Bara Pratama hanyalah seorang pemulung yang dihina dan dibuang oleh kekasihnya demi pria kaya. Namun, nasibnya berbalik total saat darah dari luka pukulannya tanpa sengaja mengaktifkan sebuah tungku berkarat yang terhubung dengan Sistem Daur Ulang Multiverse. Melalui sistem ini, Bara bisa memproses rongsokan tidak berharga menjadi pil kultivasi, material langka, dan barang pusaka bernilai tinggi dari dimensi Sekte Harmoni. Berbekal kekuatan dan kekayaan baru yang terus mengalir dari tumpukan sampah, Bara siap menghancurkan kesombongan orang-orang yang dulu menginjaknya dan memulai hidup baru sebagai sosok yang tidak bisa diremehkan oleh siapa pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Vroom!
Suara mesin mobil sport hitam milik Bara membelah keramaian jalanan kota yang dipenuhi kerlap-kerlip lampu.
Nadhira duduk di kursi penumpang sampingnya dengan mengenakan gaun malam berwarna hitam yang sangat elegan.
Wangi parfum beraroma bunga melati dari tubuh Nadhira sesekali tercium memenuhi ruang kabin mobil.
"Kamu yakin mau mentraktirku makan di Restoran Langit Malam?" tanya Nadhira memecah keheningan.
"Aku dengar restoran di puncak gedung itu adalah tempat paling eksklusif yang antrian reservasinya bisa sampai berbulan-bulan."
Bara hanya tersenyum santai sambil terus memutar kemudi mobilnya memasuki area parkir sebuah gedung pencakar langit.
"Uang selalu bisa memotong antrian panjang di dunia ini Nadhira, kamu tidak perlu khawatir," jawab Bara dengan nada percaya diri.
Ciiit!
Mobil sport itu berhenti dengan mulus tepat di lobi gedung dan seorang petugas valet langsung menyambut mereka berdua.
Bara menyerahkan kuncinya dan membimbing Nadhira berjalan masuk menuju lift khusus tamu VIP.
Ting!
Pintu lift terbuka di lantai paling atas dan pemandangan luar biasa indah dari kota metropolitan langsung menyambut mereka.
Restoran ini didesain dengan dinding kaca tebal di semua sisinya sehingga pengunjung bisa melihat pemandangan ke segala arah.
Seorang pelayan berpakaian jas sangat rapi langsung menghampiri mereka berdua sambil membawa buku menu makanan.
"Selamat malam Tuan Bara, meja VIP Anda di dekat jendela utama sudah kami siapkan," sapa pelayan itu dengan sangat hormat.
Bara mengangguk pelan dan berjalan melewati beberapa meja pengunjung lain yang tampak dipenuhi oleh orang-orang kaya.
Mereka berdua akhirnya duduk berhadapan di sebuah meja bundar yang posisinya paling bagus di restoran tersebut.
"Pemandangan dari sini benar-benar luar biasa, aku belum pernah makan di tempat sebagus ini Bara," puji Nadhira dengan mata berbinar-binar.
"Ini adalah hadiah kecil untuk merayakan keberhasilanmu mengambil alih pabrik keluarga Aristha siang tadi," ucap Bara sambil tersenyum hangat.
Pelayan datang membawakan hidangan pembuka dan menuangkan anggur merah ke dalam gelas mereka berdua.
Trang!
Bara dan Nadhira mendentingkan gelas kaca mereka dengan pelan untuk merayakan kemenangan besar pertama mereka.
"Sekarang pabrik itu sudah resmi menjadi milik kita dan mulai besok produksi krim kosmetik akan berjalan maksimal," lapor Nadhira dengan nada gembira.
"Semua agen distributor dari luar kota juga sudah meneleponku dan berebut ingin menandatangani kontrak kerja sama."
Bara memotong daging steak di piringnya dan mengunyahnya dengan sangat santai.
"Pastikan saja kualitas bahan bakunya tetap terjaga Nadhira, jangan sampai produksi massal malah menurunkan standar khasiatnya," pesan Bara mengingatkan rekan bisnisnya.
"Kamu tenang saja Bara, aku sendiri yang akan mengawasi bagian penjaminan mutu di pabrik itu setiap harinya."
Mereka berdua terus mengobrol santai membicarakan rencana ekspansi bisnis ke depan dengan sangat antusias.
Suasana di meja itu terasa sangat romantis dan hangat layaknya sepasang kekasih yang sedang menghabiskan waktu berdua.
Namun kedamaian mereka tidak berlangsung lama saat terdengar suara langkah sepatu yang sengaja dikeraskan mendekat.
Tap! Tap! Tap!
Seorang pemuda berpakaian kemeja sutra mahal dengan rambut disisir klimis tiba-tiba berdiri tepat di samping meja mereka.
Di belakang pemuda itu, ada dua orang pengawal berbadan besar yang berdiri diam dengan postur mengancam.
"Nadhira Larasati, aku tidak menyangka bisa bertemu wanita secantik dirimu di tempat ini," sapa pemuda itu dengan nada suara yang arogan.
Nadhira yang sedang tersenyum langsung mengubah raut wajahnya menjadi dingin saat melihat siapa yang datang mengganggu.
"Selamat malam Kevin, aku sedang sibuk makan malam dengan rekan bisnisku sekarang," balas Nadhira dengan nada yang jelas-jelas mengusir.
Pemuda bernama Kevin itu sama sekali tidak mempedulikan penolakan halus dari Nadhira.
Mata Kevin justru beralih menatap Bara dari atas ke bawah dengan pandangan meremehkan yang sangat kentara.
"Rekan bisnis? Aku baru tahu kalau perusahaan kosmetikmu mempekerjakan pria dengan wajah kampungan seperti ini," ejek Kevin sambil tertawa sinis.
Bara meletakkan pisau dan garpunya secara perlahan di atas piring tanpa terpancing emosi sedikit pun.
"Nadhira, apa orang tidak sopan ini adalah salah satu kenalanmu?" tanya Bara dengan nada suara datar.
Nadhira menghela nafas panjang dan menatap Bara dengan pandangan meminta maaf karena acara mereka terganggu.
"Dia adalah Kevin, putra tunggal dari Kepala Departemen Perizinan Tata Kota," bisik Nadhira memberikan informasi penting pada Bara.
"Dia sudah lama mencoba mendekatiku tapi aku selalu menolaknya karena kelakuannya yang sangat sombong dan kasar."
Mendengar penjelasan singkat itu, Bara langsung mengerti situasinya dengan sangat jelas dari sudut pandangnya.
Pemuda di depannya ini hanyalah anak pejabat korup yang merasa bisa mendapatkan segalanya hanya dengan mengandalkan jabatan ayahnya.
"Hei kawan, aku sedang bicara padamu," ucap Kevin sambil mengetuk meja kaca mereka dengan kasar.
Tuk! Tuk!
"Aku akan memberimu uang sepuluh juta rupiah malam ini juga untuk mencari makan di warung pinggir jalan."
"Sekarang cepat pergi dari kursi itu karena aku ingin makan berdua saja dengan Nadhira," perintah Kevin seenaknya sendiri.
Kevin langsung mengeluarkan dompet kulitnya dan melemparkan segepok uang tunai seratus ribuan tepat ke atas meja.
Brak!
Uang itu jatuh tepat di dekat piring Bara dan membuat beberapa pengunjung restoran lain mulai menoleh melihat keributan.
Bara menatap tumpukan uang kertas itu lalu mendongak menatap wajah Kevin dengan senyum tipis.
"Sepuluh juta rupiah? Apa uang jajan dari ayah pejabatmu itu sudah dipotong karena ketahuan korupsi?" balas Bara dengan ucapan yang sangat tajam.
Wajah Kevin seketika berubah merah padam mendengar hinaan blak-blakan dari mulut Bara barusan.
"Jaga mulut kotormu itu brengsek, kau berani menghina ayahku di tempat umum seperti ini?!" bentak Kevin dengan urat leher menonjol.
"Aku tidak sedang menghina, aku hanya merasa kasihan melihat anak pejabat yang bertingkah sok kaya tapi cuma bisa melempar recehan sepuluh juta," ejek Bara lagi.
Bara dengan sangat santai memanggil pelayan restoran yang sedang berdiri agak jauh dari meja mereka karena ketakutan.
"Pelayan, tolong ambil uang sampah di atas mejaku ini dan buang ke tempat sampah di dapur sekarang juga," perintah Bara dengan suara lantang.
Pelayan itu terlihat ragu melihat wajah marah Kevin, namun dia juga tidak berani membantah tamu VIP seperti Bara.
"Kurang ajar, kau benar-benar mencari mati bersamaku malam ini!" teriak Kevin kehabisan sisa kesabarannya.
"Pengawal, seret pria miskin ini keluar dari restoran dan pukuli dia sampai lumpuh di tangga darurat!" perintah Kevin pada dua pengawalnya.
Kedua pengawal berbadan besar itu langsung melangkah maju dan mencoba meraih bahu Bara dari arah belakang.
Namun sebelum tangan kotor mereka sempat menyentuh jas mahalnya, Bara sudah bergerak terlebih dahulu.
Wush!
Bara berdiri dari kursinya dengan kecepatan kilat dan langsung menampar wajah kedua pengawal itu secara bergantian.
Plak! Plak!
Tamparan Bara sama sekali tidak menggunakan tenaga penuh, tapi itu sudah cukup untuk membuat tubuh kedua pria berotot itu terpelanting ke belakang.
Bruk! Bruk!
Mereka berdua jatuh membentur lantai restoran dengan keras dan langsung pingsan dengan hidung yang mengucurkan darah.
Suasana restoran mendadak menjadi sangat hening dan tegang melihat dua pria besar tumbang hanya dalam hitungan detik.
Kevin mematung dengan mulut terbuka lebar melihat kedua pengawal terbaiknya dikalahkan dengan begitu memalukan.
"Kau berani memukul pengawal pribadiku?" ucap Kevin dengan suara bergetar dan lutut yang mulai terasa lemas.
"Aku paling benci kalau ada nyamuk berisik yang mengganggu acara makan malamku," desis Bara sambil menatap tajam tepat di mata Kevin.
Keributan itu akhirnya memancing manajer restoran untuk berlari tergopoh-gopoh menghampiri meja mereka.