Demi menghindari aib, Naresta dan Elvan memilih meninggalkan keluarga mereka dan memulai hidup baru di sebuah desa. Dengan kerja keras, mereka berhasil membangun sebuah toko yang berkembang pesat dan menjadi sumber penghidupan mereka.
Namun, kesuksesan itu tak membuat mereka diterima. Elvan yang merupakan penyandang autisme terus menjadi sasaran hinaan dan cemoohan warga. Meski begitu, Naresta tetap setia berada di sisinya, membuktikan bahwa cinta sejati tidak pernah memandang kekurangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencoba Sabar
"Mbak, yang kemarin itu, ya, yang bikin keributan?" tanya seorang pelanggan sambil meletakkan beberapa barang di atas meja kasir.
"Iya, benar. Ini mbaknya," sahut pelanggan lain yang kebetulan sedang berbelanja.
Naresta yang sedang menghitung belanjaan hanya tersenyum tipis.
"Kalau saya, malu begitu, Mbak. Seharusnya sabar saja. Namanya juga suami Mbak memang sudah autisme. Ya sudah, kenapa marah, Mbak?"
Naresta menghentikan sejenak tangannya. Ia mengangkat wajahnya dan menatap pelanggan itu dengan tenang.
"Saya memang berusaha sabar, Bu."
"Lalu kenapa sampai ribut begitu?"
Naresta mengembuskan napas pelan.
"Karena yang mereka hina bukan orang lain."
"Tapi memang kenyataannya suami Mbak autisme, kan?"
"Iya, benar."
"Ya sudah, diterima saja."
Naresta tersenyum tipis.
"Saya sudah menerima keadaan suami saya sejak pertama kali menikah dengannya."
"Lalu?"
"Yang belum bisa saya terima adalah ketika ada orang yang sengaja merendahkan harga dirinya."
Kedua pelanggan itu saling berpandangan.
"Kalau seseorang menghina suami Ibu terus-menerus di depan Ibu, apakah Ibu hanya akan diam?"
Wanita itu langsung terdiam.
"Saya tidak marah karena suami saya autisme."
Naresta menatap mereka bergantian.
"Saya marah karena ada orang yang menganggap suami saya tidak pantas dihargai hanya karena kondisinya."
Suasana di dalam toko seketika menjadi hening.
Dari arah rak barang, Elvan yang sedang menyusun stok hanya menundukkan kepalanya. Ia mendengar setiap perkataan istrinya, sementara Naresta kembali melanjutkan menghitung belanjaan pelanggan dengan wajah yang tetap berusaha tenang.
Naresta mengembuskan napas pelan. Tatapannya tetap tenang meski hatinya terasa sesak.
"Saya sudah terbiasa dengan kata-kata orang."
Kedua pelanggan itu terdiam mendengarkan.
"Bukan hanya kalian. Semua keluarga saya juga pernah berkata seperti itu tentang suami saya."
Naresta tersenyum tipis, meski senyumnya menyimpan banyak luka.
"Tapi saya tetap membela suami saya."
"Kenapa?" tanya salah satu pelanggan.
Naresta menoleh ke arah Elvan yang sedang
menyusun barang di rak dengan penuh ketelitian.
"Karena kalian tidak tahu bagaimana dirinya. Dia memang penyandang autisme."
Naresta mengangguk pelan.
"Tapi dia tidak pernah menyakiti saya. Dia tidak pernah membentak saya. Dia tidak pernah memukul saya. Dia juga tidak pernah menghabiskan uang untuk hal-hal yang tidak berguna."
Tatapannya kembali kepada kedua pelanggan itu.
"Setiap hari dia selalu berusaha membantu saya di toko ini. Meskipun kemampuannya terbatas, dia tidak pernah menyerah untuk belajar."
Naresta tersenyum bangga.
"Jadi, kalau ada yang bertanya kenapa saya selalu membela suami saya..."
Ia menggenggam erat meja kasir.
"Jawabannya sederhana. Karena saya adalah istrinya. Kalau bukan saya yang membelanya, lalu siapa lagi?"
Naresta tersenyum tipis, berusaha mencairkan suasana.
"Jadi, Ibu ke sini mau belanja atau hanya ingin menegur saya, hm?" tanyanya dengan nada lembut.
Kedua pelanggan itu saling berpandangan.
Salah seorang di antara mereka akhirnya tersenyum canggung.
"Hehe... iya juga, ya. Saya malah jadi kebanyakan ngomong."
Naresta terkekeh pelan.
"Nggak apa-apa, Bu."
Wanita itu kemudian menunjuk beberapa barang
yang ada di etalase.
"Saya beli minyak goreng satu liter, gula satu kilo, sama telur satu rak, ya."
"Baik, Bu."
Naresta segera mengambil barang-barang yang dimaksud, lalu meletakkannya di atas meja kasir.
Sementara itu, pelanggan satunya ikut mengambil beberapa kebutuhan rumah tangga.
"Kalau saya kopi dua bungkus, sabun mandi tiga, sama beras lima kilo, Mbak."
"Baik, Bu. Sebentar ya."
Naresta kembali melayani kedua pelanggan itu seperti biasa, seolah percakapan beberapa saat yang lalu tidak pernah terjadi. Baginya, melayani pelanggan dengan ramah adalah bagian dari pekerjaannya, meskipun hatinya sering kali harus menahan berbagai ucapan yang menyakitkan.
Saat Naresta masih melayani kedua ibu itu, beberapa pelanggan tetap mulai berdatangan seperti biasanya.
Seorang pria masuk sambil membawa tas selempang di bahunya.
"Mbak Naresta, seperti biasa. Saya tinggal, ya. Catatannya."
"Baik, Mas. Nanti Mbak Aya yang siapkan."
Pria itu menganggukkan kepalanya, lalu meletakkan secarik kertas berisi daftar barang di atas dus air mineral yang berada di dekat kasir.
Naresta langsung menoleh ke arah samping.
"Mbak Aya, buatkan pesanannya Mas Ardi. Catatannya di atas dus Aqua."
"Iya, Mbak," jawab Aya sambil berjalan mengambil kertas tersebut.
Aya membaca daftar pesanan itu satu per satu, kemudian mulai mengambil barang sesuai yang tertulis.
Melihat hal itu, salah satu ibu yang tadi mengobrol dengan Naresta tampak sedikit terkejut.
"Wah, ramai juga, ya, toko Mbak."
Naresta hanya tersenyum.
"Alhamdulillah, Bu."
Sementara itu, Mas Ardi melambaikan tangan.
"Mbak, saya tinggal dulu. Nanti sore saya ambil."
"Siap, Mas. Hati-hati di jalan."
"Iya, Mbak."
Mas Ardi pun keluar dari toko, sedangkan Aya tetap sibuk menyiapkan seluruh pesanannya agar nanti tinggal diambil.
Setelah Mas Ardi pergi, dua pelanggan setia Naresta kembali datang ke toko. Keduanya memang sudah menjadi langganan tetap yang sering mengambil barang dalam jumlah besar untuk dijual kembali.
"Mbak, kayak biasa. Aqua sepuluh dus. Terus yang lainnya juga masing-masing sepuluh dus," ucap salah satu pelanggan sambil tersenyum.
Naresta mengangguk.
"Baik, Mas."
Pelanggan satunya kemudian menyerahkan secarik kertas.
"Saya seperti biasa, Mbak. Ini catatannya."
Naresta menerima kertas itu, lalu membacanya sekilas.
"Bentar ya, Mas. Kalau mau ditinggal aja dulu. Nanti
saya hubungi kalau semuanya sudah siap."
"Iya, Mbak. Seperti biasa aja."
"Iya."
Kedua pelanggan itu pun meninggalkan toko. Naresta segera menoleh ke arah Aya.
"Mbak Aya, yang ini juga disiapkan, ya. Nanti kalau
sudah lengkap langsung kabari saya."
"Siap, Mbak."
Aya pun mulai mengambil barang satu per satu dari gudang.
Sementara itu, Elvan yang melihat Aya membawa beberapa dus besar langsung menghampiri.
"M-mbak A-Aya... b-biar a-aku b-bantu."
Aya tersenyum ramah.
"Makasih, Mas Elvan."
Elvan mengangguk pelan, lalu mulai mengangkat dus-dus tersebut dengan hati-hati agar pesanan pelanggan segera selesai disiapkan.
"Jadi berapa semuanya, Mbak?" tanya pelanggan wanita yang sejak tadi mengobrol dengan Naresta.
"Iya, punya saya juga berapa, Mbak?" timpal pelanggan satunya.
Naresta mengambil kalkulator, lalu menghitung belanjaan mereka satu per satu.
"Yang Ibu totalnya Rp48.000."
Wanita itu mengangguk.
"Kalau punya saya, Mbak?"
Naresta kembali menghitung.
"Kalau yang Ibu Rp67.000."
"Oh, baik."
Kedua pelanggan itu pun menyerahkan uang pembayaran.
"Ini uangnya, Mbak."
"Baik, Bu. Terima kasih."
Naresta menerima uang tersebut, menghitungnya dengan teliti, lalu memberikan uang kembalian beserta struk belanja.
"Ini kembaliannya, Bu."
"Terima kasih, Mbak."
"Iya, sama-sama, Bu. Hati-hati di jalan."
Kedua pelanggan itu pun membawa belanjaan mereka dan keluar dari toko, sementara pelanggan lain mulai berdatangan untuk berbelanja.