna arabelle wanita biasa berusia 29 tahun,yg bekerja di kota Nanterre,Paris.
Dia adalah wanita yg tidak mendapatkan peran keluarga,dan tidak tahu apa itu 'pulang' dia selalu bekerja keras untuk mewujudkan mimpinya yaitu memiliki keluarga yg harmonis.
usahanya sedikit lagi akan membuahkan hasil tapi...takdir berkata lain.dia tiba tiba saja mati,bukan tertabrak,bukan tertembak,bukan juga tertusuk,lalu apa?
semuanya terjadi begitu cepat,tanpa ada yg menyadari,ia sendiri juga tidak tahu apa yg sedang terjadi pada dirinya,lalu apakah hidupnya akan berakhir begitu saja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon stella bluebell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 07 - Pertunangan
Sesaat setelah mantraku selesai, cahaya putih yang lembut memenuhi seluruh ruangan. Di langit-langit muncul pemandangan langit yang dipenuhi cahaya suci, seolah-olah langit benar-benar terbuka. Semua orang yang berada di ruangan itu langsung membelalakkan mata. Beberapa detik kemudian, mereka serempak berlutut.
"B-Berkah Dewi..."
"Wahai Dewi..."
Bahkan para penjaga yang berjaga di depan pintu ikut bersujud. Aku hanya bisa mematung. "...Kurasa aku sedikit berlebihan." Padahal aku hanya ingin membuktikan bahwa aku bukan seorang dewi. Kenapa hasilnya malah membuat mereka semakin yakin?
"Sudah, cukup." Aku segera menghentikan sihirku. Cahaya yang memenuhi ruangan perlahan menghilang.
"Wahai Dewi..."
"Aku bukan dewi." Aku langsung memotong ucapan ayah.
Ruangan kembali hening.
"Celestia Lunastella... siapa sebenarnya dirimu?" tanya Kak Vian dengan tatapan tajam.
Aku mengembuskan napas pelan. Sepertinya margaku sudah tidak dianggap lagi.
"Aku hanyalah gadis biasa."
"Celestia..."
Suara lembut ibu terdengar dari arah pintu.
"Katakan yang sebenarnya."
Aku menoleh. Entah sejak kapan ibu sudah berdiri di sana.
"Ibu..."
Ayah segera menghampiri dan membantu beliau duduk. Setelah ibu duduk dengan tenang, raja memerintahkan para penjaga keluar dari ruangan. Beliau kemudian meletakkan beberapa buku di atas meja.
Di antara semua buku itu, ada sebuah buku tua yang langsung menarik perhatianku. Tanpa sadar aku mengambilnya, sementara buku-buku lainnya kusisihkan. Aku membuka halaman demi halaman dengan penuh rasa penasaran.
"Yang Mulia..."
"Bolehkah saya memiliki buku ini?"
Semua orang langsung menatapku dengan heran.
"Kau bisa membacanya?" tanya Kak Vian dengan cepat.
"Tentu saja. Buku ini memang sulit dipahami. Namun isinya sangat luar biasa. Di dalamnya terdapat banyak mantra sihir kuno yang sudah lama tidak dipelajari."
Ruangan kembali sunyi. Raja menoleh ke arah Kak Vian yang tampak kehilangan kata-kata. Tak lama kemudian, beliau tersenyum tipis.
"Kalau begitu... buku itu menjadi milikmu."
Aku segera menutup buku tersebut.
"Terima kasih, Yang Mulia."
"Baiklah. Sekarang, apa yang ingin kalian bicarakan?" tanya sang raja.
Baru saat itu aku menyadari bahwa di dalam ruangan telah hadir Duke Raviel bersama putranya.
"Kali ini mengenai pertunanganmu."
"Celes, jangan berniat pergi," tegas ayah saat melihatku hendak berdiri.
"Tunggu... pertunanganku?" Aku refleks menoleh ke arah ayah. Tentu saja aku terkejut. Usiaku baru lima tahun.
"Pertunangan ini diatur oleh ibumu," lanjut ayah.
Apa?
Jadi Ibu berniat menjauhkanku dari kewajiban bangsawan?
Ah, Ibu...
Aku semakin menyayangimu.
"Keluarga Duke siap menerimamu, Celes," ucap ibu dengan lembut.
"Tapi, Ibu..." Aku menarik napas pelan. "Aku tidak ingin bertunangan dengan seseorang yang tidak mencintaiku. Sungguh... aku tidak akan bahagia jika harus menjalani pertunangan tanpa adanya perasaan yang tulus."
Suaraku bergetar saat mengucapkan kalimat itu. Aku mengetahui dengan sangat baik akibat dari hubungan yang dipaksakan. Kehidupan pertamaku adalah bukti nyata dari semua itu.
"Maafkan Ibu, Celes."
Suara ibu terdengar pelan. Beliau menundukkan kepala setelah mendengar perkataanku.
Rasa bersalah langsung memenuhi hatiku. Aku segera berdiri, lalu memeluk beliau erat.
"Maafkan aku juga, Ibu. Aku seharusnya tidak berbicara dengan nada setinggi itu."
Ibu membalas pelukanku sambil mengusap lembut kepalaku.
"Sungguh putri yg pantas untuk dimanjakan oleh veli..." Duke Raviel tersenyum kecil melihat kami.
Barulah saat itu aku mengetahui bahwa ibuku ternyata adalah adik kandung Duke Raviel. Beliau memilih melepaskan gelar kebangsawanannya demi menjadi istri kedua seorang Viscount.
Pandanganku kemudian beralih kepada anak laki-laki yang berdiri di belakang Duke Raviel. Ia tersenyum ramah ke arahku.
Namanya Kael Atheric Zeraphis.
Usianya terpaut dua tahun lebih tua dariku.
Pada akhirnya, pertunangan kami tetap dilangsungkan. Semua persiapannya sudah selesai dan tidak mungkin lagi dibatalkan. Dengan sangat terpaksa... aku menerima pertunangan itu.
Beberapa waktu setelah pertemuan itu berakhir, hari-hariku kembali dipenuhi dengan belajar. Selama beberapa tahun terakhir, aku mempelajari berbagai jenis sihir dari buku-buku pemberian raja. Di sela-sela waktu belajarku, Kael Atheric Zeraphis selalu menyempatkan diri untuk menemaniku. Selain berlatih sihir bersama, ia juga mengajariku beberapa teknik dasar ilmu pedang agar aku mampu melindungi diriku sendiri.
"Kalau kau terus membaca tanpa beristirahat, kau bisa jatuh sakit." Kael menghela napas sambil menatap tumpukan buku di hadapanku. Ia hanya dapat mengunjungiku satu kali setiap bulan karena harus menjalani pendidikan di akademi.
"Kalau aku berhenti sekarang, nanti aku akan lupa bagian yang sedang kubaca," jawabku tanpa mengalihkan pandangan dari buku di tanganku.
"Kau memang keras kepala."
"Dan kau terlalu cerewet," balasku singkat.
Kael hanya tertawa kecil mendengar jawabanku.