NovelToon NovelToon
Harga Turun Sejuta Kali

Harga Turun Sejuta Kali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Kaya Raya
Popularitas:101
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad

Saldo rekening Rp 350000
Pacar selingkuh
Harga diri nol

Lalu dunia berubah

Seluruh harga turun 1000000 kali Rumah mewah jadi Rp 50000 Mobil sport Rp 5000 Tapi uang Raka Tidak berubah

Rp 350000 Rp 350 MILIAR

Dari pemuda yang diludahi dunia menjadi pria yang membeli kotanya sendiri

Sistem Ilahi sudah aktif
Misi pertama beli rumah paling mahal di kota ini tunai
Misi kedua hancurkan semua yang pernah menghinamu

Harga Turun Sejuta Kali update setiap hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

Bab 27: Keris Emas dan Lukisan Langka

"Anak muda sebaiknya menonton dulu."

Pak Darmawan mengucapkan itu tanpa menoleh penuh ketika nomor dua belas dibawa ke panggung. Keris emas itu diletakkan di atas kain hitam, gagangnya berkilau lembut, bilahnya menunjukkan pamor yang sebagian tertutup usia. Di katalog, benda itu ditulis sebagai keris upacara akhir abad sembilan belas dengan perkiraan nilai delapan ratus juta.

Mimpi menampilkan data berbeda.

[Keris emas era Majapahit. Keaslian tinggi. Nilai aktual Rp80.000.000.000.]

Ibu Kartini membuka penawaran.

"Harga awal delapan ratus juta."

Pak Darmawan mengangkat papan. "Satu koma dua."

Satu kolektor lain menawar satu koma lima. Pak Darmawan naik ke dua. Ia masih santai, seolah barang itu sudah menuju rumahnya. Raka menunggu sampai ruangan yakin pemain utama sudah jelas.

Lalu ia mengangkat papan.

"Tiga miliar."

Beberapa kepala menoleh ke baris belakang.

Pak Darmawan akhirnya memutar tubuh. "Agresif sekali untuk barang pertama."

"Saya tidak suka menawar terlalu lama."

"Atau tidak tahu nilai sebenarnya."

Raka menatap keris itu. "Kita lihat setelah palu jatuh."

Pak Darmawan menaikkan ke empat miliar. Tantangan anak baru di depan orang lama membuat gengsinya tersengat. Raka langsung menjawab.

"Delapan miliar."

Ruangan hening.

Angka itu sepuluh kali katalog awal. Untuk orang yang tidak melihat nilai tersembunyi, terdengar seperti kegilaan. Untuk Raka, masih terlalu murah.

Ibu Kartini menunggu. Pak Darmawan memegang papan, rahangnya bergerak. Ia bisa menaikkan lagi, tetapi kalau ternyata benda itu hanya sesuai katalog, ia akan terlihat bodoh di depan semua keluarga yang ia banggakan.

Papan itu turun.

Palu jatuh.

"Terjual kepada nomor delapan belas."

Fajar menghembuskan napas seperti baru selesai menahan beban. "Bos, ini keris harganya sudah kayak gedung kecil."

"Nilainya lebih dari itu."

Sesi berikutnya bergerak. Beberapa barang lewat tanpa Raka sentuh. Ia tidak datang untuk membeli semua. Orang yang membeli semua terlihat kaya. Orang yang membeli tepat terlihat berbahaya.

Nomor dua puluh tujuh naik: lukisan pemandangan Jawa dari abad sembilan belas, ditandatangani samar, dikatalogkan sebagai karya seniman tidak dikenal.

[Mimpi: kemungkinan karya murid langsung Raden Saleh. Nilai aktual Rp60.000.000.000.]

Tiga keluarga langsung menawar. Harga naik dari lima ratus juta ke dua setengah miliar. Kali ini Pak Darmawan tidak ikut sejak awal, tetapi ia memperhatikan Raka, menunggu apakah anak baru itu akan kembali membuang uang.

Raka mengangkat papan.

"Enam miliar."

Salah satu penawar tua tertawa kecil, lalu berhenti ketika melihat Raka tidak tersenyum. Yang lain menyerah. Mereka menyukai lukisan itu, tetapi tidak sampai ingin melawan orang yang baru saja membayar delapan miliar untuk keris yang mereka anggap terlalu mahal.

Palu jatuh lagi.

Ibu Kartini menatap Raka lebih lama. "Nomor dua puluh tujuh terjual kepada nomor delapan belas."

Hendra bersandar, jelas menikmati keadaan.

"Kamu baru mengambil dua barang yang mereka lewatkan selama preview semalam."

"Mereka melihat katalog."

"Dan kamu?"

"Saya melihat barangnya."

Pak Darmawan mendengar. Wajahnya mengeras.

Saat jeda, ia mendatangi meja Raka dengan dua pengikut. Fajar langsung duduk lebih tegak.

"Pak Raka, benar?" kata Darmawan. "Uang baru biasanya berisik. Tapi Anda berisik dengan cara yang mahal."

"Terima kasih, kalau itu pujian."

"Itu peringatan. Di lelang seperti ini, reputasi dibangun puluhan tahun. Jangan kira dua palu bisa membuat Anda duduk sejajar."

Raka memandangnya tenang. "Saya tidak minta duduk sejajar. Saya hanya membeli barang yang Anda lepas."

Kalimat itu membuat pengikut Darmawan menunduk menahan reaksi. Darmawan tersenyum tipis, tetapi matanya dingin.

"Kita lihat apakah mata Anda selalu benar."

"Silakan lihat. Gratis."

Darmawan pergi dengan langkah kaku.

Ibu Kartini menghampiri setelahnya, membawa formulir penyimpanan. Suaranya kini lebih hangat.

"Selera Anda tajam, Pak Raka. Tidak banyak peserta baru berani mengambil dua risiko sebesar itu."

"Risiko adalah nama lain dari barang yang orang lain belum pahami."

Mimpi memberi tanda pada nomor empat puluh satu yang masih berada di sisi ruangan, hampir tidak dilirik.

[#41: Porselen salah kategori. Dinasti Song asli. Nilai: tak ternilai pada pasar kolektor tertentu.]

Raka melihat vas kecil itu. Warnanya tidak mencolok, bentuknya bahkan tampak terlalu sederhana dibanding benda lain.

Fajar mengikuti pandangannya. "Yang itu? Murah banget kelihatannya."

"Justru itu yang menarik."

Hendra, yang awalnya santai, ikut melihat. "Raka, kalau kamu benar soal itu juga, ruangan ini akan sakit kepala."

Raka mengangkat cangkir teh.

Setelah keris jatuh ke tangan Raka, seorang ahli muda dari balai lelang berbisik kepada Ibu Kartini bahwa pamor bilahnya tidak cocok dengan deskripsi katalog. Ibu Kartini tidak menjawab, tetapi Raka melihat cara matanya menajam. Balai itu mulai menyadari bahwa pembeli nomor delapan belas tidak hanya menabrak harga. Ia mungkin membaca sesuatu yang mereka lewatkan.

Pak Darmawan juga sadar. Itulah sebabnya ia mendekat saat jeda. Ia tidak bisa menyerang harga karena harga sudah dibayar. Ia menyerang kedudukan. Orang lama sering memakai sejarah sebagai pagar ketika kemampuan mereka mulai dipertanyakan.

Raka sengaja tidak membalas panjang. Ia belajar dari ballroom Vera, dari restoran La Maison, dari sirkuit Reno: semakin banyak lawan bicara menjelaskan posisinya, semakin besar peluang ia menjatuhkan dirinya sendiri. Maka Raka hanya memberi satu kalimat yang cukup tajam untuk diingat dan cukup pendek untuk tidak bisa dipelintir.

Ketika lukisan nomor dua puluh tujuh selesai, Hendra meminta izin melihat lebih dekat dari area pemenang. Di bawah cahaya samping, garis kuas pada langit terlihat hidup. Hendra berbisik, "Kalau ini benar murid Raden Saleh, kamu baru membuat tiga keluarga melepas kesempatan emas karena terlalu sibuk melihat tanda tangan."

Fajar, yang tidak paham seni, tetap tahu cara menikmati kekalahan orang sombong. "Jadi intinya mereka lihat gambar, Bos lihat uang?"

"Aku melihat nilai. Uang hanya salah satu bentuknya."

Kalimat itu membuat Hendra menatap Raka sejenak. Di mata pria itu, kekayaan Raka mungkin semakin sulit dijelaskan, tetapi cara Raka memakai kekayaan itu mulai punya pola: membeli yang diremehkan, mengangkat yang berguna, dan membiarkan orang sombong menonton dari kursi mahal.

Saat makan ringan disajikan, beberapa peserta yang tadi menatap rendah mulai pura-pura lewat dekat meja belakang. Mereka ingin melihat kartu peserta Raka, ingin mendengar percakapannya dengan Hendra, ingin tahu apakah ada nama keluarga besar di baliknya. Fajar memainkan peran dengan baik: ia diam, memegang map, dan tidak memberi satu informasi pun.

"Kamu makin pintar," bisik Raka.

"Aku belajar dari pintu restoran, pasar giok, dan orang tua yang suka tanya silsilah. Kalau mereka tidak tanya langsung, kita tidak kasih gratis."

Hendra mengangguk puas. "Fajar benar. Di tempat seperti ini, informasi yang tidak diminta kadang lebih mahal daripada barang lelang."

Pak Darmawan melihat mereka dari jauh. Ia mulai sadar anak baru itu tidak datang sendirian secara bodoh. Ada Hendra sebagai jembatan, Fajar sebagai pagar, dan entah mata apa yang membuat Raka memilih barang seperti mencongkel rahasia.

"Yang ini biar aku ambil dengan tenang."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!