Berjuang dari nol di Paris, Jungkook dan Taehyung mendirikan studio game independen bernama HexaVerse. Di tengah kerja keras membesarkan bisnis tersebut, adik Taehyung, Mira, tiba di Paris untuk kuliah.
Jungkook yang membantu Mira beradaptasi perlahan jatuh cinta pada gadis yang kini tumbuh mandiri dan cerdas itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tatitu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak yang Ditinggalkan Pagi Hari
Belum genap setengah jam setelah kepergian Jungkook, bel pintu apartemen Mira kembali berbunyi.
Mira, yang masih duduk melamun di dekat meja makan dengan sisa sup hangat yang tak disentuhnya, bergegas membukanya dengan asumsi itu adalah Jungkook yang mungkin tertinggal barang.
Namun, sosok yang berdiri di ambang pintu bukanlah pria berjas hitam itu, melainkan James—mahasiswa asal Australia yang selama ini menjadi sahabat sekaligus teman diskusi setianya di kampus. James datang membawa sekotak croissant hangat dan secangkir kopi takeaway.
"Hai, Mira. Aku kebetulan lewat area sini, jadi mampir sebentar membawakan sarapan," sapa James riang, sebelum matanya menangkap raut wajah Mira yang tampak pucat dan linglung. James langsung mengerutkan kening, melangkah masuk ke dalam apartemen. "Hei, ada apa? Wajahmu pucat sekali. Kau sakit?"
Mira menghela napas berat, membiarkan James meletakkan kantong belanjaannya di meja dapur. Ia menceritakan kejadian semalam secara singkat—bagaimana ia tak sengaja minum terlalu banyak, Taehyung yang mendadak harus ke luar kota, hingga Jungkook yang akhirnya datang menjaga dan membuatkannya sup pagi ini.
James mendengarkan dengan saksama. Pria berambut pirang itu menyandarkan pinggulnya di tepi meja dapur, menatap Mira dengan sorot mata menilai yang tajam namun penuh perhatian.
"Jadi... pria itu datang ke sini semalam, mengurusmu yang mabuk, bahkan memasak untukmu?" tanya James memastikan, lalu tersenyum kecil. "Kurang baik apa lagi, Mira? Kenapa kau tadi mengusirnya dengan alasan namaku?"
Mira langsung mendesis pelan, menatap James dengan sorot mata protes. "Aku tidak punya pilihan lain, James! Aku harus mencari alasan agar dia segera pergi. Kalau tidak, suasana di sini akan semakin rumit."
James menegakkan tubuhnya, melipat kedua tangan di dada. Ia menatap Mira lurus-lurus, mencoba menembus pertahanan keras kepala gadis itu.
"Rumit karena kau takut pada perasaanmu sendiri, Mira," ucap James tenang namun telak. "Sampai kapan kau akan terus memasang benteng dan menggunakan namaku sebagai tameng pelindung? Kau tidak bisa terus-menerus bersembunyi di balik status 'hubungan kita' kalau kenyataannya hatimu tidak ke sana. Kau menyiksa dirimu sendiri, dan jujur saja, itu tidak adil untuk Jungkook... maupun untukmu."
Kata-kata James menghantam telak kesadaran Mira. Suasana apartemen mendadak sunyi senyap.
Namun, alih-alih melunak atau merenungkan nasihat tersebut, raut wajah Mira justru mengeras. Ia menggelengkan kepalanya pelan, menolak mentah-mentah usiran halus maupun pembelaan yang dilontarkan sahabatnya itu.
"Tidak, James. Kau salah," sangkal Mira dengan suara tegas, menyembunyikan getaran di dadanya. "Aku tidak sedang bersembunyi. Batas yang kubuat itu nyata, dan aku ingin mempertahankannya. Aku sudah nyaman dengan kehidupanku sekarang tanpa bayang-bayang masa lalunya. Jadi... tolong jangan suruh aku membuka pintu itu lagi."
James menghela napas panjang melihat kekeraskepalaan Mira. Ia tahu betul betapa kerasnya usaha gadis itu untuk membangun kemandiriannya di Paris, sehingga mendesaknya lebih jauh justru akan membuat Mira semakin menutup diri. James akhirnya mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.
"Baiklah, terserah kau saja, Mira. Tapi kau tahu betul, kebohongan atau benteng setebal apa pun tidak akan pernah bisa menyembunyikan kebenaran selamanya," ujar James lembut sebelum berpamitan pulang.
Sepeninggal James, apartemen itu kembali sepi. Mira berdiri di dekat jendela kaca yang besar, memandangi jalanan kota Paris di bawah sana. Kata-kata James terus berputar di kepalanya, beradu dengan sisa wangi kopi dan kehangatan masakan Jungkook pagi tadi—membuat benteng yang ia banggakan perlahan terasa rapuh dari dalam.
James berdehem pelan, mencoba mencairkan atmosfer ruang tamu yang mendadak terasa kaku setelah perdebatan kecil mereka soal Jungkook. Pria asal Australia itu bergeser duduk di sofa, mengambil cangkir tehnya, lalu tersenyum tipis untuk mengalihkan topik.
"Baiklah, lupakan soal itu," kata James, nada bicaranya berubah menjadi sedikit lebih santai dan riang. "Ngomong-ngomong, kalau kau tidak mau membahas soal perasaanmu, bagaimana kalau dengar cerita tentangku? Aku sedang butuh tempat curhat, Mira."
Mira mengerjap pelan, mengalihkan pandangannya dari jendela ke arah James. Alisnya terangkat sebelah. "Curhat? Sejak kapan seorang James butuh tempat curhat soal percintaan? Biasanya kan kau yang selalu menceramahi orang lain."
James tertawa kecil, mengusap leher belakangnya dengan raut muka yang mendadak terlihat salah tingkah—pemandangan yang sangat jarang diperlihatkan oleh pria itu.
"Kali ini beda, Mira. Sungguh," ujar James, ada binar geli bercampur salah tingkah di matanya. "Aku rasa... aku sedang jatuh cinta."
Mira langsung menegakkan duduknya, rasa penasarannya terpancing. "Wah, berita bagus. Siapa gadis beruntung itu? Jangan bilang mahasiswi seni angkatan bawah lagi?"
"Bukan. Ini jauh lebih menarik," sahut James antusias. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan. "Kau tahu toko kue milik orang tuaku di sudut distrik itu, kan? Beberapa minggu lalu, kami merekrut seorang part-timer baru untuk membantu di kasir dan bagian pantry. Dia gadis asal Korea."
Mendengar kata 'Korea', kepala Mira otomatis teringat pada asal usulnya sendiri dan lingkaran pergaulannya di Paris.
"Gadis asal Korea?" tanya Mira mengulang. "Siapa namanya? Aku kenal?"
"Namanya Han Chaewon," jawab James dengan senyum lebar yang tak bisa ia sembunyikan. "Dia baru beberapa bulan di Paris. Orangnya manis, pekerja keras, tapi agak pemalu kalau bicara pakai bahasa Inggris atau Prancis. Setiap kali aku sengaja datang ke toko hanya untuk membantunya merapikan nampan kue, pipinya pasti langsung merah padam. Lucu sekali."
Melihat ekspresi James yang berbinar-binar menceritakan gadis itu, Mira perlahan ikut tersenyum. Ketegangan yang sempat tercipta akibat perdebatan mereka soal Jungkook tadi mendadak cair begitu saja. Mira merasa senang melihat sahabatnya yang selama ini selalu menjadi tempat bersandarnya justru kini tampak begitu tulus dan kasmaran pada seseorang.
"Wah, seorang James yang terkenal cuek sekarang berubah jadi pria bucin gara-gara penjaga toko kue," goda Mira sambil terkekeh pelan. "Jadi, apa rencana tuan muda? Sudah diajak kencan?"
"Itulah masalahnya!" keluh James pura-pura sedih sambil bersandar malas di sofa. "Setiap kali aku mau mengajak dia minum kopi sepulang kerja, dia selalu bilang harus buru-buru mengejar jadwal les bahasa atau pulang karena capek. Dia itu tipe pekerja keras yang kaku, mirip sekali dengan..."
Kalimat James mendadak menggantung. Pria itu spontan menutup mulutnya sesaat setelah menyadari analogi yang hampir ia ucapkan. Matanya melirik ragu ke arah Mira, takut menyinggung kembali topik tentang Jungkook yang baru saja mereka bahas.
Mira terdiam sejenak, menangkap maksud dari kalimat James yang terpotong itu. Namun, alih-alih marah atau tersinggung, Mira justru mendengkus pelan sambil tersenyum tipis.
"Mirip dengan siapa? Katakan saja, James. Aku tidak akan marah," tukas Mira datar namun santai.
James nyengir canggung. "Mirip seseorang yang baru saja kau usir dari apartemenmu pagi ini," akunya jujur tanpa filter. "Sama-sama keras kepala dan hobi membangun tembok pertahanan."
Mira memutar bola matanya malas, meski sudut bibirnya masih mempertahankan senyuman. "Sialan. Ternyata ujung-ujungnya kau tetap mau menyindirku, ya?"
"Bukannya menyindir, Mira. Aku cuma bilang, terkadang orang yang keras kepala itu butuh sedikit keberanian untuk melangkah keluar dari zona amannya," balas James lembut, menyisipkan sedikit nasihat tulus di balik candaannya.