Dia meninggal dalam kesengsaraan, dikhianati oleh suami dan sahabatnya sendiri. Tapi takdir memberinya tiket pulang ke masa lalu. Siren terbangun kembali di tubuh mudanya, lima tahun sebelum tragedi itu menghancurkan hidupnya. Kali ini, dia bukan lagi istri penurut yang naif. Dengan ingatan utuh tentang setiap kebohongan Fadli dan setiap rencana jahat Nia, Siren bersiap memainkan skenario baru. "Kalian pikir aku lemah? Tunggu saja sampai kalian melihat siapa yang sebenarnya memegang kendali." Di kehidupan barunya, Siren tidak hanya fokus menghancurkan karir dan rumah tangga Fadli, tetapi juga membangun imperiumnya sendiri. Di tengah permainan kucing-kucingan yang penuh sarkasme dan ketegangan ini, hadir Arya Wijaya—konglomerat dingin yang di kehidupan sebelumnya ia abaikan. Arya bukan sekadar pelarian. Dia adalah sekutu cerdas yang menyadari perubahan drastis pada Siren. Bersama Arya, Siren mengubah air mata menjadi senjata, dan rasa sakit menjadi bahan bakar untuk bangkit. Siap-siap m
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JEJAK DIGITAL
Lift berhenti di lantai 45. Pintu terbuka, menyapa kami dengan keheningan kantor yang steril. Aku melangkah keluar, melepaskan genggaman tangan Arya secara perlahan, meski jari-jariku masih terasa hangat.
"Kamu punya rapat dengan tim akuisisi jam dua," ucap Arya, mengikuti langkahku menuju ruang kerjanya yang luas.
"Saya akan siapkan dokumen finalnya."
"Terima kasih," jawabku singkat. Aku duduk di kursi ergonomis di depan mejanya, membuka laptop.
"Tapi sebelum itu, ada satu hal yang menggangguku."
Arya berhenti di ambang pintu, menoleh. "Apa?"
"Ibu Ratna tadi... dia terlalu mudah mundur. Biasanya, wanita seperti dia akan terus berteriak sampai polisi datang. Tapi dia langsung kabur saat disebut KPK."
Arya mengerutkan kening, berjalan mendekat. "Kamu curiga ada sesuatu?"
"Bukan curiga. Itu insting," kataku, menatap layar laptop yang sudah menampilkan dashboard monitoring media sosial.
"Lihat ini. Dalam lima menit terakhir, setelah demo bubar, muncul tiga akun baru di Twitter. Akun-akun ini tidak memiliki followers, tapi mereka mulai menyebarkan thread panjang tentang 'kekerasan domestik' yang konon kulakukan pada Fadli."
Arya membungkuk, menatap layar dari atas bahuku. Aroma wewangiannya yang khas memenuhi indra penciumanku, membuat konsentrasiku sedikit goyah.
"Thread itu berisi foto-foto lama," lanjutku, menunjuk salah satu gambar.
"Foto memar di lenganku tiga tahun lalu. Foto saya menangis di dapur. Dan captionnya: 'Siren memukul Fadli karena cemburu buta. Fadli adalah korban kekerasan rumah tangga.'"
Wajah Arya mengeras. Matanya menyipit tajam.
"Itu rekayasa. Memar itu terjadi karena kamu terjatuh saat membersihkan gudang atas perintah Ibu Ratna. Kami punya laporan medisnya."
"Tapi publik tidak tahu itu," balasku cepat.
"Narratif 'istri pemukul suami' sangat efektif untuk memicu kemarahan netizen. Apalagi jika dikaitkan dengan isu feminisme toxic. Mereka akan membelah opini menjadi dua kubu. Dan di tengah kekacauan itu, reputasi Wijaya Group bisa tercoreng."
Arya menghela napas berat, lalu berdiri tegak. Ia mengambil ponselnya, menekan tombol panggilan cepat.
"Halo, Divisi Cyber," ucapnya, suaranya dingin dan otoritatif.
"Lacak sumber IP dari tiga akun Twitter yang baru saja viral terkait kasus Siren-Fadli. Saya ingin tahu siapa di belakangnya dalam waktu sepuluh menit. Ya, prioritas utama."
Ia menutup telepon, lalu menatapku. "Kita tidak bisa diam. Jika kita membantah sekarang, kita terlihat defensif. Jika kita menunggu, narasi itu akan mengakar."
"Lalu apa strategimu?" tanyaku.
"Serangan balik melalui pihak ketiga," jawab Arya, matanya berbinar licik.
"Kita tidak akan membantah sendiri. Kita akan biarkan mantan asisten rumah tangga kalian, Bu Siti, yang berbicara. Dia saksi mata kejadian itu. Dan kebetulan, dia sekarang bekerja sebagai cleaning service di gedung ini."
Aku ternganga. "Bu Siti?
"Dia mengirim email ke HRD minggu lalu, meminta referensi kerja. Saya yang personally menyetujuinya," aku Arya sambil tersenyum tipis.
"Dia menyimpan semua catatan medis lama kamu. Dan dia punya rekaman suara Ibu Ratna yang memerintahkannya untuk menyembunyikan fakta bahwa kamu dipukul oleh Fadli, bukan sebaliknya."
Jantungku berdegup kencang. "Kamu... kamu sudah mempersiapkan ini sejak lama?"
"Saya selalu mempersiapkan skenario terburuk, Siren," jawabnya lembut.
"Karena saya tahu keluarga seperti mereka tidak akan pernah berhenti menyerang dari arah yang tak terduga."
Tiba-tiba, pintu ruang kerja terbuka tanpa ketukan. Seorang pria muda berseragam security masuk dengan wajah pucat.
"Maaf mengganggu, Tuan Arya, Nyonya Siren," ucapnya gugup.
"Ada tamu. Mengklaim sebagai saudara jauh Nyonya Siren. Namanya Pak Dedi. Dia bersikeras masuk, membawa surat kuasa dari Ibu Ratna."
Aku dan Arya bertukar pandang. Pak Dedi? Paman tiriku yang jarang sekali muncul, kecuali saat ada warisan atau masalah uang.
"Surat kuasa?" ulangku, alisku terangkat. "Untuk apa?"
"Dia bilang... ingin melakukan mediasi keluarga," jawab security itu.
"Dia membawa kamera video. Bilangnya untuk dokumentasi damai."
Arya tertawa kecil, tawa yang renyah tapi penuh sinisme.
"Mediasi? Dengan kamera? Itu bukan mediasi. Itu jebakan konten."
"Biarkan dia masuk," ucapku tiba-tiba, memutuskan.
Arya menatapku tajam. "Siren, itu berbahaya. Dia bisa memprovokasi kamu di depan kamera."
"Justru itu yang saya inginkan," jawabku, berdiri dari kursi. Ekspresiku tenang, bahkan dingin.
"Jika dia merekam, berarti dia memberikan bukti. Bukti bahwa keluarga besar saya mencoba memanipulasi situasi melalui media. Dan saya akan berikan mereka pertunjukan yang tidak akan pernah mereka lupakan."
Arya menghela napas, lalu mengangguk pelan.
"Baiklah. Tapi saya akan berada di ruangan sebelah, memantau melalui CCTV. Jika dia melakukan satu gerakan agresif, security akan masuk dalam tiga detik."
"oke" jawabku.
Security itu keluar. Beberapa saat kemudian, Pak Dedi masuk. Pria berusia lima puluhan dengan kemeja batik yang terlalu ketat, membawa tas selempang usang dan sebuah kamera video tua yang dipegang erat.
"Siren! Anak manis!" serunya palsu, senyumnya lebar hingga menunjukkan gigi kuningnya.
"Lama tidak bertemu! Kamu kelihatan... wow, sangat sukses ya? Gedung mewah, mobil bagus..."
"Pak Dedi," potongku, suaraku datar.
"Silakan duduk. Jangan buang-buang waktu. Apa tujuan Anda sebenarnya?"
Pak Dedi terkejut dengan ketegasanku. Ia meletakkan kameranya di meja, mengarahkan lensanya padaku.
"Eh, begini Nak. Ibu Ratna, mertuamu itu... dia sedih banget. Dia merasa kamu terlalu keras. Jadi, sebagai keluarga, kami ingin mengajakmu berdamai. Fadli juga mau minta maaf. Asal kamu mau mencabut laporan pidana terhadap Nia dan mengembalikan sebagian aset Fadli."
Aku menatap lensa kamera itu, lalu menatap Pak Dedi. Senyum tipis terbentuk di bibirku.
"Mencabut laporan pidana?" ulangku pelan. "Pak Dedi, apakah Anda sadar bahwa Nia telah melakukan tindak pidana cybercrime dan penipuan korporat? Itu bukan urusan pribadi. Itu urusan negara."
"Ah, gitu-gitu aja lah," geleng Pak Dedi, meremehkan.
"Kan bisa diatur. Uang bisa bicara, Nak. Fadli siap bayar ganti rugi. Berapa? Satu miliar? Dua miliar?"
Mataku membelalak. Bukan karena tergiur. Tapi karena betapa murahnya harga diri mereka.
"Dua miliar," gumamku, pura-pura berpikir. "Itu jumlah yang menarik."
Pak Dedi tersenyum puas, mengira berhasil. "Nah, kan! Lihat, kamera! Dia setuju! Siren setuju berdamai dengan imbalan dua miliar!"
Aku tertawa. Tawa yang keras, renyah, dan penuh ejekan.
"Pak Dedi," ucapku, suaraku naik.
"Anda baru saja merekam diri Anda sendiri mencoba menyuap saksi dalam kasus pidana. Rekaman ini sudah saya simpan di cloud server saya secara otomatis sejak Anda masuk ruangan. Dan saya juga sudah mengirim salinannya ke Kejaksaan Agung dan KPK."
Wajah Pak Dedi berubah dari puas menjadi horor murni. Ia melompat berdiri, mencoba meraih kameranya.
"K-Kamu bohong! Hapus itu!" teriaknya panik.
"Security!" panggilku tenang.
Dua petugas keamanan masuk seketika, menggiring Pak Dedi yang memberontak keluar ruangan. Kamera videonya tertinggal di meja, masih merekam wajah kosong Pak Dedi yang diseret pergi.
Arya masuk kembali ke ruangan, memegang tablet. Wajahnya serius, tapi matanya berbinar bangga.
"Rekaman sudah diamankan," ucapnya. "Dan Pak Dedi sudah diserahkan ke polisi terdekat atas tuduhan percobaan penyuapan."
Aku duduk kembali, merasa lelah namun puas. "Mereka tidak pernah belajar, ya?"
"Mereka belajar, Siren," jawab Arya, duduk di sampingku.
"Mereka belajar bahwa melawan Anda sama dengan melawan hukum. Dan hukum... tidak bisa disuap dengan dua miliar."
Ia menggenggam tanganku di atas meja. "Kamu hebat. Cara kamu menjebak Pak Dedi... itu jenius."
"Aku belajar dari guru terbaik," balasku, menatap matanya dalam-dalam.
"Guru yang mengajarkan bahwa kejujuran adalah perisai, dan kecerdasan adalah pedang."
Arya tersenyum, mendekatkan wajahnya. "Dan cinta... adalah alasan mengapa kita terus berjuang."
Di tengah kekacauan dunia luar, di antara serangan fitnah dan jebakan keluarga, kami menemukan ketenangan. Ketenangan yang dibangun di atas kepercayaan, strategi, dan cinta yang finally tumbuh subur di tanah yang pernah gersang.