NovelToon NovelToon
Falling In Love With My Ex Wife

Falling In Love With My Ex Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Teen
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: neng_86

kisah sepasang suami istri yang menyerah di tahun kedua pernikahan karena terlalu banyaknya pertengkaran diantara mereka.

pernikahan yang diawali dengan sebuah perjodohan antara Seraphina Anastasya dengan seorang pria dingin bernama Dikta Rey Ibrahim membuat keduanya mengalami konflik berkepanjangan dan yang diperparah oleh Dikta yang dengan sengaja tetap menjalin hubungan dengan kekasih pria itu yakni Delara Sasmita yang berujung pengkhianatan oleh Delara dengan berselingkuh dibelakang Dikta.

setelah 5 tahun, Dikta dan Sera dipertemukan kembali karena sebuah kecelakaan yang tidak disengaja oleh Sera sehingga dirinya diharuskan bertanggungjawab atas Dikta.

yuk simak kisahnya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

sebuah insiden

Dikta melajukan mobilnya dengan tenang membelah jalanan ibukota yang licin sisa hujan.

Dia baru saja selesai berbincang-bincang dengan beberapa sahabat yang ditemuinya saat selesai meeting.

Asik bercengkrama membuat Dikta melupakan waktu nya sejenak.

Sementara Gavin sudah pulang lebih dulu sejak sore tadi.

Saat melaju dijalan raya, mobil Dikta berhenti mendadak tepat di sisi jalan.

"Sial...! Kenapa harus mati ketika aku benar-benar sedang kelelahan begini!" umpatnya kesal.

Dikta mencoba mengecek kondisi mobilnya dan setelah kebingungan karena tak mengerti perkara kerusakan mesin mobil, barulah dia menghubungi bengkel kenalannya tapi tak juga terhubung setelah beberapa kali panggilan.

Laki-laki itu sungguh kesal dan akhirnya duduk diam di dalam mobil, berlindung dari rintik gerimis yang kembali turun.

Salahnya juga sebenarnya, karena sejak kemarin Gavin telah berulang kali memperingatkan Dikta untuk tidak memakai mobil ini karena sering kali mat* mendadak namun karena mobil ini adalah kesayangannya, dan memiliki banyak kenangan, makanya Dikta tak menghiraukan peringatan Gavin.

Saat menatap sisi jalan yang cukup sepi, pikirannya kembali melayang pada aroma parfum yang amat sangat dia kenali.

"Aku tak mungkin berhalusinasi... Itu aroma parfum milik Sera... " gumamnya menatap rinai air yang turun membasahi kaca mobilnya.

Kepala Dikta bersandar di kursi.

Matanya terpejam sebelum akhirnya dipaksa terbuka karena sebuah dentuman yang cukup keras dari arah belakang.

...****************...

Suara decit rem yang memekakkan telinga menyusul bunyi benturan keras membuat dada Seraphina seakan berhenti berdetak. Mobilnya tersentak hebat, bagian depan kanan menabrak sisi samping mobil hitam yang berhenti tepat di hadapannya di jalan yang lumayan sepi itu.

Darah seakan tertahan di seluruh pembuluh nadinya. Sera menggenggam kemudi erat, napasnya tersengal. Ia memejamkan mata sejenak, menenangkan jantung yang berpacu liar. Dengan tangan sedikit gemetar, ia membuka pintu dan turun.

Maaf. Sungguh, ia tidak sengaja.

Ini memang kelalaian dirinya yang tak fokus pada jalanan.

Langkah kakinya terhenti kaku saat pintu mobil yang ditabraknya terbuka. Sosok lelaki yang turun membuat seluruh darah di tubuhnya seketika membeku.

Rambut hitam sedikit berantakan tertiup angin, rahang yang tegas, sepasang mata tajam yang kini menatapnya lebar-lebar, seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Dikta Rey Ibrahim.

Dunia seakan berputar pelan di tempat mereka berdiri.

"Kau..." Suara berat lelaki itu terdengar sedikit terputus. Langkahnya mendekat perlahan, matanya tak lepas dari wajah Seraphina yang memutih seketika. "Sera?"

Napas Sera tercekat.

Ia meremas kuat sisi roknya, menahan getaran yang menjalar di sekujur tubuh.

Lima tahun. Sudah lima tahun berlalu sejak mereka berpisah di ruang pengadilan yang dingin itu. Dan kini, pertemuan pertama mereka terjadi dengan cara yang begitu kacau dan tak terduga.

"Aku...." Suaranya terdengar lirih, hampir tak terdengar. "Maafkan aku... Aku benar-benar tidak sengaja."

Dikta melangkah lebih dekat, menatap wajah itu lekat-lekat, seakan takut jika ia berkedip sekejap saja, perempuan itu akan lenyap kembali. Wajah Seraphina masih sama cantiknya, meski kini terlihat lebih dewasa, lebih tenang, namun ada kesedihan yang masih tersisa di kedalaman matanya itu.

Pandangan Dikta beralih ke sisi mobilnya yang penyok akibat benturan keras lalu kembali menatap perempuan yang masih berdiri kaku di hadapannya.

Jantungnya berdegup kencang, jauh lebih kencang daripada saat mendengar bunyi benturan tadi.

Bukan karena kerusakan pada mobilnya. Melainkan karena takdir yang begitu lihai mempertemukan mereka kembali, dengan cara yang begitu tiba-tiba, seakan ingin mengatakan bahwa benang yang pernah terputus itu, mungkin saja masih tersambung ujungnya.

"Tidak apa-apa," ucap Dikta pelan, suaranya terdengar jauh lebih lembut dibanding dulu. Matanya tak beranjak dari wajah Seraphina yang tampak gelisah. "Yang penting... kau tidak terluka, kan?"

Sera tertegun.

Tatapan itu, perhatian itu... masih sama persis seperti dulu. Dan di detik itu, di tengah kerusakan yang terjadi akibat kelalaiannya, Seraphina sadar, perasaannya kepada lelaki di hadapannya ternyata belum sepenuhnya hilang.

Belum selesai dengan keterkejutan Sera akan kejadian tersebut, tiba-tiba saja tubuh besar Dikta terhuyung.

Wajahnya pucat pasi, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.

Tubuh Dikta yang berat perlahan miring, lalu jatuh menimpa tubuh mungil Sera hingga keduanya terjatuh ke aspal.

"Dikta!" Sera tersentak panik, menahan beban tubuh lelaki itu sekuat tenaga.

Napasnya tertahan saat kepala Dikta bersandar lemah di bahunya, mata terpejam rapat, tak bergerak sedikitpun.

Jantung Sera seakan mau copot. Ia memeluk tubuh itu erat, tangan gemetar menyentuh wajah yang kini terasa dingin.

"Dikta... bangunlah..." panggilnya pelan, namun suaranya bergetar hebat. "Dikta, lihat aku..."

Tak ada jawaban.

Hanya keheningan yang menakutkan.

Sera mengguncang bahu lelaki itu pelan namun terus-menerus, matanya kini berkabut air mata yang mulai menetes.

"Dikta... jangan seperti ini... tolong jawab aku..." suaranya pecah, tangan kanannya menggenggam lembut telapak tangan Dikta yang terkulai lemas. Ia terus memanggil nama itu berulang-ulang, seakan itu satu-satunya doa yang bisa ia ucapkan saat ini.

"Dikta... aku di sini... Dikta, tolong bukalah matamu..."

Setiap detik terasa berabad-abad. Sera menatap wajah yang begitu dirindukannya sekaligus ia hindari selama bertahun-tahun itu.

Rasa takut menyergap hatinya, takut jika sesuatu terjadi akibat kecelakaan tersebut.

Ia menempelkan dahinya ke dahi lelaki itu, membiarkan air matanya jatuh membasahi pipi Dikta.

"Dikta... kumohon... bangunlah..." panggilnya lembut dan penuh keputusasaan, terus dan terus memanggil nama itu, berharap suara yang selama ini hilang dari hidupnya akan kembali menyahut pelan. "Dikta..."

bersambung....

1
Dewi Andayani
Aku mampir lagi di karyamu, ya Thor😍...
Ditunggu crazy up nya💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!