NovelToon NovelToon
Pengawal Spiritual: Penakluk Loka Gaib

Pengawal Spiritual: Penakluk Loka Gaib

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Epik Petualangan / Penyeberangan Dunia Lain / Fantasi Isekai
Popularitas:319
Nilai: 5
Nama Author: PLEMIK

Galih, seorang remaja SMA 17 tahun yang lugu dan penyendiri karena dianggap aneh memiliki kemampuan indigo, mendadak tersedot ke dalam lubang hitam misterius di tengah kelas bersama teman-temannya. Ia terbangun seorang diri di Hutan Wanasari, sebuah dunia fantasi berlatar era keemasan Majapahit yang dipenuhi ancaman sarang monster dimensi lain (Loka Gaib). Diselamatkan oleh Ki Wira, seorang pendekar sepuh, dan dibawa ke rumah panggungnya, Galih bertemu dengan Sekar, cucu angkat Ki Wira yang cantik, tegas, dan lincah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PLEMIK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Titik Terang Penglihatan Galih

Pandangan Galih berubah sepenuhnya menjadi hitam putih, menyisakan satu titik cahaya merah menyala terang di balik iga sebelah kiri Gandaruka, berdenyut teratur seperti jantung kecil yang tersembunyi jauh di dalam tubuh raksasa itu. Seluruh detail lain di sekelilingnya, arena batu yang berantakan, sisa reruntuhan yang berserakan, bahkan sosok tubuhnya sendiri, seolah tidak lagi penting dibandingkan satu titik cahaya kecil itu yang terus berdenyut tanpa henti.

Cakar tajam yang tadi meluncur turun mengarah lurus ke tubuhnya tiba-tiba terasa bergerak jauh lebih lambat dari seharusnya. Galih menggeser tubuhnya sedikit ke samping, gerakan yang begitu presisi hingga cakar itu hanya menyambar udara kosong beberapa senti dari bahunya, seolah tubuhnya sendiri sudah tahu persis ke mana harus bergerak tanpa perlu diperintah lagi oleh pikirannya. Angin dari sabetan itu masih cukup kuat untuk mengibaskan rambutnya, namun tidak sedikit pun menyentuh kulitnya, sebuah bukti nyata betapa presisi gerakannya kini melampaui apa pun yang pernah ia capai sebelumnya.

Sekar, yang masih terbaring lemas di dasar pilar, memaksakan matanya tetap terbuka menyaksikan pemandangan yang membuatnya tertegun tak percaya. Galih berdiri tegak di tengah arena, tubuhnya diselimuti aura tipis keunguan yang berpendar lembut, matanya sendiri memancarkan cahaya merah samar yang belum pernah ia lihat sebelumnya, bahkan pada malam Bayangkara sekalipun. Seluruh rasa sakit di tubuhnya sendiri seolah terlupakan sesaat, tergantikan oleh rasa takjub yang jauh lebih besar.

"Galih..." bisik Sekar, suaranya nyaris tak terdengar, tercekat antara takjub dan bingung menyaksikan perubahan drastis pada pemuda yang selama ini ia anggap paling lemah di antara mereka bertiga. Ia mencoba mengangkat tangannya untuk memanggil lebih keras lagi, namun tenaganya sudah tidak cukup bahkan untuk sekadar bersuara lebih dari bisikan lemah itu.

Galih sendiri merasakan kejernihan yang belum pernah ia alami sepanjang hidupnya. Selama ini ia selalu merasa menjadi beban, tertinggal jauh di belakang Sekar dan Larasati yang sudah terlatih bertahun-tahun, hanya bisa berdiri di pinggir sambil berharap bisa membantu sedikit saja. Ia teringat setiap kali ia gagal, setiap kali kedua rekannya harus menutupi kelemahannya sendiri, dan rasa malu itu selalu menggerogoti hatinya diam-diam meski ia tidak pernah mengucapkannya keras-keras kepada siapa pun, bahkan kepada Sekar yang paling dekat dengannya selama ini. Namun kini, menatap titik cahaya yang berdenyut jelas di balik tubuh Gandaruka, ia menyadari sesuatu yang mengubah segalanya.

Keris kecil di tangannya, senjata sederhana yang selama ini terasa tidak berdaya melawan kulit tebal Gandaruka, kini terasa seperti kunci yang tepat untuk membuka gembok yang selama ini tersembunyi rapat. Ia menyadari bahwa serangan biasa tidak akan pernah cukup, betapa pun kerasnya ia menebas kulit luar makhluk itu. Satu-satunya cara untuk benar-benar menjatuhkannya adalah menembus langsung ke titik cahaya itu, ke inti yang menjadi sumber kehidupan sekaligus kelemahan mutlak sang boss. Ia bisa melihat dengan jelas lapisan-lapisan pertahanan alami tubuh Gandaruka, dan satu-satunya celah yang benar-benar terbuka hanyalah titik kecil itu, tersembunyi di balik iga sebelah kiri yang selama ini luput dari setiap tebasan Sekar. Semua bagian tubuh lain, sekeras apa pun ditebas, hanya akan menghasilkan luka dangkal yang cepat pulih kembali seperti yang sudah mereka saksikan berjam-jam lamanya.

"Itu titik lemahnya," gumam Galih pada dirinya sendiri, suaranya terdengar aneh bahkan di telinganya sendiri, tenang dan mantap, jauh berbeda dari nada gemetar yang biasa menyertai setiap kalimatnya. Ia mengulang kalimat itu sekali lagi dalam hati, seolah meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang ia lihat bukanlah ilusi belaka akibat kelelahan atau ketakutan yang berlebihan menguasai pikirannya.

Ia melangkah maju, melewati tubuh Sekar yang masih terbaring lemas di tanah, tanpa sedikit pun rasa takut yang biasa mendominasi setiap langkahnya menghadapi bahaya. Rasa takut itu tidak hilang sepenuhnya, namun kini tertutup rapat oleh tekad yang jauh lebih besar, sebuah dorongan yang berasal dari kedalaman jiwanya yang baru saja terbuka. Ia sempat berhenti sejenak di samping Sekar, menatap wajah pucat rekannya yang masih terengah menahan sakit, sebelum kembali menegakkan pandangannya ke arah Gandaruka yang kini menunggu dengan geraman rendah penuh amarah.

Larasati, yang masih berlutut lemas beberapa meter dari sana, membelalakkan matanya lebar-lebar, tubuhnya sendiri gemetar merasakan gelombang tekanan jiwa yang mendadak melingkupi seluruh tubuh Galih. Sebagai penyihir cahaya yang peka terhadap gejolak energi spiritual, ia bisa merasakan dengan jelas betapa berbedanya aura yang kini terpancar dari pemuda pendiam itu, sesuatu yang jauh melampaui kategori kekuatan manusia biasa mana pun yang pernah ia rasakan. Bulu kuduknya berdiri seketika, bukan karena takut, melainkan karena kagum menyaksikan sesuatu yang begitu murni dan asing sekaligus, sesuatu yang membuatnya bertanya-tanya sendiri apakah pemuda yang dulu ia anggap biasa saja itu memang selalu menyimpan potensi sebesar ini.

"Kemampuan indigo," bisik Larasati, matanya masih tidak percaya dengan apa yang ia saksikan sendiri. "Ini bukan sekadar bakat aneh. Ini... mata dewa. Kemampuan menembus jiwa makhluk lain, melihat inti kehidupan mereka yang paling rapuh."

Kata-kata itu mengudara begitu saja, sebuah pengakuan tak terduga atas evolusi sempurna dari kemampuan yang selama ini dianggap kutukan aneh di dunia asal Galih, kini berubah menjadi anugerah langka yang mampu melumpuhkan makhluk dimensi lain, sesuatu yang bahkan Larasati sendiri belum pernah dengar dalam buku-buku sihir paling langka sekalipun yang pernah ia baca semasa berlatih dulu.

Gandaruka, menyadari mangsanya yang tadi rapuh kini berubah menjadi ancaman yang berbeda, mengaung marah, mencoba melancarkan serangan susulan dengan gada batunya. Namun Galih bergerak lebih cepat, menghindar dengan gerakan yang begitu efisien, matanya tidak pernah lepas dari titik cahaya yang terus menjadi fokus utamanya. Setiap ayunan gada yang dilancarkan monster itu kini terasa bisa ia baca sebelum benar-benar terjadi, seolah gerakan lawan sudah tertulis jelas di udara sebelum benar-benar dieksekusi, memberinya waktu lebih dari cukup untuk menghindar tanpa perlu terburu-buru sedikit pun.

Tanpa menghiraukan peringatan bahaya yang jelas terpampang di setiap gerakan raksasa itu, tanpa mempedulikan teriakan panik Larasati yang memohon agar ia berhati-hati, Galih menerjang maju seorang diri menuju Gandaruka, kerisnya tergenggam erat, seluruh tekadnya terkumpul menjadi satu tujuan tunggal, menembus titik cahaya itu demi menyelamatkan Sekar dan Larasati yang sudah bertarung mati-matian sepanjang dua hari penuh tanpa henti. Langkahnya mantap, tidak sekali pun goyah meski bayangan raksasa Gandaruka menjulang jauh lebih tinggi darinya, seolah perbedaan ukuran tubuh yang begitu mencolok itu tidak lagi berarti apa-apa di hadapan tekad yang baru saja ia temukan.

1
quancyberx studio
untuk novel nya lumayan dan perlu peningkatan dari segi kata paragraf dan lain nya
quancyberx studio
semangat ya
PLEMIK: Kamu juga semangat
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!