NovelToon NovelToon
I Love You, Kak

I Love You, Kak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Basket / Cintamanis / Teen
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Anggun Kartika Mundikasih

Dahayu Nayanika Arutala (Naya), siswi baru yang tidak pernah terkesan pada popularitas, harus berulang kali berhadapan dengan Narain Shankara Naradhipta (Nara) — bintang basket sekolah sekaligus seniornya di SMA yang ia anggap sombong dan menyebalkan. Namun, di balik pertengkaran dan saling ejek, Naya menemukan sosok Nara yang sebenarnya, seorang pemuda yang tertekan oleh tuntutan keluarga dan hanya dapat menjadi dirinya sendiri ketika bersamanya. Saat kedekatan mereka memicu penolakan Reksa - Kakak lelaki Naya dan kemarahan para penggemar Nara. Naya harus memilih tetap menyangkal perasaannya atau memperjuangkan cinta kepada orang yang dahulu paling ia benci, sebelum pertandingan terakhir dan kelulusan memisahkan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggun Kartika Mundikasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TERLALU SERING UNTUK DISEBUT KEBETULAN (2)

Beberapa hari kemudian, Nara mulai kembali muncul di perpustakaan. Semakin lama yang awalnya Naya malas berkomunikasi dengan Nara akhirnya menyerah karena lelah menghindar dan mulai merespon dengan baik Nara. Rasanya ia tidak adil kepada Nara karena ternyata dirinya mulai melihat sisi berbeda dari seorang Nara.

Di perpustakaan, Nara tidak dikelilingi teman-temannya termasuk Ekky sahabatnya. Tidak ada para penggemar yang meminta foto. Tidak ada sorakan penonton atau pujian dari pelatih. Ia hanya seorang siswa kelas dua belas yang sedang fokus membangun masa depannya.

Naya mengetahui bahwa Nara sering berada di perpustakaan karena rupanya ia juga membutuhkan ketenangan. Jadwal latihan yang padat dan interaksi dengan banyak orang akhir-akhir ini membuat Nara lelah dan ingin menjauh sejenak dan pilihannya jatuh di perpustakaan, tempat dimana ketenangan dan kesunyian adalah hal utama jika tidak mau dipelototi atau diusir oleh pustakawan karena berisik.

“Kenapa tidak belajar bersama teman-temanmu Kak, apakah mereka setakut itu dengan gedung yang bernama perpustakaan?” tanya Naya suatu hari.

Nara sedang mengerjakan latihan matematika. Ekspresinya terlihat jauh lebih serius daripada ketika berada di lapangan.

“Mereka bukan takut, tapi mereka semua sudah memiliki rencana masing-masing untuk masa depan mereka. Sedangkan aku, meskipun aku mendapatkan beasiswa karena kegigihanku dalam hal akademis dan non akademis, terima kasih untuk SMA Perguruan TA yang memberikan beasiswa tidak hanya melihat background keluarga namun juga talenta yang dimiliki oleh murid-muridnya, bukan berarti aku bisa seenaknya. Bisa dipecat jadi anak oleh orang tuaku dan disuruh gantung sepatu basket terlalu dini jika tahu nilai akademisku turun.”

Naya menahan senyumnya ketika mendengarkan alasan Nara. “Kak Nara bisa ikut bimbingan belajar.”

“Aku tidak punya waktu.”

“Bisa meminta bantuan guru.”

Nara berhenti menulis dan melihat kedua tangannya serta menempelkannya di dada sambil menyenderkan punggungnya ke punggung kursi yang didudukinya, “Apa lagi itu, harga diriku bisa terjun bebas karena merasa malu seolah tak layak mendapatkan beasiswaku saat ini.”

Naya mendecakkan lidah. “Terima kasih jawaban sarkasnya Kak karena kembali mengingatkanku bahwa aku tidak sepintar Kakak yang bisa menyeimbangkan antara akademis dan non akademis sehingga masih membutuhkan bimbingan dari guru-guru.”

“Hei, kenapa jadi larinya kesana sih?” Protes Nara sedikit.

“Jadi ini alasan Kakak terus muncul?” Potong Naya untuk menghindari memperpanjang protes Nara.

“Sebagian.”

“Sebagian lainnya?”

Nara menatapnya cukup lama hingga Naya merasa harus mengalihkan pandangan.

“Aku penasaran.”

“Penasaran tentang apa?”

“Kenapa kamu tidak menyukaiku.”

Naya tertawa kecil, nyaris tidak percaya. “Kakak serius?”

“Sangat.”

“Bukankah aku sudah menjelaskannya?”

“Kamu bilang aku menyebalkan.”

“Dan terlalu narsis.”

“Selain itu?”

“Cara Kakak memperlakukan para penggemar.”

Nara mengernyit. “Aku tidak pernah memperlakukan mereka dengan buruk.”

“Kakak tidak menghina mereka secara langsung. Tapi Kakak menikmati perhatian mereka, kemudian menertawakannya di belakang bersama teman-teman Kakak.”

“Aku hanya bercanda.”

“Bagi Kakak mungkin bercanda. Bagi orang yang benar-benar mengagumi Kakak, itu bisa menyakiti mereka. Kak Nara mungkin tidak sadar bahwa bisa jadi kehadiran Kak Nara di kehidupan mereka dapat memberikan motivasi untuk mereka menjadi lebih baik dalam hal apapun seperti Kak Nara.”

Nara mendadak terdiam. Naya mengira ia akan membela diri. “Jadi selama ini kamu menganggapku seperti itu?”

“Maksudnya?” Kali ini giliran Naya yang bingung menanggapi ucapan Nara.

“Kenapa tidak pernah ada yang bilang jika aku sudah terlalu berlebihan menanggapi tentang kepopularitasanku?”

“Karena mereka segan dengan Kak Nara dan segudang prestasi yang Kak Nara peroleh untuk mengharumkan sekolah ini. Alangkah bijaknya kelebihan yang Kak Nara miliki itu digunakan untuk menjadi contoh yang baik bagi junior-junior Kak Nara dan Kak Nara meninggalkan legacy yang baik setelah lulus dari sekolah ini.”

Kata-kata itu membuat Nara semakin terdiam cukup lama. Ia merasa tertampar dengan ucapan juniornya yang begitu blak-blakan diucapkannya. Hal yang selama ini tak didapatkannya dari para juniornya yang lain selain teriakan kekaguman seolah tak ada kritik yang harus diterimanya untuk perbaikan dirinya. Hei, dia bukan manusia sempurna yang anti kritik lho. Terima kasih kepada Naya telah menyadarkan tentang itu semua.

***

Sejak percakapan tersebut, sesuatu berubah. Nara masih datang ke perpustakaan, tetapi tidak lagi terlalu banyak menggoda. Ia lebih sering membawakan roti atau minuman untuk Naya, meskipun selalu beralasan membeli terlalu banyak.

Perubahan lainnya terlihat di luar perpustakaan. Nara mulai menerima hadiah dari para penggemarnya dengan lebih tulus. Ia mengucapkan terima kasih tanpa memamerkannya kepada teman-teman. Ketika seseorang meminta foto, ia tidak lagi sibuk mencari sudut wajah terbaik. Bahkan beberapa kali ia terlihat membantu murid kelas sepuluh membawa perlengkapan olahraga untuk persiapan latihan basket.

Naya tidak tahu apakah perubahan itu hanya sementara. Ia juga tidak tahu apakah perkataannya benar-benar menjadi alasan Nara berubah. Namun, sedikit demi sedikit, rasa hormat yang pernah hilang mulai kembali.

Meski demikian, Naya masih menghindarinya di tempat-tempat ramai. Ia tidak ingin menjadi bahan pembicaraan. Kedekatan dengan pemain basket terkenal seperti Nara selalu mengundang perhatian. Cukup mereka bertemu di perpustakaan, tempat yang tenang dan jauh dari kerumunan hingga sampai suatu hari, Nara tidak datang.

Naya berusaha tidak peduli. Mungkin ada latihan tambahan atau rapat tim. Namun, keesokan harinya, kursi di hadapannya tetap kosong. Hari ketiga pun demikian.

Anehnya, perpustakaan terasa berbeda. Terlalu sunyi.

Tidak ada seseorang yang sengaja membalik halaman buku dengan keras agar diperhatikan. Tidak ada roti cokelat keju dan sekotak susu putih yang diletakkan di atas meja dengan alasan mejanya sempit atau membeli terlalu banyak. Tidak ada pertanyaan-pertanyaan bodoh yang sebenarnya hanya digunakan untuk memulai percakapan.

Naya membenci kenyataan bahwa ia mulai menunggu. Pada hari keempat, ia mendengar kabar bahwa Nara mengalami cedera saat pertandingan persahabatan. Kakinya terkilir cukup parah dan ia harus beristirahat selama beberapa minggu.

“Hei, kamu sudah dengar berita terbaru tentang Kak Nara?” Tanya Kimi dalam perjalan pulang bersama Naya dengan angkot.

“Enggak, aku kan bukan kamu yang hobi meng-update informasi apapun di sekolah,” Naya menanggapi malas sambil tetap membaca buku. Apa kepalanya tidak pusing ya membaca buku di angkot?

“Jadi orang jangan terlalu apatis kenapa? Kamu kan bukan ikan yang hidupnya dalam lautan imajinasi.”

“Bukan apatis, tapi realistis, ngapain juga aku harus tahu tentang kehidupan orang yang dikenal hanya sebatas senior di sekolahan.”

“Ah susahlah ngomong sama kamu, tapi setidaknya dengarkan ceritaku dulu. Aku butuh tempat sampah yang harus kutuangkan dan kamu adalah orang yang tepat untuk itu karena paling sabar menghadapiku.” Ujar Kimi seenak jidatnya.

“Sialan, aku dianggap tempat sampah olehmu!” Naya menepuk kepala Kimi dengan buku yang digenggamnya pelan.

“Aduh, pokoknya dengerin saja.” Pinta Kimi. “Pada saat laga tanding persahabatan dengan SMA Cakra Mandala, Kak Nara mengalami cidera sehingga tidak dapat melanjutkan pertandingan dan berakhir dengan kekalahan lima skor dari lawan tandingnya.”

Nata terdiam dan menutup bukunya. Namun matanya tak dapat berbohong terbelalak sempurna. Hatinya tercubit sakit ketika mendengarkan cerita Kimi namun dengan pintar ditutupinya karena yang Kimi tahu bahwa dirinya tidak terlalu suka dengan Nara. Entah mengapa ia tiba-tiba menjadi khawatir tentang keadaan Nara.

“Terus kondisinya sekarang bagaimana?” Tanya Naya.

“Katanya tidak perduli cerita tentang Kak Nara, gimana sih?”

“Siapa suruh tadi kamu cerita tentang dia, aku kan jadi ikutan terbawa suasana.” Elak Naya.

“Dia diminta istirahat total entah seminggu atau dua minggu namun tetap diperbolehkan mengunjungi klub basket.”

“Oo, begitu.” Naya menghela napas sedikit lega. Namun besok ia harus memastikan sendiri bahwa seniornya itu baik-baik saja. Hal yang entah mengapa ia sendiri pun terkejut bisa memiliki niat tersebut.

***

1
Wawan
Salam kenal untuk Naya 💪✍️
Ayunda Permata
Sukses Selalu Thor 🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!