Dia meninggal dalam kesengsaraan, dikhianati oleh suami dan sahabatnya sendiri. Tapi takdir memberinya tiket pulang ke masa lalu. Siren terbangun kembali di tubuh mudanya, lima tahun sebelum tragedi itu menghancurkan hidupnya. Kali ini, dia bukan lagi istri penurut yang naif. Dengan ingatan utuh tentang setiap kebohongan Fadli dan setiap rencana jahat Nia, Siren bersiap memainkan skenario baru. "Kalian pikir aku lemah? Tunggu saja sampai kalian melihat siapa yang sebenarnya memegang kendali." Di kehidupan barunya, Siren tidak hanya fokus menghancurkan karir dan rumah tangga Fadli, tetapi juga membangun imperiumnya sendiri. Di tengah permainan kucing-kucingan yang penuh sarkasme dan ketegangan ini, hadir Arya Wijaya—konglomerat dingin yang di kehidupan sebelumnya ia abaikan. Arya bukan sekadar pelarian. Dia adalah sekutu cerdas yang menyadari perubahan drastis pada Siren. Bersama Arya, Siren mengubah air mata menjadi senjata, dan rasa sakit menjadi bahan bakar untuk bangkit. Siap-siap m
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SERANGAN BALIK
Ruang rapat direksi PT Surya Global terasa dingin. AC disetel pada suhu terendah, tapi keringat dingin mengalir di pelipis para direktur yang duduk mengelilingi meja oval panjang. Aku duduk di ujung meja, tepat di sebelah Arya. Di hadapan kami, lima orang pria paruh baya dengan jas mahal menatap kami dengan tatapan campuran antara skeptisisme dan ketakutan.
Pak Hartono, Direktur Utama PT Surya Global, mengetuk-ngetuk pulpen emasnya di atas meja. Suaranya bergetar, mencoba mempertahankan wibawa yang sudah retak.
"Nyonya Siren... maksud saya, Ibu Siren," koreksinya, suaranya serak.
"Kami menghargai tawaran akuisisi dari Wijaya Group. Tapi harga yang Anda ajukan... tiga puluh persen di bawah nilai pasar? Itu tidak masuk akal. Itu penghinaan."
Arya tidak menjawab. Ia hanya menatap Pak Hartono dengan tatapan datar, menunggu aku yang berbicara. Ini adalah ujiannya untukku. Apakah aku bisa memimpin negosiasi ini sendiri?
Aku tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai mata. Lalu, aku membuka folder tebal di depanku.
"Pak Hartono," ucapku tenang, suaraku jelas bergema di ruangan hening itu.
"Mari kita bicara jujur. Nilai pasar PT Surya Global memang tinggi di atas kertas. Tapi mari kita lihat realitanya. Tiga bulan terakhir, omzet perusahaan turun empat puluh persen. Dua klien utama Anda—PT Fadli Jaya dan PT Mitra Sejahtera—telah menghentikan kontrak karena skandal korupsi dan penipuan yang melibatkan manajemen tingkat atas Anda."
Wajah Pak Hartono memucat. Para direktur lain saling bertukar pandang gelisah.
"Bagaimana Anda tahu tentang itu?" tanya salah satu direktur, suaranya gemetar.
"Karena saya yang melaporkan mereka ke pihak berwenang," jawabku singkat.
"Dan karena tim intelijen Wijaya Group telah mengaudit buku besar Anda selama seminggu terakhir. Kami menemukan ketidaksesuaian dana sebesar dua belas miliar rupiah yang dialirkan ke rekening pribadi beberapa anggota dewan direksi. Termasuk Anda, Pak Hartono."
Hening total. Suara napas berat terdengar dari segala penjuru ruangan. Pak Hartono menelan ludah keras, tangannya gemetar hebat hingga pulpen emasnya jatuh ke lantai dengan suara klak yang nyaring.
"Itu... itu fitnah!" teriak Pak Hartono, meski suaranya kehilangan tenaga.
"Kami akan menuntut Anda! Ini pencemaran nama baik!"
Arya akhirnya berbicara. Suaranya rendah, dingin, dan mematikan.
"Tuntut saja, Pak Hartono," katanya sambil melemparkan sebuah flashdisk hitam ke tengah meja.
"Di dalamnya ada salinan semua transfer ilegal, email koordinasi pencucian uang, dan rekaman suara pertemuan rahasia Anda dengan Nia Tanjung di hotel berbintang lima bulan lalu. Jika Anda menuntut, kami akan merilis semuanya ke media, KPK, dan pemegang saham minoritas besok pagi. Saham PT Surya Global akan anjlok nol persen dalam hitungan jam. Dan Anda? Anda akan menghabiskan sisa hidup Anda di penjara Cipinang."
Pak Hartono terpaku. Matanya membelalak, napasnya tercekat. Ia menatap flashdisk itu seolah melihat bom waktu.
"K-Kamu..." gumamnya, wajahnya pucat seperti mayat.
"Pilihannya sederhana," lanjutku, mencondongkan tubuh ke depan.
"Terima tawaran akuisisi Wijaya Group dengan harga yang kami ajukan. Anda tetap mendapat pesangon layak, reputasi Anda relatif aman karena kami tidak akan mempublikasikan detail kejahatan Anda secara luas, dan Anda bisa pensiun dengan tenang. Atau... tolak tawaran ini, dan hadapi kehancuran total dalam dua puluh empat jam."
Salah satu direktur muda, Pak Rian, mengangkat tangan dengan ragu.
"Ibu Siren... jika kami terima... apa jaminan bahwa karyawan biasa tidak akan di-PHK massal?"
Aku menatap Pak Rian, ekspresiku melunak sedikit. Ini adalah momen untuk menunjukkan bahwa aku bukan monster seperti Fadli atau Nia.
"Wijaya Group tidak melakukan PHK massal tanpa alasan strategis," jawabku tegas.
"Kami akan melakukan restrukturisasi, ya. Tapi prioritas kami adalah efisiensi, bukan pemecatan. Karyawan yang kompeten akan dipertahankan, bahkan diberi pelatihan ulang. Yang akan kami ganti hanyalah manajemen tingkat atas yang korup. Seperti kalian."
Para direktur lainnya menunduk malu. Pak Hartono menggigit bibirnya, matanya berkaca-kaca karena takut dan marah yang tertahan.
"Berapa... berapa lama waktu yang kami punya untuk memutuskan?" tanya Pak Hartono akhirnya, suaranya hancur.
"Sampai pukul lima sore hari ini," jawab Arya, melihat jam tangannya.
"Jika belum ada tanda tangan di atas kontrak saat itu, tim hukum kami akan segera merilis dokumen-dokumen tersebut ke publik. Jam mulai berjalan sekarang."
Arya berdiri, merapikan jasnya. Ia menatapku sekilas, ada kebanggaan di matanya. Lalu ia berbalik menuju pintu.
"Ayo, Siren. Kita punya janji makan siang."
Aku mengikuti langkahnya, meninggalkan ruang rapat yang dipenuhi keheningan mencekam. Saat pintu tertutup di belakang kami, aku menghela napas panjang.
"Kamu hebat," ucap Arya tiba-tiba, suaranya hangat. Ia berhenti di lorong, menatapku dengan intens.
"Cara kamu menangani Pak Hartono... itu brilian. Kamu tidak hanya menggunakan ancaman. Kamu juga memberi jalan keluar bagi yang tidak bersalah, seperti Pak Rian. Itu menunjukkan kepemimpinan, bukan sekadar kekuasaan."
Aku tersenyum, merasa pipiku sedikit memanas. "Aku belajar dari guru terbaik."
"Guru?" tanya Arya, alisnya terangkat.
"Kamu," jawabku jujur.
"Ketenanganmu. Ketajaman analisismu. Cara kamu membaca kelemahan lawan tanpa perlu berteriak. Aku meniru itu."
Arya tertawa kecil, tawa yang renyah dan menyenangkan. Ia melangkah mendekat, mengurangi jarak di antara kami.
"Kamu tidak perlu meniru siapa pun, Siren," bisiknya, suaranya rendah dan intim.
"Kamu sudah memiliki insting alami yang tajam. Yang kamu butuhkan hanyalah kepercayaan diri. Dan saya... saya akan selalu ada di sini untuk mengingatkanmu akan hal itu."
Jantungku berdegup kencang. Tatapannya begitu dalam, begitu penuh makna. Rasanya seperti tenggelam dalam lautan yang hangat dan aman.
"Arya..." gumamku, suaraku bergetar.
"Shh," potongnya pelan, jarinya menyentuh daguku dengan lembut, mengangkat wajahku agar menatap matanya.
"Jangan bicara. Biarkan momen ini berbicara untuk kita."
Di lorong sepi itu, di tengah gedung korporat yang dingin, ada kehangatan yang tumbuh di antara kami. Bukan hanya kemitraan bisnis. Tapi sesuatu yang lebih dalam. Sesuatu yang menjanjikan bahwa di tengah perang dunia yang kejam, kami memiliki benteng masing-masing di hati satu sama lain.
Permainan baru saja memasuki babak ketiga belas. Dan kali ini, aku menyadari bahwa kemenangan terbesar bukanlah menguasai perusahaan musuh. Tapi memenangkan hati seseorang yang akhirnya membuatku merasa utuh kembali.