NovelToon NovelToon
Suamiku Bukan Ojol Biasa

Suamiku Bukan Ojol Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Wanita Karir / Rumah Tangga
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

"Aaaaaaa!"
Pekikan Amira membumbung tinggi begitu ia menyibak selimut. Pandangannya bergeser ke samping, dan jeritannya makin melengking melukai udara.
"Aaaaaa!"
"Aaaaaaaa!" Seorang pria di sebelahnya mendadak ikut berteriak panik. "Bajuku... bajuku mana?!"
Keduanya saling menoleh dengan napas memburu.
"Aaaaaaa!" jerit mereka bersamaan.
"Bajingan!" maki Amira seraya menunjuk pria itu.
"Kamu!"
"Kamu yang bajingan! Dasar Tante girang gila!" balik pria itu tak mau kalah.
"Apa katamu?!" Mata Amira membelalak lebar. Tangisnya mendadak pecah tanpa bisa ditahan. "Kamu pria bajingan! Kamu udah merusak aku!"
"Kamu yang mengambil keperjakaanku! Kenapa malah kamu yang menangis?" kata pria itu dengan santai. Tangannya meraba-raba area lantai, sibuk mencari celana tanpa peduli pada Amira yang terisak. Namun, gerakannya terhenti saat jarinya menyentuh cairan pekat berwarna merah. "Apa ini? Darah?"
Detik berikutnya, wajah pria itu pucat pasi. "Mamahah..." Giliran pria itu yang menangis sesenggukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 7

Hampir lima jam Amira memanjakan diri dengan berbagai perawatan. Sekarang badannya terasa begitu segar dan wajahnya tampak jauh lebih cerah merona. Sepanjang proses, Amira hampir tidak keluar dari kamar perawatan; bahkan makanan dan minuman hangat pun langsung diantarkan ke dalam ruangan. Saat ia bertanya, pegawai salon hanya tersenyum ramah dan menjawab bahwa itu adalah bagian dari pelayanan standar salon.

Dulu Amira pernah datang ke Mahkota Salon untuk mengantar ibunya, dan rasanya tidak ada pelayanan seistimewa ini.

"Sepertinya hari ini aku benar-benar beruntung," gumam Amira pelan.

Pandangannya teralih pada layar ponsel di atas meja yang mendadak mati total. "Aduh, ponselku baterainya habis lagi," gerutunya.

"Nyonya, sudah waktunya di-make up," panggil pegawai salon dengan nada lembut.

"Oke," jawab Amira. Ia mengurungkan niat untuk mengisi daya ponselnya, lalu duduk tegak menatap pantulan dirinya di cermin besar.

Di dalam hati, Amira mulai memuji, Oh... ternyata begini rasanya kalau dirawat dengan benar. Amira memang bukan tipe wanita narsis yang gemar memamerkan setiap detail kehidupan pribadinya di media sosial. Andai saja yang berada di posisinya saat ini adalah Risma, pasti dari setiap tahapan perawatan hingga masker wajah sudah diunggah ke semua akun medsos miliknya.

Setelah dua jam proses tata rias yang detail, Amira sampai dibuat terpana melihat sosok wanita di balik cermin. Wajahnya begitu anggun dan memesona, sampai-sampai ia merasa seperti menatap orang lain.

"Nyonya memang pada dasarnya sudah sangat cantik," puji penata rias itu tulus. "Sekarang, mari kita kenakan gaun pengantin Anda."

Amira mengerutkan kening. "Gaunku juga diantar ke sini?"

"Iya, tadi diantar ke sini. Butik Super Nova dan Mahkota Salon kan pemiliknya sama," terang pegawai itu ramah.

"Oh, gitu ya..." kata Amira mengangguk-angguk. "Memangnya siapa pemiliknya?"

"Anda tidak tahu?" tanya sang penata rias dengan wajah kaget.

Amira menggelengkan kepala polos.

"Nanti Anda pasti akan tahu sendiri," senyum pegawai itu penuh arti. "Sekarang, mari kami bantu mengenakan gaunnya."

Amira melangkah ke ruang ganti dengan dibantu beberapa staf. Gaun mewah yang tadi siang dipilihkan Luki melekat sangat sempurna di tubuhnya, mempertegas lekuk anggun Amira bagaikan seorang putri kerajaan.

"Anda cantik sekali, Nyonya!" puji salah satu pegawai terpesona.

"Terima kasih..." bisik Amira malu-malu.

"Wow, amazing..."

Tiba-tiba sebuah suara bariton memecah suasana. Amira menoleh dan seketika terperanjat. Luki berdiri di sana, namun penampilannya telah berubah seratus delapan puluh derajat! Tidak ada lagi jaket ojol kusam atau celana jins belel yang menempel. Luki kini mengenakan setelan jas warna cokelat terang yang terpotong sangat pas di badannya. Rambutnya tertata rapi, dan garis wajahnya memancarkan aura seorang bos besar yang berkuasa dan berkarisma.

Amira mengerutkan kening, melangkah mundur satu langkah. "Anda... siapa?"

"Aku ini suami kamu," sahut Luki santai seraya tersenyum manis.

"Bukan... Calon suamiku itu tukang ojol. Kamu pasti orang lain!"

Luki menatapnya tak percaya. "Astaga, Istriku... Semalam kan kita sudah—"

"Cukup! Jangan diteruskan!" potong Amira cepat dengan wajah memerah mendadak.

"Berarti kamu percaya kan kalau aku ini Luki?" kekeh pria itu.

"Ya percaya, cuma... kamu mendadak kelihatan kayak artis Korea. Aku benar-benar pangling," aku Amira jujur.

"Oh, jelas. Aku kan memang tampan. Kamu enggak akan nyesel menikah denganku," ujar Luki percaya diri.

"Pernikahan kita cuma sementara, Luki," tegur Amira mengingatkan.

"Tidak bisa. Aku mau selamanya."

"Nggak bisa... Kamu enggak tahu betapa rumitnya keluargaku."

Luki menatap mata Amira lekat-lekat, lalu berbisik tenang, "Serumit apa pun, kita harus hadapi bersama. Karena kita ini pasangan suami istri."

Amira terdiam. Di dalam dadanya, perlahan timbul kehangatan asing yang mulai merekah. Namun logika Amira kembali menyenggolnya—Luki tidak tahu seberapa kejam dan rumitnya dinamika keluarga Ratna. Seorang pengemudi ojol biasa tidak akan sanggup menanggung beban persaingan dan perebutan kekuasaan bisnis yang kotor.

"Jangan banyak pikiran. Mari kita pergi ke rumah kamu sekarang," ajak Luki lembut.

Amira tersentak pelan. "Sekarang jam berapa?"

"Jam delapan malam."

"Ah!" Amira menepuk jidatnya panik. "Mamah pasti marah besar karena aku belum sampai! Mereka pasti menuduhku kabur!"

"Biarin aja. Salah mereka sendiri, kan?"

"Kenapa jadi salah mereka?"

"Ya heran aja. Harusnya dari pihak keluarga kamu ada yang mendampingi dan menjemput kamu. Bagaimanapun juga, malam ini kamu mau menikah."

Amira menghela napas berat, senyum tipisnya terasa pahit. "Ah, sudahlah... Itu cuma sebagian kecil dari kerumitan hidupku, Luki. Sekarang kita harus cepat-cepat ke rumah."

"Iya, ayo." Luki menggenggam erat jemari Amira, menuntunnya melangkah keluar.

Secara adat, memang agak aneh jika Amira bertolak ke lokasi akad bersama calon suaminya, bukannya menunggu di dalam kamar. Namun, karena pernikahan ini mendadak dan diwarnai serangkaian drama, mereka tidak punya pilihan selain datang bersamaan.

Saat tiba di area lobi salon, Amira dibuat heran. "Luki, mobilku kan diparkir di sana, kenapa kita malah nunggu di lobi?"

"Astaga... Kamu sudah cantik dan anggun kayak peri begini, masa mau naik mobil tua itu? Terus aku yang jadi sopirnya?"

"Loh, emang begitu kan?! Terus kita mau naik apa?" tanya Amira bingung.

"Tenang saja." Luki menepuk pelan tangan Amira.

Tak lama kemudian, tiga unit mobil Alphard hitam mengilap berhenti persis di depan pintu lobi.

Amira berbisik panik seraya menarik lengan Luki, "Luki, minggir! Ada tamu penting mau lewat!"

"Ini mobil kita. Kita akan pergi ke rumah kamu naik mobil ini," kata Luki santai.

PLAK!

Amira memukul pelan pundak Luki dengan raut frustrasi. "Kamu jangan menguras semua tabungan kamu cuma demi terlihat mewah, Luki! Udah, pakai mobilku saja! Setidaknya kamu harus keluar uang tiga puluh juta cuma buat menyewa tiga mobil mewah ini!"

"Aku enggak sewa, Amira."

"Astaga... Kamu jangan bilang kalau kamu minta bantuan komunitas ojol kamu buat patungan menyewa mobil-mobil ini?!"

Luki terkekeh geli menatap kepolosan Amira. "Ini enggak sewa, Amira... Ini semua memang mobil milikku."

"Dasar keras kepala!" gerutu Amira, sama sekali tidak percaya. "Kamu itu jangan hobi flexing terus! Hidup apa adanya aja, jangan memaksakan diri cuma demi terlihat mewah di depan keluargaku!"

"Kamu cerewet sekali malam ini," pangkas Luki seraya merangkul pinggang Amira. "Ayo cepat masuk, orang tuamu sudah menunggu."

"Ya udah! Nanti aku yang bayar semua uang sewanya! Ingat, jangan pernah bebankan biaya ini ke teman-teman komunitas ijo-ijo kamu itu!" omel Amira seraya melangkah masuk ke dalam mobil.

"Iya, iya..." jawab Luki tersenyum penuh arti.

Dua orang pria bersetelan jas rapi membukakan pintu dengan sangat sopan, lalu menutupnya kembali begitu Amira dan Luki duduk nyaman di kursi penumpang baris kedua. Mobil Alphard yang berada di depan dan belakang melaju beriringan, mengapit mobil utama bagaikan iring-iringan pengawal pribadi seorang pejabat penting.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!