NovelToon NovelToon
Pedagang Antar Dimensi: Dari Pecundang Jadi Penguasa

Pedagang Antar Dimensi: Dari Pecundang Jadi Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:TimeTravel / Bepergian untuk menjadi kaya / Hari Kiamat
Popularitas:40
Nilai: 5
Nama Author: Putra

Setiap malam, Arka terbangun di dunia yang penuh zombie.

Setiap pagi, ia kembali ke dunia nyata dengan emas dan kristal yang bisa dijual miliaran.

Mantan pacarnya membuangnya karena ia "gila dan miskin."

Sekarang? Ia memiliki 128 properti, tubuh sempurna, dan kekuatan yang membuat jenderal berlutut.

Tapi ini baru permulaan. Karena dunia di luar Bumi jauh lebih berbahaya — dan Arka baru saja menjadi target nomor satu seluruh alam semesta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Hari ini, Arka menggenggam masa depan itu di tangannya.

Emas Batangan seberat 500 gram itu terasa dingin, tetapi telapak tangannya justru panas. Beratnya tidak bohong. Sudut logam itu menekan kulitnya, meninggalkan bekas merah yang kecil namun jelas.

Ini nyata. Emas itu lolos dari mimpi dan ikut bangun bersamanya, jauh dari semua penjelasan lembut Dr. Hasan di ruang konsultasi RSJ Bukit Hijau.

Arka duduk lama di tepi kasur, membiarkan kipas angin tua berputar di atas kepalanya. Kamar kost-kostan itu sempit, cat temboknya mengelupas, dan di meja kecil masih ada bungkus mi instan yang belum sempat ia buang. Semua tampak sama seperti kemarin.

Hanya dirinya yang tidak sama lagi.

Ia menarik napas, lalu mengembalikan emas itu ke ruang Dimensi. Ruang satu meter kubik di dalam kesadarannya hampir penuh oleh tiga puluh batang emas dan sepasang Gelang Giok Imperial. Satu pikiran saja cukup untuk merasakan posisi setiap benda di sana.

Ajaib.

Tapi keajaiban yang tidak bisa dijual sama saja dengan batu di dasar sungai.

Arka membuka ponsel lama dengan layar retak. Ia mencari harga emas batangan hari itu, lalu menghitung kasar dengan kalkulator. Angkanya membuat dadanya sesak.

Lebih dari sepuluh miliar rupiah.

Untuk orang seperti Revano, uang sebesar itu mungkin angka yang biasa disebut saat pamer di tongkrongan. Untuk Arka, itu adalah jarak antara diinjak dan berdiri tegak.

Namun masalahnya jelas. Mahasiswa miskin, baru putus dari pacar, tiba-tiba membawa belasan kilogram emas tanpa surat. Kalau ia langsung datang ke bank atau toko emas besar, pertanyaan pertama bukan harga.

Pertanyaan pertama adalah asal-usul.

Dan pertanyaan kedua mungkin datang dari polisi.

Arka tidak takut miskin lagi. Tetapi ia belum cukup bodoh untuk menukar satu masalah dengan masalah yang lebih besar.

Ia mandi cepat, mengenakan kaus hitam polos dan jaket lusuh yang biasa dipakainya ke kampus. Dari ruang Dimensi, ia hanya mengambil tiga batang emas. Sisanya tetap disimpan. Gelang Giok Imperial juga tidak ia sentuh. Benda itu terlalu mencolok untuk langkah pertama.

Pagi Depok bergerak seperti biasa. Motor memenuhi jalan, pedagang bubur di gang depan memanggil pelanggan, dan mahasiswa UNUSA berjalan dengan tas punggung sambil menatap layar ponsel. Tidak ada yang tahu seorang pria gendut dengan jaket lusuh sedang membawa emas senilai miliaran di dalam ruang yang tak terlihat.

Arka memesan ojek online menuju Jakarta Selatan.

Tujuannya bukan toko emas di mal.

Dua bulan lalu, saat masih mencoba mempertahankan hubungan dengan Viona, ia pernah mengantar perempuan itu ke sebuah toko perhiasan milik kenalan keluarga temannya. Viona tidak membeli apa pun. Ia hanya ingin melihat-lihat, lalu mengeluh karena Arka tidak mampu membelikan gelang kecil seharga puluhan juta.

Nama toko itu masih tersimpan di memorinya.

Galeri Permata.

Toko itu berada di ruko dua lantai yang bersih dan tenang. Papan namanya tidak mencolok, tetapi mobil-mobil yang parkir di depannya cukup menjelaskan kelas pelanggan mereka. Dua sedan hitam, satu Alphard, dan seorang pria berjam tangan mahal yang baru keluar sambil membawa kotak beludru kecil.

Saat Arka melangkah masuk, seorang pegawai perempuan di balik etalase menatapnya dari atas ke bawah.

Senyumnya tetap muncul, tetapi matanya tidak.

"Selamat pagi. Ada yang bisa dibantu, Mas?"

Nada itu sopan, namun jaraknya terasa jelas. Di matanya, Arka hanyalah mahasiswa yang salah masuk toko.

Arka tidak tersinggung. Kemarin, tatapan seperti itu mungkin membuatnya ingin mundur. Hari ini, ia hanya meletakkan tas selempang kecil di atas meja kaca.

"Saya ingin bertemu pemilik toko. Ada barang yang mau saya jual."

Pegawai itu ragu. "Untuk penjualan emas biasa, kami bisa bantu di sini. Tapi kalau tidak ada sertifikat..."

"Panggil pemiliknya," kata Arka datar. "Kalau beliau tidak tertarik, saya pergi."

Ketegasan itu membuat pegawai tersebut menahan jawaban. Ia menatap tas kecil di meja, lalu mengangguk kaku dan naik ke lantai dua.

Dua menit kemudian, seorang pria paruh baya turun perlahan. Rambutnya sudah memutih di pelipis, kemejanya rapi tanpa terlihat berlebihan, dan matanya tajam seperti orang yang sudah puluhan tahun membedakan batu asli dari kaca berwarna.

"Saya Hendry Wibisana," katanya. "Anda yang ingin menjual barang?"

Arka berdiri. "Arka."

"Silakan duduk, Pak Arka."

Panggilan itu terdengar kecil, tapi Arka menangkap perbedaannya. Hendry tidak melihat kaus lusuhnya. Hendry melihat cara ia berdiri, cara ia tidak gugup, dan mungkin juga cara pegawainya terlihat bingung.

Mereka duduk di meja konsultasi samping. Hendry memberi isyarat kepada pegawai agar menutup tirai tipis yang memisahkan ruangan dari area etalase.

"Boleh saya lihat barangnya?"

Arka membuka tas.

Tiga batang Emas Batangan tergeletak di atas kain hitam.

Mata pegawai perempuan itu membesar.

Hendry tidak bersuara selama beberapa detik. Ia mengambil sarung tangan, lalu mengangkat satu batang emas. Wajahnya tetap tenang, tetapi jari telunjuknya berhenti sepersekian detik ketika melihat cetakan lama di permukaannya.

"Lima ratus gram per batang," gumamnya. "Tiga batang berarti satu setengah kilogram."

"Benar."

"Ada surat?"

"Tidak."

Hendry menatapnya. "Asal barang?"

Arka sudah menyiapkan jawaban sejak di perjalanan. "Warisan keluarga. Disimpan lama. Saya hanya ingin melepas sebagian."

Itu bukan kebenaran penuh. Tapi juga bukan kebohongan yang bisa dibantah orang lain.

Hendry tidak langsung menekan. Ia mengambil alat uji, menimbang, memeriksa densitas, lalu menggores permukaan dengan hati-hati. Setiap gerakannya rapi. Pegawai tadi berdiri di belakangnya, semakin lama semakin sulit menjaga wajah profesional.

Lima belas menit berlalu.

Hendry meletakkan alatnya.

"Kemurniannya sangat tinggi," katanya pelan. "Lebih tinggi dari banyak produk pasar lokal. Kondisinya juga aneh. Seperti barang lama, tapi tidak teroksidasi sebagaimana mestinya."

Arka tidak menjawab.

Hendry tersenyum tipis. "Pak Arka, saya pedagang. Saya bukan polisi. Tapi barang tanpa surat selalu punya risiko. Risiko itu mempengaruhi harga."

"Saya mengerti."

"Untuk tiga batang ini, saya bisa bayar Rp 3 Miliar. Transfer sekarang."

Pegawai di belakang Hendry hampir tersedak.

Arka menatap emas di meja. Secara harga pasar, itu mungkin tidak maksimal. Tetapi ia tidak datang untuk memeras rupiah terakhir. Ia datang untuk menguji pintu.

Kalau pintu ini terbuka, tiga batang bukan apa-apa.

"Transfer," kata Arka.

Hendry mengangguk. "Nomor rekening?"

Arka menyebutkan rekening banknya. Saat menunggu proses, Hendry menuangkan teh hangat ke cangkir kecil. Uapnya naik perlahan di antara mereka.

"Pak Arka masih muda," ujar Hendry. "Barang seperti ini, kalau terlalu sering dijual sembarangan, akan menarik perhatian PPATK. Bank juga bisa menahan dana jika pola transaksinya terlalu kasar."

"Maka saya datang ke orang yang mengerti cara menjualnya."

Senyum Hendry kali ini lebih nyata. "Anda bicara seperti orang yang sudah pernah kehilangan banyak hal."

Arka menatap cangkir di tangannya. Di permukaan teh, ia melihat pantulan wajahnya sendiri. Gemuk, lelah, mata masih menyisakan lingkar hitam. Tetapi di balik semua itu, ada sesuatu yang mulai tenang.

"Saya hanya tidak ingin kehilangan sisanya."

Ponsel Arka bergetar.

Notifikasi bank muncul di layar.

Dana masuk: Rp 3.000.000.000.

Tiga miliar.

Angka itu begitu panjang sampai ponsel lamanya terasa tidak pantas menampilkannya.

Di benak Arka, muncul wajah Viona saat berkata, Kamu gak punya masa depan.

Ia hampir tertawa, tapi menahannya.

Belum waktunya.

Hendry memperhatikan reaksinya. "Kalau masih ada barang lain, saya bisa bantu. Tapi jumlah besar harus dipisah. Sebagian lewat pembeli kolektor, sebagian lewat Singapura, sebagian lewat Dubai. Semua harus punya dokumen dagang yang bersih. Biayanya tidak kecil, tapi aman."

Arka meletakkan ponselnya di meja. "Kalau saya punya tiga puluh batang?"

Pegawai perempuan itu tidak bisa menahan suara kecil dari tenggorokannya.

Hendry diam.

Untuk pertama kalinya sejak turun dari lantai dua, mata pria tua itu benar-benar berubah.

Tertarik.

"Tiga puluh batang seperti ini?"

"Ya."

"Itu bukan transaksi toko biasa, Pak Arka. Itu hubungan bisnis."

"Maka kita bicara sebagai calon mitra."

Hendry bersandar perlahan. Di luar tirai, lonceng pintu toko berbunyi, tetapi tidak ada yang bergerak menyambut pelanggan. Ruangan kecil itu seperti terpisah dari dunia.

"Saya bisa ambil semuanya," kata Hendry akhirnya. "Tetapi pembayaran penuh perlu dibuat bersih. Saya akan pecah menjadi beberapa kontrak jual beli logam mulia dan aset lama. Untuk keamanan, harga bersih yang masuk ke Anda Rp 10 Miliar. Saya tanggung jalur penjualan, biaya dokumen, dan risiko distribusi."

Arka menatapnya. "Hari ini?"

"Hari ini uang muka selesai. Sisanya sebelum bank tutup."

"Saya tidak suka menunggu."

Hendry tertawa pelan. "Saya juga tidak suka kehilangan kesempatan."

Arka berdiri, membawa tasnya. "Siapkan ruangan yang tidak ada kamera."

Hendry mengangkat alis, tetapi tidak bertanya. Ia membawa Arka ke ruang penyimpanan kecil di belakang, lalu mematikan kamera interior dengan alasan pemeriksaan privat barang kolektor. Pegawai perempuan itu diminta menunggu di luar.

Begitu pintu tertutup, Arka memasukkan tangan ke dalam tas kosong.

Satu demi satu, Emas Batangan muncul dari ruang Dimensi dan jatuh tanpa suara ke dalam tas berlapis kain.

Ia tidak membiarkan Hendry melihat prosesnya. Ketika tas dibuka di atas meja, jumlahnya sudah menjadi dua puluh tujuh batang tambahan.

Hendry menarik napas panjang.

"Saya sudah lama berdagang," katanya lirih. "Tapi baru kali ini melihat anak muda membawa masa depan sebuah keluarga di dalam tas selempang murah."

"Bukan masa depan keluarga," jawab Arka. "Masa depan saya."

Hendry menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk. "Baik, Pak Arka. Mulai hari ini, Galeri Permata akan menjadi pintu Anda. Tapi saya punya satu syarat."

"Apa?"

"Kalau Anda punya batu giok atau permata langka, jangan jual ke orang lain sebelum saya melihatnya."

Arka teringat Gelang Giok Imperial di ruang Dimensi. Hijau pekat, bersih, terlalu indah untuk dilepas sembarangan.

"Mungkin nanti."

Mata Hendry berbinar, tapi ia cukup pintar untuk tidak mengejar.

Transaksi berikutnya berjalan seperti operasi kecil. Hendry menelepon dua orang kepercayaannya, menyiapkan dokumen awal, dan memecah transfer dari beberapa rekening perusahaan. Arka membaca setiap lembar, memastikan tidak ada perangkap. Pengetahuan hukumnya terbatas. Setelah hidup dua bulan di Planet Biru, ia belajar membaca niat orang dari jeda napas dan gerakan tangan.

Hendry serakah seperti pedagang. Itu wajar.

Tetapi ia tidak bodoh.

Dan saat ini, Arka membutuhkan orang serakah yang tahu batas.

Menjelang sore, transfer terakhir masuk.

Saldo rekening: Rp 10.000.000.000.

Arka keluar dari Galeri Permata saat langit Jakarta mulai memerah. Di tangannya ada kartu nama Hendry Wibisana, bersih, tebal, dengan nomor pribadi tertulis di belakangnya. Di ponselnya, sepuluh miliar rupiah berbaring seperti monster yang baru bangun.

Ia berdiri di trotoar, dikelilingi suara klakson dan panas aspal.

Kemarin, ia menghitung uang receh untuk membeli Indomie tambahan.

Hari ini, ia bisa membeli seluruh warungnya.

Namun Arka tidak langsung tersenyum. Sepuluh miliar memang cukup untuk membuat Viona menyesal. Cukup untuk membuat Revano berhenti tertawa. Cukup untuk mengubah cara orang memandangnya di UNUSA.

Tetapi semua itu hanya permukaan.

Malam nanti, kesadarannya akan kembali ke Planet Biru.

Di sana, satu batang emas bukan apa-apa dibandingkan makanan. Satu botol air bisa membeli martabat. Satu kardus mi instan mungkin bisa ditukar dengan permata yang membuat orang kaya Jakarta berlutut.

Arka memasukkan kartu nama Hendry ke dompet lusuhnya.

"Sepuluh miliar pertama," gumamnya.

Lalu ia menatap pantulan dirinya di kaca mobil yang parkir di tepi jalan.

Tubuh gemuk. Jaket murah. Wajah yang kemarin masih disebut tidak punya masa depan.

Matanya dingin.

"Belum cukup."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!