NovelToon NovelToon
Garis Yang Tak Kupilih

Garis Yang Tak Kupilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Perjodohan
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Impian Puja untuk melangkah ke bangku kuliah dan menjadi seorang psikolog seketika sirna tepat di hari kelulusannya. Tanpa persetujuannya, Abi memintanya menikah dengan Ustadz Jeffry, putra dari sahabatnya, Kyai Ali. Tekanan kian berat ketika Umi Mina, ibu tirinya, terus mendesak Puja demi hadiah yang dijanjikan keluarga Kyai Ali, memanfaatkan kepatuhan mutlak Abi terhadap setiap kata-katanya.
Di sisi lain, Ustadz Jeffry memegang teguh prinsip berbakti dan memilih patuh pada keinginan orang tuanya untuk menyegerakan pernikahan. Ketika dua insan dengan rasa yang bertolak belakang ini disatukan—Puja yang terpaksa melipat mimpinya dan Jeffry yang pasrah pada titah sang ayah—pernikahan tersebut menjadi awal dari pergolakan batin dan kepasrahan atas takdir yang tak pernah Puja inginkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Pagi itu, sinar matahari menembus celah dedaunan di area parkir kampus, memberikan kehangatan yang sejuk.

Setelah memarkirkan mobilnya dengan rapi, Jeffry turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk Puja.

Begitu kakinya menapak di aspal kampus, Puja menoleh ke arah suaminya yang masih berdiri di samping mobil, tampak rapi dengan kemeja kerjanya.

Puja mengernyitkan dahi, bingung melihat Jeffry yang tidak bergegas masuk ke dalam mobil untuk kembali ke pondok atau pulang ke rumah.

"Lho, Mas? Nggak pulang?" tanya Puja heran.

Jeffry menggeleng pelan dengan senyum misterius yang tersungging di bibirnya.

Puja semakin bingung. Ia memiringkan kepalanya, menatap Jeffry dengan tatapan menyelidik.

"Mas mau menemani aku di sini?"

"Nggak juga," jawab Jeffry singkat.

Jawaban itu justru membuat Puja semakin penasaran.

Ia baru saja akan melontarkan pertanyaan lain ketika Jeffry melangkah mendekat, merapikan sedikit helai rambut istrinya yang keluar dari hijabnya, lalu menatap matanya dengan binar kebanggaan.

"Lalu? Mas mau ke mana?" tanya Puja lagi.

Jeffry terkekeh pelan melihat ekspresi polos istrinya yang tampak benar-benar tidak tahu apa-apa.

"Mas dapat panggilan mengajar di sini, Dek. Mulai hari ini, Mas jadi salah satu dosen tamu di fakultasmu."

Puja terbelalak, matanya mengerjap cepat. "Hah? Di sini? Dosen tamu?!"

"Iya," jawab Jeffry santai, seolah hal itu adalah hal yang sangat biasa.

"Jadi, silakan masuk ke kelasmu, Mahasiswi Puja. Mas juga harus segera bersiap ke ruang dosen. Sampai ketemu di jam istirahat nanti, ya?"

Puja masih berdiri mematung di samping mobil, mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali seolah tidak percaya dengan apa baru saja didengarnya.

"Serius, Mas? Jangan bercanda," desis Puja dengan pipi yang mulai merona kemerahan karena rasa kaget bercampur malu.

Jeffry terkekeh pelan melihat ekspresi istrinya. Ia merangkul pundak Puja dengan lembut, lalu mengarahkannya untuk melangkah menuju gedung perkuliahan.

"Iya, sayang... Mas serius. Makanya, ayo lekas masuk ke kelas, sebentar lagi jam kuliahmu mulai. Jangan sampai terlambat di hari pertama masuk setelah sakit."

Masih dengan sejuta rasa penasaran dan jantung yang berdegup kencang, Puja menuruti langkah suaminya.

Ia berjalan menuju ruang kelasnya dan langsung duduk di bangku barisan tengah bersama teman-temannya yang sudah lebih dulu hadir.

Namun, belum sempat Puja meletakkan tasnya dan bernapas lega, pintu kelas terbuka lebar.

Sosok yang melangkah masuk ke dalam ruangan membuat seluruh isi kelas mendadak senyap, dan mata Puja membelalak sempurna untuk kedua kalinya hari ini.

Di hadapan puluhan mahasiswa, Jeffry berdiri dengan tenang, mengenakan setelan formal lengkap dengan tas kerja di tangan.

Pria itu sama sekali tidak tampak canggung. Ia berjalan mantap menuju meja dosen di depan kelas, lalu meletakkan laptop dan beberapa berkas.

Beberapa mahasiswi di kelas langsung berbisik-bisik kagum melihat ketampanan dosen baru tersebut, sementara Puja di tempat duduknya hanya bisa menelan ludah, benar-benar tidak menyangka suaminya kini berdiri di depan kelas sebagai pengajarnya.

Jeffry merapikan kertas absensi di atas meja, lalu mendongak dan menatap seisi ruangan dengan senyuman tipis berwibawa.

Suara baritonnya yang tenang langsung menggema ke seluruh sudut kelas.

"Selamat pagi semuanya. Perkenalkan, saya Jeffry. Mulai semester ini, saya dipercaya untuk mengampu mata kuliah ini," ucap Jeffry tegas, lalu matanya sekilas melirik ke arah bangku Puja.

"Baiklah, sebelum kita mulai materi hari ini, saya akan mengabsen kehadiran kalian terlebih dahulu."

Jeffry membuka lembaran absensi, mulai memanggil nama para mahasiswa satu persatu dengan penuh wibawa, membuat suasana kelas terasa jauh lebih tegang sekaligus mendebarkan bagi Puja.

Suasana kelas yang awalnya tegang perlahan mencair. Jeffry membawakan materi perkuliahan dengan gaya yang serius namun santai, sesekali menyisipkan analogi ringan yang membuat para mahasiswa mudah memahami penjelasannya.

Cara bicaranya yang terstruktur dan pembawaannya yang tenang membuat seisi kelas, termasuk Puja, mendengarkan dengan saksama.

Tanpa terasa, waktu berjalan begitu cepat. Satu jam berlalu, dan jarum jam menunjukkan tanda bahwa jam pelajaran telah usai.

Jeffry merapikan catatan di atas meja dan menutup laptopnya.

"Baiklah, materi hari ini kita cukupkan sampai di sini. Jangan lupa baca bab selanjutnya untuk pertemuan minggu depan. Selamat pagi, silakan istirahat."

Begitu salam penutup terucap, para mahasiswa mulai membereskan buku mereka.

Namun, alih-alih langsung keluar kelas, beberapa mahasiswi justru bangkit dari tempat duduk dan berjalan mengerubungi meja dosen.

Mereka tampak antusias ingin bertanya seputar materi atau sekadar berkenalan dengan dosen baru yang berwajah tampan itu.

Dari barisan tengah, Puja menatap pemandangan itu dengan mata menyipit.

Hatinya mendadak terasa tidak enak. Rasa cemburu tiba-tiba menyeruak melihat suaminya dikelilingi oleh mahasiswi-mahasiswi kampus yang tampak begitu antusias melempar senyum manis.

Puja mengerucutkan bibirnya, melipat tangan di dada sambil terus mengawasi setiap gerak-gerik Jeffry dari kejauhan dengan tatapan tajam penuh protes.

Merasa jengkel melihat suaminya dikerumuni banyak mahasiswi tadi, Puja memilih melangkah keluar kelas lebih dulu.

Alih-alih pergi ke kantin atau menunggu di koridor ramai, ia malah mencari tempat yang sepi dan duduk menyendiri di anak tangga dekat area gudang kampus yang jarang dilewati orang.

"Isshh... menyebalkan banget!" gerutu Puja pelan sambil melipat kedua tangannya di dada.

Wajahnya tertekuk sebal.

Ia kesal pada Jeffry yang sengaja memberikan kejutan tanpa memberitahunya lebih dulu, tapi ia jauh lebih jengkel pada mahasiswi-mahasiswi tadi yang berani senyum-senyum genit dan mendekati suaminya.

Sementara itu, Jeffry yang baru saja selesai melayani pertanyaan beberapa mahasiswa langsung mencari keberadaan istrinya.

Matanya menyapu seisi kelas, namun sosok Puja sudah tidak ada.

Setelah bertanya pada salah satu teman sekelas Puja, Jeffry akhirnya melangkah menyusuri koridor sepi hingga menemukan istrinya sedang duduk melamun di tangga gudang dengan wajah masam.

Jeffry berjalan mendekat tanpa suara, lalu berdiri tepat di hadapan Puja sambil tersenyum geli melihat ekspresi istrinya yang menggemaskan.

"Dek, jangan melamun di sini sendirian. Nanti kesambet lho," goda Jeffry dengan suara lembut.

Puja mendongak sekilas, lalu membuang muka dengan bibir yang semakin maju beberapa sentimeter.

"Biarin aja!" jawabnya ketus.

Jeffry terkekeh pelan.

Ia ikut duduk di anak tangga sebelah Puja, merangkul bahu istrinya dengan penuh kasih sayang. "Kenapa cemberut begitu, hmm? Ada yang bikin kesal?"

"Nggak ada," sahut Puja cepat, meski nada suaranya jelas menyiratkan kecemburuan yang belum reda.

"Yakin nggak ada? Ya sudah, kalau gitu ayo ke kantin. Jam istirahat tinggal sebentar lagi," ajak Jeffry sambil mengusup puncak kepala Puja yang tertutup hijab.

Puja menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Nggak mau. Aku nggak lapar."

Jeffry menatap istrinya lekat-lekat dengan alis terangkat sebelah, menyadari gengsi Puja yang sedang kambuh.

"Beneran nggak lapar, Dek?" tanya Jeffry memastikan.

Krucuk... krucuk...

Tepat setelah kalimat itu keluar dari mulut Jeffry, suara perut Puja berbunyi cukup nyaring di tengah keheningan sudut gudang tersebut.

Pipi Puja seketika berubah merona merah padam menahan malu.

Ia langsung menunduk, mati-matian berharap bumi mau menelannya saat itu juga. Jeffry, di sisi lain, tidak bisa lagi menahan tawanya yang renyah melihat reaksi sang istri.

1
Manis
mohon koreksi biar nggak bingung
my name is pho: sudah kak
terima kasih koreksinya
total 1 replies
Manis
Ningsih jg kayanya bukan istri keduanya abah Ali deh, tapi ibunya ningrum
Manis
Ningrum di awal2 kan sepupu Jefry bukan adik tiri
Nha_A
ini yg mantunya siapa sih sebenarnya? si laki bangun menyambut mertua, si perempuan mau bangkit dari t4 tidur nyambut mertua,gimana konsepnya itu?
Manis
aslinya berjilbab nggak sih? paragraf bawah katanya berhijab
my name is pho: berhijab kak
terima saja koreksinya 🙏
total 1 replies
LIANI LA BUNGA YANI
lanjuuttttttttt kak
LIANI LA BUNGA YANI
aku suka noveeelnyaaa😍
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
sri hastuti
jangan keras kepala puja, siapa tau jefry bisa mau mengerti dan sayang sm km , hrs ada keterbukaan, blm tentu kl km gak menikah ibu tirimu setuju km kuliah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!