Aynara terpaksa menikah dengan Aksa karena perjanjian kedua kakek mereka. Pernikahan itu diikat satu syarat: jika mereka bercerai sebelum satu tahun, Aynara harus membayar denda 10 miliar, sementara Aksa akan kehilangan haknya sebagai pewaris keluarga Wicaksono.
Namun, usai janji suci diucapkan, Wicaksono mengalami kecelakaan dan terbaring koma.
Merasa tak ada lagi yang bisa mengaturnya, Aksa berkata kepada Aynara, "Pernikahan ini terjadi karena Kakek. Aku sama sekali gak suka, apalagi mencintaimu. Dunia kita beda. Mulai sekarang, kita jalani hidup masing-masing sampai tiba waktunya bercerai."
Aynara terpaksa menelan kenyataan pahit itu. Namun, takdir mengubah segalanya ketika kecelakaan merenggut nyawa Aksa.
Regan, pembelot yang sedang diburu organisasi kriminal, memanfaatkan kematian Aksa untuk menyelamatkan dirinya.
Aynara tidak pernah tahu bahwa suami yang ia benci telah mati. Dan pria yang kini hidup sebagai Aksa adalah orang asing yang akan mengubah seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Takdir yang Terus Mempertemukan
Siang itu, suasana Aksara Group mendadak berbeda. Notifikasi email internal baru saja masuk ke hampir seluruh karyawan.
PENGUMUMAN PERUBAHAN JABATAN CEO AKSARA GROUP
Beberapa karyawan yang membacanya langsung saling berpandangan.
"Serius?"
"Bukannya Pak Aksa cuma manajer?"
"Kenapa tiba-tiba jadi CEO?"
"Katanya posisi itu harusnya diisi keluarga Wicaksono?"
"Berarti selama ini Pak Aksa..."
Percakapan semakin ramai. Rasa penasaran menyebar dari satu meja ke meja lainnya.
Di meja resepsionis, Riva bahkan sudah berdiri dari kursinya. "HAH?!"
Beberapa orang langsung menoleh.
Riva menatap layar ponselnya dengan mata membulat. "Pak Aksa jadi CEO?!"
Teman di sebelahnya mengangguk. "Iya. Tadi aku juga baru baca."
Riva menepuk meja. "Ya ampun! Berarti selama ini aku kerja satu gedung sama CEO dan aku gak tahu?!"
"Pelankan sedikit suaramu, Riv."
"Mana bisa pelan?! Ini berita besar!" Riva buru-buru mengambil ponselnya dan membaca ulang pengumuman tersebut.
"Jadi Pak Aksa bukan cuma manajer? Dia pewaris Aksara Group?"
Ia menggeleng-gelengkan kepala dengan ekspresi tak percaya.
"Pantesan..."
"Pantesan apa?"
"Entahlah," sahut Riva. "Tapi sekarang semuanya terasa masuk akal."
Di lantai teratas gedung Aksara Group, suasananya jauh lebih tenang.
Aksa kini duduk di kursi yang beberapa jam sebelumnya belum pernah menjadi miliknya.
Kursi CEO.
Beberapa dokumen berada di atas meja. Di hadapannya, pemandangan kota terlihat luas melalui dinding kaca.
Namun bukannya memeriksa dokumen, pikirannya justru melayang pada kejadian tadi. Perempuan yang berpapasan dengannya di depan lift.
Tatapan terkejutnya. Ekspresi gugup yang berubah menjadi kesal. Dan nada suaranya yang sewot ketika mengatakan bahwa dirinya tidak menghalangi jalan.
Aksa mengembuskan napas pelan. "Wanita aneh."
Entah mengapa, kejadian singkat itu justru terus terlintas di kepalanya. Padahal mereka bahkan tidak saling mengenal. Satu hal lagi yang tidak bisa ia pungkiri. Aksa terdiam sejenak.
"Cantik."
Kata itu lolos begitu saja dari bibirnya.
Aksa langsung menggeleng. "Kenapa aku malah mikirin dia?"
Ia menyandarkan punggungnya pada kursi. "Dan sebenarnya dia siapa? Aku gak pernah lihat dia di perusahaan ini."
Aksa kemudian menegakkan punggungnya, memaksa dirinya kembali fokus pada dokumen di hadapannya.
Sementara itu, sebuah mobil putih mutiara melaju meninggalkan pusat perbelanjaan.
Aynara memegang kemudi dengan tenang. Sesekali matanya melirik layar navigasi di dashboard. Tujuannya kali ini adalah Aksara Medika.
Setelah berbelanja bahan makanan untuk memasak, Aynara sebenarnya ingin langsung kembali ke apartemen. Namun, ia teringat Wicaksono.
Kemarin ia tidak sempat menjenguk pria tua itu. Karena itu, sebelum pulang, ia memutuskan mampir terlebih dahulu ke rumah sakit.
Tak lama kemudian, mobilnya memasuki area rumah sakit.
Setelah memarkirkan kendaraan, Aynara turun dan mengangkat wajahnya. Matanya langsung tertuju pada tulisan besar yang terpampang di bagian depan gedung.
AKSARA MEDIKA
Keningnya berkerut. "Aksara Medika..." Aynara menatap tulisan itu beberapa detik. "Aksara Group..."
Ia mendadak terdiam. "Tunggu."
Matanya menyipit. "Jangan-jangan rumah sakit ini juga milik Kakek Wicaksono?" Aynara menggeleng cepat. "Gak mungkin, 'kan? Bisa saja namanya kebetulan mirip."
Namun, semakin dipikirkan, semakin ia merasa penasaran. "Seberapa kaya sebenarnya Kakek Wicaksono?"
Aynara mengembuskan napas panjang. "Sudahlah."
Ia tidak ingin terlalu memikirkan harta keluarga suaminya. "Walaupun keluarganya kaya raya, toh setahun lagi aku juga bakal jadi mantan istrinya."
Langkahnya terhenti sejenak. Entah mengapa, bayangan Asti tiba-tiba muncul dalam pikirannya.
Wanita itu begitu hangat kepadanya. Perhatian kecil yang diberikan Asti membuat Aynara merasakan sesuatu yang selama ini hampir tidak pernah ia dapatkan.
Rasanya seperti memiliki seorang ibu. Padahal, ibu kandungnya sudah lama tidak ada. Yang ada hanya ibu tiri yang memperlakukannya seperti pembantu.
"Sayang sekali..." gumam Aynara lirih.
Ia menundukkan kepala, lalu tersenyum kecil. "Kalau saja Mama bukan ibu mertuaku..."
Aynara menghela napas. Ia sebenarnya tidak keberatan menjadi menantu Asti. Yang membuatnya enggan hanyalah satu orang.
Aksa Wicaksono.
Begitu wajah pria itu terlintas di benaknya, senyum di wajah Aynara langsung menghilang.
"Ah, dia lagi." Ia mendengus kesal. "Baru ingat sedikit saja sudah bikin emosi."
Aynara kemudian melangkah menuju pintu masuk rumah sakit, berusaha mengusir bayangan Aksa dari pikirannya.
Saat hendak memasuki ruang rawat Wicaksono, Aynara justru berpapasan dengan Asti yang baru saja keluar dari ruangan tersebut.
"Sayang, kamu di sini?"
Aynara tersenyum. "Iya, Ma. Aku mau menjenguk Kakek."
Senyum Asti mengembang. Ia mengusap lembut kepala Aynara. "Anak baik. Ya sudah, kamu masuk sana. Mama mau pulang dulu."
"Iya, Ma. Hati-hati."
"Iya." Asti melambaikan tangan sebelum melangkah pergi. Senyum masih tertahan di bibirnya.
Pikirannya kembali pada perkataan perawat tadi. Aynara datang menjenguk Wicaksono dan bahkan membantu membersihkan tubuhnya. Kemarin malam, gadis itu juga sempat datang meski hanya sebentar. Dan hari ini, ia kembali datang.
Jika Aynara bukan gadis yang baik, untuk apa ia repot-repot mengunjungi pria yang bahkan tidak tahu kapan akan sadar?
Asti menggeleng pelan.
Tidak mungkin Aynara melakukan semua itu hanya karena berharap Wicaksono akan membantunya mempertahankan pernikahan.
Kalau memang itu tujuannya, bukankah lebih mudah meminta bantuan kepadanya?
Asti adalah ibu Aksa. Ia juga tahu putranya dengan baik.
"Ayah memang gak pernah salah memilih..." gumam Asti lirih. "Sayang sekali, Aksa justru menyia-nyiakan gadis sebaik Aynara."
Sementara itu, Aynara masuk ke ruang rawat Wicaksono. Ia melihat pria tua itu masih terbaring pucat di atas ranjang dengan berbagai alat medis yang terpasang, ia perlahan mendekat.
"Halo, Kek." Senyum kecil tanpa sadar mengembang di bibirnya.
Ia melangkah mendekat. Entah mengapa, setiap kali melihat pria tua itu, hatinya terasa sedikit hangat.
Sore itu, Aynara kembali membantu perawat membersihkan tubuh Wicaksono. Setelah selesai, perawat tersebut berpamitan dan meninggalkan ruangan.
Aynara merapikan selimut Wicaksono, memastikan pria tua itu tetap dalam posisi nyaman.
"Kakek, aku pulang dulu, ya. Besok aku akan menyempatkan waktu untuk menjenguk Kakek lagi."
Ia tersenyum kecil meski tidak tahu apakah pria tua itu bisa mendengar ucapannya atau tidak.
Setelah itu, Aynara beranjak keluar dari kamar. Ia berjalan menuju lift. Namun, begitu pintunya terbuka, langkahnya mendadak terhenti.
Ekspresi wajahnya seketika berubah kesal. "Kenapa harus ketemu dia lagi?"
...🔸🔸🔸...
..."Kebaikan yang tulus tidak selalu dilakukan untuk mendapatkan balasan. Kadang, hati yang benar-benar baik tetap memilih hadir dan peduli, bahkan ketika tidak ada seorang pun yang mampu membalasnya.”...
...“Seseorang yang benar-benar tulus akan tetap berbuat baik meski tidak ada yang melihat. Karena nilai sebuah kebaikan bukan terletak pada pujian yang diterima, melainkan pada ketulusan hati saat melakukannya.”...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Regan kemungkinsn besar adalah Arsa. Wajah mirip.
Regan si kembar yang lebih baik kepribadiannya daripada si kembar satunya. Aksa si sombong.
Kalau Regan benar adalah Arsa yang telah dinyatakan meninggal, kini malah yang benar-benar meninggal Aksa.
Asti tidak menjawab pertanyaan Regan tentang Aksara Group.
Gunadi yang melihat Tuan Mudanya ada di taman dan terlihat sedih, merasa khawatir.
Gunadi berdiri di samping kursi tempat duduk Regan.
Tuan Mudanya bertanya pada Gunadi kenapa mamanya menangis ketika bertanya kenapa nama perusahaan Aksara Group.
Tuan Muda Arsa di mana ? Atau dia Regan ?
Regan tahu ada salah satu berkas yang harus dicek ulang oleh bagian keuangan.
Gunadi merasa heran, tuan mudanya bisa menemukan masalah tersebut.
Gunadi semakin heran dengan Aksa yang sekarang. Aksa lebih teliti.
Gunadi masih antara yakin dan tidak yakin, yang ada di rumah sakit itu Tuan Muda atau orang lain.
Regan minta sama Gunadi mengirimkan berkas-berkas yang perlu dia kerjakan di rumah sakit.
Nanti kalau ada yang perlu ditandatangani bagaimana. Lupa juga tanda tangannya.
Juga tentang ayahnya Aksa, Aditya Wicaksono tak luput dari pemberitaan. Mempunyai anak diluar pernikahan.
Berita unggahan tentang kecelakaan yang menimpa Aksa, juga tentang Aditya yang mempunyai anak diluar penikahan sudah sampai kepada Aksa, Gunadi dan Asti
Diiih orang yang sudah meninggal diusik juga. Ayahnya sendiri juga.
Kelakuan jahat Doni akibat sakit hati tidak diakui sebagai keturunan Wicaksono.
Doni nanti musuhnya Regan. G
Gunadi menanyakan kondisi Aksa setelah kecelakaan.
Dokter dengan sabar menjawab semua pertanyaan Gunadi, dan memberikan penjelasannya.
Semua perbedaan Aksa yang dirasakan Gunadi ditanyakan kepada dokter.
Perubahan Aksa secara medis masih dianggap normal.
Penjelasan dari dokter, Aksa berubah setelah kecelakaan, semua masuk akal.
Gunadi masih merasa ada yang ganjil.
Keturunan Wicaksono yang ada kini tinggal dua anak dari dua gundik Ayahnya Aksa.
Kalau Aynara nanti menikah ulang dengan Aksa palsu, kalau sampai hamil tentunya bukan keturunan Wicaksono.
Gunadi setelah selesai berinteraksi secara langsung dengan Aksa, pamit akan kembali ke kantor.
Gunadi pikirannya terus terganggu dengan perubahan Aksa.
Gunadi menuju ruang dokter sebelum kembali ke kantor. Sebelum menyimpulkan apapun, Gunadi harus mendapatkan jawaban yang masuk akal.
Gunadi seperti nggak yakin , apa cedera kepala dan amnesia bisa mengubah seseorang sampai sejauh itu.
Gunadi belum bertemu Aksa sejak mulai sadar. Gunadi nanti kalau bertemu dan berinteraksi dengan Aksa kemungkinan juga merasakan ada yang janggal.
Perasaan itu hilang sejak melihat Aksa setelah kecelakaan. Tidak ada raaa kesal, tidak berusaha menhaga jarak karena muak. Tapi ada rasa aneh yang sulit dijelaakan.
Aynara belum sadar saja kalau yang sedang dihadapi memang bukan Aksa.
Aynara selalu menepisnya - jangan-jangan karena amnesia.
Aynara sepakat untuk mulai dari awal. Dengan syarat tetap tinggal terpisah. Hubungan mereka dilihat perkembangannya. Di jalani seperti teman dulu.
Setelah satu tahun baru diambil keputusan, mau mempertahankan pernikahan atau bercerai.
Apa yang dikatakan Aynara, Regan setuju.
Hubungan di kantor mereka profesional. Interaksi mereka sebagai atasan dan bawahan.
Regan setuju dengan semua syarat yang dikatakan Aynara.
Wajah Regan bisa ya mirip sekali dengan wajah Aksa. Pengenalan wajah di layar ponsel Aksa utidak menolak wajah Regan.
Regan sebagai Aksa mengetik permintaan maaf atas semua sikapnya dulu yang sudah menyakiti Aynara.
Aynara tidak menyangka Aksa minta maaf.
Aynara memaafkan Aksa.
Regan mulai komunikasi sama Aynara dengan mengetik kalimat di ponselnya. Ia menunjukkan kepada Aynara.
Aynara mau menceritakan semuanya pelan-pelan.
Setelah Aynara menceritakan semuanya, apa yang akan dilakukan Regan nanti.
Aynara mulai menceritakan kenyataan yang ada.
Mendengar perlakuan dan hinaan Aksa terhadap Aynara, Regan punya penilaian lagi tentang Aksa. Jauh lebih buruk.
Aynara menyelesaikan ceritanya.
Regan baru tahu bahwa orang yang wajahnya hampir sama dengannya, saat sebelum kecelakaan terjadi, baru saja bertengkar hebat dengan istrinya.
Joseph sudah mendapatkan informasi tentang Aksa Wicaksono. Tentang nama-nama mereka. Kakeknya, Ayahnya, Ibunya, juga dua gundik Ayahnya Aksa yang masing-masing juga punya anak tapi tidak diakui sebagai keturunan Wicaksono.
Komplit sekali informasi yang di dapat Joseph.
Sampai tentang Aksa yang dijodohkan dengan Aynara.
Juga tentang pekerjaan Aksa.
Pembicaraan belum selesai, suara air dari kamar mandi berhenti. Aksa memutuskan sambungan.
Apa mobil Wicaksono yang mengalami kecelakaan juga Doni pelakunya ?
Kondisi Aksa dalam pemeriksaan secara medis baik semua. Dokter minta pasien tetap diobservasi.
Regan tahu kalau dokter merasa ada yang janggal.
Regan benar-benar mendalami perannya. Beberapa pertanyaan dokter dijawab dengan menggeleng.
Mendengar nasehat dari dokter, Regan menjawabnya mengangguk pelan.
Asti dan Aynara jadi memperkenalkan diri biar Aksa yang amnesia tahu siapa kedua wanita itu.
Dokter memeriksa Aksa. Ketika ditanya oleh dokter, jawabnya hanya mengangguk dan diam.
Bikin Asti khawatir saja nih.
Pura-pura panik, tidak tahu harus bicara apa.
Aynara terkejut melihat Aksa yang cuma membuka mulut, ngga ada suara yang keluar.
Aynara dan Asti memang orang asing bagi Aksa palsu. Aman saat ini Aksa menjadi tidak ingat sama mama dan istrinya.
Aksa hilang ingatannya serta suaranya. Itu yang Aynara tahu saat ini.
Suara jadi berbeda juga kalau Aksa bicara.
Regan membuat hidupnya rumit sendiri.