NovelToon NovelToon
SISTEM DI DUNIA KULTIVASI

SISTEM DI DUNIA KULTIVASI

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Fantasi / Time Travel
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda Fii

Chen Yiyi adalah pelayan di Puncak Sakte. Namun nyaris tak ada satu pun murid atau Tetua Sekte yang pernah melihat wajahnya. Dia tak pernah turun ke bawah, tak pernah bergaul, tak pernah meminta apa-apa.

Selama ini dia hanya mengurung diri di gubuk tua itu, merawat taman bunga obat dan menjaga tempat ini untuk orang yang pernah memberinya tempat bernaung — Tetua Puncak Sakte.

Hingga hari itu, kabar datang bagaikan badai: Tetua Puncak telah meninggal dunia. Tanpa pelindung, tanpa nama, tanpa keluarga, Chen Yiyi merasa tak ada lagi alasan baginya untuk tetap hidup. Di tengah malam yang sunyi, di dalam gubuk tua itu, dia memilih mengakhiri hidupnya sendiri.

Darah menetes ke lantai kayu yang lapuk. Matanya perlahan tertutup. Napasnya berhenti.

Namun kematian bukanlah akhir.
Saat kesadaran asli Chen Yiyi lenyap, seketika itu juga cahaya menyelimuti ruangan. Sebuah jiwa dari dunia lain, seorang manusia dari zaman modern yang baru saja meninggal, tersentak masuk ke dalam tubuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15. Mengakhiri Masa Lalu

Masih ada satu bulan sebelum pertemuan antar sekte di Sekte Awan Tinggi. Namun Lin Yue tidak membiarkan waktu berlalu begitu saja.

Di Puncak ke-10, dia berdiri di balkon, angin gunung menerpa cadarnya. Dia memandang ke arah puncak-puncak lain tempat keempat murid inti berkultivasi.

Keempatnya sudah jauh lebih kuat dari sebelumnya, mampu melintasi jarak ribuan li dalam sekejap mata.

Lin Yue menurunkan tangan perlahan.

"Panggil keempat murid inti ke Aula Utama," ucapnya pelan.

***

Tak lama kemudian, empat sosok berjalan masuk dengan langkah tegap. Jubah putih bersulam emas mereka berkibar pelan — aura yang mereka pancarkan sudah jauh lebih kokoh dibandingkan sebelumnya. Keempat orang itu langsung berlutut hormat.

"Bangkitlah," ucap Lin Yue dengan suara tenang namun berwibawa. "Kalian memiliki masa lalu yang belum selesai. Satu minggu... hanya satu minggu. Kalian kembali ke tempat asal kalian, selesaikan urusan yang tertunda. Buktikan kepada mereka yang pernah membuang kalian — keputusan mereka adalah kesalahan terbesar dalam hidup mereka. Namun ingat... jangan menumpahkan darah. Biarkan mereka hidup dengan penyesalan mereka sendiri. Setelah satu minggu... kalian harus kembali."

Keempat orang itu saling berpandangan, mata mereka memancarkan tekad dan rasa syukur. Xiao Tian maju selangkah, menangkupkan tangan.

"Terima kasih, Tuan Sekte! Satu minggu sudah cukup bagi kami," ucapnya dengan suara tegas. "Kekuatan kami sudah memungkinkan kami menempuh perjalanan dalam sekejap mata."

Namun sebelum mereka berbalik pergi, Su Ling maju perlahan, wajahnya penuh kerendahan hati namun tetap berani menyampaikan permohonan mereka.

"Tuan Sekte... setelah urusan masa lalu kami selesai, sisa waktu yang tersisa... kami berempat ingin mencari pengalaman tempur yang nyata. Kami mendengar di hutan belantara yang jauh, banyak binatang roh yang tinggal di sana. Jika kami boleh... kami memohon izin untuk pergi ke sana, berburu binatang roh untuk mengasah kemampuan dan menambah pengalaman bertarung kami," ucapnya dengan penuh harap, namun tetap sopan dan rendah hati.

Lin Yue terdiam sejenak, lalu senyum tipis tersungging di balik cadarnya.

"Kalian meminta izin alih-alih pergi sembarangan... itu menunjukkan kalian memahami batas dan rasa hormat," ucapnya pelan namun penuh pengakuan. "Dan keinginan kalian untuk mengasah kemampuan dengan pengalaman nyata... itu patut dipuji. Boleh. Pergilah ke hutan belantara itu. Berburu lah binatang roh untuk mengasah pedang dan hatimu. Namun ingat — jangan masuk terlalu dalam hingga ke wilayah yang berbahaya, jangan memancing keributan dengan manusia lain, dan kembalilah sebelum batas waktu habis."

"Terima kasih, Tuan Sekte!" seru keempat orang itu serentak, suaranya penuh kegembiraan dan rasa hormat. "Kami tidak akan mengecewakan Tuan Sekte!"

...----------------...

Xiao Tian tiba di desa asalnya sore hari. Rumah besar keluarga Xiao masih berdiri megah di tengah desa — tempat yang dulu dia diusir dengan kasar karena tidak memiliki akar spiritual.

Saat dia melangkah masuk, para pelayan hampir tidak mengenalinya. Jubah putih bersulam emas, aura yang tenang namun menggetarkan — dia bukan lagi pemuda lemah yang dulu mereka tendang keluar.

Ayahnya, Xiao Zhan, sedang duduk di aula utama bersama kerabat. Saat melihat Xiao Tian masuk, dia berdiri terbelalak.

"Kau... kau anak yang dibuang keluarga ini? Berani sekali kau kembali!" bentak ayahnya, meski matanya penuh kebingungan melihat penampilan putranya.

"Dulu kau bilang aku tidak berbakat," ucap Xiao Tian tenang, tidak ada kemarahan di wajahnya, hanya ketenangan yang membuat semua orang terdiam. "Kau bilang aku beban. Kau mengusirku di musim dingin tanpa sepotong roti. Hari ini aku kembali... bukan untuk menuntut balas. Tapi untuk memberi tahu — aku tidak pernah menjadi beban. Kalianlah yang buta akan potensiku."

Xiao Tian melepaskan sedikit auranya — tingkatannya jauh melampaui siapa pun di ruangan itu. Seluruh ruangan gemetar. Kerabat-kerabat yang dulu mengejeknya mundur ketakutan. Ayahnya pucat pasi, tak mampu berkata apa-apa.

"Aku tidak akan menyakiti kalian," lanjut Xiao Tian pelan. "Tapi mulai hari ini... urusan antara kita selesai. Hutang kehidupan sudah lunas saat aku diusir. Mulai sekarang... aku bukan lagi bagian dari keluarga Xiao. Kalian kehilangan kesempatan untuk menjadi kerabat dari Sekte Surgawi Langit. Selamat tinggal."

Dia berbalik pergi. Di belakangnya, ayahnya jatuh berlutut, menyesal namun sudah terlambat. Xiao Tian tidak menoleh. Beban di hatinya terangkat — untuk pertama kalinya, dia merasa benar-benar bebas.

***

Tie Shan berjalan perlahan menuju gubuk kumuh tempat dia dulu tinggal — tempat di mana dia mencuri roti untuk adiknya yang sakit, dan tempat di mana dia berbohong agar tidak dicari orang lain.

Dia berdiri di depan pintu yang sudah rusak. Di dalamnya, orang yang dulu mengasuhnya sedang duduk diam, wajahnya penuh penyesalan.

"Kau... kembali?" gumam orang itu terkejut.

"Aku kembali," jawab Tie Shan lembut. "Dulu aku berbohong. Adikku tidak meninggal karena sakit. Dia meninggal karena kelaparan. Saat aku mencuri roti, kalian memukulku dan mengusirku. Saat aku kembali... dia sudah dingin."

Orang itu gemetar, air mata jatuh membasahi pipinya.

"Aku tahu... aku sudah menyesal setiap hari sejak saat itu," isaknya. "Tapi aku takut kau tidak mau mendengarkanku..."

"Aku tidak membencimu," ucap Tie Shan pelan. "Hanya saja... aku tidak bisa tinggal di sini lagi. Aku sudah menemukan tempat di mana aku dibutuhkan, di mana aku dihargai. Aku datang bukan untuk menuduhmu, tapi untuk melepaskan rasa sakit ini — milikku, dan milikmu juga. Mulai sekarang... aku melangkah maju. Dan kau... berhentilah menghukum dirimu sendiri."

Tie Shan meletakkan beberapa butir batu spiritual di meja — cukup untuk membuatnya hidup nyaman sisa umurnya. Lalu dia berbalik pergi. Langkahnya jauh lebih ringan dari sebelumnya — beban berat yang dia bawa selama bertahun-tahun akhirnya diletakkan.

***

Su Ling kembali ke sekte kecil yang dulu mengusirnya karena dianggap memiliki bakat yang "tidak murni"

Dia tidak marah, tidak juga memaki. Dia hanya berdiri di depan gerbang sekte itu, memancarkan auranya — yang membuat seluruh sekte gemetar ketakutan — lalu berkata pelan, "Kalian membuang mutiara karena mengira itu batu biasa. Sekarang mutiaranya sudah menemukan tempat yang pantas untuknya." Lalu dia pergi tanpa menoleh.

Sedangkan Lin Hao kembali ke rumah kerabat yang dulu memandang rendah dirinya. Dia tidak berkata banyak, hanya berdiri di sana, membiarkan mereka melihat siapa dirinya sekarang — jubah putih berlis emas, aura yang kokoh dan tenang.

Tanpa satu kata pun, mereka sudah paham. Lin Hao berbalik pergi, meninggalkan mereka dengan penyesalan yang tak terucapkan.

...----------------...

Dalam waktu kurang dari tiga hari, keempat murid itu sudah menyelesaikan urusan masa lalu mereka. Sisa waktu masih lumayan banyak.

Binatang roh bukanlah hewan biasa — mereka memiliki akar spiritual, mampu menggunakan kekuatan alam, dan bertarung dengan kecerdasan serta naluri yang tajam.

Setiap kemenangan atas binatang roh bukan hanya memberi mereka inti roh yang berharga, tetapi juga pengalaman bertarung yang nyata — mengasah kecepatan, ketepatan, dan kerja sama satu sama lain.

"Hati-hati! Itu Serigala Roh Bayangan — bisa bergerak di antara bayangan!" seru Su Ling, pedangnya berkilau memotong kegelapan.

"Kiri! Ada yang lain!" seru Tie Shan, pukulannya menghantam tanah, menciptakan benteng batu untuk melindungi teman-temannya.

Selama empat hari itu, mereka berburu bersama — saling melindungi, saling menutupi kelemahan, saling belajar.

Mereka tidak bersaing, melainkan bekerja sama sebagai satu kesatuan. Setiap kali mengalahkan binatang roh buas, mereka membagi inti roh secara adil.

Ikatan persaudaraan di antara mereka tumbuh semakin kuat — bukan karena perintah, tapi karena mereka memilih untuk saling mendukung di tengah bahaya.

Pengalaman itu mengajarkan mereka satu hal penting: kekuatan bukan hanya soal tingkat kultivasi, tapi juga ketenangan hati dan kepercayaan kepada teman di sampingmu.

***

Tepat sehari sebelum waktunya habis, keempat murid inti kembali ke Puncak Pertama. Mereka berdiri di hadapan Lin Yue di Aula Utama.

Wajah mereka sama — namun matanya berbeda. Lebih tenang, lebih tajam, lebih bersinar. Di tangan mereka, masing-masing menyimpan inti roh binatang yang berkilau lembut, dan aura mereka terasa jauh lebih stabil dan matang dibandingkan sebelumnya.

"Kalian telah kembali tepat waktu," ucap Lin Yue pelan, matanya memancarkan cahaya puas. "Dan kalian kembali bukan hanya dengan masa lalu yang tertutup... tapi dengan pengalaman yang mengasah jiwa dan kekuatan yang bertambah. Itu kemenangan yang sesungguhnya."

 [ MISI SELESAI — MENUTUP MASA LALU & BERBURU BINATANG ROH ]

✓ Keempat murid inti menyelesaikan urusan masa lalu dalam 1 minggu tanpa pertumpahan darah

✓ Meminta izin & berburu binatang roh untuk mencari pengalaman tempur

~ HADIAH:

 - Semua murid inti naik 1 tingkat kultivasi

 -Teknik Pedang Hati yang Tenang — hanya bisa dipelajari oleh mereka yang melepaskan dendam

  -Inti binatang roh terserap — fondasi kultivasi diperkuat secara signifikan

  -Ikatan persaudaraan diperkuat — dapat membentuk Formasi Bintang Bersatu dalam pertempuran

Cahaya lembut menyelimuti keempat orang itu. Inti roh di tangan mereka perlahan melebur dan masuk ke dalam tubuh mereka — energi murni dari binatang roh menyatu dengan kekuatan mereka, memperkuat fondasi dan menstabilkan aliran spiritual di dalam tubuh.

Dendam yang dulu menghambat kemajuan kini hilang, digantikan oleh ketenangan dan tekad yang lebih kuat.

"Besok," ucap Lin Yue perlahan. " Tetua Bai Yuan akan berangkat ke Sekte Awan Tinggi sebagai perwakilan sekte. Dan kalian... bersiaplah. Saat Bai Yuan menunjukkan kekuatan kita di pertemuan itu... nama Sekte Surgawi Langit akan terdengar ke seluruh penjuru benua ini."

Keempat murid itu menunduk hormat, hati mereka penuh keyakinan. Mereka sudah tidak lagi orang yang dibuang dan dihina. Mereka adalah murid inti Sekte Surgawi Langit — dan dunia akan segera tahu siapa mereka.

"Baik Guru. Murid mengerti!"

"Hmm.. Kembali dan istirahatlah..!"

.

.

.

.

1
Alia Chans
Hadirr Thor
cerita nya seru banget.... singgah juga di karya baru aku ya🤭🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!