NovelToon NovelToon
Menjerat Hati Sang Ceo Dingin

Menjerat Hati Sang Ceo Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Romansa
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Scrpn

Alexander "Alex" Ar-Rasyid (30 Tahun)

Seorang CEO muda yang dingin, perfeksionis, dan workaholic. Ia memegang kendali penuh atas Ar-Rasyid Group, sebuah konglomerat raksasa di bidang properti dan investasi. Baginya, pernikahan adalah bentuk kerja sama bisnis yang tidak penting, hingga sebuah perjodohan keluarga memaksa hidupnya jungkir balik.

Keisha Azalea Pramesti (25 Tahun)

Seorang fashion designer berbakat, mandiri, dan memiliki idealisme tinggi. Ia pemilik butik haute couture Azalea Label. Di balik senyum lembutnya, Keisha adalah wanita tangguh yang menolak dipandang sebelah mata dan sangat mencintai dunianya—sketsa, kain, dan jarum jahit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20

Matahari pagi merayap perlahan naik di atas cakrawala Jakarta, menyapu sisa-sisa malam dengan pijar keemasan yang menghangatkan sudut-sudut kota. Di lantai 50 penthouse utama Ar-Rasyid Tower, tirai-tirai beludru otomatis terbuka perlahan, membiarkan cahaya alami membanjiri ruang keluarga yang luas dan tertata rapi.

Keisha Azalea Pramesti berdiri di depan dinding kaca besar, mengenakan jubah tidur sutra berwarna champagne yang lembut. Di tangan kanannya, ia memegang cangkir berisi teh melati hangat, menikmati keheningan pagi yang menenangkan. Semalam adalah malam yang panjang dan melelahkan, namun plakat penghargaan Innovator Designer of the Year yang terpajang elegan di atas meja konsol marmer menjadi bukti nyata bahwa seluruh air mata, kerja keras, dan badai intrik yang mereka lalui terbayar sudah lunas.

Langkah kaki yang tenang terdengar mendekat dari arah koridor kamar tidur utama. Alexander Ar-Rasyid melangkah masuk dengan mengenakan seteoan kaus katun hitam kasual dan celana bahan santai—sebuah pemandangan langka yang memperlihatkan sisi personal sang CEO yang jauh dari kesan kaku korporat. Aroma khas cedarwood dan sabun mandi pagi yang segar langsung menguar di sekitar mereka.

Alex berjalan tanpa suara, lalu melingkarkan kedua lengannya dari belakang, memeluk pinggang Keisha dengan erat. Dagunya bersandar dengan nyaman di atas bahu kanan istrinya, sementara matanya ikut menatap hamparan pemandangan kota di luar sana.

"Kau sudah bangun pagi-pagi sekali," bisik Alex parau, suaranya masih menyisakan nada kantuk yang khas, membuat getaran halus merambat di kulit leher Keisha. "Padahal semalam kita baru tidur pukul tiga pagi setelah merayakan kemenanganmu."

Keisha menyandarkan punggungnya ke dada bidang Alex, menikmati kehangatan tubuh suaminya. Bibirnya mengukir senyuman tipis. "Bagaimana aku bisa tidur nyenyak jika pikiranku masih melayang mengingat kejadian semalam? Aku masih merasa semua itu seperti mimpi, Alexander."

Alex mengecup lembut sisi leher Keisha, memberikan rasa aman yang selalu berhasil meluluhkan sisa-sisa ketegangan di tubuh wanita itu. "Itu bukan mimpi, Keisha. Itu adalah kenyataan yang kubangun untukmu, dan yang kita raih bersama-sama."

Alex memutar tubuh Keisha secara perlahan agar menghadapnya. Pria itu menatap manik mata cokelat istrinya dengan intensitas yang dalam, penuh dengan kelembutan yang hanya ia tunjukkan kepada satu orang di dunia ini. Jemari kokoh Alex terangkat, menyelipkan sehelai rambut cokelat Keisha ke belakang telinganya.

"Hari ini, aku ingin mengambil cuti," ucap Alex tiba-tiba.

Keisha mengerjap kaget, menatap suaminya dengan alis terangkat sebelah. "Cuti? Seorang Alexander Ar-Rasyid, CEO dari korporasi terbesar di negeri ini, mendadak ingin meninggalkan meja kerjanya begitu saja? Apa dewan direksi tidak akan pingsan mendengarnya?"

Alex terkekeh kecil—suara bariton rendah yang sangat merdu di pendengaran Keisha. "Biarkan saja mereka pusing sejenak. Selama ini, hidupku hanya berputar di sekitar angka, grafik saham, dan rapat dewan yang membosankan. Sejak kau datang membawa kekacauan, skandal, dan kecerdasanmu yang luar biasa ke dalam hidupku, aku menyadari ada hal jauh lebih penting yang sering kulewatkan."

Alex meraih tangan kanan Keisha, mengangkatnya, lalu mengecup lembut punggung tangan wanita itu di mana sebuah cincin berlian sederhana bertahta indah di jari manisnya.

"Aku ingin menghabiskan hari ini bersamamu," lanjut Alex dengan nada suara yang serius namun penuh kehangatan. "Hanya kita berdua, tanpa bayang-bayang dewan direksi, tanpa intrik keluarga besar, dan tanpa ancaman dari orang-orang seperti Jessica. Kita mulai lembaran baru kita yang sebenarnya."

Keisha merasakan dadanya bergemuruh hebat. Gelombang kehangatan yang begitu kuat menyusup ke relung hatinya, menghapus sisa-sisa keraguan terakhir yang mungkin masih tertinggal sejak hari pertama pernikahan kontrak mereka berdua. Kontrak di atas kertas itu sudah lama robek tak bersisa, digantikan oleh komitmen hidup yang sesungguhnya.

"Baiklah, Tuan Ar-Rasyid," jawab Keisha dengan binar mata yang memancarkan kebahagiaan tulus. "Aku akan menerimamu sebagai pemandu wisata pribadiku hari ini. Tapi ingat, jangan harap kau bisa membawaku ke tempat membosankan seperti pabrik baja atau gudang logistik."

Alex tersenyum lebar—sebuah senyuman langka yang membuat ketampanannya berkali-kali lipat lebih memukau. "Tenang saja, Nyonya Ar-Rasyid. Hari ini, suamimu ini tahu persis bagaimana cara memanjakan ratunya."

Pukul sepuluh pagi, mobil sedan sport hitam milik Alex melaju meninggalkan kawasan pusat kota, menuju ke sebuah tempat peristirahatan pribadi di kawasan pegunungan Sentul yang dikelilingi oleh hamparan lapangan golf hijau dan perbukitan asri. Tidak ada pengawal pribadi yang mengekor di belakang; untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Alexander benar-benar melepaskan seluruh atribut pekerjaan beratnya dan mendedikasikan waktu penuh untuk wanita yang dicintainya.

Mereka menghabiskan siang itu dengan berjalan-jalan santai di tepi danau buatan yang dikelilingi pohon pinus, menikmati angin sepoi-sepoi pegunungan yang menyejukkan. Keisha tertawa lepas saat Alex—dengan jas kasualnya yang sedikit berantakan—mencoba membantunya memilih makanan ringan di sebuah kafe terbuka di tepi bukit, pemandangan yang sama sekali berbeda dari sosok CEO dingin yang biasa dilihat oleh dunia korporat.

"Kau tahu, Alex," ujar Keisha di sela-sela suapan es krim vanilanya, menatap pria di sampingnya yang duduk di bangku taman. "Dulu, saat kakekmu memaksaku menandatangani surat nikah kontrak itu, aku pikir hidupku sudah berakhir. Aku pikir aku hanya akan menjadi tawanan di dalam sangkar emasmu."

Alex mengalihkan pandangannya dari pemandangan bukit, menatap Keisha lekat-lekat. "Dan sekarang?"

Keisha tersenyum manis, manik matanya memantulkan bayangan wajah pria yang kini menjadi belahan jiwanya. "Sekarang, aku menyadari bahwa sangkar emas itu... ternyata adalah tempat paling indah dan aman di dunia, karena ada kau di dalamnya."

Alex meraih tangan Keisha, menggenggamnya erat-erat di atas pangkuannya, lalu mengecup jemari wanita itu dengan penuh rasa syukur. "Dan aku bersyukur atas kontrak konyol itu, Keisha. Karena jika kakek tidak memaksa kita menikah hari itu, aku mungkin akan melewatkan wanita paling luar biasa yang pernah diciptakan Tuhan untuk melengkapi hidupku."

Menjelang sore hari, mereka berpindah ke sebuah restoran rooftop privat di kawasan perbukitan yang menyajikan pemandangan matahari terbenam paling spektakuler di wilayah tersebut. Langit perlahan berubah warna dari biru cerah menjadi gradasi jingga, merah muda, dan ungu keemasan, memantulkan cahaya hangat ke atas meja makan kecil yang dihiasi oleh seikat bunga mawar putih dan lilin aromaterapi yang menyala tenang.

Sambil menikmati hidangan makan malam mewah, mereka membicarakan masa depan—tentang rencana ekspansi internasional Azalea Label ke kancah Asia Tenggara, tentang butik baru yang akan dibuka di Singapura, dan tentang bagaimana mereka akan merenovasi beberapa sudut penthouse sesuai dengan selera seni Keisha. Tidak ada lagi ketakutan akan pengkhianatan, tidak ada lagi bayang-bayang intrik keluarga besar yang mencoba menjatuhkan mereka. Yang ada hanyalah masa depan yang terbentang luas, penuh dengan peluang, cinta, and a unwavering partnership.

Ketika malam sepenuhnya turun dan ribuan bintang mulai bertaburan di langit malam, Alex berdiri dari kursinya, lalu mengulurkan tangan ke arah Keisha.

"Nyonya Ar-Rasyid, maukah kau berdansa denganku di bawah bintang-bintang?" tanya Alex lembut.

Keisha menyambut uluran tangan itu dengan senyuman terkembang di bibirnya. Ia bangkit dari kursi, lalu membiarkan Alex menarik tubuhnya merapat ke dalam dekapannya. Diiringi oleh alunan musik instrumental romantis yang mengalun pelan dari pengeras suara tersembunyi di sudut taman rooftop, mereka berdansa perlahan dalam lingkaran kecil yang hanya milik mereka berdua.

Alex mendekatkan wajahnya, membisikkan kalimat yang mengunci seluruh jiwa raga Keisha dalam kebahagiaan mutlak.

"Aku mencintaimu, Keisha. Kemarin, hari ini, dan selamanya."

Keisha memejamkan mata sejenak, meresapi setiap detak jantung suaminya yang bergemuruh di balik dada bidang pria itu. "Aku juga mencintaimu, Alexander. Selamanya."

Mereka berdua menyatukan bibir dalam sebuah ciuman yang manis, hangat, dan penuh janji abadi. Di bawah kubah langit malam Jakarta yang tenang, badai masa lalu telah sepenuhnya reda, menyisakan fajar baru yang cerah bagi sebuah kisah cinta sejati yang lahir dari tempat yang tak terduga—sebuah ikatan jiwa yang tidak akan pernah bisa dipisahkan oleh apa pun di dunia ini.

1
Exo L
kakk tulisannya, fashion gak sih?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!