Kurosawa Kaito adalah pria paling sial di seluruh Jepang bukan kiasan, itu fakta yang bisa dibuktikan lewat statistik. Payung selalu ketinggalan pas hujan deras, promosi kerja direbut orang lain di detik terakhir, bahkan mesin ATM pernah menelan kartunya di hari gajian.
Semua berubah saat sahabatnya memaksanya mencoba Aeon Requiem, VRMMORPG full-dive terbaru yang sedang jadi fenomena dunia. Saat membuat karakter, Kaito yang selama ini terlalu sial untuk berharap apa pun asal memasukkan seluruh poin stat awal ke satu parameter yang paling sering diabaikan pemain lain: Luck (Keberuntungan).
Yang tidak ia sangka: sistem game ini menghitung keberuntungan bukan sebagai angka kosmetik, tapi sebagai variabel nyata yang memengaruhi drop rate, critical hit, event tersembunyi, bahkan takdir NPC. Seorang pemain yang di dunia nyata tidak pernah menang undian apa pun, kini menjadi satu-satunya orang yang ditakdirkan untuk selalu beruntung di dunia yang bukan dunia nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon webnakama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17 — Persiapan
Format pertandingan yang diajuin Absolute Zero ternyata bukan duel satu lawan satu, melainkan pertandingan tim tiga lawan tiga, disiarin langsung lewat sistem broadcast resmi yang bisa ditonton pemain mana pun di server.
"Tiga lawan tiga, artinya kita harus milih siapa yang maju." gumam Rin sambil natap detail aturan yang baru aja masuk ke inbox guild mereka.
"Otomatis lo, gue, sama Kaito, kan?" tanya Souma.
"Nggak segampang itu," Rin gelengin kepala, "Absolute Zero pasti bakal nurunin susunan terbaik mereka. Kita harus mikirin komposisi yang paling efektif, bukan cuma milih berdasarkan siapa yang paling deket."
Mei yang duduk di pojok markas sambil meluk lututnya, ngangkat tangan pelan, suaranya kecil banget. "Berarti... aku nggak ikut?"
Hening sebentar. Kaito ngeliat raut wajah Mei yang keliatan berusaha nggak keliatan kecewa, walau nggak sepenuhnya berhasil.
"Kita butuh support yang stabil kalo mau bertahan lama di pertandingan, tapi kalo formatnya sistem gugur cepat, damage tinggi bisa lebih penting dari sustain jangka panjang. Kita perlu latihan dulu buat mastiin komposisi mana yang paling optimal." kata Rin akhirnya.
"Aku ngerti kok, yang penting kalian menang. Aku bisa bantu dari sisi lain, kayak nyiapin potion atau strategi cadangan." Mei senyum walau agak dipaksain.
Kaito ngeliat Mei, ngerasa nggak enak. "Kita bakal tetep libatin lo, gimanapun caranya. Ini bukan cuma soal tiga orang yang maju, tapi seluruh guild."
Mei ngangguk, senyumnya jadi lebih tulus kali ini.
Seminggu berikutnya diisi penuh sama latihan intensif. Rin ngerancang berbagai skenario simulasi, dari kombinasi serangan sampe strategi bertahan, sementara Souma sama Kaito bergantian jadi lawan spar buat ngetes reaksi masing-masing.
"Timing lo masih terlalu lambat buat ngebaca serangan Souma, coba lagi, kali ini fokus ke gerakan bahu, bukan tangan." kata Rin di sela-sela sesi latihan hari ketiga.
Kaito ngangguk, nyoba lagi, dan kali ini berhasil ngehindar tepat waktu sebelum ngelancarin counter yang bersih.
"Nah, gitu," Rin ngangguk puas.
Di tengah sesi latihan itu, sebuah panel muncul di sudut pandangan Kaito, beda dari notifikasi biasa.
Skill Baru Terbuka: [Golden Path] Meningkatkan drop rate seluruh party di area tertentu untuk durasi terbatas.
"Ada skill baru lagi," kata Kaito, nunjukin panel itu ke Rin.
Rin baca deskripsinya, mikir sebentar. "Ini nggak langsung berguna buat pertandingan PvP, tapi bisa jadi aset penting buat ke depannya. Simpen dulu, fokus ke persiapan duel."
Hari-hari berikutnya berjalan dengan ritme yang sama, bangun, kerja, buru-buru pulang, terus login dan latihan sampe larut malam.
Souma yang biasanya santai, jadi jauh lebih serius dari yang pernah Kaito liat, ngulang-ngulang pola tanking-nya sampe gerakannya kerasa otomatis. Kaito sendiri ngerasa badannya (atau lebih tepatnya, avatar-nya) makin terbiasa sama ritme pertarungan, gerakannya yang dulu kaku sekarang mulai kerasa lebih natural.
"Lo tau nggak, ini pertama kalinya seumur hidup gue latihan sesuatu sampe segininya. Biasanya gue tipe yang santai-santai aja." kata Souma suatu malem di sela-sela istirahat.
"Kenapa sekarang beda?" tanya Kaito.
"Karena ini bukan cuma soal gue lagi, ini soal kita semua. Gue nggak mau jadi orang yang bikin tim ini kalah gara-gara gue kurang niat." jawab Souma sambil natap ke arah kabut malam.
Kaito ngangguk, ngerasa berat sekaligus terharu denger itu.
Malemnya, setelah sesi latihan panjang, Kaito sama Rin duduk berdua di pinggir markas, istirahat sejenak sementara Souma sama Mei udah logout duluan.
"Lo keliatan tegang," kata Rin, natap Kaito yang lagi diem natap kosong ke arah kabut tipis di kejauhan.
"Jujur aja, iya, gue nggak takut kalah karena kalah doang. Gue takut kalo kalah, itu bakal ngebuktiin semua yang orang-orang skeptis bilang di forum kalo semua ini emang cuma keberuntungan sesaat yang bakal abis kapan aja." kata Kaito.
Rin diem sebentar, mikirin kata-kata itu. "Boleh gue jujur sama lo?"
"Silakan."
"Gue juga takut, bukan takut kalah doang. Gue takut kalo kita kalah, itu bakal ngebuktiin partner lama gue bener soal sistem ini, bahwa apa pun yang keliatan terlalu bagus buat jadi nyata, emang bukan buat kita." katanya, suaranya lebih pelan dari biasanya.
Kaito natap dia, ngerasa berat denger pengakuan itu. "Rin..."
"Tapi gue juga percaya, apa pun hasilnya nanti, ini bukan tentang menang atau kalah doang. Ini tentang kita buktiin ke diri kita sendiri kalo kita berani hadepin sesuatu yang lebih besar dari kita, tanpa lari." potong Rin cepet, sebelum Kaito sempet nglanjutin,
Kaito ngangguk pelan, ngerasa kata-kata itu ngendep di dadanya lebih dalam dari yang dia sangka.
"Makasih, buat selalu jujur sama gue." kata Kaito.
Rin senyum tipis, natap balik ke arah kabut. "Selalu."
Hari pertandingan akhirnya dateng lebih cepet dari yang Kaito kira. Pagi itu, di dunia nyata, dia bangun lebih awal dari biasanya, ngerasa perutnya udah mules dari sebelum sarapan.
Dia login lebih cepat dari jadwal biasa, dan begitu masuk ke dunia game, dia langsung disambut sama pemandangan yang bikin jantungnya berdegup kenceng, Plaza Kota Awal yang biasanya rame biasa, sekarang penuh sesak sama pemain dari berbagai server yang sengaja dateng buat nonton pertandingan hari itu.
Beberapa di antaranya bahkan bawa banner virtual bertuliskan nama guild, entah Fortuna Ascendant atau Absolute Zero, dikibarin di atas kepala mereka kayak lagi nonton pertandingan olahraga beneran. Papan pengumuman digital di seluruh kota nampilin countdown besar, hitung mundur menuju jam pertandingan.
PERTANDINGAN PERSAHABATAN: FORTUNA ASCENDANT vs ABSOLUTE ZERO Dimulai dalam: 02:14:33
"Ini... rame banget," gumam Kaito, begitu Souma sama Rin muncul di sampingnya.
"Absolute Zero emang selalu bikin acara jadi besar," kata Rin, natap sekitar dengan ekspresi tetap tenang, walau Kaito bisa liat sedikit ketegangan di rahangnya. "Mereka pasti udah promosiin ini dari beberapa hari lalu."
Dari kejauhan, Kaito bisa denger beberapa obrolan pemain lain yang lalu-lalang, sebagian nyebut nama "Fortuna Ascendant" dengan nada penasaran, sebagian lain dengan nada meremehkan. Ada yang bertaruh item virtual soal siapa yang bakal menang, ada yang cuma dateng buat nonton keramaian.
"Gimana kalo kita nge-flop di depan seluruh orang ini?" Souma nyeletuk, suaranya agak gemeteran.
"Kita nggak akan nge-flop, kita udah latihan cukup keras minggu ini. Percaya sama diri kita sendiri, sama tim kita." kata Rin tegas.
Mei yang ikut nemenin walau nggak maju bertanding, nyodorin tiga botol potion terakhir ke masing-masing dari mereka. "Ini bekal dari aku. Nggak bisa nemenin di arena, tapi aku bakal terus dukung dari sini."
"Makasih, Mei," kata Kaito, nerima potion itu dengan senyum tulus.
Mereka berjalan menuju gerbang arena, dilewatin sama ratusan pemain yang berbisik-bisik, sebagian nyemangatin, sebagian lagi keliatan skeptis, natap mereka dengan tatapan yang jelas ngarepin kegagalan.
Di ujung jalan menuju gerbang, sesosok pria berdiri, mengenakan jubah putih dengan lambang Absolute Zero berkilau di dadanya, rambutnya rapi disisir ke belakang, ekspresinya tenang dan percaya diri, tipe orang yang keliatan udah terbiasa jadi pusat perhatian.
"Kalian pasti Fortuna Ascendant," katanya, suaranya dalem dan berwibawa, senyumnya sopan tapi matanya menyimpan sesuatu yang jauh lebih tajam dari senyum itu sendiri. "Saya Todoroki Ren. Senang akhirnya bisa bertemu langsung." Dia natap satu-satu wajah mereka, seolah lagi ngukur dan nyimpen kesan pertama tentang tiap orang.
Kaito natap pria di depannya, ngerasain aura kompetitif yang kental banget, sekaligus rasa deg-degan yang makin menjadi di dadanya.
"Semoga ini jadi pertandingan yang layak buat ditonton, saya udah nunggu lama buat ketemu orang yang katanya bisa 'membuktikan diri' secepat ini." lanjut Ren sambil natap Kaito lekat-lekat.
"Kita bakal buktiin," jawab Kaito, suaranya lebih mantap dari yang dia sangka sendiri.
Ren tersenyum tipis, terus mundur berjalan ke arah gerbang lawan bersama dua anggota timnya yang baru aja muncul di belakangnya.
Kaito natap punggung mereka yang menjauh, ngerasa jantungnya berdetak lebih kenceng dari sebelumnya.
Pertandingan yang bakal nentuin banyak hal, reputasi mereka, kepercayaan diri Kaito, bahkan mungkin arah cerita mereka ke depannya, tinggal hitungan menit lagi.
Dia narik napas panjang, natap ke arah Rin dan Souma yang berdiri di sampingnya, sama-sama diem, sama-sama nyiapin diri buat apa pun yang bakal kejadian di dalam arena nanti. Mei dari kejauhan ngasih dua jempol dan senyum lebar, walau matanya keliatan sedikit khawatir.
Gerbang arena di depan mereka perlahan terbuka, nunjukin lapangan luas dengan tribun penonton yang udah penuh sesak, sorak-sorai samar mulai kedengeran dari dalam.
"Siap?" tanya Rin, natap Kaito sama Souma bergantian.
"Siap," jawab mereka berdua, hampir bersamaan.
Dan bersama-sama, mereka melangkah masuk.