NovelToon NovelToon
SUAMIKU SELAMANYA MILIK KELUARGANYA

SUAMIKU SELAMANYA MILIK KELUARGANYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

"Mulai hari ini, silakan ambil kembali anak laki-laki kebanggaanmu, Ibu. Karena suamiku... selamanya memang hanya milik keluarganya!"

​Dulu, rumah tanggaku bersama Mas Bayu begitu harmonis. Dia suami yang manis dan selalu menyerahkan seluruh gajinya padaku. Tapi semua hancur saat kami mengalah untuk pindah dan tinggal satu atap dengan Ibu Mertua serta adik ipar.

​Neraka dimulai ketika suami dari adik iparku menganggur. Alih-alih menegur menantunya yang malas, Ibu Mertua justru terus mengamuk dan memanipulasi keadaan. Kena guilt trip dan air mata sang ibu, Mas Bayu tega merebut hak keuanganku. Seluruh gajinya resmi diserahkan ke rekening ibunya demi membiayai ipar parasit.

​Saat nafkah anakku dipangkas habis dan suamiku lebih memilih melihatku menangis demi senyum ibunya, aku sadar pernikahan ini sudah mati.

​Nggak akan ada lagi tangisan mengemis. Aku akan angkat kaki membawa putriku, mengembalikan Mas Bayu pada keluarganya, dan membuktikan betapa hancurnya hidup mereka tanpa diriku

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SUAMIKU SELAMANYA MILIK KELUARGANYA

​Satu bulan telah berlalu sejak hari ulang tahun Naya yang kurayakan dalam kesederhanaan dan kepahitan di kamar belakang ini. Satu bulan itu pula, rumah ini bertransformasi menjadi sebuah tempat yang makin asing bagiku.

​Hubungan rumah tanggaku dengan Bayu tak ubahnya bagai benang lapuk yang tinggal menunggu waktu untuk putus. Kami masih tinggal di bawah atap yang sama, tidur di ranjang yang sama di kamar belakang yang sempit dan pengap ini, namun kami tak lagi saling berbicara lebih dari sekadar hembusan napas. Bayu mencoba mengajakku bicara beberapa kali, menyunggingkan senyum serba salahnya yang kini terasa begitu tawar, namun aku memilih membentengi diriku dengan tembok dinding yang tebal dan dingin.

​Rasa cintaku yang dulu begitu besar, kini telah menguap tanpa sisa. Yang tersisa hanyalah rasa hormat yang terpaksa demi menjaga ketenangan psikologis Naya.

​Setiap hari, aku lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamar bersama Naya. Untuk urusan makan pun, aku tak pernah lagi mau bergabung di meja makan bersama Ibu Sumiati, Rika, dan suaminya. Setiap kali jadwal makan tiba, aku akan keluar sebentar ke dapur, mengambil piring untukku dan Naya, lalu membawanya masuk ke dalam kamar. Kami makan berdua di atas lantai beralaskan tikar lipat.

​Biarlah mereka menganggapku menantu yang tidak bersosialisasi atau tidak tahu tata krama. Aku tidak peduli lagi. Menyaksikan wajah-wajah mereka di meja makan hanya akan merusak selera makan dan membuat dadaku makin sesak.

​Namun, di balik pintu kamar yang selalu kukunci dari dalam ini, aku tidak sedang meratapi nasib.

​Pagi ini, saat Naya sedang asyik mewarnai buku gambarnya di atas ranjang, aku duduk di sudut meja kecil dengan ponsel di genggaman. Layar ponselku menampilkan deretan email balasan dari beberapa lowongan pekerjaan yang kedaftarkan secara diam-diam selama beberapa minggu terakhir.

​Ya, aku sudah bulat. Aku harus bekerja kembali.

​Aku sadar betul, mencari pekerjaan sambil memboyong anak kecil berusia empat tahun seperti Naya bukanlah hal yang mudah. Pasti akan sangat merepotkan dan melelahkan. Aku harus membagi fokus antara pekerjaan, mengurus Naya tanpa bantuan siapapun di rumah ini, dan memastikan anakku tetap aman. Tapi, rasa lelah itu tak ada apa-apanya dibanding harus terus-menerus hidup menggantungkan nasib pada uang nafkah Bayu yang kini sudah sepenuhnya dikuasai oleh Ibu Sumiati.

​Aku tidak mau menjadi wanita lemah yang terus-menerus diinjak-injak oleh mertua dan iparku! Aku punya pendidikan, aku punya kemampuan, dan yang paling penting, aku punya harga diri yang harus kujaga di depan anakku. Jika aku terus diam dan mengalah, Naya akan tumbuh melihat ibunya sebagai sosok yang pasrah ditindas. Dan aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi.

​Tiba-tiba, suara riuh dari arah dapur dan ruang tengah menembus dinding kamar belakang. Suara melengking Rika dan nada tinggi Bayu terdengar bersahut-sahutan.

​Aku meletakkan ponselku, mengusap kepala Naya pelan. "Naya main di dalam dulu ya, Mimo mau ambil air minum sebentar di luar."

​Naya mengangguk patuh. "Iya, Mimo."

​Aku melangkah pelan keluar kamar, sengaja berjalan tanpa suara menuju area dapur yang berbatasan langsung dengan ruang tengah. Aku tidak berniat ikut campur, tapi percakapan yang sedang berlangsung itu terlalu jelas untuk diabaikan.

​Aku tidak pernah bertanya kepada siapapun di rumah ini mengenai urusan Rika dan suaminya, Budi. Namun, selama satu bulan mereka menumpang di rumah ini, aku tidak bodoh untuk tidak menyadari satu hal: Budi, suami Rika, ternyata sudah menganggur selama satu bulan penuh.

​Pria itu setiap hari hanya bersantai di sofa ruang tamu, bermain ponsel dan menikmati fasilitas rumah fasilitas yang dibeli menggunakan uang gaji Bayu yang dikuasai Ibu Sumiati. Dan hari ini, rupanya rasa frustrasi Bayu akhirnya mencapai puncaknya.

​"Rik, kamu itu harusnya ngomong sama suamimu!" suara Bayu terdengar begitu menekan, ada nada ketegangan yang amat sangat dalam intonasinya. "Ini udah sebulan Budi cuma tidur-tiduran di rumah! Kasih tahu dia buat cari kerjaan! Mau sampai kapan dia begini terus?"

​"Mas Bayu apaan sih!" potong Rika tak mau kalah, suaranya melengking membela sang suami. "Mas Fery itu lagi nyari kerjaan yang pas! Ya belum dapet aja sekarang, masa Mas Bayu tega ngomong kayak gitu?!"

​"Nyari kerjaan gimana?" balas Bayu, nadanya makin naik. "Tiap hari Mas lihat dia cuma main game di ruang tamu! Kamu pikir biaya makan sekeluarga di rumah ini murah? Listrik naik, kebutuhan dapur membengkak! Mas ini capai kerja sendirian dari pagi sampai malam, Rik!"

​Aku yang berdiri di balik tembok dapur menyunggingkan senyum sinis yang sangat tipis.

​"Oh, jadi Mas Bayu baru merasa capai sekarang?." batinku mendengus.

​Saat uang gajinya dikuras habis oleh ibunya untuk membiayai adik dan iparnya yang menganggur, dia baru merasakan beban itu. Dulu, saat uang gajinya kupegang dan kukelola dengan rapi, kehidupan kami sangat amat berkecukupan dan tenang. Namun kini, demi membela label anak berbakti, dia harus menanggung beban hidup dua orang dewasa tambahan yang tidak tahu malu.

​"Aduh, Bayu! Kamu itu kenapa sih kok perhitungan banget sama adik sendiri?!"

​Suara Ibu Sumiati mendadak bergabung dalam perdebatan itu, memotong ucapan Bayu dengan pembelaan yang mutlak untuk Rika dan Budi.

​"Ibu..." suara Bayu melembut secara drastis, nada frustrasinya mendadak mengempis seperti balon bocor saat berhadapan dengan ibunya. "Bukan gitu, Bu... Tapi kan Fery itu laki-laki, dia kepala rumah tangga buat Rika. Masa udah sebulan numpang di sini nggak ada usahanya sama sekali buat cari penghasilan?"

​"Dia itu lagi berusaha, Bayu!" sergah Ibu Sumiati galak. "Kamu itu jadi kakak kok nggak ada toleransinya sama sekali! Lagian uang yang dipakai makan sehari-hari itu kan uang yang kamu kasih ke Ibu! Itu uang anak Ibu, uangmu! Jadi terserah Ibu mau pakai uang itu buat kasih makan Rika sama Budi atau siapapun! Kamu nggak usah ikut campur dan nggak usah perhitungan!"

​Keheningan melingkupi ruang tengah setelah semprotan tajam dari Ibu Sumiati.

​Dari balik tembok, aku bisa membayangkan betapa pucat dan kaku wajah Bayu saat ini. Suamiku itu kembali dibungkam oleh ibunya sendiri. Rasa keadilan yang coba dinyatakannya mentah-mentah dipatahkan oleh doktrin bahwa uang gajinya adalah milik ibunya, sehingga ibunya berhak membiayai siapapun termasuk iparnya yang malas sementara istri dan anak kandungnya sendiri disingkirkan ke kamar belakang dan diberi jatah makan yang serba dipangkas.

​Rika kembali bersuara dengan nada penuh kemenangan. "Lagian ya, Mas... Mas Fery itu lulusan S1, gak bisa sembarangan ambil kerjaan kasar! Ya harus milih-milih yang sepadan dong! Nanti kalau Mas Budi udah sukses juga Mas Bayu bakal kecipratan!"

​"Tuh, dengerin adekmu!" timpal Ibu Sumiati. "Sudah, kamu berangkat kerja sana! Nggak usah bikin ribet suasana pagi-pagi gini!"

​Langkah kaki Bayu terdengar menyeret lambat ke arah pintu depan, disusul deru mesin mobilnya yang meninggalkan rumah.

​Aku menarik napas panjang, lalu melangkah santai keluar dari balik dinding dapur menuju dispenser untuk mengisi botol air minum Naya.

​Ibu Sumiati dan Rika yang masih berdiri di ruang tengah mendadak menghentikan obrolan mereka saat melihat keberadaanku. Rika melipat tangannya di dada, menatapku dengan sudut mata yang sarat akan rasa tidak suka, sementara Ibu Sumiati memberikan tatapan dinginnya yang biasa.

​Aku sama sekali tidak melirik ke arah mereka. Aku membelakangi mereka, mengucurkan air dari dispenser hingga botol terisi penuh.

​"Punya telinga tuh lebar-lebar," sindir Rika cukup keras, sengaja ditujukan untuk telingaku. "Biar tahu diri kalau di rumah ini tuh lagi banyak beban, jangan cuma ngurung diri di kamar terus kayak ratu!"

​Aku menyunggingkan senyum tipis, tetap menutup botol air minumku dengan tenang. Aku berbalik, menatap Rika dan Ibu Sumiati tepat di manik mata mereka.

​"Beban?" ucapku pelan, suaranya begitu tenang namun penuh penekanan. "Iya, memang. Rumah ini memang lagi menampung beban berat. Apalagi beban dewasa yang punya badan sehat tapi cuma bisa tidur dan main game sebulan penuh."

​Wajah Rika seketika memerah padam. "Maksudmu apa ngomong gitu, Mbak?! Nyindir suami saya?!"

​"Saya tidak sebut nama," jawabku datar. "Tapi kalau merasa, ya syukur kalau sadar."

​"Maya! Kurang ajar kamu ya!" bentak Ibu Sumiati dengan suara melengkingnya. "Berani-beraninya kamu ngomong begitu di depan Ibu!"

​Aku tidak gentar sedikit pun. Aku menatap mertuaku itu dengan pandangan lurus. "Saya cuma menyampaikan fakta yang baru saja Ibu dan Rika perdebatkan dengan Mas Bayu. Permisi, saya mau kembali ke kamar mengurus anak saya."

​Tanpa memberikan kesempatan pada mereka untuk membalas, aku berbalik dan melangkah mantap menuju kamar belakang.

​BRAK.

​Aku menutup pintu kamar dan memutar kuncinya.

​Dadaku bergemuruh kencang, napasku agak memburu. Ini pertama kalinya dalam lima tahun aku berani menyuarakan sindiran setajam itu di depan muka mereka. Dan rasanya... luar biasa lega.

​Aku berjalan mendekati ranjang, di mana Naya menatapku dengan polos. Aku duduk di sampingnya, mengambil ponselku yang tergeletak di atas kasur. Sebuah notifikasi pesan baru masuk di layar.

​Aku membuka pesan tersebut. Itu adalah chat dari nomer yang aku hubungi dimana aku menyebutkan jika bisa mengajak anak kerja di rumah tersebut saya mau menginap di sana. Di sini Allah seolah-olah tahu jika aku memang harus waras untuk menjaga anakku Naya.

​Mataku berbinar saat membaca siang ini aku di suruh untuk wawancara di alamat yang sudah di kirim. Aku membalas iya dan ini adalah hal pertamaku untuk kembali berdiri di atas kakiku sendiri.

​Aku merengkuh tubuh mungil Naya ke dalam pelukanku, mencium pipinya yang lembut.

​"Naya..." bisikku mantap. "Bentar lagi Mimo bakal bawa Naya keluar dari rumah ini. Kita bakal punya rumah yang tenang lagi, cuma ada Mimo dan Naya."

​Naya mendongak, menyunggingkan senyum mewaninya yang polos. "Sama Pipo juga, Mimo?"

​Jantungku terenyuh sejenak. Aku menatap mata anakku yang jujur itu, lalu menyentuh rambut ikalnya dengan lembut.

​"Pipo udah memilih tempatnya sendiri, Sayang..." jawabku dalam hati. "Dan tempat itu bukan lagi di samping kita."

​Aku memantapkan hatiku. Sing ini adalah hari wawancara kerja itu. Apapun yang terjadi, aku akan berjuang habis-habisan demi mendapatkan pekerjaan ini. Aku tidak akan pernah biarkan diriku dan anakku terus-menerus menjadi korban di rumah yang penuh dengan parasit dan ketidakadilan ini.

1
Zhafran Althaf
aku kepo loooo kak banyakin updatenya
blcak areng: 2 bab ya kak sehari
total 1 replies
Zhafran Althaf
good job mayaaa
Lee Mba Young
iya lah ngapain juga bertahan di situ, mending pergi Wong anak nya saja gk di anggep. mending pergi drpd anaknya mlh trauma seumur hidup Dan tidak berkembang krn di besarkan di kluarga toxic
Zhafran Althaf
udah pergi aja biar kapok di bayu
Zhafran Althaf
kak centong nasi di rumahku masih panas kalau buat nabok ibunya bayu
Zhafran Althaf: gemess aku sama mulutnya yang lemes ituuu🤣🤣🤣
total 2 replies
susi ana
hadir thor
blcak areng: siap Akak😍😍
total 1 replies
Himna Mohamad
sdh mampir kK lanjut
blcak areng: ehh mksh kakak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!