NovelToon NovelToon
Cinta Kontrak 2 Bos Dominan

Cinta Kontrak 2 Bos Dominan

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Jifa Flora Dewi

Demi kompensasi bernilai fantastis, Azahra Aletta nekat melakukan sandiwara berbahaya: menandatangani dua kontrak pacar pura-pura secara bersamaan. Kontrak pertama datang dari Ethan Austin, pria dingin yang ia temui di ajang pencarian jodoh demi memenuhi syarat warisan keluarga. Namun, baru satu minggu berjalan, James Daniel—CEO otoriter sekaligus bos besar di tempat kerjanya—turut menuntut Azahra menjadi kekasih palsunya untuk menghindari perjodohan bisnis. Tergiur bayaran ganda, Azahra nekat bermain kucing-kucingan di balik layar.


Rencana sempurnanya hancur berantakan ketika rahasia tersebut akhirnya terbongkar di hadapan kedua pria itu. Alih-alih melayangkan gugatan atau memecatnya, rahasia yang terkuak justru membakar gengsi dan obsesi Ethan maupun James. Kedua bos dominan itu membuang aturan formal dan bersaing secara terbuka untuk memenangkan hati Azahra secara nyata. Kini, Azahra terjebak di antara dua pria berkuasa yang posesif dalam permainan cinta berbahaya yang ia ciptakan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jifa Flora Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19 : IKATAN DITEPI SAMUDRA

Pagi di Desa Teluk Mutiara menyapa dengan kehangatan yang tak biasa. Kabut tipis yang biasanya menggantung di atas muara sungai luruh perlahan, tersapu sinar matahari pagi yang merayap naik dari balik garis pantai selatan. Udara segar beraroma tanah basah dan sisa embun berpadu indah dengan wangi harum bunga melati kampung yang mekar sempurna di sepanjang jalan setapak tanah menuju bukit.

Di rumah kayu panggung yang berdiri anggun di atas bukit, Azahra Aletta berdiri di depan jendela teras kamarnya.

Ia mengenakan gaun katun putih bersahaja berpotongan longgar buatan tangan penjahit desa. Tanpa perhiasan emas berkilauan, tanpa mahkota berlian mahal dari toko perhiasan ternama Paris, dan tanpa riasan kaku dari penata gaya ternama Jakarta. Rambut hitam panjangnya dibiarkan terurai halus melintasi bahunya, hanya dihiasi mahkota kecil dari rangkaian bunga melati segar yang dipetik sendiri oleh murid-murid sekolahnya tadi subuh. Namun, binar di mata jernihnya memancarkan kecantikan murni—sebuah binar kedamaian utuh dari seorang wanita yang akhirnya menemukan dermaga kebebasan dan cintanya.

"Bu Alya cantik sekali..." bisik Nisa pelan. Anak perempuan kecil itu berdiri di sudut pintu kamar bersama Budi, membawa sekeranjang kelopak bunga mawar merah yang dipetik dari kebun warga.

Azahra berbalik, menyunggingkan senyum hangat paling indah yang pernah terukir di wajahnya. Ia berlutut di atas lantai kayu, menyamakan tingginya dengan kedua anak didiknya itu, lalu mengusap lembut kepala mereka.

"Terima kasih ya, Nisa, Budi," ujar Azahra dengan suara merdu yang bergetar haru. "Bunga-bunga ini indah sekali."

"Pak Ethan sudah menunggu di pantai, Bu!" seru Budi dengan mata berbinar-binar penuh sukacita. "Warga desa sudah kumpul semua di sana!"

Dari luar rumah, suara tabuhan gendang kayu, rebana tradisional, dan gelak tawa warga desa mulai bersahut-sahutan meriah. Hari ini bukan sekadar hari penting bagi Azahra dan Ethan, melainkan perayaan pesta panen dan sukacita bagi seluruh masyarakat Teluk Mutiara. Mereka tidak sedang menyambut sepasang pengusaha kaya raya dari ibu kota, melainkan merayakan persatuan dua jiwa yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari keluarga besar pesisir ini.

Di tepi garis pantai pasir putih yang berjarak seratus meter di bawah bukit, sebuah altar bambu sederhana telah berdiri kokoh menghadap langsung ke samudra luas. Hiasan janur kuning, daun kelapa yang dianyam rapi, dan pita-pita bunga melati putih melambai perlahan ditiup angin laut yang sejuk.

Ethan Austin telah berdiri di ujung altar tersebut.

Pria tegap itu mengenakan kemeja katun putih berpotongan rapi dan celana kain abu-abu terang. Tidak ada jas tuxedo kaku buatan perancang Eropa yang biasa ia kenakan saat menghadiri gala pesta korporasi. Bahunya yang dulu memikul beban persaingan bisnis yang berdarah kini tampak tegap, santai, dan penuh kedewasaan. Jemari tangannya yang pernah lecet akibat memikul bambu dan bertaruh nyawa di tebing sungai kini menggenggam erat sebuah kotak beludru kecil berisi cincin perak bermutiara laut alami.

Mata kelabu Ethan berbinar terang, menatap lurus ke arah jalan setapak bukit tempat Azahra mulai melangkah turun.

Di samping Ethan, Pak Basri dan Kepala Sekolah bertindak sebagai saksi nikah. Sementara itu, di barisan belakang kerumunan warga di bawah naungan rindangnya pohon kelapa, James Daniel berdiri dalam diam.

James mengenakan kemeja linen bersahaja. Sikap tubuhnya tidak lagi dipenuhi oleh keangkuhan raja korporasi atau kegilaan amarah yang membakar. Pria itu menyandarkan bahunya di batang pohon kelapa, menatap altar dengan kedewasaan murni dari seorang pria yang telah benar-benar berdamai dengan takdirnya dan merelakan wanita yang dicintainya bahagia bersama orang lain.

Saat Azahra mulai melangkah menuruni bukit dibimbing oleh Ibu Sumi, keheningan yang amat syahdu menyelimuti tepi pantai. Suara ombak yang berdesir pelan seolah menjadi alunan musik alam yang menyambut keindahannya.

Ethan menahan napasnya. Setiap langkah kaki Azahra di atas pasir pantai basah terasa bagaikan sebuah keajaiban yang melengkapi separuh jiwanya. Dulu, tiga tahun lalu, ia mengejar wanita ini dengan intrik, harta, dan kebohongan. Namun hari ini, wanita itu melangkah mendekatinya atas kerelaan hati, ketulusan, dan cinta murni tanpa syarat.

Azahra tiba di hadapan Ethan. Matanya yang jernih bertaut lurus dengan iris mata kelabu sang calon suami.

"Kamu siap, Azahra?" bisik Ethan pelan, suaranya bergetar halus oleh emosi dan rasa syukur yang luar biasa.

Azahra mengangguk pelan, menyunggingkan senyuman hangat penuh kepastian. "Aku siap, Ethan."

Penghulu desa memimpin jalannya akad nikah yang berlangsung dengan sangat khidmat di bawah naungan langit biru yang membentang luas. Suara riak gelombang ombak dan nyanyian angin pesisir menjadi saksi bisu sewaktu Ethan mengucapkan ikrar suci akad nikah dengan satu tarikan napas yang mantap, tegas, dan lantang:

"Aku terima nikahnya Azahra Aletta binti Ahmad dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai!"

"SAH!" seru warga desa dan para tetua serempak.

"Alhamdulillah!"

Sorak-sorai sukacita seketika meledak di sepanjang garis pantai Teluk Mutiara. Anak-anak melompat kegirangan sambil melempar ribuan kelopak bunga mawar merah dan melati ke udara. Musik tradisional tabuhan rebana dan gendang kayu bersahut-sahutan meriah menyambut pasangan pengantin baru tersebut.

Ethan melangkah maju, merengkuh tubuh Azahra ke dalam pelakannya yang hangat, kuat, dan penuh perlindungan. Tangannya yang tegap melingkar sempurna di pinggang Azahra. Ethan menundukkan kepalanya, mengecup dahi dan bibir istrinya dengan kelembutan yang amat mendalam di bawah naungan binar sinar matahari pagi.

Azahra memejamkan matanya, membalas pelukan Ethan erat-erat. Seluruh ketakutan, rasa sakit, trauma penderitaan, dan bayang-bayang kelam masa lalu resmi melebur sepenuhnya tanpa sisa, berganti dengan rasa aman, kebebasan, dan cinta sejati yang tak akan pernah tergoyahkan.

Di batas kerumunan warga, James Daniel perlahan mengangkat kedua tangannya, bertepuk tangan secara halus bersama masyarakat desa. Sebuah senyuman tipis, hangat, dan damai terukir di wajah tampannya. Air mata kecil menetes di sudut matanya—bukan air mata duka atau cemburu, melainkan air mata keikhlasan murni dari seorang pria yang akhirnya menang melawan egonya sendiri.

James memutar tubuhnya secara perlahan, melangkah menuju dermaga kayu tempat perahu perpustakaan terapung telah menyalakan mesinnya untuk bertolak menuju Nusa Tenggara. Tanpa ucapan perpisahan yang dramatis, James melangkah pergi membawa keikhlasan yang sesungguhnya dan harapan baru bagi hidupnya sendiri.

Malam harinya, pesta rakyat di tepi pantai telah mereda menjadi hembusan angin malam yang menenangkan jiwa.

Azahra dan Ethan berdiri bersama di teras kayu rumah panggung baru mereka di atas bukit. Dari tempat tinggi ini, mereka bisa menyaksikan kerlip lampu-lampu minyak dari perahu nelayan yang berlayar di tengah lautan malam dan hamparan jutaan bintang yang terbentang indah di angkasa.

Ethan melingkarkan kedua tangannya dari belakang, memeluk pinggang Azahra lembut dan menyandarkan dagunya di bahu wanita itu.

"Apa yang sedang kamu pikirkan, Istriku?" bisik Ethan hangat di telinga Azahra.

Azahra menyandarkan punggungnya ke dada bidang Ethan yang stabil, menggenggam jemari suaminya dengan jemari berhias cincin perak bermutiara laut.

"Aku cuma sedang memikirkan betapa jauhnya jalan yang sudah kita tempuh," gumam Azahra pelan dengan binar mata bahagia. "Dari ruangan-ruangan kaca dingin dan intrik berdarah di Jakarta... sampai ke teras kayu bersahaja di atas bukit ini."

Ethan tersenyum lembut, mengecup bahu Azahra yang tertutup kain gaun. "Dunia di luar sana mungkin punya seluruh harta dan kekuasaan, Azahra. Tapi di sini, di sampingmu... aku telah punya seluruh semesta dan alasan untuk tetap hidup."

Di bawah naungan kepak langit malam Teluk Mutiara yang abadi, dua jiwa yang dulu tersesat dan terkoyak kini telah menemukan rumah sejati mereka. Cinta yang diuji oleh api persaingan, kebencian, dan penyesalan akhirnya berlabuh dalam kesederhanaan, kebebasan, dan kebahagiaan yang abadi.

1
Nisasaidatus
kaaa kenapa g lanjutt
Jifa Flora Dewi: terima kasih sudah menyukai cerita ini saya akan segera mengupdate bab selanjutnya terima kasih atas dukungannya 🥰
total 1 replies
Nisasaidatus
kaa Azahra ga beneran mati kan🥺
Nisasaidatus
kaaa kenapa Azahra meninggal 🥲
Nisasaidatus
lanjuttt kaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!