NovelToon NovelToon
Garis Yang Tak Kupilih

Garis Yang Tak Kupilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Perjodohan
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Impian Puja untuk melangkah ke bangku kuliah dan menjadi seorang psikolog seketika sirna tepat di hari kelulusannya. Tanpa persetujuannya, Abi memintanya menikah dengan Ustadz Jeffry, putra dari sahabatnya, Kyai Ali. Tekanan kian berat ketika Umi Mina, ibu tirinya, terus mendesak Puja demi hadiah yang dijanjikan keluarga Kyai Ali, memanfaatkan kepatuhan mutlak Abi terhadap setiap kata-katanya.
Di sisi lain, Ustadz Jeffry memegang teguh prinsip berbakti dan memilih patuh pada keinginan orang tuanya untuk menyegerakan pernikahan. Ketika dua insan dengan rasa yang bertolak belakang ini disatukan—Puja yang terpaksa melipat mimpinya dan Jeffry yang pasrah pada titah sang ayah—pernikahan tersebut menjadi awal dari pergolakan batin dan kepasrahan atas takdir yang tak pernah Puja inginkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Sesampainya di pondok, Puja dan Jeffry mencium punggung tangan Abah dengan takzim.

"Aduh, aduh... pengantin baru ini ada apa tiba-tiba tersenyum bersama? Padahal tadi pagi tidak seperti ini," goda Kyai Ali terkekeh pelan, menatap hangat ke arah putra dan menantunya yang kini nampak jauh lebih cair.

Jeffry tersenyum kecil, lalu merapikan posisi duduknya.

"Abah, ada sesuatu yang ingin Jeffry sampaikan."

Kyai Ali memperbaiki letak pecinya, menatap Jeffry dengan binar mata teduh.

"Apa itu?"

"Ini tentang Puja, Bah," ujar Jeffry dengan nada mantap namun santun.

"Puja ingin melanjutkan kuliah ke Yogyakarta. Tapi karena jaraknya cukup jauh dan pernikahan kita baru berjalan beberapa hari, Jeffry menyarankan agar Puja kuliah di universitas di kota ini saja, Bah. Supaya ia tetap bisa menuntut ilmu tanpa melalaikan kewajibannya."

Abah menatap wajah Puja yang menundukkan kepalanya, menyimak setiap helaan napas gadis muda di hadapannya itu.

"Nduk..." panggil Kyai Ali lembut.

Puja mendongak perlahan, menatap mata mertuanya yang penuh kearifan.

"Abah setuju dengan pendapat Jeffry. Kami tidak akan menentang niat muliamu untuk menuntut ilmu, asalkan kamu bisa membagi waktu dengan baik antara kuliah dan berbakti kepada suamimu," tutur Kyai Ali seraya tersenyum teduh.

"Apa kamu sanggup?"

"Insyaallah, Abah... Saya sanggup," ucap Puja dengan nada mantap, diiringi rasa syukur yang membuncah di dalam dadanya.

Jeffry mengangguk lega, lalu melanjutkan bicaranya kepada sang ayah.

"Kalau Abah merestui, besok Jeffry akan memboyong Puja pindah ke rumah baru kami, sekalian mengurus pendaftaran kuliah Puja ke kampus."

Kyai Ali mengangguk-angguk penuh kepuasan. "Bagus itu, Jeffry. Membangun rumah tangga mandiri di rumah sendiri akan membuat kalian lebih dewasa dan saling mengenal. Abah merestui dan mendoakan keberkahan untuk langkah kalian."

Mendengar restu itu, senyum Puja mengembang sempurna.

Rasa takut dan keraguan yang menggelayuti pikirannya sejak hari kelulusan kini sirna sepenuhnya, berganti menjadi optimisme baru menatap masa depannya bersama Jeffry.

"Abah, aku juga mau kuliah!" celetuk Ningrum yang mendadak muncul dari arah dapur, melipat tangan di dada dengan raut wajah tak mau kalah.

Abah tertawa kecil, menggeleng-gelengkan kepalanya menatap keponakannya itu.

"Kamu mau kuliah? Dulu saja waktu lulus sekolah kamu yang paling keras menolaknya dan minta langsung kerja di pesantren."

Bibi Ningsih yang mengekor di belakang Ningrum ikut menimpali, menatap Kyai Ali dengan nada mendesak.

"Aduh, Mas Ali... Biar bagaimanapun, Ningrum kan sepupunya Jeffry. Kalau Puja didaftarkan kuliah, sekalian daftarkan Ningrum juga dong. Masa cuma menantu baru yang difasilitasi?"

"Maaf, Ningsih, tapi biar Puja dulu yang kuliah," ucap Abah tegas namun tetap tenang.

"Puja punya niat dan prestasi yang jelas sejak sekolah, nilainya sempurna. Sementara Ningrum, biar fokus dulu membantu kegiatan santri di sini seperti yang selama ini dia jalani."

Mendengar keputusan Abah, wajah Bibi Ningsih dan Ningrum seketika bersungut-sungut menahan kesal.

Ningrum menghentakkan kakinya pelan lalu berbalik pergi, sementara Bibi Ningsih menyusul dengan wajah bersungut-sungut.

Jeffry dan Puja hanya saling pandang sejenak. Ada senyum tipis di bibir Jeffry yang seolah menenangkan Puja agar tidak usah memikirkan tingkah bibi dan sepupunya itu.

"Sudah, tidak usah dipikirkan," ujar Abah lembut mengalihkan perhatian kembali ke Jeffry dan Puja.

"Jeffry, siapkan kepindahan kalian untuk besok. Pastikan rumah baru kalian sudah nyaman dan semua kebutuhan Puja untuk pendaftaran kuliah siap."

"Nggih, Abah. Terima kasih banyak atas restu dan dukungannya," sahut Jeffry mantap seraya mengangguk takzim.

Kemudian Jeffry mengajak istrinya untuk beristirahat di kamar.

Setelah menutup pintu kayu kamar mereka, Jeffry melangkah mendekat ke arah ranjang.

Suasana ruangan seketika menjadi hangat dan tenang, menyisakan ruang pribadi hanya untuk mereka berdua.

Jeffry menatap wajah Puja dengan pendar mata yang teduh dan penuh kasih, lalu mendudukkan diri di samping istrinya.

"Dek, janji ya kalau sudah kuliah jangan lupakan aku," ucap Jeffry pelan, memperlihatkan sedikit keraguan dan rasa khawatir yang selama ini ia sembunyikan di balik ketenangannya.

Puja menatap lekat manik mata suaminya. Senyum manis perlahan mengembang di bibirnya, menghapus sisa-sisa jarak yang sempat merenggangkan mereka.

Ia mengikis jarak, memberanikan diri menggenggam lembut jemari tangan Jeffry.

"Mas, melupakan bagaimana? Mas kan suamiku, imamku," balas Puja tulus.

"Masa aku melupakan orang yang justru membukakan jalan untuk mimpiku dan pasang badan membela harga diriku?"

Jeffry tertegun sejenak, lalu tersenyum lega. Kalimat sederhana itu seperti penawar dari segala keraguan di dadanya.

Pria itu mengusap lembut puncak kepala Puja yang terbalut kerudung, merapatkan genggaman tangan mereka.

"Terima kasih, Puja. Aku hanya ingin memastikan hatimu tenang dan bahagia bersamaku," bisik Jeffry lembut.

"Justru aku yang harus terima kasih, Mas," sahut Puja seraya menunduk malu, merasakan getaran hangat yang kini benar-benar berlabuh di dadanya.

Malam itu, di dalam kamar yang temaram, tidak ada lagi rasa benci atau penyesalan.

Yang tersisa hanyalah dua insan yang mulai saling menerima, bersiap menyongsong esok hari untuk memulai lembaran baru di rumah dan kehidupan mereka yang mandiri.

Di kamar lain, Ningrum menghentakkan kakinya keras-keras ke lantai.

Mukanya memerah padam menahan dongkol yang meluap-luap.

"Apa sih kelebihan Puja sampai semua orang suka sama dia?! Padahal cantikan aku!" jerit Ningrum kesal, membuang bantal ke sudut ranjang dengan nafas memburu.

"Sabar, Ningrum..." bujuk Bibi Ningsih seraya mengelus bahu putrinya, berusaha menenangkan suasana.

"Sabar bagaimana, Ibu?! Mas Jeffry bela-belain dia di depan Abah, Abah juga langsung setuju kasih dia kuliah! Padahal dia itu cuma anak kampung biasa yang dinikahi karena uang! Kenapa dia harus dapat semuanya?!" cerocos Ningrum dengan mata berapi-api, mengepalkan jemarinya kencang.

Bibi Ningsih menyunggingkan senyum licik, matanya memicing menatap pintu kamar yang tertutup.

"Biarkan saja mereka senang-senang dulu untuk sekarang. Rumah tangga baru itu tidak akan semulus yang mereka bayangkan, Ningrum. Nanti kalau mereka sudah pindah ke rumah baru dan Puja sibuk kuliah, pasti ada celah buat kita."

Ningrum menoleh, menatap ibunya dengan alis berkerut.

"Maksud Ibu?"

"Puja itu masih muda, emosinya belum stabil. Masuk dunia perkuliahan pasti bakal ketemu banyak laki-laki lain. Kita lihat saja seberapa tahan pernikahan mereka kalau Puja mulai sibuk dan mengabaikan Jeffry," bisik Bibi Ningsih penuh prasangka buruk.

Mendengar bisikan sang ibu, raut kekesalan di wajah Ningrum perlahan memudar, berganti dengan senyuman miring penuh rencana.

"Aku akan mengambil Jeffry di saat Puja sibuk dengan kuliahnya," gumam Ningrum dengan tatapan penuh ambisi.

"Pintar sekali kamu, Ningrum," puji Bibi Ningsih seraya mengusap kepala putrinya, menyatukan niat jahat mereka untuk merusak kebahagiaan pasangan baru itu.

1
Manis
mohon koreksi biar nggak bingung
my name is pho: sudah kak
terima kasih koreksinya
total 1 replies
Manis
Ningsih jg kayanya bukan istri keduanya abah Ali deh, tapi ibunya ningrum
Manis
Ningrum di awal2 kan sepupu Jefry bukan adik tiri
Nha_A
ini yg mantunya siapa sih sebenarnya? si laki bangun menyambut mertua, si perempuan mau bangkit dari t4 tidur nyambut mertua,gimana konsepnya itu?
Manis
aslinya berjilbab nggak sih? paragraf bawah katanya berhijab
my name is pho: berhijab kak
terima saja koreksinya 🙏
total 1 replies
LIANI LA BUNGA YANI
lanjuuttttttttt kak
LIANI LA BUNGA YANI
aku suka noveeelnyaaa😍
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
sri hastuti
jangan keras kepala puja, siapa tau jefry bisa mau mengerti dan sayang sm km , hrs ada keterbukaan, blm tentu kl km gak menikah ibu tirimu setuju km kuliah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!