Demi Rp 288 juta untuk pengobatan adiknya, Senja menikah kontrak dengan Damar Adiwangsa, konglomerat dingin yang sepuluh tahun lebih tua dan memiliki seorang putri kecil. Mereka sepakat tidak melibatkan perasaan. Namun ketika Bintang mulai memanggil Senja Mama, rumah yang semula dingin berubah menjadi keluarga. Damar yang dahulu menganggap Senja matre perlahan menjadi suami posesif yang tak sanggup melepaskannya. Saat kontrak berakhir dan Senja bersiap pergi, Damar justru menagih satu hal yang tidak pernah tertulis dalam perjanjian: cintanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aura Rizki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Bab 29
Harga Diri di Ruang Ganti
Senja menunggu hampir satu jam di depan kelas Bintang.
Ia sengaja datang terlalu awal karena Damar menyuruhnya pergi. Duduk di bangku sekolah lebih baik daripada kembali ke rumah dan melanjutkan percakapan tentang cerai.
Begitu pintu kelas terbuka, Bintang berlari sambil membawa mahkota kertas.
"Mama! Hari ini Bintang jadi putri."
"Putri harus jalan pelan, nanti mahkotanya jatuh."
"Kalau jatuh, Mama ambil."
Wali kelas keluar membawa tas Bintang. Ia tersenyum melihat Senja sudah menunggu.
"Terima kasih sudah datang kemarin meski rapat selesai. Bintang hari ini jauh lebih tenang."
"Kami sudah membaca agendanya bersama. Soal tugas keluarga, formulirnya saya bawa pulang."
"Bagus. Untuk kegiatan musik bulan depan, Bintang ingin menyanyi. Dia bilang Mama bisa mengajarinya."
Senja melihat anak itu yang sedang membetulkan mahkota. "Mama bisa sedikit. Kalau Bintang mau latihan, kita coba."
"Mau! Nanti Papa nonton juga."
Senja mengangguk, meski tidak yakin Damar akan datang setelah kegagalan kemarin. Ia tetap mencatat tanggal kegiatan di ponsel. Kali ini, apa pun pertengkaran mereka, Bintang tidak boleh menunggu kursi kosong lagi.
Kepercayaan sederhana itu menghangatkan Senja. Dalam perjalanan pulang, Bintang bercerita tanpa henti tentang lagu baru dan teman yang memuji Mamanya masih muda.
Di rumah, Bik Inah menyambut mereka dengan wajah lega. "Bu, tolong panggil Pak Damar. Dari tadi beliau di kamar, makan siang belum disentuh."
"Kenapa saya?"
"Kalau Bik yang panggil, jawabnya nanti. Kalau Bintang, beliau bilang iya tapi tetap nggak turun."
Bintang mendorong pinggang Senja. "Mama aja. Papa takut Mama."
Senja naik dengan enggan. Pintu kamar utama tidak terkunci. Ia mengetuk dua kali.
"Mas, makan siang."
Suara air terdengar dari kamar mandi. "Ambilkan pakaian rumah."
Senja mengira salah dengar. "Apa?"
"Kaos abu-abu dan celana hitam di ruang ganti."
Ia masuk ke ruang ganti yang luas. Pakaian tersusun berdasarkan warna, begitu rapi sampai ia takut salah menyentuh. Senja menemukan kaos dan celana, lalu berdiri di depan pintu kamar mandi.
Di salah satu rak terdapat sederet jam tangan dan kotak manset. Tidak ada foto perempuan, parfum manis, atau benda pribadi yang menunjukkan orang lain pernah memakai ruang itu. Senja segera menegur dirinya sendiri. Ia datang mencari pakaian, bukan menyelidiki kehidupan suaminya.
Kaos abu-abu ada tiga dengan model hampir sama. Senja mengambil yang paling lembut, lalu menggantinya karena takut Damar menganggap ia terlalu lancang memilih. Akhirnya ia membawa ketiganya.
"Yang mana?"
"Paling kiri."
"Kalau begitu kenapa punya tiga kaos sama?"
"Warnanya berbeda."
Senja memandang tiga warna abu-abu yang nyaris identik. "Orang kaya punya masalah aneh."
Dari balik pintu terdengar helaan napas yang mirip tawa tertahan.
"Saya taruh di kursi."
"Sekalian pakaian dalam. Laci kedua."
Wajah Senja langsung panas. "Mas ambil sendiri nanti."
"Aku basah."
"Pakai handuk dulu."
"Handuknya juga di luar."
Senja melihat satu handuk bersih di rak, menaruhnya bersama pakaian, lalu mengetuk pintu. "Sudah."
Pintu terbuka selebar telapak tangan. Damar mengulurkan lengan, tetapi tumpukan pakaian terlalu banyak. Senja maju untuk menyerahkan satu per satu. Pada saat yang sama, pintu terdorong sedikit lebih lebar oleh siku Damar.
Pandangan Senja jatuh ke celah itu.
Ia hanya melihat sekilas kulit basah, garis perut, dan handuk kecil yang belum sempat menutup cukup banyak. Namun itu sudah membuat pikirannya kosong.
Senja melempar pakaian ke lengan Damar dan berlari keluar.
"Senja!"
"Pakai sendiri!"
Ia menutup pintu kamar utama, bersandar di dinding koridor, dan menekan kedua telapak ke pipi. Jantungnya berdebar seolah baru berlari mengelilingi rumah.
Bintang muncul dari ujung koridor dan menatap heran. "Mama kenapa merah?"
"Kepanasan."
"Di kamar Papa dingin."
"Mama habis naik tangga. Ayo turun."
"Papa belum makan."
"Papa akan turun setelah pakai baju."
Bintang hendak masuk, tetapi Senja cepat mengangkat tubuh kecilnya dan membawanya menjauh. Damar mungkin sudah berpakaian, mungkin juga belum. Ia tidak mau mengambil risiko kedua.
Di dalam kamar mandi, Damar menatap pakaian yang jatuh ke lantai. Ia tidak bermaksud memperlihatkan apa pun. Namun reaksi Senja yang seperti melihat bencana membuat harga dirinya ikut terluka.
"Memangnya separah itu?" gumamnya.
Saat Damar turun, Senja sudah duduk di meja makan bersama Bintang dan pura-pura sibuk memotong buah. Tidak ada yang menyinggung kamar mandi.
Bintang justru membawa kabar lain. "Teman-teman bilang Mama cantik. Kata Nara, Mama kayak kakaknya Bintang, bukan Mama."
"Nara baik sekali," kata Senja.
"Terus katanya Papa beruntung punya istri muda."
Damar batuk kecil karena air minum masuk ke tenggorokan. Senja menunduk agar senyumnya tidak terlihat.
"Mama ajarin Bintang lagu yang tadi," pinta anak itu.
Setelah makan, Senja membawa keyboard kecil ke ruang keluarga. Ia mengajarkan lagu anak sederhana, mengulang satu baris sampai Bintang menemukan nada yang benar. Suaranya tidak sempurna, tetapi hangat dan jernih.
Damar berdiri di tangga, tersembunyi di balik dinding. Ia berniat kembali bekerja, namun langkahnya berhenti ketika Senja dan Bintang menyanyi bersama.
Rumah yang dulu hanya berisi langkah kaki dan perintah kini memiliki lagu.
Senja tertawa ketika Bintang salah nada. Damar ikut tersenyum tanpa sadar, lalu cepat merapikan wajah saat Bik Inah lewat.
"Kalau mau dengar, turun saja, Pak," bisik perempuan tua itu.
"Aku tidak sedang mendengar."
"Iya. Bapak cuma berdiri sepuluh menit di tangga."
Damar melangkah naik, membawa sisa senyum yang tidak berhasil ia sembunyikan sepenuhnya.