Di tengah cemoohan keluarga dan stigma sebagai produk gagal bangsawan Pendragon, Wiliam Pendragon menyembunyikan kenyataan bahwa dirinya adalah seorang jenius Level 12 pencipta Pernapasan Pedang Kegelapan sekaligus pemilik Domain Expansion yang ditakuti. Menjalani kehidupan ganda sebagai murid biasa demi menjaga kedamaian ibunya, Wiliam berubah menjadi "Hantu Topeng" saat malam tiba—sosok vigilante bertopeng bertanduk dan berjubah gelap yang membantai kejahatan tak tersentuh hukum secara dingin tanpa memedulikan pahlawan atau villain. Namun, aksinya yang menyisakan jejak sihir unik mulai mengguncang tatanan politik benua, memicu perburuan massal dan menarik perhatian empat entitas Level 20 terkuat di dunia yang mempertanyakan apakah Hantu Topeng adalah pelindung atau justru bom waktu yang siap membumihanguskan tatanan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lucius Aurelius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 21
Bab 21: Penyambutan Pedang Pengembara, Pesta Hutan, dan Benih Kekuatan Baru
Keesokan harinya, fajar di Benua Beastia menyingsing dengan pendar keemasan yang menembus kabut tipis di atas pepohonan purba. Suasana di Desa Oakhaven terasa begitu tegang dan mencekam. Pintu-pintu rumah panggung kayu tertutup rapat, sementara para penduduk—mulai dari kaum wanita, anak-anak, hingga orang tua bertelinga dan ber-ekor hewan—mengintip dari balik celah jendela dengan mata yang dibayangi rasa takut.
Hari ini adalah hari di mana para prajurit Baron Kaelen dijadwalkan tiba untuk merampas sisa hasil panen dan bahan makanan terakhir desa mereka.
Namun, di depan gerbang kayu utama yang membatasi desa dengan jalan setapak hutan, berdiri sesosok pemuda yang tampak sangat tenang.
Ren (Wiliam) menyandarkan punggung tegapnya pada tiang kayu gerbang. Rambut perak murninya yang kini sebatas pundak berkibar pelan diterpa angin pagi, memancarkan pendar keanggunan yang kontras dengan pakaian pengembaranya yang sederhana. Kedua tangannya terlipat di dada, memeluk pedang berukuran panjang yang masih tersimpan rapi di dalam sarung kulit hitamnya. Guratan emas di bawah sepasang mata kelabu absolutnya berpendar halus.
THUD! THUD! THUD!
Suara derap langkah kaki kuda besi yang menghentak tanah basah mendadak bergema dari balik belokan jalan hutan. Debu-debu terangkat ke udara saat sebuah rombongan pasukan berkuda melesat mendekati gerbang desa.
Pasukan tersebut terdiri dari sekitar dua puluh prajurit bersirah kulit tebal. Sama seperti penduduk desa, mereka adalah ras Beastkin (Manusia Binatang) yang memiliki paras wajah seperti manusia, namun dihiasi oleh telinga hewan runcing yang berdiri tegang di atas kepala dan ekor-ekor tebal yang bergerak angkuh di atas panggul kuda mereka.
Di barisan paling depan, memimpin rombongan tersebut, adalah seorang pria tegap bertelinga serigala hitam dengan bekas luka cakar di pipi kirinya.
Saat rombongan kuda semakin dekat ke gerbang, mata sang komandan prajurit menangkap sosok Ren yang bersandar santai tepat di tengah jalur masuk.
Ren melangkah pelan. Dengan gerakan yang sangat santai, ia berjalan ke tengah jalan setapak, berdiri tegap memblokir seluruh akses jalan menuju Desa Oakhaven.
"BERHENTI!" teriak sang komandan seraya menarik tali kekang kudanya kencang-kencang!
NEIGHHHHH!
Kuda-kuda perang itu meringkik nyaring, berhenti mendadak hanya beberapa meter di hadapan Ren. Sang komandan menatap Ren dari atas kudanya dengan pandangan mata yang dipenuhi oleh keheranan dan penghinaan mendalam.
"Siapa kau, Manusia asing?!" bentak sang komandan dengan suara kasar bergelombang mana tingkat rendah. "Di mana para tetua desa ini?! Mengapa ada seorang pengembara tak dikenal bertingkah sok gagah di tengah jalan?!"
Ren menatap sang komandan dengan mata kelabunya yang tenang dan tidak berkedip sedikit pun. Sebuah senyuman tipis yang agak sinis terukir di bibirnya.
"Namaku Ren," jawab Ren dengan nada suara yang santai dan datar. "Aku hanya seorang pengembara yang kebetulan sedang melintas... dan memutuskan untuk membantu warga desa ini yang sedang kelaparan akibat ulah tuanmu yang serakah."
Mendengar jawaban itu, sang komandan dan para prajurit di belakangnya tertawa terbahak-bahak! Tawa ejekan mereka menggema ke seluruh sudut perbatasan desa.
"Bantu warga kelaparan?! Hahaha! Lihatlah Manusia bodoh ini!" gelak sang komandan seraya menunjuk Ren dengan cambuk kudanya. "Dengar baik-baik, Pengembara! Kami adalah prajurit resmi di bawah naungan Baron Kaelen yang terhormat! Menyingkirlah dari jalan kami sekarang juga, atau kau akan mati terinjak-injak oleh kaki kuda kami!"
Ren tidak bergeming satu inci pun. Ia justru memiringkan kepalanya sedikit, menyilangkan tangan kembali di dada seraya memeluk pedangnya.
"Aku ini orangnya agak aneh," gumam Ren dengan nada santai namun sarat akan celaan tajam. "Aku paling tidak suka diperintah oleh orang-orang yang merasa dirinya kuat dan berkuasa... padahal kenyataannya, kalian hanyalah cangkang kosong yang mengandalkan nama tuan kalian."
"BAJINGAN SOMBONG!"
Wajah sang komandan seketika memerah padam oleh kemarahan yang mendidih! "Turun dari kuda! Hancurkan Manusia sialan ini sampai tidak berwujud!"
CLANG! CLANG! CLANG!
Dua puluh prajurit Beastkin melompat turun dari kuda mereka secara bersamaan, mencabut pedang dan tombak besi mereka! Dengan lolongan buas dan aura tempur yang liar, mereka menerjang maju menyerang Ren dari berbagai arah secara membabi buta!
"Mati kau!" teriak dua prajurit bertelinga anjing yang mengayunkan tombak mereka lurus ke arah dada Ren!
Ren bahkan tidak membuka pedangnya dari dalam sarungnya.
SWOOSH!
Dengan gerakan kaki (footwork) yang sangat mulus dan anggun bagaikan bayangan, Ren menggeser tubuhnya hanya sejauh tiga inci ke kanan. Dua mata tombak musuh menancap ke udara kosong di samping telinganya!
Sebelum kedua prajurit itu sempat menyadari kegagalan serangan mereka, Ren mengayunkan sarung pedang kulitnya ke belakang secara horizontal!
BANG! BANG!
Ujung sarung pedang Ren menghantam rahang kedua prajurit tersebut dengan presisi sempurna! Gigi-gigi mereka patah, dan tubuh tegap mereka terlempar lima meter ke udara sebelum akhirnya ambruk ke tanah!
"Serang bersamaan! Kepung dia!" teriak prajurit lainnya yang panik melihat betapa mudahnya dua rekan mereka ditumbangkan.
Lima prajurit bertelinga beruang menebas pedang mereka dari atas, kiri, dan kanan secara beruntun. Udara tertebas oleh kilatan besi encer, namun Ren bertarung dengan sangat santai—seolah ia sedang berdansa di tengah hujan!
Ia menunduk pelan untuk mengabaikan tebasan horizontal, memutar tubuhnya untuk membiarkan tusukan tombak melintas di samping pinggangnya, dan sesekali menggunakan sarung pedangnya untuk menangkis sabetan senjata lawan dengan ketukan-ketukan kecil yang efisien.
"Hei, hei... Apakah ini kecepatan terbaik prajurit Baron Kaelen?" ejek Ren seraya tersenyum tipis, melompat ringan di atas mata tombak salah satu prajurit. "Gerakan kalian terlalu lambat. Bahkan kelinci bertanduk di hutan kemarin melompat lebih cepat dari kalian."
"SIALAN! BISA-BISANYA DIA MENGATAKAN KITA LEBIH LAMBAT DARI KELINCI!"
Siksaan psikologis dan ejekan Ren membuat para prajurit semakin mengamuk! Emosi membabi buta membuat formasi pertahanan mereka hancur total. Serangan mereka menjadi sangat tidak beraturan, penuh dengan celah fatal di setiap sudut.
Ren menghela napas pelan. "Permainan selesai."
FLASH!
Dalam sekedip mata, wujud Ren berubah menjadi lintasan cahaya perak!
BAM! THUD! CRACK! BAM!
Hanya dalam kurun waktu beberapa detik, Ren melesat di antara barisan dua puluh prajurit tersebut. Ia mendaratkan pukulan telapak tangan, tendangan terukur pada sendi lutut, dan ketukan sarung pedang pada titik-titik saraf vital mereka!
Suara jeritan kesakitan bergema bertubi-tubi! Satu per satu prajurit bertumbangan ke tanah, memegangi lutut, perut, dan rahang mereka yang remuk.
Ren berdiri dengan anggun di tengah-tengah dua puluh prajurit yang terkapar tak berdaya di atas tanah basah. Hebatnya, Ren melumpuhkan mereka semua tanpa mencabut satu pun nyawa atau membuat mereka kehilangan kesadaran.
Ren melangkah perlahan, mendaratkan ujung sarung pedangnya di bawah dagu sang komandan prajurit yang terduduk lemas seraya memegangi bahunya yang terlepas dari persendian.
Sang komandan gemetaran hebat. Peluh dingin membasahi seluruh wajahnya saat ia menatap mata kelabu Ren yang kini berkilat oleh aura dingin.
"Dengar baik-baik..." bisik Ren dengan suara berat yang menembus sanubari sang komandan. "...kembalilah pada tuanmu, Baron Kaelen."
Ren menekan sarung pedangnya sedikit, memandu mata sang komandan untuk menatap lurus ke arahnya. "Katakan padanya... jika dia masih berani memeras hasil panen dari warga desa yang lemah ini, katakan padanya bahwa aku—Ren—akan datang secara langsung ke istananya untuk memotong kepalanya."
"S-Siap! Hamba... hamba mengerti, Tuan!" jerit sang komandan dengan suara histeris penuh ketakutan.
"Sekarang... angkat rekan-rekanmu dan pergi dari sini!" perintah Ren seraya menarik sarung pedangnya.
Tanpa perlu diperintah dua kali, sang komandan dan para prajurit yang terluka merayap tergesa-gesa, menaiki kuda-kuda mereka dengan panik, lalu memacu kuda perang itu melesat kembali ke arah hutan bagaikan dikejar oleh iblis!
Keheningan melingkupi gerbang desa selama beberapa saat.
Para penduduk Desa Oakhaven yang menyaksikan seluruh pertarungan spektakuler tersebut dari balik celah rumah mendadak membelalakkan mata tidak percaya. Seorang pengembara Manusia murni baru saja menumbangkan seluruh pasukan berkuda Baron Kaelen hanya dengan sarung pedangnya!
"K-Kita... Kita selamat!"
"Para prajurit penindas itu lari!"
"HIDUP TUAN REN! HIDUP TUAN REN!"
Pintu-pintu rumah panggung terbuka lebar! Ratusan penduduk desa berhamburan keluar, bersorak-sorai dan melompat bersuka cita! Anak-anak kecil bertelinga hewan berlarian mengelilingi Ren dengan mata berbinar-binar penuh kekaguman.
Kepala Desa Boran melangkah mendekat dengan bantuan tongkat kayunya, air mata haru menetes dari mata tuanya. "Tuan Ren... Anda... Anda benar-benar pahlawan penyelamat desa kami!"
Ren menyunggingkan senyuman hangat, merangkul bahu sang Kepala Desa tua. "Ini bukan apa-apa, Kepala Desa Boran."
Ren kemudian menatap wajah-wajah lesu para penduduk yang masih tampak kurus kering meskipun sedang bersuka cita. Ren dapat mendengar suara perut keroncongan anak-anak kecil di sekelilingnya.
Ren terkekeh pelan, lalu menepuk dada tegapnya.
"Kepala Desa..." kata Ren dengan suara nyaring yang didengar oleh seluruh warga, "...aku akan pergi ke hutan sebentar. Kalian semua tunggulah di sini dan siapkan kayu bakar untuk pesta malam ini! Aku akan berburu untuk kalian semua. Aku tahu... kalian sudah sangat merindukan lezatnya daging segar!"
Mendengar kata "daging segar", mata seluruh penduduk desa seketika berbinar-binar gembira!
"DAGING?!"
"Tuan Ren akan membawakan kita daging?!"
"HURRAAYYY! KITA BISA MAKAN DAGING MALAM INI!"
Ren melesat masuk ke dalam kedalaman Hutan Belantara Purba. Bagi seorang mantan pahlawan dan praktisi sihir tingkat tinggi yang memiliki Eye of the Void, berburu monster dan hewan buruan di dalam hutan ini terasa sangat mudah.
Ren melompati dahan-dahan pohon raksasa, memindai gelombang vitalitas di dalam hutan.
SWOOSH!
Dalam waktu kurang dari dua jam, Ren berhasil menumbangkan tiga Babi Hutan Berzirah Logam berukuran raksasa, lima Rusa Bertanduk Kristal, dan belasan burung purba berukuran besar. Ren mengikat seluruh hasil buruannya menggunakan akar pohon tebal, lalu menuntun kumpulan daging melimpah itu kembali ke desa.
Saat Ren kembali ke gerbang desa dengan mengeret pegunungan daging buruan di belakang punggungnya, warga desa sampai terperangah kaget hingga meneteskan air liur!
Malam harinya, Desa Oakhaven yang tadinya muram dan sepi berubah total menjadi lautan kegembiraan dan kehangatan.
Api unggun raksasa menyala terang di pusat desa. Aroma harum daging babi hutan panggang yang berlemak dan daging rusa berbumbu rempah hutan merebak ke seluruh penjuru udara, menggugah selera siapa pun yang menghirupnya.
Anak-anak Beastkin berlarian riang di sekeliling api unggun dengan mulut berminyak penuh daging, sementara kaum pria dan wanita dewasa menari diiringi tabuhan gendang kayu tradisional. Tawa dan riak kegembiraan yang telah hilang selama bertahun-tahun akhirnya kembali menyinari desa terasing itu.
Ren duduk di atas batang kayu di dekat api unggun, menikmati cangkir minuman buah fermentasi hangat seraya menatap kehangatan warga desa dengan senyuman puas di hatinya.
"Permisi, Tuan Ren..."
Suara tua Boran terdengar dari samping. Sang Kepala Desa duduk bersila di sebelah Ren, memegang cangkir kayunya seraya menatap wajah tampan Ren yang disinari pendar keemasan api unggun.
"Terima kasih atas segalanya, Tuan Ren," ucap Boran penuh ketulusan. "Malam ini... desa kami kembali bernapas berkat kebaikan hatimu."
"Sama-sama, Kepala Desa Boran," jawab Ren seraya menyesap minumannya. "Melihat mereka tersenyum dan makan kenyang sudah cukup bagiku."
Boran mengamati paras Ren yang begitu tampan, bentuk fisiknya yang tegap sempurna, serta aura ketenangan yang sangat berwibawa. Sang Kepala Desa tua memiringkan kepalanya, lalu menyunggingkan senyuman yang agak misterius.
"Tuan Ren..." panggil Boran dengan nada bicara yang berubah menjadi agak santai dan berbisik. "...jika boleh tua bangkai ini bertanya... apakah Anda saat ini masih lajang?"
Ren yang sedang meminum cairannya seketika hampir tersedak! Ia berdehem pelan, menatap Boran dengan raut canggung. "Ugh... Mengapa Anda mendadak menanyakan hal itu, Kepala Desa?"
Boran terkekeh pelan, menepuk lututnya. "Haha! Begini, Tuan... Jika Anda masih lajang dan belum memiliki pasangan, di distrik perbatasan sebelah utara ada sebuah kediaman tersembunyi milik Ras Keturunan Suci Kitsune (Rubah Ekor Sembilan)."
Boran mendekatkan wajahnya, berbisik dengan raut bangga. "Di sana ada seorang wanita muda keturunan bangsawan murni Kitsune. Meskipun saat ini dia baru tumbuh mencapai Ekor 7 dan belum mencapai kesempurnaan ekor sembilannya, paras cantiknya luar biasa indah bagaikan bidadari surga! Jika Anda mau, tua bangkai ini memiliki hubungan baik dengan tetua mereka dan bisa mengenalkan Anda kepadanya!"
Ren tersenyum canggung, menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Ah... Terima kasih banyak atas kebaikan Anda, Kepala Desa... Tapi aku sudah memiliki pasangan."
Di dalam benaknya, wajah cantik Anastasia yang anggun dan galak seketika terbayang, membuat Ren tersenyum hangat secara tidak sadar.
"Ouh... Ternyata Tuan Ren sudah memiliki pasangan, ya?" gumam Boran seraya mengangguk-angguk paham.
Namun, bukannya mundur, sang Kepala Desa justru menyunggingkan senyuman yang makin lebar!
"Tapi Tuan Ren..." lanjut Boran dengan nada santai, "...di Benua Beastia kami ini, terutama di kalangan ras kami, ada sebuah tradisi dan kebiasaan kuno. Seorang pria yang kuat dan berwibawa seperti Anda sangat diperbolehkan—bahkan dianjurkan—untuk menikahi banyak wanita dari ras kami demi memperbanyak keturunan yang unggul!"
"Uh... Apa?!" Ren membelalakkan matanya terkejut, rona canggung terpancar jelas di wajahnya.
"Benar, Tuan!" kata Boran penuh semangat. "Seorang pejuang kuat tidak masalah memiliki dua, tiga, atau empat istri! Pasangan Anda pasti bisa mengerti tradisi ini!"
Ren tertawa kering, mengusap tengkuk lehernya yang mendadak terasa dingin. 'Jika Anya mendengar ini, dia bisa membekukan seluruh benua ini dengan sihir esnya...' batin Ren merinding membayangkan kecemburuan imut kekasihnya.
"Terima kasih atas penjelasannya, Kepala Desa..." jawab Ren tegas namun sopan. "...tapi aku tidak pernah memiliki pikiran sedikit pun untuk menambah pasangan lain. Bagiku, satu wanita di hatiku sudah lebih dari cukup untuk seumur hidupku."
Boran tertegun sejenak mendengarkan jawaban tegas Ren, lalu tertawa terbahak-bahak seraya berdiri menopang tongkatnya.
"Hahaha! Tuan Ren benar-benar pria sejati yang sangat setia!" Boran menepuk bahu tegap Ren pelan. "Tapi ingat... jika suatu hari nanti Anda berubah pikiran, datanglah padaku! Pintu pengenalan itu akan selalu terbuka!"
Boran kemudian melangkah pergi, bergabung kembali dengan warga desa yang sedang menari di sekeliling api unggun, meninggalkan Ren sendirian di atas batang kayu.
Ren menggeleng-gelengkan kepalanya seraya tertawa halus, kembali menatap bintang-bintang di langit malam. "Anya... kau harus tahu betapa setianya calon suamimu ini di benua asing..." gumam Ren penuh kerinduan.
Keesokan harinya, saat fajar baru saja menyingsing...
Ren berdiri di tengah lapangan rumput luas di samping desa. Di hadapannya, seluruh warga desa—pria dewasa, wanita, hingga remaja bertelinga hewan—telah berkumpul dengan raut wajah bingung.
Ren menatap mereka semua dengan pandangan mata yang tegas dan serius.
"Mulai hari ini..." suara Ren menggelegar tenang mendominasi lapangan, "...aku akan melatih kalian semua!"
Para warga saling pandang dengan riak terkejut.
"Tuan Ren... Melatih kami?" tanyai Garo bingung. "Tapi kami bukan ksatria atau pengguna sihir..."
Ren melangkah maju, memandangi satu per satu wajah penduduk desa.
"Aku tidak bisa selamanya berada di desa ini," terang Ren dengan jujur. "Suatu hari nanti, aku harus melanjutkan perjalananku. Jika aku pergi dan kalian tidak bisa melindungi diri kalian sendiri, saat prajurit penindas atau monster lain datang, desa ini akan kembali hancur."
Ren menggenggam tangan tegapnya di depan dada. "Aku pernah mendengar sebuah kebenaran kuno: 'Jangan pernah memberi pengemis seekor ikan untuk mengenyangkannya sehari, tapi berilah dia sebuah pancingan dan ajarkan dia cara memancing agar dia bisa kenyang seumur hidupnya.'"
Kata-kata bijak Ren merasuk dalam ke dalam sanubari warga desa. Boran dan Garo mengangguk-angguk penuh rasa hormat dan kekaguman.
"Mulai detik ini..." tegas Ren, "...aku akan mengajarkan kalian dasar-dasar Seni Bela Diri Penguat Raga dan Teknik Berburu Efisien! Kalian akan belajar meningkatkan level kekuatan kalian, mengendalikan mana tanah di dalam tubuh kalian, dan cara bertarung berhadapan dengan monster hutan!"
"KAMI SIAP, TUAN REN!" teriak Garo dan para pemuda desa dengan semangat membara!
Sejak hari itu, proses penempaan Desa Oakhaven dimulai di bawah bimbingan Ren.
Ren mengajarkan mereka teknik pernapasan dasar untuk mengalirkan mana tanah ke dalam serat otot, memperkuat ketahanan fisik Beastkin mereka yang alami. Ren mengoreksi kuda-kuda bertarung mereka, mengajari para pemuda cara memegang tombak secara presisi, dan melatih para wanita menggunakan panah kayu untuk berburu jarak jauh.
Suasana latihan setiap pagi dipenuhi oleh ketegangan yang seru, gelak tawa saat ada warga yang terjatuh canggung, serta kepuasan mendalam saat mereka berhasil menguasai gerakan baru.
Di bawah bimbingan sesosok ahli tingkat tinggi seperti Ren, dalam kurun waktu beberapa hari saja, tingkat kekuatan dan kebugaran warga Desa Oakhaven melonjak drastis! Para pemuda desa tidak lagi takut menghadapi ancaman, dan benih ketahanan mandiri telah tertanam kuat di sanubari mereka untuk menghadapi masa depan.