NovelToon NovelToon
SISTEM GACHA RAJA KULINER

SISTEM GACHA RAJA KULINER

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Galang Kurniawan, seorang pedagang makanan kecil bernasib sial yang hidupnya selalu jalan di tempat. Di malam terburuk dalam hidupnya ketika gerobaknya dihancurkan dan ia hampir menyerah, Galang tiba-tiba membangkitkan Sistem Kuliner Acak yang memaksanya berjualan di lokasi-lokasi aneh dengan hadiah gacha yang fantastis. Dimulai dari berjualan di rumah sakit, Galang harus menghadapi berbagai macam pelanggan baru, persaingan bisnis yang kotor, koki arogan yang meremehkannya, hingga tantangan memasak bahan-bahan langka dari sistem.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Galang menyipitkan matanya merasa ada sesuatu yang sangat janggal dari alasan mendadak tersebut.

"Pihak lain siapa Pak? Bukannya bapak tadi bilang ruko ini kosong dan siap sewa?" kejar Galang mulai curiga.

Pak Yono menghela napas panjang dan menatap Galang dengan tatapan penuh rasa kasihan.

"Maaf Mas, saya cuma bawahan yang menjalankan perintah atasan," bisik Pak Yono pelan agar tidak ada yang dengar.

"Bos saya bilang ada pengusaha kuliner besar bernama Pak Wijaya yang memborong sewa ruko ini barusan."

"Beliau juga mengancam akan memutus kontrak dengan agen kami kalau sampai kami menyewakan tempat untuk Mas Galang."

Dada Galang terasa panas mendengar nama Wijaya kembali disebut sebagai penghalang jalannya.

"Orang tua sombong itu ternyata benar-benar melaksanakan ancamannya dengan cepat," batin Galang sambil mengepalkan tangan kanannya.

"Begitu ya Pak, ya sudah tidak apa-apa, saya cari tempat lain saja," jawab Galang berusaha menyembunyikan kekesalannya.

Galang keluar dari ruko tersebut dan kembali mengendarai motor gerobaknya mencari lokasi lain.

Selama tiga jam berikutnya, Galang mendatangi empat ruko kosong di berbagai lokasi strategis yang berbeda.

Namun hasilnya selalu sama persis dan berakhir dengan penolakan konyol.

Ada agen yang beralasan rukonya bocor, ada yang bilang harga sewanya mendadak naik tiga kali lipat, dan ada yang langsung kabur melihat nama Galang.

Kekuasaan dan jaringan uang Wijaya ternyata menyebar luas ke seluruh agen properti besar di kota itu.

"Sialan, bapak tua itu berniat memblokir semua tempat agar aku terus membusuk di jalanan," umpat Galang menendang ban motornya.

Bugh.

Galang duduk lesehan di pinggir trotoar yang sepi sambil meminum sebotol air mineral dingin.

Langit sudah menunjukkan waktu makan siang dan ia belum mendapatkan satu pun kepastian tempat.

Semangatnya yang tadi pagi menyala terang kini perlahan mulai meredup dihantam realitas kejamnya dunia bisnis.

"Kalau begini terus, aku tidak akan pernah bisa naik kelas dari sekadar pedagang kaki lima," keluh Galang pada dirinya sendiri.

Tin tin.

Suara klakson mobil membuyarkan lamunan Galang dari pinggir jalan.

Sebuah mobil sedan perak yang sangat ia kenali menepi tepat di depan gerobaknya.

Kaca jendela mobil turun dan menampilkan wajah cantik Nadia yang sedang tersenyum cerah.

"Mas Galang, ngapain siang-siang bolong duduk di trotoar begini? Tidak jualan?" sapa Nadia dengan nada riang.

Galang buru-buru berdiri dan membersihkan celananya dari debu jalanan.

"Eh Mbak Nadia, kebetulan sekali lewat sini, mau makan siang ya Mbak?" tanya Galang balik mengalihkan pembicaraan.

Nadia turun dari mobilnya dan memakai kacamata hitam untuk menghalau terik matahari.

"Aku sedang istirahat makan siang sambil mau mencari mesin fotokopi besar, tapi lihat kamu wajahnya kusut begitu kenapa?" tanya Nadia dengan tatapan menyelidik.

Galang menggaruk kepalanya yang tidak gatal merasa sedikit ragu untuk bercerita.

Tapi ia sadar bahwa Nadia adalah orang bisnis yang mungkin mengerti cara menghadapi masalah seperti ini.

"Saya sedang cari ruko untuk disewa Mbak, uang tabungan saya sudah cukup untuk buka kedai permanen," cerita Galang akhirnya.

"Wah itu kabar bagus dong, masa koki sekelas kamu harus terus-terusan kena debu jalanan," puji Nadia bertepuk tangan pelan.

"Masalahnya semua agen properti di kota ini menolak menyewakan tempatnya untuk saya Mbak," keluh Galang dengan nada berat.

Nadia mengerutkan keningnya tidak mengerti.

"Loh kok bisa? Padahal kamu mau bayar lunas kan?" tanya Nadia penasaran.

"Ini ulah Pak Wijaya pemilik Restoran Bintang Samudera, dia mengancam agen properti agar memblokir saya," jelas Galang jujur.

Mulut Nadia sedikit terbuka mendengar nama pengusaha raksasa tersebut ikut campur.

"Pak Wijaya yang restoran mewahnya ada di mana-mana itu? Kamu punya masalah apa sama beliau Mas?" tanya Nadia terkejut.

"Kemarin sore orangnya datang langsung memaksaku menjual resep nasi goreng dan sup ayamku seharga lima puluh juta," Galang mulai menceritakan kejadian di kampus.

"Aku tolak mentah-mentah tawarannya karena itu resep warisan, eh dia malah marah dan mengancam mematikan bisnisku."

Nadia menggelengkan kepalanya merasa miris dengan kelakuan pengusaha kaya tersebut.

"Cara kotor khas pengusaha monopoli yang takut tersaingi oleh pedagang kecil potensial," komentar Nadia dengan nada sinis.

Nadia melipat kedua tangannya di dada dan tampak berpikir keras selama beberapa detik.

"Kalau agen properti tidak berani menyewakan tempat, berarti kamu harus sewa dari pemilik perorangan langsung Mas," saran Nadia memberikan solusi.

"Saya sudah cari keliling kota Mbak, rata-rata ruko strategis itu diserahkan pengelolaannya ke agen properti besar," keluh Galang lagi.

Mata Nadia tiba-tiba berbinar terang seolah baru saja mendapatkan ide cemerlang.

"Tunggu dulu, keluarga ibuku punya sebuah bangunan tua peninggalan kakek yang letaknya lumayan dekat dari kampus Nusantara," ucap Nadia bersemangat.

Galang menatap Nadia dengan secercah harapan yang kembali muncul.

"Bangunan tua? Apakah layak untuk dijadikan kedai makan Mbak?" tanya Galang penasaran.

"Bentuknya lumayan besar seperti rumah lama bergaya belanda, halamannya juga luas untuk parkiran pelanggan," jelas Nadia sambil tersenyum lebar.

"Sudah lima tahun tempat itu kosong tidak terurus karena aku sibuk kerja dan orang tuaku di luar kota."

"Kalau kamu mau, kamu bisa sewa tempat itu dariku tanpa perantara agen properti mana pun."

Jantung Galang berdebar kencang mendengar tawaran emas dari wanita di depannya ini.

"Serius Mbak? Mbak Nadia tidak takut diancam sama Pak Wijaya juga nantinya?" tanya Galang memastikan.

Nadia tertawa pelan dan mengibaskan tangannya dengan gaya cuek.

"Pak Wijaya itu cuma pengusaha kuliner, dia bukan bosku di kantor, jadi aku tidak punya alasan untuk takut padanya," jawab Nadia dengan sangat percaya diri.

"Lagi pula, aku percaya masakanmu itu bisa membuat bangunan tua kakekku kembali hidup dan ramai."

"Bagaimana Mas? Mau cek lokasinya sekarang juga bareng aku?" tawar Nadia sambil menunjuk mobilnya.

Galang langsung menganggukkan kepalanya dengan sangat mantap tanpa ragu sedikit pun.

"Mau Mbak! Mari kita berangkat sekarang juga," seru Galang dengan semangat yang kembali terbakar.

Ia tidak sabar melihat seperti apa calon kerajaan kulinernya yang baru.

Dan yang pasti, ia akan membuktikan pada Wijaya bahwa tidak ada satu pun orang yang bisa menghentikan langkahnya dengan uang.

1
Dhewa Shaied
lanjut thor
Khalita Aazahra
lanjut
Wega Luna
perlu dicoba tuh ,,,aku suka daging bekicot yg disalah itu waktu hamil dulu bisa habis 10 tusuk langsung makan , berarti nasi goreng ala seafood yh
Nissa Safira: Bener juga sih... ayam lebih mahal dari bekicot 🤣 Oke deal, nanti kalau Galang bagi resep Nasi Goreng Bekicot aku share di sini. Mbak yang pertama cobain di rumah ya, kabarin kalau bocil-bocil pada ketagihan🤣🤣
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!