NovelToon NovelToon
Di Balik Topeng Sang Don

Di Balik Topeng Sang Don

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Anak Genius
Popularitas:243
Nilai: 5
Nama Author: LORD KING

Luki Subroto— atau yang lebih dikenal dunia bawah tanah Jakarta sebagai "Tuan L" — adalah pemimpin sindikat paling ditakuti di Asia Tenggara. Di ruang rapat organisasinya, satu kata darinya bisa mengakhiri karier, bahkan nyawa. Di jalanan, namanya cukup diucapkan untuk membuat preman kelas kakap gemetar.

Tapi setiap pukul tujuh malam, pintu kamar bernuansa dinosaurus di lantai tiga penthouse-nya terbuka, dan sosok yang muncul bukan lagi Tuan L. Dialah "Ayah" bagi Indra — putranya yang berusia enam tahun dengan IQ yang bahkan membuat neurolog Singapura terheran-heran.

Indra bukan anak biasa. Di usia enam tahun ia sudah membaca jurnal fisika kuantum untuk hiburan, meretas firewall sekolahnya, dan yang paling berbahaya mulai bertanya-tanya kenapa banyak pria berjas hitam selalu mengawal rumah mereka, dan kenapa ada folder terenkripsi bernama "Operasi Elang" di laptop ayahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LORD KING, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketegangan Suasana

Minggu-minggu setelah paket misterius itu tiba membawa ketegangan baru yang, meski tidak sepanik yang mereka rasakan saat penculikan Indra dulu, perlahan mulai menggerogoti kedamaian yang telah susah payah mereka bangun selama dua tahun terakhir.

Luki, yang kini terbagi antara menjalankan bisnis legalnya yang terus-menerus diserang, mengawasi operasi bawah tanahnya yang tetap harus berjalan, dan mencoba tetap menjadi ayah yang hadir sepenuhnya untuk Indra, mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan sejak masa-masa tergelap dua tahun lalu.

"Kamu pulang jam berapa semalam?" tanya Alena suatu pagi, menemukan Luki sudah berada di ruang kerja bahkan sebelum matahari terbit, matanya merah karena kurang tidur.

"Aku tidak sempat tidur," jawab Luki, tidak mengangkat kepala dari layar laptopnya yang penuh dengan dokumen hukum dan laporan keuangan. "Ada masalah baru dengan salah satu mitra bisnis kita. Mereka membatalkan kontrak setelah menerima 'informasi' anonim tentang kami."

Alena mendekat, memijat pundak Luki yang terasa tegang di bawah tangannya. "Kamu perlu istirahat, Luki. Kamu tidak akan bisa melawan Raina kalau kamu sendiri kelelahan sampai membuat kesalahan."

"Aku tidak bisa istirahat sekarang," jawabnya, suaranya sedikit lebih tajam dari biasanya. "Setiap hari yang kita buang adalah hari yang dimanfaatkan Raina untuk menghancurkan lebih banyak hal."

Kata-kata itu, meski tidak dimaksudkan untuk menyakiti, membuat Alena mundur selangkah, menyadari ketegangan yang mulai muncul di antara mereka — bukan karena kurangnya cinta, melainkan karena tekanan yang perlahan menggerus kesabaran mereka berdua.

Ketegangan itu semakin terasa ketika, suatu sore, Indra pulang dari sekolah dengan wajah murung, sesuatu yang jarang terjadi sejak ia mulai menemukan kebahagiaan barunya di sekolah bersama Kevin dan teman-teman lainnya.

"Ada apa, Bintang Kecil?" tanya Alena, yang menjemputnya seperti biasa, langsung menyadari perubahan suasana hati anak itu.

"Beberapa temen di sekolah mulai nanya-nanya soal Ayah," jawab Indra pelan, menatap ke luar jendela mobil. "Katanya mereka baca berita kalau bisnis Ayah lagi ada masalah. Ada yang bilang macem-macem soal keluarga kita."

Hati Alena mencelos mendengar itu, menyadari bahwa serangan Raina sudah mulai menyentuh area yang paling ia takutkan — kehidupan sosial Indra, ruang aman yang telah mereka bangun susah payah setelah trauma penculikan dua tahun lalu.

"Kamu mau cerita lebih lanjut soal apa yang mereka bilang?" tanya Alena lembut.

Indra menggeleng, matanya mulai berkaca-kaca. "Aku cuma... capek, Kak Alena. Aku pikir semuanya udah aman sekarang. Aku pikir kita udah lewatin bagian susahnya."

Kata-kata itu menghantam Alena dengan kekuatan yang tidak terduga, menyadari bahwa meski Indra sudah tumbuh menjadi anak yang lebih tangguh dan analitis, di dalam dirinya tetap ada anak kecil yang hanya ingin merasa aman, ingin percaya bahwa keluarganya sudah melewati masa-masa tergelap mereka.

Malam itu, ketegangan yang telah terpendam selama berminggu-minggu akhirnya meledak menjadi perdebatan terbuka antara Luki dan Alena, dipicu oleh perbedaan pendapat soal bagaimana menangani dampak psikologis serangan Raina terhadap Indra.

"Kita perlu bicara dengan pihak sekolah, memastikan mereka melindungi Indra dari gosip-gosip ini," kata Alena, suaranya tegas dengan kekhawatiran seorang yang telah menganggap Indra sebagai anaknya sendiri.

"Aku sudah mengatur itu," jawab Luki, lelah. "Tapi kita tidak bisa mengontrol apa yang dibicarakan anak-anak lain di rumah mereka masing-masing, Alena. Semakin kita mencoba mengontrol semuanya, semakin itu terlihat seperti kita menyembunyikan sesuatu."

"Jadi apa, kita cuma diam saja sementara Indra menghadapi ini sendirian di sekolah?" Alena mulai kehilangan kesabarannya, tekanan berminggu-minggu akhirnya keluar dalam bentuk kemarahan yang jarang ia tunjukkan pada Luki.

"Aku tidak bilang begitu," jawab Luki, suaranya juga mulai meninggi. "Aku bilang kita perlu strategi yang lebih terukur, bukan reaksi panik setiap kali ada masalah kecil."

"Masalah kecil?" Alena hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Anak itu pulang dengan mata berkaca-kaca karena teman-temannya mempertanyakan keluarganya, dan kamu menyebutnya masalah kecil?"

"Kamu tahu maksudku bukan begitu," Luki mencoba meredakan, tapi kelelahan berminggu-minggu membuat kata-katanya keluar lebih tajam dari yang ia inginkan. "Aku sedang berusaha melindungi seluruh fondasi hidup kita, Alena. Bukan cuma reaksi emosional sesaat."

Kata-kata itu, meski tidak dimaksudkan sekasar itu, menyentuh sesuatu yang dalam pada Alena — perasaan bahwa mungkin, di tengah krisis ini, peran dan perasaannya sebagai bagian dari keluarga ini mulai terpinggirkan oleh kebutuhan strategis Luki yang lebih besar.

"Aku bukan cuma reaksi emosional sesaat, Luki," katanya, suaranya bergetar menahan air mata yang mulai muncul. "Aku bagian dari keluarga ini. Perasaanku soal Indra bukan sesuatu yang bisa kamu kesampingkan demi 'strategi yang lebih terukur'."

Ruangan itu hening, keduanya menyadari betapa jauh percakapan ini telah bergeser dari diskusi awal soal Indra menjadi sesuatu yang jauh lebih personal — ketakutan tersembunyi Alena bahwa, di tengah krisis besar seperti ini, ia mungkin bukan prioritas utama Luki, dan kelelahan Luki yang membuatnya, tanpa sadar, mulai kembali ke pola lama mengendalikan segalanya sendirian tanpa benar-benar mendengarkan orang-orang di sekitarnya.

"Aku minta maaf," kata Luki akhirnya, suaranya melunak, menyadari kesalahannya. "Aku tidak bermaksud membuatmu merasa seperti itu. Aku hanya... aku takut, Alena. Aku takut kehilangan semuanya lagi, dan aku tidak tahu bagaimana caranya menghadapi ketakutan ini tanpa kembali ke kebiasaan lama mengendalikan segalanya sendirian."

Alena menatapnya lama, kemarahannya perlahan mereda digantikan oleh pengertian yang mendalam. "Kita hadapi ini bersama, Luki. Bukan kamu sendirian mengendalikan semuanya, dan bukan aku yang cuma menunggu di pinggir. Bersama."

Mereka berdua duduk dalam keheningan yang canggung namun perlahan menghangat kembali, menyadari bahwa serangan Raina, meski belum menyentuh mereka secara fisik, sudah mulai berhasil menanamkan retak-retak kecil dalam fondasi keluarga yang telah mereka bangun dengan susah payah — sebuah kemenangan kecil bagi musuh mereka yang, tanpa mereka sadari sepenuhnya, sedang mengamati dari kejauhan, menikmati setiap tanda ketegangan yang mulai muncul di antara mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!