Sejak ibunya menikah lagi, Aria terpaksa tinggal serumah dengan kakak tirinya, Lucien Ashford, pria yang nyaris sempurna di mata semua orang. Tampan, sopan, dan selalu hadir saat Aria membutuhkan bantuan.
Awalnya, Aria mengira Lucien hanya menjalankan perannya sebagai seorang kakak.
Sampai ia menyadari satu hal.
Lucien selalu tahu ke mana ia pergi.
Selalu muncul di waktu yang tepat.
Dan perlahan, semua orang yang mencoba mendekatinya mulai menghilang dari hidupnya.
Saat Aria berusaha mencari jawaban, ia justru menemukan rahasia yang jauh lebih mengerikan.
Lucien ternyata telah mengenalnya jauh sebelum mereka menjadi keluarga.
Kini Aria harus memilih, tetap tinggal di rumah yang perlahan berubah menjadi sangkar, atau melarikan diri dari seseorang yang tidak pernah berniat melepaskannya.
"Di rumah ini, tidak ada yang lebih berbahaya daripada seseorang yang mengaku ingin melindungimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatimah Azzahra Al-aini Sarabiti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Kertas bermeterai itu tergeletak dingin di atas meja kayu mahogany. Di bagian paling atas, cetakan huruf tebal menegaskan kehancuran mimpi Clara. Surat Pengunduran Diri Mahasiswa.
Clara menatap lembaran itu dengan mata sembap. Di bagian bawah, tanda tangannya telah dipalsukan secara sempurna. Kenzo tidak sekadar memotong jalannya, pria itu telah membumihanguskan seluruh jembatan yang menghubungkan Clara dengan dunia luar.
"Pendidikanmu bisa dilanjutkan kapan saja, Clara,"
suara Kenzo memecah keheningan pagi. Pria itu berdiri di belakang kursi Clara, jemari tangannya yang panjang mengusap bahu gadis itu yang polos karena gaun malam berbahan sutra yang dikenakannya.
"Tapi untuk saat ini, kau hanya perlu fokus padaku."
Clara tidak menjawab. Tubuhnya membeku di bawah sentuhan itu. Setiap usapan jemari Kenzo di sepanjang garis lehernya terasa seperti jejak racun yang merayap pelan, mengirimkan getaran asing yang membakar sekaligus menakutkan.
"Kenapa kau harus sampai memalsukan surat ini?"
bisik Clara parau. Matanya menatap lurus pada dinding ruang makan yang sepi.
Orang tua mereka sudah berangkat ke bandara sejak subuh untuk urusan bisnis mendadak lainnya, penerbangan yang diam-diam telah diatur oleh sekretaris Kenzo.
"Karena kau tidak memberi pilihan lain, Dear," balas Kenzo halus.
Kenzo membungkuk, menempelkan dada bidangnya ke punggung Clara. Satu tangannya bergerak merangkul pinggang Clara dari belakang, menarik tubuh gadis itu agar menempel rapat padanya, sementara tangan lainnya meraih dagu Clara dan mendongakkannya paksa.
Napas hangat Kenzo yang beraroma kopi dan mint menyapu bibir Clara. Jarak di antara mereka begitu terkikis hingga Clara bisa merasakan detak jantung Kenzo yang stabil dan dominan di punggungnya.
"Kau mencoba lari ke Jerman bersama pria itu," bisik Kenzo, ibu jarinya menekan bibir bawah Clara hingga agak terbuka, sebuah gerakan yang teramat posesif dan sarat akan hak kepemilikan.
"Apakah kau benar-benar berpikir aku akan membiarkan pria lain menyentuhmu atau melihatmu seperti aku melihatmu?"
"Dia cuma teman"
cicit Clara, matanya terpejam erat, menahan gejolak emosi dan kepasrahan yang mulai meracuni akal sehatnya.
"Julian tidak ada hubungannya..."
"Ada"
potong Kenzo dingin. Sudut bibirnya menyentuh sudut bibir Clara, sebuah ciuman singkat yang tidak dalam, namun dipenuhi ancaman yang terselubung.
"Dan itulah mengapa pagi ini dia harus menerima konsekuensi atas keberaniannya mendekatimu."
Mata Clara terbuka seketika.
"Apa maksudmu? Apa yang kau lakukan pada Julian?!"
Kenzo tersenyum miring. Pria itu melepaskan cengkeramannya dari wajah Clara, merogoh saku celana bahan mewahnya, dan mengeluarkan sebuah tablet tipis. Ia menggeser layarnya beberapa kali sebelum menyodorkannya tepat di depan mata Clara.
Di layar tablet itu, terputar rekaman CCTV realtime dari sebuah lorong rumah sakit.
Di dalam salah satu ruang perawatan, Julian terlihat duduk di atas brankar dengan tangan kanan terbungkus gips tebal. Namun bukan luka fisik Julian yang membuat darah Clara membeku, melainkan dua pria bertubuh tegap bersetelan serba hitam yang berdiri di samping pintu kamar perawatan tersebut.
"Itu adalah pengawal pribadiku,"
kata Kenzo santai, suaranya terdengar seperti seorang dalang yang sedang menjelaskan alur pertunjukan.
"Mereka memastikan Julian tidak menerima kunjungan dari siapa pun, dan memastikan keluarga Julian mengerti bahwa jika mereka melaporkan kecelakaan kemarin ke polisi, bisnis toko kelontong milik ayahnya akan gulung tikar dalam semalam."
"Kau jahat, Kenzo! Kau benar-benar iblis!"
jerit Clara. Ia membalikkan badan dan mendorong dada Kenzo dengan seluruh tenaganya.
Namun kali ini, Kenzo tidak bergeming. Pria itu justru menangkap kedua tangan Clara, menguncinya di belakang punggung gadis itu, dan mengepung tubuhnya ke tepi meja makan.
"Aku memang iblis jika itu menyangkut dirimu, Clara,"
bisik Kenzo dengan suara rendah yang bergetar penuh obsesi. Matanya menggelap, menatap bibir Clara yang gemetar.
Kenzo menunduk lebih dalam, mengikis habis sisa udara di antara mereka. Bibirnya menyapu garis rahang Clara hingga menempel di lekukan lehernya, memberikan kecupan-kecupan menuntut yang membuat Clara tersentak kaget.
Sentuhan itu tidak lagi terasa seperti seorang kakak tiri, itu adalah sentuhan seorang pria yang sedang mengklaim wanita pilihannya.
"Kenzo, stop jangan!"
pintas Clara terengah-engah, berusaha memalingkan wajahnya dari ciuman-ciuman beringas yang mulai berpindah ke pangkal lehernya.
"Rasakan ini, Clara,"
gumam Kenzo di atas kulit leher Clara yang halus, tangannya di pinggang gadis itu makin mencengkeram erat.
"Setiap napasmu, setiap sentuhan di kulitmu, semuanya milikku. Pria itu tidak akan pernah bisa menyelamatkanmu. Tidak ada yang bisa."
Clara menggigit bibir bawahnya erat-erat, menahan desakan napasnya sendiri. Ada perasaan bersalah yang luar biasa saat ia menyadari bahwa di balik rasa takut dan benci yang mendalam, tubuhnya mulai merespons dominasi absolut yang dilancarkan Kenzo.
Setelah membiarkan warna merah keunguan tercipta di leher Clara sebagai tanda kepemilikannya, Kenzo akhirnya menarik wajahnya kembali. Ia menatap karya buatannya di leher gadis itu dengan raut puas yang mengerikan.
"Kemasi barang-barangmu,"
perintah Kenzo lembut seraya merapikan helai rambut Clara yang berantakan.
"Kita tidak akan menunggu sampai hari Sabtu."
Clara menatap Kenzo dengan mata membelalak, dadanya naik turun terengah-engah. "Maksudmu?"
Kenzo menyunggingkan senyuman paling tampan sekaligus paling menakutkan yang pernah dilihat Clara.
"Siang ini juga, kau ikut denganku ke penthouse. Rumah ini terlalu banyak memberimu ruang untuk bermimpi dan aku akan menutup semua mimpi itu mulai hari ini."
Pria itu mengusap lembut bekas tanda keunguan di leher Clara sekali lagi dengan ibu jarinya, memberi tekanan halus yang membuat Clara terkesiap pelan sebelum akhirnya Kenzo melangkah keluar ruangan.
Keheningan yang ditinggalkannya terasa begitu pekat dan merusak. Clara melangkah gemetar menuju cermin besar di sudut ruang makan. Ia menatap bayangannya sendiri dengan napas yang masih memburu. Di leher mulusnya yang pucat, bekas gigitan dan kecupan beringas Kenzo sebuah stempel kepemilikan yang nyata dan tak terbantahkan. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya meluncur deras. Seluruh rencananya telah hancur lebur. Bukan lagi hari Sabtu, melainkan siang ini, kehidupannya yang bebas akan dikubur sepenuhnya di dalam penthouse lantai empat puluh milik Kenzo. Tidak ada lagi jalan untuk berbalik.
Clara meraba warna merah keunguan di lehernya dengan ujung jemari yang gemetar. Sentuhan itu tidak hanya menyisakan rasa hangat yang aneh, tetapi juga keputusasaan yang begitu dalam. Pria Itu benar-benar tidak main-main. Kenzo telah merebut seluruh dunianya, mulai dari kampus, teman-temannya, hingga hak paling mendasar atas tubuh dan masa depannya sendiri.
Dengan langkah lemas, Clara berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya. Setiap pijakan terasa begitu berat, seolah ia sedang melangkah menuju tiang gantung. Di dalam kamar, dua buah koper besar milik Kenzo sudah terbuka di atas tempat tidur, siap menampung sisa-sisa kehidupannya yang sebentar lagi akan diisolasi sepenuhnya dari dunia luar.
Clara menatap koper-koper itu dengan pandangan kosong. Waktunya telah habis. Sangkar emas di penthouse lantai empat puluh sudah menunggu untuk mengurungnya selamanya.