NovelToon NovelToon
Kontrak Naga

Kontrak Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Akademi Sihir / Epik Petualangan
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: aisy hilyah

Seorang gadis tanpa bakat.
Menjadi aib bagi sebuah keluarga sihir api yang berkuasa.
Sebuah pengkhianatan yang menjatuhkannya ke jurang maut.

Tapi di kegelapan jurang, takdir memilihnya.
Kontrak dengan naga kuno mengubahnya menjadi wadah dari seluruh elemen.

Dari sampah keluarga ... menjadi ancaman bagi dunia.
Dari yang dibuang ... menjadi yang ditakuti.

Ini kisah tentang kebangkitan.
Ini kisah tentang KONTRAK NAGA.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18 Mahkota Ke-4

Tanah dataran itu berbau belerang, pekat dan menyengat. Binatang sihir meraung keras, tapi ada yang aneh dengannya. Binatang itu sama sekali tidak beranjak dari tempatnya. Dia tetap di puncak menara batu di bawah inti petir yang memancarkan cahaya keunguan.

Rayn terkapar di tanah yang hangus, Tak berdaya. Napasnya memburu pendek-pendek dengan luka bakar parah di sepanjang lengan kirinya. Jubah sihirnya hancur, menyisakan asap tipis yang terus mengepul dari sisa-sisa sengatan listrik di tubuhnya.

"Rayn!"

Kael mencoba mendekat, mengerahkan sihir anginnya ke seluruh tubuh, tapi saat ia hendak melesat, petir itu menyambar hebat. Ia urung, sihir angin di tubuhnya perlahan menghilang.

"Aku terlalu takut," katanya gemetar. Dia ingin pergi mengambil tubuh Rayn. Petir di sana kapan saja akan kembali menyambar.

Tanpa berpikir panjang, Eliya berlutut dan perlahan merangkak mendekati Rayn. Ia menarik tubuh itu. Bobotnya berat, penuh dengan keputusasaan.

Namun, adrenalin membuat otot-otot Eliya mendidih, ia menggendong tubuh Rayn dengan sisa tenaga yang ia kumpulkan. Menjauh dari area inti petir, menyusuri tebing berbatu hingga menemukan celah gua kecil yang cukup aman dari jangkauan badai. Diikuti Kael yang setiap kali petir menyambar, ia menutupi kepalanya dengan tangan.

"Sepertinya di sini cukup aman," ucap Eliya seraya merebahkan Rayn perlahan.

Wajah pemuda itu pucat, tetapi matanya sempat terbuka sedikit. Menatap Eliya dengan tatapan kosong sebelum akhirnya kesadarannya benar-benar runtuh. Rayn pingsan. Kael menggendongnya ke tempat aman, memastikan napasnya stabil meski lemah.

Eliya menatap telapak tangannya yang gemetar. Ia sendiri baru saja pulih dari serangan petir besar tadi.

"Ini adalah hutang budi. Laki-laki egois dan menyebalkan itu baru saja mempertaruhkan nyawanya untuk menahan sambaran petir yang harusnya mengenai aku. Ah, sialan! Aku tidak suka berhutang, terutama hutang nyawa."

Eliya bergumam pelan, menatap Rayn yang terpejam bersama Kael di sisinya. Ia berbalik, meninggalkan kehangatan gua yang relatif aman.

"Ke mana kau akan pergi? Kau akan pergi ke tempat tadi? Kau gila!" tegur Kael tak senang. Nada suaranya naik satu oktav, matanya tajam menatap, lebih pada perasaan cemas.

"Aku tidak punya pilihan. Aku harus menyelesaikan ini secepatnya," jawab Eliya seraya melangkah dengan mantap.

Ia akan kembali ke bukit meratap, ke menara batu untuk menyelesaikan semuanya sendirian. Kali ini tanpa rasa takut. Rasa ngeri yang sempat merayap di tengkuknya kini menguap, digantikan oleh tekad yang dingin dan tajam seperti belati.

Angin di puncak menara melolong dahsyat, merobek jubahnya hingga berkibar kasar. Di atas puncak menara batu itu, pusaran awan hitam berputar seperti pusaran air raksasa, mengunyah kilatan-kilatan cahaya ungu yang mengerikan.

Menara batu itu bergetar, seolah menolak kehadirannya sebagai makhluk fana yang berani menantang langit. Namun, Eliya tidak akan pernah mundur lagi. Binatang sihir penjaga inti petir melolong panjang, mengintimidasi siapa saja yang mendekat. Suara lolongan panjang itu seolah-olah memberitahu dunia bahwa tempat itu tidak mudah didatangi.

"Abaikan dia. Binatang itu hanya sebuah bayangan. Fokus saja pada inti petir di sana."

Suara Zharvion menggema, lebih kuat dari sebelumnya.

"Tapi serangannya nyata," sahut Eliya membayangkan serangan serigala petir itu tadi.

"Aku akan menahannya untukmu. Kau hanya perlu menjadi tuan dari inti petir di sana. Jadilah wadah yang kosong untuknya. Setelah kau mendapatkannya binatang sihir itu akan tunduk."

Suara Zharvion memberi petunjuk. Naga kuno itu memudar menjadi serpihan cahaya keemasan dan meresap masuk ke dahi Eliya. Seluruh tubuhnya memancarkan cahaya keemasan. Seperti armor perang yang melindungi dari serangan.

Eliya membuka mata, kedua maniknya memancarkan cahaya yang sama. Ia berdiri di tepi pembatas batu yang hancur. Bayangan Rayn yang mengorbankan diri demi melindungi dirinya muncul di dalam kepala. Itu bukan sekadar tindakan bodoh, itu adalah inti dari manifestasi kekuatan yang ada di puncak ini.

Eliya kembali menutup mata, meresapi getaran statis yang membuat bulu kuduknya berdiri. Pemahaman baru perlahan meresap ke dalam benaknya.

Elemen Petir melambangkan Kecepatan. Pengorbanan. Serangan.

"Petir tidak pernah ragu. Ia bergerak secepat pikiran, menghancurkan dirinya sendiri saat menyentuh bumi, dan meninggalkan daya rusak yang absolut pada sasarannya." Eliya bergumam pelan.

Ia membuka kedua belah matanya. Warna ungu di langit terpantul di korneanya. Kakinya berjalan ke tengah menapaki bukit meratap, melewati titik di mana petir menyambar. Berkat kekuatan Zharvion, petir-petir itu bukan apa-apa baginya.

Tepat di bawah titik pusaran terdahsyat. Di hadapan binatang sihir penjahat inti petir. Keangkuhannya runtuh, digantikan oleh penyerahan diri yang berdaulat. Eliya buka kedua tangan lebar-lebar ke langit, menantang sang badai.

"Jika kau menginginkan tuan, maka pilihlah aku. Aku wadah yang bisa kau gunakan," bisiknya, tapi suara itu bergaung membelah gemuruh angin.

Ia tidak meminta dengan mengemis. Ia menawarkan wadah yang siap hancur demi menampung kekuatannya.

Langit mengaum. Binatang sihir di hadapannya melolong panjang. Kata-katanya itu menjadi pemantik api pada tangki bahan bakar universal.

Kael berdiri cemas di dalam gua, menatap sosok Eliya yang berdiri di puncak menara batu. Jubahnya yang terkoyak berkibar tertiup angin kencang. Kedua tangan pemuda itu mengepal, menunggu dengan cemas. Sama seperti saat ia mengalahkan jantung tanah waktu itu. Kali ini, apakah dia akan berhasil?

BRAAAKK!

Dunia di sekitar Eliya memutih sekejap. Sebuah pilar petir ungu raksasa menyambar langsung ke dadanya dari titik tertinggi awan.

Dampaknya melemparkan kesadaran gadis itu ke ruang hampa. Ia mengira tubuhnya akan meledak menjadi serpihan abu.

Namun, rasa yang datang bukanlah sakit. Rasa sakit adalah konsep yang terlalu primitif untuk transformasi yang ia rasakan saat ini.

"Rasanya seperti ... tubuh ini dibongkar lalu dirakit ulang. Setiap untai DNA-ku dilelehkan, setiap tulangku retak dan tersambung kembali dengan jaringan listrik murni, dan setiap pembuluh darahku kini dialiri oleh plasma yang membara. Jantungku dipaksa berdetak dalam ritme frekuensi tinggi yang gila."

Eliya mengertakkan gigi, menahan segala gejolak yang ia rasakan. Tubuhnya melayang dalam kepasrahan. Membiarkan kekuatan itu menempati wadah di sana. Ia dihancurkan, lalu dilahirkan kembali dalam hitungan milidetik.

Saat kakinya kembali menyentuh bebatuan di puncak menara batu yang hancur, sebuah suara mekanis yang dingin dan familiar bergema langsung di dalam kepalanya.

DING!

[MAHKOTA PETIR: EMPAT PER TUJUH TERISI]

Rasa hangat menjalar dari dada menuju pergelangan tangan kanannya. Kulit di sana berdenyut kencang seiring dengan munculnya pola tato baru yang rumit. Di pergelangannya, lingkaran keempat menyala ungu elektrik. Cahayanya begitu terang, mengusir kegelapan malam yang pekat di sekitar puncak menara batu.

Aku berhasil? Zharvion, kita berhasil!

Ya! Kau berhasil, Nak!

Suara Zharvion menyambut hangat.

Seketika itu juga, tekanan udara yang tadinya mencekik mendadak lenyap. Sisa-sisa petir di seluruh dataran berhenti. Badai seolah membeku di udara, lalu terhisap masuk ke dalam pori-pori kulit Eliya tanpa sisa. Termasuk binatang sihir penjaga inti petir di sana. Serigala petir yang setia kepada tuannya.

Sunyi.

Dunia mendadak kehilangan suaranya. Tidak ada angin, tidak ada gemuruh guntur. Hanya ada Eliya seorang, berdiri di puncak menara batu, dengan energi kosmis yang kini menjalar patuh di bawah perintah jemarinya. Mahkota keempat telah tunduk.

"Di-dia berhasil? Luar biasa!" gumam Kael bergetar, mulutnya terbuka tak percaya, matanya tak berkedip menatap sosok di puncak itu. Benar-benar seorang monster.

1
beybi T.Halim
kok yaa kasihan,kan ada 4 kerajaan apakah tak ikut bertempur?? atau malah sdh mati semua🙈
Aisy Hilyah: nah itu, udah ngilang semua itu
total 1 replies
beybi T.Halim
ceritanya sungguh bagus,sepanjang episode nahan nafas terus,karakter eliya sang badai benar2 tangguh,kuat dan tentunya ada sisi melow nya ,dikelilingi pangeran tampan dari 4 kerajaan, tak sabar untuk episode berikutnya👍👍👍👍👍semangat
Aisy Hilyah: terimakasih banyak 😍😍
total 1 replies
beybi T.Halim
keren👍
Aisy Hilyah: terimakasih banyak
total 1 replies
Pena Quality
nice
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!