NovelToon NovelToon
Kenapa Aku Dibedakan

Kenapa Aku Dibedakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Wanita Karir
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: nerissa ningrum

**"Bukankah setiap anak berhak mendapatkan kasih sayang yang sama?"**

Lalu, mengapa aku harus tumbuh dengan luka karena terus-menerus diperlakukan berbeda?

Aku hanya ingin membuktikan bahwa aku mampu berdiri di atas kakiku sendiri. Namun setiap kali selangkah lebih dekat pada impianku, takdir seolah selalu menemukan cara untuk menjatuhkanku. Belum sempat luka itu mengering, petaka lain kembali datang merenggut harapan yang susah payah kubangun.

Saat akhirnya aku memilih berdamai dengan kenyataan dan memberanikan diri membuka hati, hidup kembali mempermainkanku. Semua yang telah kuraih runtuh seketika, memaksaku kembali berdiri di titik awal... seorang diri.

Aku lelah mempertanyakan alasan di balik semua ini.

Apakah karena aku berbeda, maka aku tidak pantas dicintai?

Apakah semua perjuangan, air mata, dan pengorbananku akan berakhir sia-sia?

Ataukah... kehadiranmu adalah jawaban yang selama ini dikirimkan Tuhan untuk mengubah takdirku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nerissa ningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku Pria Itu

Reza sempat melirik ke arah pintu tempat keluarga Sherlyn pergi, lalu kembali menatap Kevin dengan wajah yang dipenuhi kemarahan dan keterkejutan.

“Apa kamu sudah gila?” bentaknya. “Bagaimana mungkin kamu menikahi wanita yang sudah punya anak di luar nikah?” Suaranya semakin meninggi.

“Bahkan tidak ada yang tahu siapa ayah dari anak itu. Anak itu lahir karena sebuah kejahatan, Kevin!” bentak Reza

Kevin memejamkan mata sejenak. Napasnya terasa berat. “Benar,” ucapnya pelan. “Mario lahir dari sebuah peristiwa yang sangat menyakitkan. Aku tidak pernah menyangkal kenyataan itu.”

Matanya mulai berkaca-kaca. “Tapi aku tahu betul siapa ayah kandungnya.”

Reza terdiam sesaat.

Kevin mengangkat kepalanya dan menatap kakaknya dengan sorot mata yang penuh penyesalan. “Dan aku akan memberitahu semua orang siapa ayah kandung Mario yang sebenarnya.”

Rahang Reza mengeras. “Jangan bilang…” Ia menunjuk ke arah lantai dua, tempat Mario berada bersama Haselyn.

“Kamu mau mengakui anak itu sebagai anakmu?”

Kevin tidak menjawab.

Keheningan itu justru menjadi jawaban yang paling jelas. “Kevin!” bentak Reza. “Apa kamu tidak berpikir? Kamu mau mengakui anak yang lahir dari tragedi itu sebagai anakmu sendiri? Apa kamu tidak malu pada orang-orang?”

Tatapan Kevin berubah tajam. “Yang seharusnya merasa malu…” Suaranya terdengar rendah, tetapi penuh penekanan.

“…adalah pria yang menghancurkan hidup Haselyn.” Air mata menggenang di pelupuk matanya.

“Bukan Mario, bukan juga Haselyn.”

Ruangan itu kembali sunyi. Karena untuk pertama kalinya, Reza melihat luka yang selama ini disembunyikan adiknya. Luka yang tidak lahir karena penantian. Melainkan karena rasa bersalah yang tidak pernah benar-benar bisa Kevin maafkan pada dirinya sendiri.

“Benar,” ucap Kevin lirih. “Mario memang lahir dari seorang pria yang telah menghancurkan hidup Haselyn.” Ia menundukkan kepalanya. Bahunya bergetar pelan.

“Tapi aku tidak akan pernah malu mengakui Mario sebagai anakku.”

Tatapannya perlahan terangkat. “Aku akan bangga mengatakan bahwa Mario Afrasya adalah anak Kevin Artadinata.”

Kevin tersenyum pahit, lalu menggeleng pelan.“Bukan Mario Afrasya…” Suaranya mulai pecah. “Seharusnya Mario Artadinata.”

Reza menatap adiknya dengan kening berkerut. “Apa maksudmu?”

Kevin memejamkan mata sejenak, seolah sedang mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk mengucapkan kebenaran yang selama ini ia sembunyikan. “Karena Mario adalah anak kandungku.”

Kalimat itu membuat waktu seolah berhenti. “Apa?!” teriak Reza, matanya membelalak lebar.

Kevin mengangguk perlahan. Air mata mulai mengalir di pipinya. “Dia anakku, Kak.” Suaranya bergetar hebat.

“Akulah pria yang telah menghancurkan hidup Haselyn saat dia masih sangat muda. Akulah orang yang menyebabkan semua penderitaan itu. Akulah orang yang paling bertanggung jawab atas luka yang selama ini dia tanggung.” Ruangan itu mendadak sunyi.

Reza merasa seluruh tubuhnya kehilangan tenaga. Kakinya melemas hingga ia jatuh terduduk di lantai. “Dia… anakmu, anak kandungmu?” tanyanya dengan suara nyaris tak terdengar.

Kevin ikut berlutut di hadapan kakaknya. “Iya, Kak.” Ia menangis tanpa mampu lagi menahan penyesalan yang selama ini menggerogoti dirinya. “Mario adalah anak kandungku.”

Reza memegang kepalanya dengan kedua tangan. Napasnya memburu, dadanya terasa sesak.

“Ahhh!” Teriakan frustasinya menggema di seluruh ruangan. Air mata mengalir di wajahnya.

“Bagaimana mungkin…” suaranya pecah. “Bagaimana mungkin kamu melakukan hal sekejam itu kepada seorang gadis yang masih di bawah umur?”

Ia menatap Kevin dengan mata yang dipenuhi kemarahan, kekecewaan, dan rasa hancur. “Selama ini aku membenci Haselyn…” Isaknya semakin keras.

“…padahal pelaku yang sebenarnya adalah adikku sendiri.” Kalimat itu menghantam Kevin tanpa ampun.

Tidak ada pembelaan. Tidak ada alasan. Yang tersisa hanyalah penyesalan yang tidak akan pernah bisa menghapus masa lalu.

Kevin menundukkan kepalanya semakin dalam. Air matanya terus mengalir tanpa bisa ia tahan. “Maaf, Kak…” bisiknya lirih. “Aku memang salah.” Suara itu terdengar begitu rapuh, jauh dari sosok Kevin Artadinata yang selama ini dikenal tegas dan tidak pernah goyah.

Reza menatap adiknya dengan mata yang memerah. Dadanya terasa sesak, seolah seluruh dunia yang ia yakini selama ini runtuh dalam sekejap. “Apa aku yang gagal mendidikmu?” gumamnya dengan suara bergetar. “Bagaimana kalau Mama sampai tahu semua ini?”

Membayangkan wajah mama mereka yang selalu membanggakan Kevin membuat hati Reza semakin hancur. Ia tidak sanggup membayangkan betapa kecewanya wanita itu jika mengetahui kenyataan yang selama ini tersembunyi.

Kevin memejamkan mata. “Mama sudah tahu, Kak.”

Reza perlahan mengangkat wajahnya. “Apa?”

“Mama sudah tahu sejak dulu. Sejak Haselyn hamil.” Kalimat itu membuat Reza kembali membeku.

Kevin mengusap wajahnya yang basah oleh air mata. “Karena itulah Mama mengizinkanku tetap tinggal di Jakarta dan tidak kembali ke Inggris. Mama ingin aku bertanggung jawab. Mama ingin aku tetap berada di dekat Haselyn.” Suaranya semakin pelan.

“Waktu itu Haselyn dipaksa kembali ke Indonesia. Mama tidak ingin aku lari dari kesalahan yang sudah kulakukan.”

Reza hanya bisa menatap Kevin tanpa berkedip. Selama ini ia mengira ibunya tidak mengetahui apa-apa. Ia mengira semua orang tertipu oleh keadaan. Ternyata…

Ibu mereka telah mengetahui kebenaran itu sejak awal. Dan diam-diam membiarkan Kevin tinggal di Jakarta demi menanggung konsekuensi dari perbuatannya.

Reza menggeleng pelan, berulang kali, seolah menolak menerima kenyataan yang terus menghantamnya. “Aku benar-benar tidak menyangka…” Suaranya pecah.

“Selama ini Mama memikul semua rahasia ini sendirian.” Ruangan itu kembali tenggelam dalam keheningan.

Keheningan yang dipenuhi penyesalan, rasa bersalah, dan kenyataan pahit bahwa satu kesalahan di masa lalu telah menghancurkan begitu banyak kehidupan.

*

*

*

Teriakan Reza yang menggema dari lantai bawah akhirnya terdengar hingga ke lantai dua.

Mario yang sedang duduk di tepi ranjang menoleh ke arah pintu, lalu menatap Haselyn. “Om Reza marah banget ya, Ma?” tanyanya pelan.

Haselyn mengedikkan bahu sambil tersenyum tipis. “Entahlah, Nak. Mama juga nggak pernah benar-benar paham jalan pikiran Om Reza.”

Ia kemudian mengalihkan pandangannya ke sekeliling kamar. Tatapannya berkeliling, mengamati setiap sudut ruangan dengan rasa takjub.

Dinding kamar itu dipenuhi gambar tokoh kartun favorit Mario. Rak-rak kecil berisi koleksi mainan tersusun rapi, sementara warna-warna cerah membuat kamar itu terasa hangat dan hidup.

“Dekorasi dindingnya masih kartun kesukaan kamu ya?” tanya Haselyn sambil menyentuh salah satu bingkai kecil di dekat meja belajar.

Mario mengangguk. “Iya, Ma. Kata Ayah, kamar ini dibuat tiga tahun yang lalu.”

Haselyn terdiam sejenak.

“Dulu Ayah pernah nawarin buat ganti dekorasinya,” lanjut Mario, “tapi Mario bilang nanti aja. Soalnya Mario kan nggak pernah nginep di sini, cuma istirahat sebentar kalau lagi sempat.” Begitu kalimat itu selesai, Mario langsung menepuk mulutnya sendiri.

“Ups…” Ia meringis kecil. “Mario kelepasan lagi.”

Haselyn tertawa pelan. Tingkah putranya yang selalu jujur justru terlihat begitu menggemaskan.

“Tidak apa-apa,” ucapnya lembut. “Kalau kamu sering ke rumah Ayahmu, itu bukan sesuatu yang salah.”

Ia mengusap rambut Mario dengan penuh kasih sayang. “Dia ayahmu. Jadi rumah ini juga rumahmu.”

Mata Mario langsung berbinar. “Terima kasih, Ma.”

Ia benar-benar lega. Selama ini ia selalu takut Mamanya marah karena diam-diam sering bertemu Ayahnya. Ternyata ketakutannya tidak pernah perlu ada.

Haselyn tersenyum melihat wajah putranya yang begitu bahagia. “Ya sudah, Mama ke kamar dulu. Mama mau mandi. Gerah sekali.” Ia mengibaskan pelan ujung bajunya yang terasa lengket karena keringat.

“Oke, Ma.” Mario menyeringai jahil.

“Mama masih ingat letak kamarnya, kan?”

Haselyn mengangkat sebelah alisnya. “Tentu saja Mama ingat.”

Senyumnya perlahan berubah menjadi senyum penuh kenangan. “Dulu, bahkan sebelum Mama dan Ayahmu menikah, Mama sudah beberapa kali datang ke rumah ini.” Tatapannya menerawang sesaat.

1
Novansyah
bagus kk tapi kalau bisa update jangan cuma 1 bab kk kalau bisa sekali update 4 sampai 5 bab
anggita
dukung like👍, iklan☝saja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!