"Semua orang bilang dia dingin, kejam, dan tak tersentuh. Tapi hanya aku yang tahu — di balik tatapan dingin itu, tersembunyi hati yang paling lembut dan paling setia."
Su Yi, gadis sederhana yang tiba-tiba dijodohkan dengan pria paling ditakuti, paling kaya, dan paling dingin di kota — Mo Han, CEO Grup Mo yang kekuasaannya merentang ke seluruh negeri. Semua orang kasihan padanya, mengira dia hanya akan menjadi istri piala yang dibuang kapan saja. Namun tak ada yang tahu... Mo Han sudah menunggunya selama sepuluh tahun.
Di balik perjodohan yang dipaksakan itu, tersembunyi cinta yang tak pernah terucap, rahasia masa lalu, dan bahaya yang perlahan mendekat. Saat Su Yi perlahan melihat sisi lain pria itu, hatinya mulai bergetar. Tapi saat dia mulai jatuh cinta... rahasia besar itu mulai terungkap.
Apakah perjodohan ini akan menjadi neraka selamanya? Atau justru menjadi awal dari cinta yang paling indah dan paling abadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arman A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Pagi yang Berbeda
Bibir mereka saling menyatu lembut, tak tergesa-gesa, tak menuntut — hanya menyentuh perlahan seakan saling mengingatkan bahwa ini nyata, bukan mimpi yang akan lenyap saat kelopak mata terbuka. Su Yi memejamkan mata rapat, menahan napas seakan takut sedikit saja gerakan akan memecahkan keindahan ini menjadi ribuan kepingan tak tersambung lagi. Di dadanya yang selama ini dingin dan sepi, perlahan mengalir kehangatan yang tak pernah ia kenal sebelumnya — lembut, damai, dan penuh harapan yang nyaris menyakitkan.
Mo Ha merasakan getaran halus di pelukannya saat tubuh Su Yi perlahan rileks, tak lagi menegang bagai busur yang ditarik terlalu kencang. Ia mengangkat tangannya perlahan menyentuh pipinya, jemarinya menyeka sisa air mata yang masih basah di sana dengan lembut seakan memegang permata paling rapuh di dunia. Sentuhannya bukan lagi dingin atau kasar seperti dulu — penuh kehati-hatian, penuh rasa hormat, seakan baru menyadari betapa berharganya wanita di pelukannya ini selama ia sia-siakan waktu berlalu.
Saat terpisah perlahan, napas mereka menyatu hangat di udara sempit di antara wajah keduanya. Su Yi membuka matanya pelan, menatap manik mata Mo Ha yang kini memantulkan bayangannya — bukan bayangan asing yang penuh penghinaan, melainkan pandangan lembut yang membuat jantungnya berdebu kencang tak menentu.
"Mulai sekarang..." bisik Mo Ha pelan, jemarinya masih menyentuh lembut rahangnya, "...tak ada lagi rahasia di antara kita. Tak ada lagi dinding. Tak ada lagi topeng. Setiap hal, kita hadapi bersama."
Su Yi mengangguk pelan, air mata kembali menetes namun kali ini bukan karena kesedihan — senyum tipis merekah di bibirnya, lembut namun bersinar terang bagai bunga yang mekar setelah hujan panjang. "Bersama..." gumamnya pelan mengulang kata itu seakan merasakan rasanya di lidahnya. "Baiklah."
Malam itu berjalan berbeda dari malam-malam sebelumnya. Mereka tidak berpisah ke ruangan berbeda seperti kebiasaan bertahun-tahun. Mo Ha tidak pergi meninggalkannya sendirian di kamar seperti dulu. Ia membantunya merapikan surat-surat dan dokumen di meja, menaruhnya di laci paling dalam lemari besi seakan mengubur masa lalu kelam di sana. Kemudian ia duduk di tepi tempat tidur, menemani Su Yi hingga matanya perlahan menutup lelah, napasnya teratur damai di bawah selimut hangat.
Mo Ha menatapnya lama sekali sebelum memejamkan matanya di kursi di samping tempat tidur — tak mau pergi ke ruang lain malam ini. Tak mau membiarkannya bangun sendirian di kegelapan lagi.
Matahari pagi menyelinap lembut lewat celah tirai jendela, menyinari wajah Su Yi perlahan membangunkannya dari tidur paling damai yang ia rasakan bertahun-tahun terakhir. Ia membuka matanya pelan, terlebih dahulu merasakan kehangatan sinar di pipinya sebelum menyadari ada yang berbeda pagi ini.
Di kursi di samping tempat tidur... kosong.
Hatinya mencelos seketika, dingin lama menyelinap kembali — apakah semuanya semalam hanyalah mimpi belaka? Apakah ia terbangun dan kembali sendirian seperti ribuan pagi sebelumnya? Ia duduk mendadak, menyisir rambutnya gemetar, matanya menyapu ruangan mencari sosok yang ia harapkan masih ada. Namun ruangan sepi, pintu terbuka sedikit saja ke lorong kosong.
Su Yi tersenyum getir menertawakan dirinya sendiri. Bodoh... bagaimana mungkin seseorang berubah dalam satu malam? Bagaimana mungkin tahanan bisa bebas begitu saja tanpa ada rantai yang masih tertinggal di kakinya?
Ia turun dari tempat tidur, merapikan pakaiannya pelan menenangkan diri. Langkahnya berat menuju pintu, membukanya perlahan bersiap menghadapi kenyataan pahit pagi ini —
Dan langkahnya terhenti di lorong.
Dari arah ruang makan tercium aroma hangat yang tak pernah ia kenal di rumah ini selama bertahun-tahun. Aroma nasi hangat, telur goreng, dan susu manis yang mengepul lembut memenuhi udara pagi. Su Yi mengerutkan kening bingung, melangkah pelan mendekat seakan takut mengganggu sesuatu. Saat tiba di ambang pintu ruang makan — langkahnya terpaku di tempat.
Di sana, di meja makan besar yang selalu sepi dan dingin pagi-pagi, kini penuh dengan piring tertutup uap hangat. Dan di ujung meja... berdiri Mo Ha. Lengan kemejanya digulung hingga siku, rambutnya sedikit berantakan, di tangannya masih memegang sendok yang baru saja ditaruh dari panci. Saat mendengar langkahnya berbalik, dan di wajahnya muncul senyum — senyum pagi yang hangat, alami, dan menyambutnya pulang.
"Bangun?" sapanya lembut, meletakkan sendok lalu mendekat menarik kursi di sisi meja. "Silakan duduk. Baru saja matikan kompor. Harap maklum... belum terbiasa memasak. Mungkin rasanya tak sebagus koki rumah kita dulu."
Su Yi berdiri diam di ambang pintu tak bergerak, menatapnya tak percaya seakan melihat hal teraneh di dunia. Selama lima tahun menikah, Mo Ha tak pernah sekalipun turun ke dapur, apalagi menyiapkan sarapan. Bahkan air minum pun selalu disiapkan pelayan di meja kerjanya. Namun pagi ini... pria yang dulu memandangnya seakan debu di sepatunya, kini sibuk menata piring di meja untuknya sendiri.
"Kenapa berdiri di sana?" Mo Ha mendekat pelan, meraih tangannya lembut membimbingnya ke kursi yang telah disiapkan. "Dingin di pintu."
Sentuhannya hangat dan mantap. Su Yi duduk perlahan bagai mimpi yang belum selesai, menatap piring yang ditaruh di depannya — telur goreng bulat sempurna, potongan buah rapi, roti gandum masih hangat, segelas susu mengepul lembut. Sederhana, namun setiap gerakannya penuh perhatian yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
"Kau..." suaranya pelan serak, menatapnya lekat-lekat mencari kebohongan di wajahnya. "Kau bangun pagi-pagi sekali untuk ini?"
Mo Ha duduk di hadapannya, menuangkan teh hangat ke cangkir di samping piringnya perlahan. Ia tak langsung menjawab, menatap uap panas yang naik berputar di udara pagi sebelum menatap matanya kembali.
"Aku sadar betapa banyak waktu yang kusingia-siakan," ucapnya jujur pelan namun berat, "menyakitimu, meninggalkanmu, membiarkanmu bangun sendirian hari demi hari. Aku tak bisa mengembalikannya. Tapi mulai hari ini... aku pastikan kau takkan pernah sarapan sendirian lagi di rumah ini."
Su Yi menunduk menatap makanan di depannya, mata memanas kembali tak mau diajak berdamai. Ia menggigit bibir bawahnya pelan menahan getaran di dadanya. Selama bertahun-tahun ia berdoa, berharap, menangis dalam diam agar hari seperti ini datang. Dan saat benar-benar terjadi... ia tak tahu harus berkata apa.
"Makanlah selagi hangat," suara Mo Ha lembut di seberang meja, seakan mengerti perasaannya tanpa perlu dijelaskan. "Kita punya banyak hal untuk diurus hari ini. Surat dari kantor ayahmu kemarin, laporan keuangan yang tertunda, dan..." Ia berhenti sejenak menatapnya lembut, "...belajar mengenal satu sama lain dengan benar. Mulai hari ini."
Su Yi mengangkat kepalanya pelan, menyeka sudut matanya cepat sebelum senyum tipis merekah di bibirnya — senyum yang tak lagi menyembunyikan apa pun. Ia mengambil sendok perlahan, mencicipi telur itu hangat di lidahnya. Sederhana, sedikit kurang garam mungkin, namun rasanya... paling lezat yang pernah ia makan seumur hidupnya.
"Enak?" tanya Mo Ha menanti pelan, sedikit cemas menunggu penilaiannya.
Su Yi mengangguk mantap, menatapnya lekat-lekat matanya berbinar cerah pagi ini. "Enak. Terima kasih, Mo Ha."
Nama yang diucapkannya lembut dan penuh syukur membuat dada Mo Ha membusung bangga hangat. Ia tersenyum lega, ikut mulai sarapan di hadapannya sambil sesekali melirik wanita di depannya yang kini makan perlahan tenang. Cahaya pagi menimpa wajahnya lembut, menyorot bulu matanya yang panjang, senyum kecil di sudut bibirnya yang tak pernah padam sejak bangun. Dan di hati Mo Ha perlahan tumbuh satu tekad bulat — biarlah butuh waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, ia akan memperbaiki setiap luka yang pernah ia goreskan di hati wanita ini. Ia akan menebus setiap detik kesepian yang ia tinggalkan sendirian.
Satu tahun? gumamnya dalam hati menatapnya lembut. Kita tak butuh satu tahun untuk bahagia, Su Yi. Kita mulai dari sekarang. Detik ini juga.
salam interaksi thor😉