NovelToon NovelToon
ISTRIKU YANG MEMILIH PERGI

ISTRIKU YANG MEMILIH PERGI

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi Wahyu

"Aku tidak pernah menginginkan pernikahan ini."

Kalimat itu yang selalu dipegang Dirga sejak menikahi Kanaya karena wasiat kedua kakek mereka.

Bagi Dirga, Kanaya hanyalah perempuan yang terpaksa menjadi istrinya. Sedangkan bagi Kanaya, pernikahan itu hanyalah cara terakhir untuk menghormati orang yang paling ia sayangi.

Ia tidak pernah meminta cinta, tidak pernah meminta apa pun dari Dirga. Hingga pada akhirnya, perempuan yang selalu memilih bertahan itu memilih untuk pergi.

Dan saat itulah Dirga menyadari, ada satu hal yang tidak pernah ia duga, ia kehilangan....istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi Wahyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bahas Apaan Sih?

...****************...

Suasana kafe siang itu kembali dipenuhi suara pelan percakapan para pengunjung dan dentingan sendok yang sesekali beradu dengan cangkir. Di luar jendela, kendaraan masih berlalu-lalang tanpa henti, seolah dunia tetap berjalan seperti biasa.

Namun berbeda dengan orang-orang di dalam kafe tersebut, meja di sudut kafe itu justru dipenuhi keheningan yang cukup lama.

Dinda masih menatap Kanaya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Kedua alisnya bertaut, sementara jemarinya tanpa sadar terus memainkan sedotan minumannya diatas meja.

Ia mengenal Kanaya hampir sepanjang hidupnya. Namun, tidak pernah sekalipun ia membayangkan sahabatnya akan berada di situasi seperti ini.

"Trus keputusan kamu apa, Nay?" tanyanya akhirnya dengan suara yang jauh lebih pelan dibanding biasanya.

Kanaya tidak langsung menjawab. Pandangannya beralih ke arah jalanan di balik jendela sebelum mengembuskan napas panjang.

"Aku nggak tau, Din."

Jawaban itu membuat Dinda kembali mengernyit.

"Kalau kamu sama sekali belum tau siapa dia... gimana nanti kalau laki-laki itu nggak baik, Nay?"

Kanaya tersenyum tipis, berusaha terdengar setenang mungkin."Dia dari keluarga yang baik-baik, Din."

"Itu keluarganya, kan?" Dinda segera menyela. "Tapi laki-laki itu?"

Pertanyaan tersebut membuat Kanaya terdiam.

Untuk beberapa saat, ia hanya memandangi permukaan matcha latte yang perlahan mulai mencair. Dinda benar. Selama ini, ia terlalu sibuk memikirkan amanat sang kakek hingga lupa mempertanyakan satu hal yang paling mendasar.

"Aku nggak tau tentang dia, Din," jawabnya pelan. "Gimana dia, seperti apa dia, dia setuju atau nolak aku, aku juga nggak tau."

Nada suaranya terdengar lebih lirih di akhir kalimat, seolah untuk pertama kalinya ia benar-benar menyadari bahwa perjodohan ini tidak hanya melibatkan dirinya seorang.

Dinda menghela napas panjang sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi.

"Jujur aja, Nay. Kalau aku ada di posisi kamu, mungkin dari semalam aku udah nggak bisa tidur."

Kanaya terkekeh kecil mendengarnya.

"Aku serius." Dinda menunjuk sahabatnya dengan ekspresi serius. "Ini bukan perkara milih baju atau milih tempat kerja. Ini pernikahan. Kamu akan hidup sama orang itu seumur hidupmu."

Kalimat itu kembali membuat Kanaya terdiam.

"Dan yang paling bikin aku kepikiran..." lanjut Dinda setelah jeda beberapa detik, "...gimana kalau ternyata dia nggak menginginkan pernikahan ini? Gimana kalau dia udah punya seseorang yang dia cintai? Atau lebih parahnya lagi, gimana kalau dia langsung nolak kamu begitu tau soal perjodohan ini?"

Entah mengapa, dada Kanaya terasa sedikit sesak mendengar kemungkinan-kemungkinan yang disebutkan sahabatnya.

Selama ini, ia hanya memikirkan apakah dirinya mampu menerima amanat terakhir sang kakek. Ia lupa memikirkan satu hal. Bahwa diluar sana, ada seseorang yang mungkin sedang mempertanyakan hal yang sama.

Dan untuk pertama kalinya, Kanaya mulai bertanya-tanya: Apakah pria itu juga sedang memikirkan dirinya saat ini?

"Aku harus apa, Din?"

Pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibir Kanaya. Untuk pertama kalinya sejak mereka bersahabat, ada keraguan yang begitu jelas terdengar dalam suaranya.

Dinda yang semula tampak sibuk mencerna seluruh cerita sahabatnya hamya bisa terdiam. Ia menatap Kanaya selama beberapa saat sebelum akhirnya menghembuskan napas panjang.

"Hah..." Dinda menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil mengusap keningnya pelan. "Selama aku kenal kamu dengan berbagai keluhan dan pertanyaan yang selalu kamu ajukan, baru kali ini aku nggak bisa jawab pertanyaan itu, Nay."

Kanaya hanya tersenyum tipis mendengar pengakuan sahabatnya.

"Kamu bilang, dia cucu dari sahabat Kakekmu, kan?" tanya Dinda setelah beberapa saat.

"Iya."

"Berarti orang terpandang juga sama kayak keluargamu." Dinda mengernyit penasaran. "Siapa namanya?"

Kanaya menggeleng pelan.

"Gak tau, Din."

Dinda langsung menatapnya tidak percaya.

"Astaga, Kanaya. Namanya aja kamu nggak tau?"

Kanaya hanya terkekeh kecil, merasa sedikit bersalah.

"Eh... tapi Ayah sempat bilang kalau mereka dari keluarga Atmajaya."

Kalimat itu sukses membuat Dinda yang semula terlihat santai langsung membulatkan matanya.

"Waduh..."

"Apa?"

"Jangan-jangan..."

Tanpa menyelesaikan ucapannya, Dinda buru-buru meraih ponsel yang sedari tadi tergeletak di atas meja. Jemarinya bergerak lincah membuka mesin pencarian, sesekali mengernyit sambil bergumam pelan.

Kanaya hanya memperhatikannya dengan bingung.

"Apa sih?"

"Bentar... bentar..." jawab Dinda tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.

Beberapa detik berlalu. Hingga tiba-tiba...

"ASTAGA!!"

Seruan itu kembali berhasil menarik perhatian beberapa pengunjung di sekitar mereka. Kanaya refleks menoleh ke kanan dan kiri sebelum menatap sahabatnya dengan tatapan tajam.

"Pelan-pelan, Dinda!"

"Eh, iya. Sorry." Dinda berdeham pelan sebelum kembali menatap layar ponselnya. "Tapi jangan-jangan dia, Nay."

"Siapa?"

"Dirga Atmajaya." Dinda segera menyodorkan ponselnya ke hadapan Kanaya. "Nih, coba liat."

Kanaya menerima benda pipih itu dengan sedikit ragu sebelum mengalihkan pandangannya ke layar. Di sana terpampang foto seorang pria dengan setelan jas hitam yang tampak sedang menghadiri sebuah acara bisnis.

Rahangnya tegas, sorot matanya tajam, dan ekspresinya terlihat begitu dingin.

"Dia CEO terkenal itu loh, Nay," ujar Dinda antusias. "Yang proyeknya sukses di mana-mana. Dan kalau nggak salah, dia juga sempat jadi pembicara di seminar kampus anak Fakultas Manajemen tahun lalu."

"Oh ya?" gumam Kanaya pelan, masih memperhatikan foto pria tersebut.

"Iya! Dan kayaknya bener dia deh. Soalnya, setauku dia satu-satunya pewaris mendiang kakeknya."

Kanaya mengembalikan ponsel itu kepada Dinda sambil menggeleng kecil.

"Gak mungkin? Kayaknya bukan dia deh, Din. Masa aku nikah sama orang seterkenal dan sekaya ini?"

"Yee..." Dinda mendecak pelan. "Ayahmu juga terkenal dan kaya juga kali."

"Ayahmu juga terkenal dan kaya juga, Din."

"Ck, ini bahas apaan sih? Fokus itu."

Untuk pertama kalinya siang itu, Kanaya tertawa kecil.

Tawa yang sedari tadi seolah menghilang sejak percakapan mereka dimulai.

Namun, beberapa detik kemudian, pandangannya kembali jatuh pada layar ponsel Dinda yang masih menampilkan foto Dirga Atmajaya.

Pria yang saat ini sedang mereka tebak-tebak identitasnya. Pria yang mungkin saja tidak pernah membayangkan bahwa namanya tengah menjadi bahan pembicaraan di sebuah kafe pada siang hari.

Dan tanpa mereka sadari, pria itu memang adalah sosok yang telah dipilih oleh takdir untuk di pertemukan dengan Kanaya.

1
Andi andi Melati
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!