Seorang penyihir terkuat nomor satu Lucien yang tidak tertandingi, memasuki raga seorang pria lemah yang ternyata adalah pelayan setia dari Putri Aurelia. Aurelia adalah anak haram dari pimpinan klan Es yang selalu diremehkan oleh Ayahnya.
Apa lagi Aurel terlahir tanpa memiliki inti roh murni.
Namun segalanya berubah saat Lucien memasuki raga Arthur. Rahasia nya terungkap saat nyawa Aurel dalam bahaya. Aurel memohon padanya. Dan sejak saat itu--- Lucien sang penyihir terkuat menjadi guru dari Aurel.
Tujuan Aurel satu--- membalaskan setiap hinaan yang dia Terima dan merampas kepemimpinan klan Es dari Ayah dan Kakak tiri nya. Tentu saja, itu semua hanya bisa terjadi jika Lucien berdiri di sampingnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Ammoera(_), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan Masa Lalu
Keheningan mendadak merayap di antara mereka. Tatapan mata Aurelia mendadak kosong, terpaku pada lantai yang dingin saat pikirannya terseret mundur, melintasi waktu yang tidak pernah bisa ia lupakan.
Badai salju menderu hebat di luar istana megah milik klan Es. Di tengah halaman yang membeku, seorang anak kecil berusia tiga tahun tampak bersujud pasrah.
Lutut mungil Aurelia telah berubah biru legam, mati rasa akibat cengkeraman es yang menembus kulitnya. Rasa sakitnya tak tertahankan, namun jeritannya teredam deru angin.
Tidak ada satu pun pelayan yang bergerak menolongnya. Ibu kandungnya sendiri tak berdaya, dikurung atas perintah tetua Frost.
Dengan air mata yang langsung membeku di pipi, Aurelia kecil mendongak, menatap deretan jendela tinggi tempat ayahnya mengawasinya tanpa belas kasih.
Tetua Frost memandang dingin dirinya seolah Aurelia hanyalah seonggok sampah yang mengotori kesucian salju klan mereka.
"Ayah... tolong... Aurelia dingin..." bisik bocah itu lirih, suaranya parau, memohon secercah belas kasihan yang tak kunjung datang.
Ia berjuang sendirian di tengah amukan badai yang kian tajam. Pandangannya mulai mengabur. Pada titik itu, di usianya yang masih sangat belia, Aurelia berpikir bahwa ajalnya telah tiba. Selesai sudah hidupnya yang malang.
Namun, takdir memiliki rencana lain.
Tepat saat kesadarannya hampir meredup, sebuah kehangatan yang asing tiba-tiba menyusup ke dalam dadanya.
Rasa dingin yang mencekik itu mendadak mengendur ketika seberkas cahaya keemasan yang lembut membungkus tubuh mungilnya, menghalau setiap kepingan salju yang hendak menyentuh kulitnya.
Aurelia kecil tersentak. Dengan sisa tenaganya, ia menoleh ke arah datangnya kehangatan tersebut.
Dari balik kabut salju yang tebal, siluet seorang pria berjalan mendekat. Ia mengenakan jubah putih bersih berhias sulaman benang emas yang bersinar redup.
Langkah kaki pria itu begitu tenang, seolah badai paling mematikan di wilayah ini hanyalah hembusan angin sepoi-sepoi baginya.
Pria misterius itu kemudian berjongkok di hadapan Aurelia, menyeimbangkan tingginya dengan tubuh mungil yang masih gemetar. Tangannya yang hangat terulur, mengelus lembut rambut Aurelia yang tertutup kristal es.
"Kau gadis yang istimewa," suara pria itu terdengar begitu pelan, namun ajaibnya, bergema sangat jelas di telinga Aurelia, mengalahkan gemuruh badai di sekeliling mereka.
Aurelia kecil hanya bisa menatap sepasang mata pria itu yang memancarkan kebijaksanaan tak terbatas.
"Suatu hari nanti... kau pasti bisa berdiri di tempat yang paling tinggi dan membungkam semua orang yang merendahkan dirimu... karena itulah takdir sejatimu yang tertulis," lanjut pria itu seraya mengulas senyum simpul yang menenangkan.
Ia merogoh balik jubahnya, mengeluarkan sebuah kalung dengan permata yang berpendar hangat, lalu mengenakannya ke leher Aurelia kecil. Sentuhan permata itu seketika mengalirkan energi murni yang luar biasa ke dalam aliran darah Aurelia.
"Ambil ini... suatu hari nanti, aku ingin melihatmu berada di puncak kemenangan," bisiknya lagi. Dan sebelum Aurelia sempat mencerna kata-kata itu, sang pria misterius lenyap begitu saja, melebur bersama cahaya keemasan yang membawanya pergi.
Aurelia kecil yang tidak mengerti apa-apa hanya bisa terdiam membeku di tempatnya. Namun, untuk pertama kalinya dalam hidup, rasa sepi di hatinya lenyap. Ia tahu, di dunia yang kejam ini, ada seseorang yang mendukungnya.
Sejak detik itulah, semangat Aurelia justru mulai terbakar, bertransformasi menjadi api sebuah tekad yang membara.
Dia berjanji pada dirinya sendiri: Ia tidak akan menangis lagi. Ia tidak akan memohon pada siapa pun lagi. Ia akan bangkit, menghancurkan belenggu klan ini, dan meniti jalan menuju puncak sesuai keinginan pria misterius itu.
Plak!
Aurelia tersentak hebat dari lamunannya saat sebuah telapak tangan menepuk bahunya dengan cukup keras. Kesadarannya ditarik paksa kembali ke realitas, ke dalam ruangan tempat ia duduk sekarang.
"Kenapa kau malah melamun? Aku sedang bicara serius kepadamu!" kata Eira dengan nada jengkel, berkacak pinggang menatap sahabatnya yang tampak linglung.
Aurelia menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan seolah sedang membuang sisa-sisa trauma masa lalunya yang baru saja berputar di kepala. Matanya kembali menajam, memancarkan kilat tekad yang dingin namun membakar.
"Aku terima pedang dan buku ini," kata Aurelia tegas seraya berdiri tegak.
Tanpa ragu, ia menyambar pedang di atas meja, menyampirkannya di punggung dengan seutas tali pengikat, lalu memasukkan buku tua itu ke dalam tas kulitnya dengan gerakan taktis.
"Aku pergi dulu," ucap Aurelia dingin, langsung membalikkan badan dan melangkah lebar menuju pintu keluar tanpa menunggu jawaban.
Eira melongo, mulutnya setengah terbuka, ingin kembali bersuara namun tidak ada kata-kata yang keluar. Ia hanya bisa terbengong menatap punggung Aurelia yang perlahan menghilang di balik pintu.
Sementara itu di tempat lain—Hutan Kematian yang berada di wilayah Klan Api.
Arthur berdiri tegak di tengah pepohonan yang hangus terbakar.
Matanya terpejam rapat, namun ada seberkas cahaya keemasan yang tersembunyi di balik kelopak matanya; sebuah energi yang terasa sangat panas, namun anehnya sama sekali tidak membakar kulitnya sendiri.
Perlahan, Arthur membuka matanya, menatap lurus ke arah hamparan tanah gersang yang seolah telah dikutuk oleh api abadi.
"Kosong... Douglas... sebenarnya di mana kau menyembunyikan jiwamu itu?" gumam Arthur, suaranya berat dan bergema di keheningan hutan.
Ia mencoba memfokuskan indranya, namun ia tetap tidak bisa merasakan sedikit pun aura keberadaan Douglas di tempat ini.
Hari itu, Arthur telah melakukan sihir teleportasi berkali-kali, melompat dari satu koordinat ke koordinat lainnya.
Ia sengaja mendatangi tempat-tempat yang hampa, sunyi, dan dipenuhi atmosfer kematian, karena ia sangat yakin bahwa jiwa Douglas pasti bersembunyi di tempat berenergi negatif seperti itu.
Namun, usahanya sejauh ini nihil. "Di mana pun kau bersembunyi... aku pasti akan menemukan mu," gumam Arthur lagi, mengepalkan tangannya kuat-kuat.
Ia membalikkan badan, berniat untuk pergi meninggalkan tempat itu.
Namun, tepat sebelum ia kembali melakukan teleportasi, telinganya yang sangat tajam menangkap suara gesekan ranting mati dan derap langkah kaki yang tergesa-gesa. Arthur langsung menoleh tajam ke arah barat.
Bersamaan dengan embusan angin yang membawa hawa panas menyengat, semak-semak kering di sekitarnya bergemerisik hebat.
Tiba-tiba, dari balik bayang-bayang pohon yang menghitam, bermunculan delapan orang pria bersenjata lengkap. Mereka bergerak cepat, membentuk formasi melingkar dan langsung mengepung Arthur dari segala arah.
"Ternyata ada tamu yang tidak diundang yang berani menginjakkan kaki di tanah perburuan kami," kata pemimpin mereka, seorang pria bertubuh kekar dengan bekas luka cakar kecil di pelipis sebelah kirinya.
Ia melangkah maju sambil menyunggingkan senyum sinis yang merendahkan. Ia menatap Arthur dari atas ke bawah, lalu melanjutkan, "Kau—aku tidak peduli siapa dirimu. Tapi peraturan di tempat ini sangat sederhana... jika kau masuk tanpa izin dan ingin keluar dari sini hidup-hidup, kau harus membayar harga yang sangat mahal!" Pria itu tertawa terbahak-bahak, yang langsung diikuti oleh tawa mengejek dari tujuh anak buahnya.
Di tengah kepungan senjata tajam dan tawa bising yang memprovokasi itu, Arthur masih berdiri dengan ketenangan yang luar biasa.
Tidak ada sedikit pun ketakutan di wajahnya; tatapannya justru sedingin es, kontras dengan hawa panas yang mulai bergejolak di sekitar telapak tangannya.