NovelToon NovelToon
The Lone Traveler

The Lone Traveler

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Lain / Fantasi Isekai / Action / Fantasi
Popularitas:313
Nilai: 5
Nama Author: Shodiq Daryanto

Terbunuh tepat saat ingin mengubah hidupnya, seorang pemuda reinkarnasi ke Dunia "Astral" dunia raksasa berisi 10 benua. Berbekal kekuatan, ingatan, dan wujud Uchiha Sasuke, ia diberi satu misi suci oleh Dewa Agung: memburu 'Eternity', satu-satunya pemilik 'System' yang mengancam tatanan dunia.

Namun, perburuannya berubah rumit saat menembus lantai 100 sebuah dungeon. Bukannya monster, ia justru bertemu Saviera, seorang Demigod, dan Elaina, anak malaikat kecil yang tiba-tiba memanggilnya "Papa".

Di antara misi memburu sasaran misterius dan ikatan keluarga baru yang mengisi kehampaan jiwanya, jalan mana yang akan ia pilih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shodiq Daryanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 : Lantai Seratus

Cahaya keemasan yang menyelimuti gerbang itu memudar begitu Sasuke melangkah menembusnya, digantikan pemandangan yang sama sekali tidak ia duga setelah sembilan puluh sembilan lantai berisi reruntuhan batu, monster, dan jebakan mematikan.

Ia berdiri di tengah sebuah taman.

Bukan taman kecil sekadarnya, melainkan hamparan luas yang menyerupai potongan dunia luar yang entah bagaimana terperangkap jauh di bawah tanah—rerumputan hijau segar terbentang di bawah kakinya, pepohonan berbunga putih tumbuh berjajar rapi, dan langit-langit gua yang menjulang tinggi di atasnya bercahaya lembut menyerupai langit senja buatan, lengkap dengan bintang-bintang kecil yang berkelap-kelip meski tidak ada satu pun yang nyata.

Suara air mengalir terdengar dari kejauhan, dan aroma bunga yang manis menggantikan bau lembap batu yang selama ini menemaninya. Setelah puluhan lantai penuh kematian dan reruntuhan, tempat ini terasa seperti anomali yang mustahil—sebuah oase kehidupan di jantung sebuah menara yang dirancang untuk menelan siapa pun yang cukup nekat memasukinya.

Sasuke melangkah perlahan, indranya tetap waspada meski tidak menangkap ancaman apa pun. Lukanya dari pertarungan di lantai delapan puluh sembilan masih terasa berdenyut samar, meski sudah jauh membaik.

"Kau sampai lebih cepat dari yang kuperkirakan."

Suara itu muncul tiba-tiba, berasal dari bawah salah satu pohon berbunga putih di tengah taman. Sasuke langsung berbalik, tangannya siap membentuk segel, namun ia menahan diri begitu melihat sosok yang duduk di sana.

Seorang pria—atau sesuatu yang menyerupai pria—duduk bersandar santai di batang pohon, satu kaki ditekuk, memandangnya dengan senyum tipis yang sulit diartikan. Rambutnya perak keputih-putihan, jatuh menutupi sebagian dahinya, dan matanya berwarna biru yang begitu jernih hingga terasa seperti menatap langsung ke dalam air danau yang dalam. Wajahnya tampan dengan cara yang hampir tidak wajar, terlalu sempurna untuk disebut manusia biasa.

Namun ada sesuatu yang aneh pada sosok itu—tubuhnya sedikit transparan di tepi-tepinya, seperti proyeksi cahaya yang dipaksa mengambil bentuk padat, berkelap-kelip halus setiap kali angin buatan taman itu berembus melewatinya.

"Kau bukan manusia sungguhan," Sasuke berkata, lebih sebagai pernyataan daripada pertanyaan.

"Tepat sekali." Sosok itu tersenyum lebih lebar, bangkit berdiri dengan gerakan yang begitu ringan seolah tidak memiliki berat sama sekali. "Aku hanya klon. Bayangan kecil dari seseorang yang jauh lebih besar dariku, ditinggalkan di sini untuk satu tujuan sederhana: mengawasi, dan menunggu."

"Menunggu apa?"

"Menunggu seseorang sepertimu," klon itu menjawab, matanya menyapu tubuh Sasuke dari atas ke bawah, seolah menilai sesuatu yang tidak terlihat. "Seseorang yang cukup kuat untuk menembus sembilan puluh sembilan lantai, namun cukup bijak untuk tidak membunuh dengan sembarangan di sepanjang jalan." Ia menunjuk dagunya ke arah luka samar di lengan Sasuke. "Dan cukup jujur untuk tidak menyembunyikan bahwa kau juga bisa terluka. Aku sudah mengawasi banyak petualang yang mencoba menembus tempat ini, kau tahu. Kebanyakan dari mereka membunuh segalanya tanpa pandang bulu, hanya demi mencapai dasar."

Sasuke tidak menjawab, menunggu penjelasan lebih lanjut.

"Namaku tidak penting," klon itu melanjutkan, melangkah perlahan mengelilingi taman kecil itu, jarinya menyentuh kelopak salah satu bunga putih yang mekar di dekatnya. "Tapi tuanku, yang meninggalkanku di sini, menyebut dirinya Eternity."

Nama itu menghantam kesadaran Sasuke seperti petir di siang bolong.

"Eternity," Sasuke mengulang pelan, matanya menyipit. "Kau tahu di mana dia sekarang?"

"Tidak," klon itu menjawab jujur, menggelengkan kepala. "Aku hanya bayangannya, bukan dirinya sepenuhnya. Aku tidak tahu di mana dia berada saat ini, atau apa yang sedang ia lakukan."

Klon itu berhenti melangkah, menatap Sasuke lebih lekat, seolah baru benar-benar memperhatikan wajahnya untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu. Matanya yang biru jernih menyipit sedikit, seolah menggali sesuatu dari ingatan yang bukan miliknya sendiri.

"...Tunggu," gumamnya pelan, nada suaranya berubah, hampir seperti tertawa kecil yang tertahan. "Wajahmu. Aku mengenalinya—bukan dari sini, dari Astral, tapi dari tempat lain. Sebuah kisah, gambar bergerak, dari dunia yang jauh sebelum ini."

Sasuke terdiam, tidak menyangka arah percakapan itu.

"Tuanku juga berasal dari sana," klon itu melanjutkan, senyumnya melebar, campuran antara geli dan nostalgia yang aneh untuk sesosok bayangan tanpa tubuh sungguhan. "Dari dunia bernama Bumi. Ingatannya adalah ingatanku juga, sebagian besarnya—dan di antara ingatan itu, ada kisah tentang seorang ninja bermata seperti milikmu, dari sebuah tontonan yang sering ia habiskan waktu untuk menyaksikannya." Ia menatap wajah Sasuke lebih dalam. "Kebetulan yang menarik, bukan? Atau mungkin bukan kebetulan sama sekali."

"'Eternity' bukan nama aslinya, kalau begitu," Sasuke menyimpulkan pelan.

"Benar sekali," klon itu mengangguk. "Itu hanya sebutan—gelar yang melekat pada siapa pun yang memiliki 'System', eksistensi yang begitu langka hingga hanya ada satu pemiliknya di seluruh Astral." Ia terdiam sejenak, seolah menahan diri untuk tidak melanjutkan lebih jauh. "Nama aslinya... biar itu tetap menjadi miliknya sendiri untuk saat ini. Bukan hakku untuk membagikannya sembarangan, bahkan padamu."

Sasuke mengangguk pelan, tidak memaksa lebih jauh.

"Aku mencarinya," Sasuke akhirnya berkata, memutuskan untuk jujur. "Aku diperintahkan oleh seseorang yang menyebut dirinya Dewa Agung untuk menemukan dan menghentikan pemilik System. Eternity adalah satu-satunya orang yang dimaksud."

Untuk sesaat, wajah klon itu berubah, senyum tipisnya memudar digantikan sesuatu yang mendekati kasihan.

"Kau ingin memburu tuanku," klon itu berkata pelan, bukan sebagai pertanyaan. Ia terdiam sejenak, seolah mempertimbangkan sesuatu, sebelum akhirnya mendesah panjang. "Aku tidak akan menghentikanmu untuk mencoba. Tapi biar kutunjukkan sesuatu, agar kau setidaknya memahami apa yang sebenarnya kau hadapi."

Klon itu mengangkat satu tangannya yang setengah transparan, dan udara di sekitar mereka mulai bergetar. Sebuah citra mulai terbentuk di udara kosong di antara mereka—bukan ilusi sederhana, melainkan semacam jendela menuju kenangan, menampilkan sekilas gambaran samar seorang sosok berdiri sendirian di tengah medan yang hancur lebur, gunung-gunung runtuh di kejauhan, langit terbelah oleh cahaya yang tidak wajar, sementara sosok itu hanya berdiri diam, tanpa terluka sedikit pun di tengah kehancuran total di sekelilingnya.

Sasuke merasakan tekanan yang luar biasa hanya dari menyaksikan citra itu—bukan serangan sungguhan, hanya gema dari kekuatan yang pernah ada, namun cukup untuk membuat rahangnya mengeras, seluruh instingnya sebagai petarung berteriak bahwa ini bukan lawan yang bisa dianggap remeh.

"Itu hanya secuil kecil dari apa yang pernah kusaksikan," klon itu berkata, menurunkan tangannya, citra itu memudar perlahan. "Kekuatan tuanku bukan sesuatu yang bisa diukur dengan level, atau bahkan dibandingkan dengan penjaga-penjaga yang kau kalahkan di lantai-lantai sebelumnya. Memburunya bukan sekadar sulit—itu mustahil, setidaknya untuk saat ini, dengan kekuatan yang kau miliki sekarang."

Sasuke tidak menjawab, rahangnya mengeras, mencerna apa yang baru saja ia saksikan.

"Aku tidak mengatakan ini untuk mematahkan semangatmu," klon itu menambahkan, nadanya melembut. "Hanya... berhati-hatilah. Dunia ini luas, dan kau masih punya banyak waktu untuk tumbuh sebelum jalanmu benar-benar bersilangan dengan tuanku."

Hening menyelimuti taman itu sejenak, hanya suara air kolam yang berkecipak pelan di kejauhan.

"Kau belum benar-benar melihatnya," klon itu berkata lagi, nada suaranya berubah—lebih rendah, lebih serius, seolah menimbang apakah ia perlu menunjukkan lebih banyak. "Citra tadi hanya medan pertempuran yang sudah selesai. Biar kutunjukkan bagaimana medan itu selesai."

Ia mengangkat tangannya sekali lagi. Citra baru terbentuk di udara—kali ini bukan pemandangan diam, melainkan sesuatu yang bergerak, hidup, dan mengerikan.

Sasuke melihat pasukan. Ribuan prajurit berzirah lengkap, formasi rapi membentang sejauh mata memandang, tombak dan panah terangkat siap menyerang sosok tunggal yang berdiri sendirian di hadapan mereka. Sosok berambut perak itu tidak bergerak sedikit pun—tidak mengangkat senjata, tidak mengambil kuda-kuda bertarung. Ia hanya menoleh sedikit, seolah pasukan di hadapannya bukan ancaman, melainkan gangguan kecil yang mengusik kesendiriannya.

Lalu ia mengangkat satu jari.

Tidak ada ledakan cahaya besar, tidak ada gemuruh dahsyat seperti yang dibayangkan Sasuke. Yang terjadi justru jauh lebih senyap, dan karena itu jauh lebih mengerikan—ribuan prajurit itu berhenti bergerak secara bersamaan, seolah waktu mereka dibekukan dalam sepersekian detik. Kemudian, satu per satu, tubuh mereka mulai retak seperti keramik, dari dalam ke luar, sebelum akhirnya runtuh menjadi debu yang tertiup angin, meninggalkan zirah-zirah kosong yang berjatuhan ke tanah dengan suara berdenting yang menggema panjang di seluruh citra itu.

Sosok berambut perak itu berjalan santai melewati lautan zirah kosong tersebut, seolah baru saja membersihkan debu dari jalan setapaknya, bukan baru saja memusnahkan seluruh pasukan dalam hitungan detik tanpa mengeluarkan setetes keringat pun.

Citra itu memudar. Sasuke berdiri diam, rahangnya masih mengeras—bukan karena takut, melainkan karena penilaian dingin dan rasional yang baru saja terbentuk di kepalanya: kekuatan yang membunuh bukan dengan amarah atau usaha, melainkan dengan ketidakpedulian total, adalah jenis kekuatan yang jauh lebih sulit diperhitungkan dibanding lawan mana pun yang pernah ia hadapi.

Ia sudah menghadapi wyvern yang nyaris merobek tubuhnya. Ia sudah menghadapi tiga malaikat jatuh yang menusuknya dari tiga sisi sekaligus. Tapi tidak satu pun dari itu terasa seperti apa yang baru saja ia saksikan—kekuatan yang membunuh bukan dengan amarah atau usaha, melainkan dengan ketidakpedulian total, seolah nyawa ribuan orang bukan apa-apa dibandingkan gangguan kecil terhadap kesendiriannya.

"Itu bukan pertarungan," klon itu berkata pelan, memecah keheningan panjang yang tercipta. "Itu bahkan bukan sesuatu yang tuanku anggap layak disebut usaha. Sekarang kau paham kenapa aku bilang, memburunya bukan sekadar sulit."

Sasuke tidak menjawab, hanya mengangguk pelan. Untuk pertama kalinya sejak reinkarnasinya, ia melakukan sesuatu yang jarang ia lakukan: mengakui batas kekuatannya sendiri secara terbuka, tanpa gengsi. Bukan rasa takut yang mendorongnya, melainkan perhitungan dingin seorang petarung berpengalaman—menyerang lawan yang jelas-jelas di luar jangkauan bukan keberanian, melainkan kebodohan. Untuk saat ini, ia menyimpan keputusan itu jauh di belakang pikirannya: bukan sekarang, tapi suatu hari nanti, setelah ia cukup kuat.

Getaran halus tiba-tiba menjalar di bawah kaki mereka, disusul suara gemuruh jauh yang menggema dari kedalaman lantai-lantai di bawah taman ini.

Klon itu tersentak, wajahnya berubah panik. "Waktuku hampir habis," ia berkata cepat, suaranya mulai terdengar jauh, seolah datang dari balik air, tubuhnya mulai berpendar semakin terang, partikel-partikel cahaya mulai terlepas darinya seperti debu keemasan yang naik ke udara. "Tugasku sebagai penjaga sudah selesai sekarang—bukan karena aku memilihnya, tapi karena keberadaanku sendiri hanya bertahan selama benang tipis yang menghubungkanku dengan tuanku masih ada. Dan benang itu... baru saja terputus, entah kenapa, entah apa yang terjadi pada tuanku di suatu tempat yang jauh."

Sasuke berdiri cepat, sesuatu dalam nada suara itu membuatnya waspada. "Apa maksudmu?"

"Aku tidak yakin," klon itu menjawab jujur, semakin banyak bagian tubuhnya yang mulai larut menjadi cahaya. "Tapi ada satu hal yang perlu kau tahu sebelum aku pergi—dungeon ini, seluruh tempat ini, dijaga oleh kekuatanku selama bertahun-tahun. Begitu aku menghilang sepenuhnya, tempat ini tidak akan bertahan lama lagi."

"Ada dua orang di ujung taman ini," klon itu melanjutkan cepat, suaranya semakin memudar bersamaan dengan tubuhnya, "seorang wanita dan seorang anak kecil. Mereka tidak bersalah atas apa pun. Kumohon—jaga mereka, jika kau bisa. Kisah mereka... biar salah satu dari mereka sendiri yang menceritakannya padamu, jika kau memang berniat tinggal cukup lama untuk mendengarkannya."

"Tunggu—" Sasuke melangkah maju, namun terlambat.

Tubuh klon itu larut sepenuhnya menjadi partikel cahaya keemasan, berhamburan ke udara sebelum menghilang tanpa jejak, meninggalkan Sasuke sendirian di tepi kolam yang kini mulai beriak akibat getaran yang semakin kuat.

Suara gemuruh dari kedalaman dungeon semakin keras, dan retakan-retakan kecil mulai muncul di langit-langit gua buatan itu, memperlihatkan kegelapan pekat di baliknya.

Sasuke tidak membuang waktu lagi. Ia berlari menuju lorong kecil di ujung taman yang sempat ditunjukkan klon itu sebelumnya, menyimpan rapat-rapat penilaian barunya soal Eternity di sudut pikirannya, memaksa dirinya untuk fokus pada urgensi yang lebih mendesak: dua nyawa yang menunggu di ujung sana, tidak tahu bahwa dunia kecil yang selama ini melindungi mereka sedang mulai runtuh.

---

*Bersambung ke Bab 8: Saviera dan Elaina*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!