Zaman baru di mulai setelah perang langit besar berakhir. Memusnahkan dua ras terkuat di tiga dunia , darah para dewa dan iblis mengotori dunia manusia. Di tengah tengah badai petir merah dan hujan darah , suara Isak tangis anak kecil pecah di antara puing puing patung dewa yang kepalanya telah patah. Ia bernama Shen Yan , membawa kekuatan kuno mata dewa yang berbahaya. Desas desus mengatakan "Jika mata dewa terbangun sepenuhnya maka dunia akan di lahirkan kembali atau membawa dunia dalam kehancuran".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elz., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 : Suara Misterius
Bab 2 : Suara Misterius
________
Hari ini cuaca cukup bagus untuk memulai hari , keadaan yang biasanya monoton bagi pria tua pencari harta itu sedikit berbeda kali ini. Ia dengan semangat berjalan ke pusat kota , tepatnya ke Paviliun Seribu Harta. Selain mengoleksi berbagai harta berharga , batu spiritual dan pil obat , mereka juga sering mengeluarkan misi untuk penduduk kota yang ingin mencari tambahan penghasilan.
"Tuan , apakah ada misi yang mudah untukku?"
Penjaga itu berbalik , ekspresi wajahnya langsung muram saat tahu yang datang adalah Bao lao. Matanya menyapu dari atas sampai bawah tubuh pria tua dengan pakaian yang penuh tambalan di depannya. Ia lalu mendengus dingin menanggapi Bao lao dengan acuh tak acuh.
"Ambil ini! Ingat , batas waktu 1 hari 1 malam!"
Penjaga paviliun itu melempar sebuah token kayu yang di atasnya terdapat catatan detail sesuatu yang sedang di butuhkan oleh paviliun. Bao lao lalu keluar dari paviliun penuh semangat , ia kembali ke kediamannya untuk berpamitan dengan si kecil Shen Yan.
"Yan'er, kakek hari ini akan keluar gerbang! Kau tunggu disini ya! Ingat , jangan keluar dari rumah! Pakai pelindung matamu karena sinar matahari tidak baik untuk mata anak anak! Malam ini kakek pasti kembali!"
Shen Yan mengangguk pelan , ia mengantar kakeknya berjalan keluar dari halaman rumahnya dan menatap punggung kakeknya sampai menghilang.
"Shen Yan....Shen Yan....!"
Suara aneh terdengar seperti udara yang mengalun. Suaranya pelan , serak dan berbisik. Shen Yan yang menyadari itu langsung bereaksi ketakutan.
"Siapa!"
Shen Yan mencari ke setiap sudut rumahnya , dalam benaknya sebenarnya ia sangat ketakutan. Itu karena otaknya sering terdistraksi oleh kakeknya yang sering menceritakan dongeng tua sebelum tidur. Daripada ketakutan sendiri di dalam rumahnya , akhirnya ia keluar mencari keramaian kota. Ini adalah pertama kalinya ia keluar dari rumahnya dari semenjak ia tinggal bersama Bao lao.
"Wah!"
Matanya berbinar , kekaguman nampak jelas di matanya. Meskipun ia selalu memakai pelindung mata , ia mampu melihat dengan jelas seperti orang normal dari balik kain hitam penutup matanya. Ini adalah pengalaman pertama ia melihat bangunan bangunan besar dan megah di kota. Selama ini ia hanya diam di rumah karena kakeknya selalu melarangnya keluar tanpa memberikan alasan apapun. Ia juga sebenarnya penasaran alasan kakeknya selalu menyuruhnya memakai pelindung mata padahal orang lain tidak memakainya.
"Aku harus pulang , kakek pasti marah kalo tahu aku keluar rumah sendiri!" gumam Shen Yan.
Ia teringat pesan kakeknya dan berlari melewati setiap gang dengan gerakan yang cepat , ia tak ingin ada orang yang mengadu kepada kakeknya.
"Buk!"
Tubuh kecil Shen Yan terjatuh saat melewati tikungan terakhir di samping rumahnya. Ternyata ia menabrak tubuh wanita dewasa yang berdiri di sudut gang rumahnya.
"Maaf!"
Shen Yan menangkupkan kedua tangannya kepada wanita berpakaian putih yang ia tabrak. Ia kembali berlari menuju rumahnya dengan lincah , itu membuat wanita tersebut cukup penasaran.
"Anak malang ini! Tunggu! Bagaimana dia bisa melakukannya , berlari sambil menutup matanya!"
Wanita yang ternyata adalah pemimpin kota itu bernama Bai Xuewei. Pemimpin sekaligus pelindung kota , kultivasinya sekarang di tahap formasi jiwa tahap menengah. Menjadikannya yang terkuat di Kota Gerbang Tersembunyi.
________
Langit di Kota Gerbang Tersembunyi mulai memudar dari emas menjadi nila , lampu lampu di paviliun seribu harta menyala pertama. Di jalanan anak anak berlarian pulang , burung bangau terakhir pun terbang ke arah gunung.
"Kakek belum kembali! Ini sudah malam!"
Shen Yan duduk di depan pintu kecil rumahnya , menunggu kakek satu satunya yang sedang mengerjakan misi untuk menyambung hidupnya.
"Kreeeeek"
Suara berderit terdengar dari pintu halaman rumahnya yang terbuat dari kayu lapuk. Shen Yan berdiri dengan cepat , ia tahu kakeknya pasti pulang. Ia berlari menyambut kakeknya dengan senang.
"Kakek...!"
Shen Yan langsung memegang tangan keriput kakeknya yang pulang dengan suara tawa kecilnya. Langkahnya sedikit goyah , namun di paksa bertahan agar tidak menimbulkan kecurigaan cucu angkatnya.
"Kakek kenapa? Kakek baik baik saja kan?"
Bao lao tertawa kecil dan berkata "Kakek sangat baik , Yan'er! Hari ini kakek bawakan tanghulu kesukaan kamu!"
Mereka berdua lalu masuk ke dalam rumahnya bersama sama , Bao lao terdengar beberapa kali terbatuk saat berjalan di dalam rumahnya. Akhirnya semua terlihat setelah lampu minyak mulai di nyalakan , tubuh tua Bao lao mengalami beberapa luka yang cukup serius. Sudut bibirnya masih terdapat darah kering yang menempel , itu membuat Shen Yan sangat terkejut.
"Kakek! Siapa yang melakukan ini!"
Shen Yan sangat khawatir dengan tubuh kakeknya yang mulai menggigil. Ia rupanya telah di serang oleh monster ganas di perjalanan pulangnya. Namun masih beruntung bisa mempertahankan barang yang telah diperolehnya untuk Paviliun.
"Kakek , baik baik saja. Besok pagi pasti sembuh kok!" ujar Bao lao.
Tiba tiba tubuh Shen Yan mulai bergetar aneh , ia merasakan fluktuasi hebat setelah melihat darah. Kepalanya seperti mau pecah , gambaran gambaran mengerikan mulai berputar satu demi satu mengisi kepalanya. Itu membuatnya teriak kesakitan dan akhirnya tak sadarkan diri.
"Yan'er! Kau kenapa!"
Dengan tubuh yang masih gemetaran , Bao lao memindahkan tubuh Shen Yan ke ranjangnya. Malam ini memang sangat berat , dengan tubuhnya yang penuh luka , Bao lao juga harus merasakan sakitnya melihat cucu angkatnya tak sadarkan diri. Di tengah tengah itu ia hanya bisa menghela nafas yang panjang.
[Lautan Kesadaran Shen Yan]
"Triik"
Suara percikan air yang menyebabkan riak kecil terdengar di dalam kehampaan. Itu bukan air biasa , itu adalah air jiwa. Satu tetesnya bisa menenggelamkan akal dan ombaknya mampu menghancurkan fondasi Dao.
Shen Yan terbangun tapi matanya tidak terbuka. Ia tidak berdiri di tanah , ia mengambang di atas air perak yang tidak basah. Shen Yan mulai kebingungan saat dingin mulai menusuk tulang tulangnya yang kecil.
"Ini dimana?!"
Jantungnya mulai berdebar kencang , suaranya tidak keluar namun gema pikirannya memantul ke seluruh lautan. Dan dari kejauhan muncul suara yang pernah ia dengar sebelumnya.
"Shen Yaaaan...Shen Yaaaan...."
Bisikan yang sangat menakutkan itu kembali terdengar di dalam lautan kesadarannya.
"Siapa kau! Aku sedang dimana!"
Teriak Shen Yan yang suaranya tidak keluar namun mimiknya jelas berkata seperti itu. Dari kegelapan tiba tiba muncul bayangan kepala yang sangat besar , membuka mata untuk yang pertama kalinya. Itu membuat Shen Yan terlempar dengan cepat keluar dari tempat mengerikan itu.
"Haaa!"
Shen Yan terbangun dengan nafas yang terengah engah membuat Bao lao panik. Ia langsung menenangkan Shen Yan dengan cara memeluknya lalu memberi secangkir air putih.
"Aku bermimpi sangat buruk! Ada raksasa mengerikan!"
Ucapan pertama Shen Yan setelah terbangun , membuat Bao lao menghela nafas lega. Menurutnya itu adalah mimpi anak anak ketika sedang dalam kondisi demam. Bao lao tentu tak menyadari jika kejadian itu berhubungan dengan keadaan spiritual Shen Yan.
"Setelah sarapan kita akan ke toko obat , Yan'er!"
Shen Yan mengangguk senang , karena ini adalah pertama kalinya Bao lao mengajak Shen Yan keluar dari rumahnya bersama sama.
_________