Sinopsis
Clara Evellyn dikenal sebagai gadis cantik yang keras kepala dan berani. Di balik penampilannya yang anggun, Clara ternyata merupakan anggota geng motor yang disegani. Ia terbiasa hidup bebas, penuh tantangan, dan tidak takut menghadapi siapa pun.
Namun, hidupnya berubah ketika sebuah perjanjian keluarga membuat Clara harus menikah dengan Fedro Alexsander, seorang pria tampan, dingin, dan sangat berkuasa.
Fedro sama sekali tidak menyangka bahwa wanita yang menjadi istrinya ternyata adalah gadis geng motor yang sering membuat kekacauan di jalanan.
Awalnya, pernikahan mereka dipenuhi pertengkaran, rahasia, dan saling curiga. Clara ingin mempertahankan kebebasannya, sementara Fedro berusaha membuat istrinya mengikuti aturan yang telah ia tetapkan.
Tetapi semakin mereka dekat, semakin sulit bagi keduanya untuk menyangkal perasaan yang mulai tumbuh.
Ketika masa lalu Clara mulai mengejar dan mengancam keselamatan mereka, Fedro harus memilih: tetap menjaga jarak atau melindungi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viie27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab. 15
Gadis Geng Motor Adalah Istriku
Bab 15 — Rahasia Tentang Ibu Kandung Clara
Mobil Fedro melaju membelah jalanan malam.
Lampu-lampu kota berkelebat di sisi jendela. Namun Clara sama sekali tidak memperhatikannya.
Pikirannya hanya tertuju pada satu kalimat yang baru saja didengarnya.
“Kalau kamu ingin mengetahui siapa sebenarnya ibu kandungmu…”
Ibu kandung.
Selama bertahun-tahun, Clara mengira ia mengetahui seluruh kisah keluarganya.
Ia tahu ayahnya telah meninggal.
Ia tahu ibunya juga telah tiada.
Setidaknya, itulah yang selalu dikatakan kepadanya.
Namun malam ini semuanya berubah.
Ayahnya ternyata masih hidup.
Dan sekarang seseorang mengatakan bahwa ibu kandungnya menyimpan rahasia besar.
Clara menggenggam tangannya sendiri.
“Fedro.”
“Hm?”
“Menurutmu… ibuku masih hidup?”
Fedro terdiam beberapa saat.
“Aku tidak tahu.”
Clara menatapnya.
“Jangan bohong.”
“Aku tidak akan berbohong kepadamu.”
“Kalau begitu katakan apa yang kamu pikirkan.”
Fedro meliriknya sekilas.
“Ada kemungkinan.”
Clara menarik napas panjang.
“Kenapa semua orang menyembunyikan hal ini dariku?”
“Karena mungkin mereka menganggap rahasia itu bisa membahayakanmu.”
“Tapi aku berhak tahu.”
“Aku tahu.”
Clara menatap jalan di depan.
“Aku bahkan tidak ingat wajah ibuku dengan jelas.”
Fedro menggenggam tangannya.
“Kalau begitu kita akan mencari tahu.”
Clara tersenyum tipis.
“Kamu selalu mengatakan itu.”
“Karena aku serius.”
“Kalau nanti ternyata semuanya berbeda dari yang kita bayangkan?”
Fedro menatapnya.
“Kita tetap menghadapinya.”
Clara mengangguk.
“Aku percaya padamu.”
---
Satu jam kemudian, mereka tiba di tempat balapan.
Tempat itu masih terlihat hampir sama seperti dulu.
Bangunan-bangunan tua berdiri di sepanjang jalan.
Lampu neon berwarna merah menerangi area parkir.
Beberapa motor terparkir di sisi jalan.
Namun malam ini tidak ada kerumunan seperti biasanya.
Tempat itu terlalu sepi.
Clara turun dari mobil.
Ia menatap jalan yang pernah menjadi bagian penting dalam hidupnya.
“Di sinilah aku pertama kali bertemu Fedro.”
Fedro berdiri di sampingnya.
“Waktu itu kamu hampir menabrakku.”
Clara langsung menoleh.
“Bukan hampir. Kamu yang berdiri sembarangan.”
Fedro tertawa kecil.
“Kamu masih menyalahkanku?”
“Tentu.”
Raka turun dari mobilnya.
“Bercanda nanti saja.”
Clara menatapnya.
“Kamu menemukan sesuatu?”
Raka menggeleng.
“Belum. Tapi ada yang aneh.”
“Apa?”
“Tempat ini seharusnya memiliki penjaga.”
Fedro melihat sekeliling.
“Tidak ada seorang pun.”
Clara mengerutkan kening.
“Terlalu sunyi.”
Tiba-tiba suara mesin motor terdengar dari kejauhan.
Satu motor melaju perlahan.
Kemudian berhenti beberapa meter dari mereka.
Seorang pria turun.
Ia mengenakan jaket hitam dan helm tertutup.
Fedro langsung berdiri di depan Clara.
“Siapa kamu?”
Pria itu tidak menjawab.
Ia justru melempar sebuah benda kecil ke arah Clara.
Clara menangkapnya.
Sebuah kunci.
Di atasnya terdapat ukiran berbentuk burung.
Clara membelalakkan mata.
“Ini…”
Raka mendekat.
“Mirip simbol di liontinmu.”
Pria itu akhirnya berbicara.
“Benar.”
Clara menatapnya.
“Siapa kamu?”
Pria itu perlahan membuka helmnya.
Wajah seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun terlihat.
Clara tidak mengenalnya.
Namun pria itu justru menatapnya dengan tatapan penuh kesedihan.
“Aku adalah orang yang pernah bekerja untuk ibumu.”
Clara membeku.
“Ibuku?”
Pria itu mengangguk.
“Namanya Amara.”
Clara merasakan dadanya berdebar.
“Amara?”
“Nama lengkapnya Amara Evellyn.”
Clara hampir kehilangan keseimbangan.
“Evellyn?”
Fedro langsung memegang bahunya.
“Clara.”
Pria itu melanjutkan.
“Ibumu bukan orang biasa.”
“Siapa dia sebenarnya?”
“Dia adalah pemilik perusahaan Evellyn sebelum ayahmu mengambil alih.”
Clara mengerutkan kening.
“Tidak mungkin.”
“Banyak orang ingin menguasai perusahaan itu. Ibumu menolak menyerah.”
Raka bertanya,
“Lalu apa yang terjadi?”
Pria itu menunduk.
“Amara menghilang setelah mengetahui adanya pengkhianatan dari orang terdekatnya.”
Clara menggenggam kunci tersebut.
“Siapa yang mengkhianatinya?”
Pria itu menatap Clara.
“Orang yang sama yang sekarang memburu kalian.”
“Bibi Elena?”
Pria itu menggeleng.
“Bukan.”
Clara terkejut.
“Bukan Elena?”
“Dia memang terlibat. Tapi bukan dia yang memulai semuanya.”
Fedro menatap tajam.
“Lalu siapa?”
Pria itu menghela napas.
“Orang yang kalian cari sudah mengawasi Clara sejak dia masih kecil.”
Clara merasa merinding.
“Siapa?”
Pria itu belum sempat menjawab.
Terdengar suara motor lain dari kejauhan.
Pria tersebut langsung menoleh.
“Mereka datang.”
Fedro bersiap.
“Siapa?”
“Orang-orang Elena.”
Raka segera mengambil posisi.
“Clara, mundur.”
Namun Clara justru menggenggam kunci itu erat.
“Aku tidak akan lari.”
Fedro menatapnya.
“Aku tahu.”
Beberapa motor mulai memasuki area tersebut.
Pria yang tadi berbicara dengan Clara segera berkata,
“Dengarkan aku. Ada sebuah rumah tua di ujung jalan.”
“Untuk apa?”
“Di sana ada sesuatu yang ditinggalkan ibumu.”
“Apa?”
“Surat.”
Clara menatapnya.
“Surat dari ibu?”
Pria itu mengangguk.
“Jika kamu membacanya, kamu akan mengetahui alasan sebenarnya mengapa ayahmu memilih menghilang.”
Clara menahan napas.
“Di mana rumah itu?”
Pria tersebut menunjuk ke arah jalan gelap.
“Pergilah sekarang.”
Fedro langsung menarik tangan Clara.
“Kita pergi.”
Raka mengikuti mereka.
Namun sebelum Clara masuk ke mobil, ia menoleh kepada pria tersebut.
“Siapa namamu?”
Pria itu tersenyum tipis.
“Namaku Arman.”
“Arman…”
“Dan satu hal lagi.”
“Apa?”
Arman menatap Clara dalam-dalam.
“Jangan percaya siapa pun yang mengatakan ibumu sudah meninggal.”
Clara membeku.
“Apa maksudmu?”
Arman tidak menjawab.
Ia langsung menaiki motornya dan melaju ke arah berlawanan.
Beberapa detik kemudian, suara motor para pengejar semakin dekat.
Fedro masuk ke mobil.
“Pegang erat.”
Clara mengangguk.
Mobil melaju meninggalkan tempat tersebut.
---
Tidak lama kemudian, mereka tiba di sebuah rumah tua.
Rumah itu terlihat kosong.
Cat dindingnya sudah mengelupas.
Pintu kayunya hampir roboh.
Clara turun perlahan.
“Aku pernah melihat rumah ini.”
Fedro menatapnya.
“Dalam ingatanmu?”
Clara mengangguk.
“Ya.”
Raka membuka pintu.
Mereka masuk.
Di ruang utama hanya terdapat sebuah meja tua.
Di atasnya ada kotak kayu.
Clara berjalan mendekat.
Tangannya gemetar ketika melihat ukiran burung yang sama seperti pada liontinnya.
“Ini milik ibuku.”
Fedro berdiri di belakangnya.
“Buka.”
Clara membuka kotak itu.
Di dalamnya terdapat sebuah surat dan sebuah foto.
Foto seorang wanita cantik berambut panjang.
Clara menatapnya.
Air matanya langsung jatuh.
“Aku mengenalnya…”
Fedro terkejut.
“Dari mana?”
“Dalam mimpiku.”
Clara menyentuh foto itu.
“Ini ibuku.”
Ia membuka surat.
Tulisan tangan yang tertera membuat tangannya gemetar.
Untuk putriku, Clara.
Clara menutup mulutnya.
“Ibu…”
Ia mulai membaca.
> Jika suatu hari kamu membaca surat ini, berarti rahasia yang selama ini kami sembunyikan sudah mulai terbuka.
Papi dan Mami tidak pernah meninggalkanmu. Kami melakukan semua ini untuk menyelamatkanmu.
Ada seseorang yang ingin menggunakanmu untuk membuka rahasia keluarga Evellyn.
Jangan percaya kepada Elena.
Tetapi jangan pula menganggap semua orang yang melawannya sebagai sekutu.
Karena orang yang paling berbahaya adalah seseorang yang selama ini berada di dekatmu.
Clara berhenti membaca.
“Lagi-lagi…”
Fedro menatap surat tersebut.
“Ada halaman berikutnya.”
Clara membalik kertas.
Namun halaman terakhir hanya berisi satu kalimat.
“Temui aku di tempat di mana laut bertemu langit.”
Clara mengerutkan kening.
“Di mana itu?”
Raka mengambil foto yang ada di dalam kotak.
Di belakang foto tertulis sebuah alamat.
Sebuah alamat rumah di tepi laut.
Clara menatap Fedro.
“Kurasa kita harus pergi ke sana.”
Fedro mengangguk.
Namun sebelum mereka keluar, ponsel Clara berdering.
Nomor tidak dikenal.
Ia mengangkatnya.
Tidak ada suara.
Kemudian terdengar suara wanita.
Lembut.
Sangat lembut.
Suara yang entah mengapa membuat hati Clara bergetar.
“Clara…”
Clara membeku.
“Siapa?”
Suara itu kembali terdengar.
“Maafkan Mami.”
Air mata Clara langsung mengalir.
Ia mengenali suara itu.
Meski samar.
Meski hanya dari ingatan masa kecilnya.
“Mami?”
Sambungan langsung terputus.
Clara menatap layar ponselnya dengan tangan gemetar.
Fedro mendekat.
“Clara?”
Clara menatapnya.
“Ibuku masih hidup.”
Raka terdiam.
Di luar rumah, angin malam bertiup semakin kencang.
Sementara jauh di tempat lain, seorang wanita berdiri di tepi jendela sambil memegang foto Clara.
Wanita itu tersenyum dengan mata berkaca-kaca.
“Anakku…”
Ia menarik napas panjang.
“Sudah waktunya kita bertemu lagi.”
Bersambung…