NovelToon NovelToon
Sistem Dewa Hoki : Aku Bukan Pembawa Sial

Sistem Dewa Hoki : Aku Bukan Pembawa Sial

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Sistem
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Selama bertahun-tahun, Akbar dicap sebagai pembawa sial oleh seluruh warga kampung, bahkan disalahkan atas kecelakaan tragis yang merenggut nyawa kedua orang tuanya. Kelelahan dengan hidup yang penuh penderitaan dan cemoohan, Akbar memutuskan untuk mengakhiri segalanya dengan melompat dari atas jembatan. Namun, tepat sebelum tubuhnya jatuh, sebuah layar hologram mendadak muncul dan memberinya "Sistem Dewa Hoki". Kini, berbekal keberuntungan absolut dari sistem tersebut, Akbar siap membalikkan keadaan, membungkam mulut orang-orang yang merendahkannya, dan membongkar rahasia kelam di balik kematian orang tuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Akbar tidak repot-repot menghindar jauh, dia hanya menundukkan kepalanya sedikit ke bawah.

Wush. Wush.

Kedua tongkat besi itu meleset mengenai angin kosong tepat di atas kepala Akbar.

Karena ayunan mereka terlalu kuat dan tidak mengenai sasaran, tubuh mereka berdua terbawa gaya dorong ke depan secara berlebihan.

Brak!

Kepala kedua berandal itu justru saling berbenturan satu sama lain dengan sangat keras.

Bunyi benturan kepala itu terdengar menggema seperti suara kelapa yang dihantamkan ke tanah.

Keduanya langsung jatuh seketika menimpa perut teman mereka yang gemuk tadi dalam keadaan pingsan total.

Tinggal tersisa tiga orang lagi, termasuk si pemimpin geng bertindik yang kini menelan ludah melihat kejadian gila barusan.

Pemuda yang mau mereka hajar ini bahkan sama sekali belum memukul satu kali pun dari tadi.

Tapi entah kenapa tiga anak buahnya tumbang dengan cara yang sangat memalukan dan tidak masuk akal.

"Bos, anak ini kelihatannya punya ilmu hitam pesugihan atau semacamnya Bos," bisik anak buahnya dengan suara gemetar hebat.

"Jangan takut bodoh! Kita masih ada tiga orang, serang dia dari segala arah sekarang juga!" bentak sang pemimpin menutupi rasa takutnya.

Pemimpin bertindik itu langsung berlari maju memimpin serangan dengan membawa linggis besi tajam.

Dua anak buahnya yang tersisa ikut berlari dari sisi kiri dan kanan menyusul langkah bos mereka.

Akbar melihat dengan jelas prediksi masa depan dari angka sistem yang melayang di atas kepala si pemimpin.

[Penyebab Kesialan: Benda tumpul dari teman sendiri.]

"Oke, mari kita buat prediksi sistem ini menjadi kenyataan yang sangat indah," batin Akbar sambil tersenyum lebar.

Akbar berdiri diam mematung pura-pura ketakutan melihat linggis besi itu melayang membelah udara ke arah perutnya.

Tepat dalam hitungan kurang dari setengah detik sebelum linggis itu menusuknya, Akbar menjatuhkan tubuhnya ke bawah berguling cepat di atas aspal.

Wush!

Linggis pemimpin geng itu menusuk udara kosong di tempat Akbar berdiri sedetik yang lalu.

Namun karena momentum larinya sangat kencang, dia tidak bisa menghentikan langkah majunya secara tiba-tiba.

Di saat yang sama, dua anak buahnya yang menyerang dari sisi kiri dan kanan juga sedang telanjur mengayunkan balok kayu panjang mereka menuju target yang sudah menghilang.

Bukk! Bukk!

Dua balok kayu keras itu tidak mengenai Akbar, melainkan menghantam telak sisi kepala dan leher bos mereka sendiri dari dua arah berbeda.

"Arghhhh!"

Pemimpin bertindik itu menjerit kesakitan yang sangat luar biasa hingga linggisnya terlepas.

Rahang kanannya dipastikan retak akibat hantaman fatal balok kayu dari anak buahnya yang panik tadi.

Tubuh bos geng motor itu langsung ambruk ke tanah memuntahkan cairan merah segar dari mulutnya.

"B... Bos! Ampun Bos, kami tidak sengaja memukul Bos!" teriak dua anak buahnya melempar balok kayu mereka karena panik luar biasa.

Akbar perlahan bangkit berdiri dari aspal sambil membersihkan debu halus dari celana jeansnya.

Dia menatap dua berandal terakhir yang kini sedang gemetar ketakutan melihat bos kebanggaan mereka tidak sadarkan diri.

"Kalian berdua mau melanjutkan pertunjukan sirkus ini atau mau lari pulang sambil menangis ke pelukan ibu kalian?" tanya Akbar dengan suara sangat rendah namun menusuk.

Mendengar ancaman sedingin es itu, nyali kedua berandal itu langsung ciut hingga ke akar-akarnya.

Mereka merasa sedang berhadapan dengan iblis jalanan yang tidak bisa disentuh oleh senjata manusia biasa.

"Ampun Bang! Kami cuma disuruh si Dion, kami tidak mau ikut campur lagi!" teriak mereka sambil berlari kocar-kacir.

Mereka bahkan rela meninggalkan deretan motor mereka di tengah jalan dan memilih lari ke arah hamparan persawahan saking takutnya.

Suasana jalan raya kembali sepi hanya menyisakan suara serangga siang hari dan empat tubuh preman yang bergelimpangan pingsan.

Akbar menghela nafas panjang dan segera mematikan fitur gaib di matanya.

[Mata Hoki Level 2 dinonaktifkan sementara. Sisa durasi batas pemakaian hari ini: 18 menit 45 detik.]

Ding!

Suara mekanis sistem kembali berbunyi tepat setelah pandangannya kembali ke warna aslinya.

[Selamat, Tuan telah berhasil menyelesaikan pertarungan fatal tanpa harus menyentuh musuh secara langsung.]

[Sistem memberikan penghargaan: 50 Poin Hoki atas penggunaan cerdas fitur analisis kesialan musuh.]

"Cukup adil, lumayan buat tambah tabungan poin untuk naik level berikutnya," gumam Akbar sangat puas.

Akbar lalu berjalan menghampiri Risa yang masih duduk mematung di atas jok motor dengan wajah pucat pasi.

Gadis cantik itu menatap sekelilingnya dengan pandangan kosong tidak percaya dengan keajaiban yang baru saja dia saksikan.

Enam preman jalanan bersenjata tumbang dalam waktu kurang dari tiga menit tanpa perlawanan fisik yang berarti sama sekali.

"Mbak Risa tidak apa-apa? Ada yang terluka atau kena pantulan batu?" tanya Akbar lembut sambil menepuk pelan bahu Risa.

Risa langsung tersadar dari lamunannya dan menggelengkan kepalanya pelan dengan nafas lega.

"A... aku tidak apa-apa Bar, cuma sedikit syok saja lihat darah bos mereka tadi."

"Syukurlah kalau begitu, maaf ya kencan makan siang kita malah keganggu sama sampah-sampah suruhan Dion ini," sesal Akbar tulus.

"Ka... kamu sendiri beneran tidak terluka kan Bar? Mereka tadi bawa besi panjang semua lho."

"Seperti yang Mbak Risa lihat, jangankan melukai, menyentuh ujung bajuku saja mereka tidak sanggup," jawab Akbar tersenyum percaya diri.

Akbar mengambil kunci motor dari salah satu motor preman yang tergeletak itu lalu melemparnya jauh ke tengah sawah yang berlumpur.

Biar saja para pecundang itu kesusahan mengais lumpur mencari kunci saat bangun dari pingsan nanti.

"Ayo kita lanjutkan perjalanan kita Mbak, masih ada restoran ayam bakar madu yang jaraknya cuma lima belas menit lagi dari sini."

Akbar menaiki motornya kembali dan menyalakan mesin maticnya yang halus itu.

Risa kembali melingkarkan tangannya memeluk pinggang Akbar, namun kali ini pelukannya terasa jauh lebih hangat dan protektif.

Rasa takutnya sudah sepenuhnya menguap hilang digantikan oleh rasa aman yang luar biasa karena perlindungan pemuda ini.

"Kamu ini sebenarnya diam-diam belajar ilmu gaib atau ilmu bela diri dari mana sih Bar? Kok bisa menghindar secepat kilat tadi?" tanya Risa penasaran di sela tiupan angin kencang.

"Itu bukan bela diri atau ilmu gaib Mbak, cuma kebetulan saja mereka semua sedang sial dan ceroboh."

"Halah bohong banget, masa iya ada enam orang preman bertindak ceroboh semua di waktu bersamaan," balas Risa sambil mencubit pelan perut Akbar.

Akbar hanya tertawa lepas menanggapi cubitan gemas dari kasir cantik di belakangnya itu.

Motor mereka melaju semakin kencang meninggalkan empat preman bayaran yang masih tertidur pulas di atas aspal panas tersebut.

Di waktu yang sama, di tempat persembunyian yang berjarak sekitar lima ratus meter dari lokasi kejadian, Tono mengintip dari balik pohon beringin raksasa.

Tono memegang teropong kecil di tangannya dengan tubuh yang gemetar tak terkendali sampai membuat giginya bergemeretak.

Dia sengaja ditugaskan oleh Dion untuk memantau dari jauh agar bisa melaporkan kemenangan geng motor bayaran itu secara langsung.

Tapi apa yang baru saja dia tonton dari balik lensa teropong itu benar-benar menghancurkan akal sehatnya sebagai manusia normal.

"Monster... anak itu beneran bukan manusia lagi, dia iblis yang menyamar!" gumam Tono nyaris mengompol di celananya saking takutnya melihat rentetan kejadian mustahil tadi.

Tono membuang teropong murahannya dan langsung berlari sekuat tenaga memutar kembali menuju perbatasan kampung.

Dia harus segera memberi tahu Bos Dion agar membatalkan semua rencana balas dendam selanjutnya sebelum nyawa mereka semua benar-benar melayang ke neraka.

Sayangnya, laporan Tono nanti dipastikan sudah sangat terlambat untuk melaporkan kepada tuannya.

Karena Akbar sudah merencanakan kunjungan balasan khusus ke rumah kepala desa untuk mengakhiri perselisihan receh ini malam nanti.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!