Demi menyelamatkan seluruh aset perusahaan peninggalan almarhum ayahnya, Maya diwajibkan oleh surat wasiat kakeknya untuk menyerahkan Buku Nikah sebelum batas waktu jam lima sore. Ketika mantan tunangannya berkhianat akibat suap dari sang paman dan waktu tersisa kurang dari satu jam, Maya nekat menarik seorang pria berkaus oblong lusuh di tepi jalan untuk diajak menikah kontrak di KUA dengan imbalan lima ratus juta rupiah.
Maya mengira suami barunya, Arka, hanyalah seorang buruh serabutan miskin. Namun, setiap kali pamannya berusaha menjatuhkan Maya, skema jahat itu selalu hancur secara beruntun lewat bantuan misterius. Maya tidak pernah menyadari bahwa pria sederhana yang tinggal di rumahnya itu adalah Arka Nusantara, CEO penguasa konsorsium bisnis terbesar di kota ini yang sengaja menyamar demi melindunginya dari balik layar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey 18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memijakkan Kaki di Sarang Serigala
Sinar matahari pagi menyiram landasan pacu Bandara Internasional Ibu Kota. Sebuah pesawat jet komersial mendarat dengan mulus, menderukan suara mesin yang perlahan memelan di area parkir terminal kedatangan khusus VIP.
Maya melangkah keluar dari pintu kedatangan dengan anggun. Ia mengenakan gaun terusan formal berwarna biru gelap dengan paduan mantel krem yang elegan. Di sampingnya, Arka berjalan tenang seraya membawa sebuah koper hitam. Kemeja putih dan jas hitam yang dikenakan pria itu tampak sangat pas di tubuh tegapnya, memancarkan aura ketampanan yang matang dan berwibawa.
Maya menghentikan langkahnya sejenak, menatap deretan pencakar langit ibu kota yang menjulang tinggi menembus awan.
"Sudah hampir lima tahun aku tidak pernah menginjakkan kaki di ibu kota lagi, Arka," bisik Maya pelan. Ada sedikit rasa tegang di balik nada suaranya saat mengingat betapa kejamnya persaingan bisnis di kota megapolitan ini.
Arka menggenggam lembut tangan Maya, menyalurkan rasa aman yang biasa. "Selama aku ada di sisimu, ibu kota ini tidak akan pernah menjadi tempat yang menakutkan untukmu, Maya."
Maya menoleh dan tersenyum tulus. "Aku percaya padamu, Arka."
Tepat saat mereka melangkah menuju pintu keluar area VIP, tiga buah sedan hitam mewewah berjenis limousine antipeluru yang telah menunggu di depan tangga terminal mendadak membuka pintu secara bersamaan.
Belasan pria tegap bersetelan jas hitam dengan earphone spiral di telinga melangkah keluar. Pimpinan rombongan tersebut—seorang pria paruh baya bertubuh tinggi besar dengan bekas luka tipis di alisnya—berlari kecil mendekati Arka dan Maya, lalu membungkukkan tubuhnya sembilan puluh derajat dengan rasa hormat yang teramat sangat.
Pria itu adalah Kapten Danu, komandan utama Pasukan Bayangan Tingkat Satu yang bertugas mengamankan seluruh pergerakan Arka di ibu kota.
"Selamat datang di ibu kota, Nona Maya, Tuan Arka," sapa Kapten Danu dengan suara berat yang dipenuhi kerapian protokol militer tingkat tinggi. "Kendaraan dan pengawalan jalur khusus telah disiapkan untuk mengantar Anda berdua menuju Hotel Grand Nusantara."
Maya tersentak pelan. Matanya membelalak kaget melihat pengawalan kelas wahid yang menyambut kedatangan mereka. Tiga sedan limousine mewah dengan pelat nomor khusus instansi negara ini bukanlah fasilitas yang bisa disewa oleh sembarang pengusaha!
"Arka..." Maya berbisik cemas seraya meremas lengan suaminya. "Apakah ini juga bagian dari fasilitas yang disiapkan oleh Dewan Pembina Nusantara Group?"
Arka mengulas senyum tipisnya yang hangat seraya merengkuh jemari Maya.
"Kakek Utama tahu kita datang ke ibu kota untuk menghadiri perjamuan tersebut, Maya," terang Arka dengan nada tenang. "Beliau tidak ingin istri dari mantan kepala pengawalnya mendapat perlakuan tidak sopan dari pihak musuh di jalanan ibu kota."
Maya menarik napas panjang, mengangguk paham. Penghormatan dan perlindungan yang diberikan oleh Kakek Utama serta konsorsium pusat pada Arka benar-benar melampaui seluruh bayangannya.
"Silakan naik, Nona Maya, Tuan Arka," panggil Kapten Danu seraya membukakan pintu sedan utama.
Arka membimbing Maya masuk ke dalam kabin sedan yang sangat luas dan mewah, sebelum ia sendiri duduk di samping istrinya. Rombongan tiga sedan hitam itu melaju kencang, membelah jalanan protokol ibu kota dengan pengawalan yang begitu ketat dan rapi.
Sementara itu, di lantai paling atas Gedung Merdeka yang menjadi markas utama Wijaya Group.
Suasana di dalam ruang rapat tertutup terasa dipenuhi oleh intrik dan konspirasi yang dingin. Sebuah meja oval berbahan marmer hitam dikelilingi oleh belasan konglomerat dan pejabat tinggi yang membentuk fraksi oposisi rahasia di ibu kota.
Di posisi paling depan, duduk seorang wanita paruh baya berusia lima puluhan dengan gaun malam berwarna merah hati bertabur berlian. Wajahnya yang dipoles riasan tebal memancarkan keangkuan dan kekejaman yang mendalam.
Dialah Melati Wijaya, ibu kandung dari Surya Wijaya sekaligus penguasa sebenarnya di balik jaringan Keluarga Wijaya.
Di samping kanan Melati, Darma Nusantara—ayah dari Dion yang hak waris cabangnya baru saja dibekukan—duduk dengan wajah muram dan dipenuhi dendam yang membara.
"Melati," panggil Darma dengan suara serak menahan amarah. "Pria bernama Arka itu benar-benar mengular di sekitar Wibowo Group. Dia menggunakan koneksi lamanya dengan Kakek Utama untuk menghancurkan anakku Dion dan merobohkan Megah Pratama Group di daerah!"
Melati menyunggingkan senyum sinis seraya mengetukkan jari-jarinya yang bermaknuk emas ke atas meja marmer.
"Jangan panik seperti orang bodoh, Darma," tegur Melati dingin. "Arka itu hanya seekor anjing penjaga yang pernah berjasa bagi Kakek Utama. Dia memanfaatkan belas kasihan sesepuh untuk berbuat sewenang-wenang!"
Melati berdiri dari kursinya, memandang seluruh anggota fraksi oposisi di ruangan tersebut.
"Perjamuan malam ini adalah panggung jebakan yang sudah aku rancang secara sempurna," ujar Melati dengan intrik yang amat kejam. "Aku sudah mengundang seluruh wartawan nasional, dewan komite bursa, serta pejabat kepolisian pusat. Di depan semua orang, kita akan mengekspos bahwa investasi triliunan rupiah di Proyek Wibowo Park adalah hasil manipulasi data yang dilakukan oleh Arka dan Maya!"
Darma menyipitkan matanya rapat-rapat. "Bagaimana dengan bukti dokumennya?"
"Aku sudah menyewa tim peretas internasional untuk memalsukan seluruh catatan aliran dana Wibowo Group," kata Melati seraya tertawa pelan. "Malam ini, di puncak gedung ini, Maya Wibowo akan dipaksa menyerahkan seluruh saham Wibowo Group kepada Keluarga Wijaya jika tidak ingin masuk penjara... sementara Arka si montir gembel itu akan dilenyapkan secara diam-diam oleh pasukan khusus kita begitu keluar dari pintu gedung!"
Seluruh petinggi fraksi oposisi tersenyum puas mendengar rencana licik tersebut. Mereka yakin bahwa di ibu kota, kekuasaan dan jaringan uang Keluarga Wijaya tidak akan mungkin bisa ditembus oleh seorang wanita muda dan suaminya yang sederhana.
Pukul tujuh malam.
Gedung Merdeka menjelma menjadi lautan cahaya yang sangat megah. Ratusan mobil mewah kelas atas mengular di area red carpet lobi utama. Lampu kilat kamera ribuan wartawan tak henti-hentinya memancar, mengabadikan kedatangan para pengusaha papan atas, pejabat menteri, dan keluarga elit ibu kota.
Sebuah sedan hitam limousine berhenti tepat di depan karpet merah.
Kapten Danu membukakan pintu mobil dengan sikap sempurna. Arka melangkah keluar lebih dulu, merapikan jas hitamnya, lalu mengulurkan tangannya dengan sangat lembut ke arah kabin mobil.
Maya menyambut uluran tangan Arka, melangkah keluar ke atas karpet merah.
Kehadiran Maya seketika membuat riuh area red carpet terhenti sejenak. Gaun malam biru gelap yang dikenakannya melekat sempurna di tubuh cantiknya, memancarkan pesona keanggunan seorang ratu bisnis yang luar biasa. Sementara Arka yang berdiri di sampingnya memancarkan aura kegagahan yang sangat dominan, membuat para pengawal dan pengusaha di sekeliling mereka menundukkan pandangan secara refleks.
"Arka..." bisik Maya pelan seraya mempererat genggaman tangannya di lengan Arka. "Musuh kita ada di dalam sana."
Arka menatap ke arah pintu masuk aula utama yang megah. Iris matanya memancarkan kehangatan untuk istrinya, namun menyimpan aura Dewa Perang yang siap meratakan siapa saja yang berani menghadang langkah mereka.
"Mari kita masuk, Maya," kata Arka tenang dengan suara yang sangat mantap. "Malam ini, kita selesaikan seluruh permainan mereka."
itu.