Evelyn Noire terbangun di dalam novel thriller psikologis yang pernah ia baca. Bukan sebagai tokoh utama.
Bukan juga pemeran penting. Melainkan anggota keluarga yang ditakdirkan dibantai dengan sadis oleh seorang psikopat tak tersentuh.
Altair Varellion.
Mahasiswa sempurna di mata dunia. Tampan, cerdas, tenang.
Namun di balik senyumnya, tersembunyi monster yang mengendalikan pembunuhan berantai, perdagangan manusia, dan dendam berdarah yang diwariskan turun-temurun.
Dalam novel asli, Evelyn mati mengenaskan. Dan lebih buruknya lagi, Altair tidak pernah gagal memburu targetnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luxw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal Baru
Walaupun kepalanya dipenuhi kepanikan dan berbagai kemungkinan buruk, Evelyn berusaha memaksa dirinya tenang. "Oke... panik boleh. Mati jangan dulu."
Ia menarik napas panjang lalu mulai melihat sekitar kamar. "Kalau gue beneran masuk ke tubuh orang lain... berarti harusnya ada HP."
Dan benar saja. Di atas meja dekat kasur, sebuah smartphone putih keluaran terbaru tergeletak manis. Mata Evelyn langsung berbinar sedikit.
"Wih... emang anak sultan." Ia buru-buru mengambil ponsel itu lalu mencoba menyalakannya. Layar menyala terang. Beberapa detik kemudian—
klik.
HP itu terbuka otomatis menggunakan sidik jarinya.
Evelyn langsung menatap tangannya sendiri. "...gila, enak juga punya fingerprint cantik." Tanpa membuang waktu, ia langsung membuka aplikasi pesan. Dan yang pertama muncul adalah chat dari seseorang bernama:
Mommy
Jumlah pesannya... banyak sekali. Sebagian besar bahkan baru dikirim beberapa menit lalu. Evelyn mulai membaca satu per satu.
[Sayang, Jangan pulang larut malam.]
makan.] [Sayang... Jangan lupa
[Sayang.. Jangan terlalu dekat dengan orang asing.]
[Pakai masker kalau keluar.]
[Kalau ada apa-apa langsung hubungi Mommy.]
[Eve jangan lupa minum vitamin.]
[Eve sudah bangun belum?]
[Eve?]
[Eve sayang?]
*
Evelyn terdiam cukup lama. Lalu perlahan ekspresinya berubah aneh. "...kok wholesome banget." Ia melanjutkan scroll ke bawah.
Dan semua balasan Evelyn Adreena hampir selalu sama.
[Iya Mommy.]
[Baik Mommy.]
[Sudah.]
[Oke.]
Singkat. Rapi.Penurut.
Sangat berbeda dengan dirinya yang biasanya membalas chat pakai stiker absurd dan typo tiga paragraf. Evelyn menatap layar ponsel itu lama. Dadanya terasa sedikit aneh. "Evelyn Adreena..." Gadis itu tampaknya hidup dengan baik. Punya keluarga. Punya orang tua yang perhatian. Dan jelas dicintai. Namun semakin membaca pesan itu...
Evelyn justru semakin bingung. "Dia nggak tahu?" Keningnya mengernyit. "Apa keluarga ini nggak sadar mereka lagi jadi target psikopat?" Kalau mengingat isi novel, keluarga Danesha bukan keluarga biasa. Mereka kaya. Berpengaruh.
Dan menjadi salah satu target utama Altair Varellion karena konflik lama yang bahkan Evelyn sendiri lupa detailnya. Namun dari chat ini...
tidak terlihat tanda-tanda ketakutan sedikit pun. Mereka masih hidup normal. Masih saling mengirim pesan perhatian. Masih mengkhawatirkan hal-hal kecil seperti masker dan jam pulang. Evelyn menggigit bibir pelan.
"Berarti... semua belum terjadi." Ingatan milik Evelyn Adreena perlahan muncul lagi di kepalanya. Saat ini kedua orang tuanya sedang berada di luar negeri untuk urusan bisnis keluarga.
Dan selama itu... Evelyn Adreena tinggal sendirian di mansion besar ini. "... sendirian?"
Evelyn langsung menoleh ke sekitar kamar yang tiba-tiba terasa jauh lebih besar dan sunyi. "Wah jangan bilang gue tinggal sendirian di rumah horror segede ini..."
Namun..perutnya tiba-tiba berbunyi.
GRUUUKK.
Hening.
Evelyn memegang perutnya pelan. "...yaudah takutnya nanti aja." Karena rasa lapar jauh lebih kuat daripada krisis identitas dan ancaman psikopat, Evelyn akhirnya bangkit dari kasur. Berbekal ingatan samar milik tubuh aslinya, ia berjalan keluar kamar.
Lorong mansion itu panjang dan elegan. Lantainya mengilap. Lampu gantungnya cantik. Dan suasananya... terlalu sepi. Langkah kaki Evelyn menggema pelan.
Tok.
Tok.
Tok.
"Ini rumah apa museum..." Akhirnya ia sampai di ruang makan. Dan matanya langsung melebar.
"WOAH.” Meja makan panjang di sana sudah dipenuhi berbagai makanan. Roti panggang. Sup hangat. Salad. Buah-buahan. Bahkan ada dessert cantik yang terlihat mahal. Namun... tidak ada siapa pun di sana. Tidak ada pelayan. Tidak ada koki. Tidak ada suara manusia sama sekali.
Hanya kesunyian.
Evelyn perlahan duduk di kursi sambil melihat sekitar bingung. Dan dari ingatan Evelyn Adreena, ia akhirnya tahu. Memang seperti inilah kehidupan sehari-hari gadis itu. Para pelayan hanya datang pagi untuk membersihkan rumah, memasak, dan mengerjakan tugas mereka.
Setelah selesai...
mereka semua harus pergi. Tidak boleh ada yang tinggal di mansion. Dan itu adalah aturan langsung dari ayah Evelyn Adreena. Evelyn langsung mengernyit.
"...aneh banget." Rumah sebesar ini. Tapi dibiarkan kosong. "Emang dia nggak kesepian apa..."
Namun sebelum sempat berpikir lebih jauh- perutnya kembali berbunyi.
GRUUUKK.
Evelyn langsung menarik kursinya. "Oke pembahasan trauma keluarga kita pending dulu." Tanpa malu-malu, ia langsung mulai makan.
Dan satu gigitan pertama langsung membuat matanya berbinar. "...WOAH EWNWAK."
Lima menit kemudian-Evelyn sudah makan seperti orang yang baru keluar dari pelatihan militer. "Ya Tuhan... Ini bacon apa berkah..."
Ia bahkan hampir menangis saat makan dessert. "Dunia ini emang gila...tapi makanannya bintang lima."
Karena rasa penasarannya jauh lebih besar dibanding rasa takutnya... Evelyn akhirnya mengambil sebuah keputusan yang menurutnya sangat masuk akal.
"Oke."
Ia berdiri sambil menunjuk dirinya sendiri di cermin sekembalinya dari ruang makan.
"Kalau gue memang bakal mati..."
Tatapannya menyipit dramatis. "...minimal gue mati dalam keadaan kaya." Dan begitulah. Alih-alih membuat rencana bertahan hidup seperti protagonis cerdas pada umumnya-
Evelyn justru memutuskan jalan-jalan. "Yok kita ke mall." Ia mengambil ponsel lalu membuka aplikasi e-wallet dengan santai. Namun tepat saat angka saldo muncul—
hening.
Tubuh Evelyn membeku.
Matanya berkedip dua kali. Lalu tiga kali. Mulutnya perlahan terbuka.
Rp563.900.050.400
Rahangnya langsung jatuh.
"...lim...lima ratus...
MILIAR?!" Ia langsung mendekatkan layar HP ke wajahnya seperti takut salah baca. Namun angka itu tetap sama. Tidak berubah. Evelyn langsung menjerit kecil sambil memegangi kepala.
"ANJIR INI DUIT APΡΑ Masih ada tabungan lain.
Investasi. Deposito. Saham.
ANGGARAN NEGARA?!"
Tangannya gemetar. “Ini baru satu akun?!"
Ia buru-buru mengecek
rekening lain. Dan benar saja.
Bahkan ada kartu hitam eksklusif yang limitnya bikin orang miskin langsung vertigo.
Evelyn langsung terduduk pelan di pinggir kasur. "...gue... gue bisa pensiun sekarang."
Matanya mulai berkaca-kaca haru. "Ya Tuhan...Terima kasih transmigrasi..." Untuk pertama kalinya sejak bangun di dunia ini, Evelyn merasa hidup masih punya sedikit harapan.
"Oke." Ia berdiri penuh semangat. "Gas poya-poya." Lalu 66 ekspresinya berubah muram. '...mungkin sebelum mati part dua."
Namun tetap saja, ancaman psikopat tidak bisa mengalahkan jiwa impulsif mantan budak korporat.
Beberapa menit kemudian, Evelyn sudah siap pergi.
Ia memilih pakaian paling sederhana yang ada di lemari: hoodie oversized putih, celana hitam longgar, sepatu sneakers, dan masker hitam menutupi setengah wajahnya.
Sederhana. Namun tetap terlihat mahal. Karena bahkan hoodie polosnya saja kemungkinan lebih mahal dari biaya kos tahunan orang lain. Evelyn menatap dirinya di cermin. "...ini outfit orang kaya ya."
"Beda banget sama hoodie diskon gue dulu." Setelah itu ia berjalan keluar mansion menuju garasi. Dan saat pintu garasi terbuka-
hening. "...What the...." Dua mobil mewah terparkir elegan di sana. Satu sedan putih mengilap. Dan satu mobil sport hitam dengan desain tajam yang terlihat seperti kendaraan pemeran utama mafia.
Evelyn langsung berdiri mematung. Tangannya perlahan menutup dada. "Ini garasi apa pameran auto show..." Ia mendekati mobil sport hitam itu perlahan seperti orang desa pertama kali masuk mall.
"...cakep banget." Beberapa detik kemudian ia menoleh kiri kanan gugup.
"Ini boleh dipake nggak sih..." Namun ingatan Evelyn Adreena perlahan muncul. Mobil itu memang miliknya.
Dan karena otak tubuh aslinya masih menyimpan ingatan mengemudi... akhirnya Evelyn nekat masuk. Begitu mesin mobil menyala-
VRRMMMM.
Evelyn langsung membelalak.
"WOAH."
Matanya berbinar seperti anak kecil. "Ini suara mesin apa suara surga..." Tak lama kemudian, mobil hitam itu keluar perlahan dari mansion.
Anehnya... semua terasa begitu mudah. Tubuh Evelyn Adreena memang sudah terbiasa mengemudi. Walaupun jiwa di dalamnya tetap norak tiap lima detik. "Yaampun... setirnya ringan banget..."
"Mobil gue dulu belok dikit bunyi kretek-kretek." Karena Evelyn Adreena adalah anak rumahan, sebenarnya ia sangat jarang keluar sendirian.
Namun Evelyn Noire jelas berbeda. Berbekal GPS dan rasa percaya diri berlebihan, ia langsung melaju menuju pusat kota. Dan tujuan pertamanya adalah-mall terbesar di kota itu. Sepanjang perjalanan, Evelyn hanya bisa melongo melihat suasana kota. Gedung-gedung tinggi berdiri megah. Layar digital raksasa memenuhi jalanan. Mobil mahal berlalu-lalang.
Dan seluruh kota terasa seperti dunia drama elite yang biasa ia lihat di televisi. "Gila..."
Ia menatap keluar jendela kagum. "Ini beneran dunia novel..." Namun semakin melihat kota itu... semakin terasa aneh di dadanya.
*
*
Tiga puluh menit kemudian, mobil sport hitam itu akhirnya memasuki area basement sebuah mall mewah yang berdiri megah di pusat kota. Lampu-lampu putih terang memantul di lantai mengilap, sementara deretan mobil mahal berjajar rapi di sana.
Evelyn mematikan mesin mobil perlahan. Hening sesaat.
Lalu ia melihat sekeliling basement dengan ekspresi kagum. "...gila."
"Ini basement aja lebih bagus dari apartemen gue dulu." Ia turun dari mobil sambil membawa tas kecil dan ponselnya. Sepatu sneakers putihnya berdecit pelan di lantai saat ia berjalan menuju lift.
Beberapa orang sempat melirik ke arahnya. Bukan hanya karena wajah cantiknya walau tertutup masker- tetapi juga karena aura “anak orang kaya" yang secara tidak sadar keluar dari tubuh Evelyn Adreena.
Namun Evelyn sendiri sama sekali tidak sadar. Di dalam lift, ia menatap pantulan dirinya di cermin. "Masih aneh banget lihat muka ini..."
Ia menyentuh pipinya pelan.
"Cakep sih...tapi kok bukan muka gue."
Pintu lift terbuka.
TING.
Dan seketika suara ramai pusat perbelanjaan langsung menyambutnya. Lampu toko. Musik mall. Aroma parfum mahal dan makanan bercampur jadi satu. Mata Evelyn langsung berbinar.
"...surga kapitalisme."
Gumam nya, tujuan pertamanya jelas. Toko perlengkapan sekolah.
Karena satu minggu lagi ia akan menjadi mahasiswa baru.
Dan walaupun hidupnya mungkin tidak akan panjang... minimal alat tulisnya harus lucu. Begitu masuk toko, jiwa impulsif Evelyn langsung aktif.
"WOAH PENA BENTUK KUCING."
Masuk keranjang.
"Notebooknya gemes banget..."
Masuk keranjang.
"TEMPAT PENSIL ROTI BAKAR?!"
Masuk lagi.
Beberapa menit kemudian, keranjang belanja Evelyn sudah penuh seperti habis panic buying. Padahal awalnya ia cuma berniat beli buku tulis.
Namun sekarang...
bahkan sticky note bentuk alpaca pun ikut terbeli. "Kalo mati setidaknya gue mati aesthetic kan?..."
Pegawai toko sampai beberapa kali melirik bingung melihat gadis itu mengambil barang tanpa melihat harga sedikit pun. Dan Evelyn benar-benar tidak peduli. Baginya sekarang angka nol di rekening itu sudah terlalu banyak untuk dipahami otak manusia biasa.
Sesampainya di kasir, total belanjanya membuat pegawai itu penuh seperti habis panic buying. Padahal awalnya ia cuma berniat beli buku tulis.
Namun sekarang...
bahkan sticky note bentuk alpaca pun ikut terbeli. "Kalo mati setidaknya gue mati aesthetic kan?..."
Pegawai toko sampai beberapa kali melirik bingung melihat gadis itu mengambil barang tanpa melihat harga sedikit pun. Dan Evelyn benar-benar tidak peduli. Baginya sekarang angka nol di rekening itu sudah terlalu banyak untuk dipahami otak manusia biasa.
Sesampainya di kasir, total belanjanya membuat pegawai itu penuh seperti habis panic buying. Padahal awalnya ia cuma berniat beli buku tulis.
Namun sekarang...
bahkan sticky note bentuk alpaca pun ikut terbeli. "Kalo mati setidaknya gue mati aesthetic kan?..."
Pegawai toko sampai beberapa kali melirik bingung melihat gadis itu mengambil barang tanpa melihat harga sedikit pun. Dan Evelyn benar-benar tidak peduli. Baginya sekarang angka nol di rekening itu sudah terlalu banyak untuk dipahami otak manusia biasa.
Sesampainya di kasir, total belanjanya membuat pegawai itu sempat diam sepersekian detik.
Namun Evelyn hanya
menyodorkan kartu hitamnya santai. "Bisa dikirim ke alamat rumah saya aja?"
"Ta-tentu nona." jawab kasir sedikit kaget.
Evelyn tersenyum kecil di balik masker. "Thank youu~'
Setelah selesai, ia lanjut berjalan mengelilingi mall.
Tujuan berikutnya: toko pakaian. Padahal isi lemari di mansion saja mungkin sudah cukup untuk membuka butik kecil.
Namun masalahnya... selera
Evelyn Noire dan Evelyn Adreena benar-benar berbeda.
Pakaian Evelyn Adreena terlalu rapi. Terlalu anggun.
Terlalu "anak konglomerat baik-baik". Sedangkan Evelyn Noire... lebih suka pakaian nyaman yang bisa dipakai rebahan sambil makan mie. Jadilah satu jam berikutnya dihabiskan untuk belanja lagi.
Hoodie.
Sweater.
Celana oversized.
Sneakers.
Topi lucu.
Dan beberapa pakaian hitam yang menurutnya "vibes tokoh utama thriller". Setelah semua selesai dan kembali dikirim ke mansion akhirnya Evelyn sadar satu hal penting.
"...gue lapar lagi." Ia langsung menuju area makanan. Mall itu cukup ramai, namun tidak terlalu padat. Setelah berkeliling sebentar, Evelyn memilih sebuah restoran yang antreannya tidak terlalu panjang.
"Cocok. Gue males nunggu." Di depannya hanya ada tiga orang. Evelyn memainkan ponselnya sambil menunggu giliran.
Namun saat tinggal satu orang lagi sebelum dirinya- ia menyadari sesuatu. Pria tinggi di depannya tampak kebingungan. Pria itu memakai hoodie hitam, masker, dan topi yang menutupi sebagian wajahnya.
Posturnya tinggi.
Bahunya lebar.
Dan entah kenapa auranya terasa dingin. Pria itu terlihat sedang mencari sesuatu di saku jaketnya. Lalu di celana. Lalu diam sebentar.
Seperti baru sadar akan sesuatu. Kasir mulai tampak canggung. "Maaf kak... pembayarannya?"
Pria itu terdiam. Dan untuk sesaat... Evelyn bisa melihat jelas matanya di balik bayangan topi itu. Gelap. Tenang. Namun entah kenapa terasa tajam.
Sebelum suasana jadi makin awkward-
Evelyn maju selangkah.
"Saya sekalian aja."
Kasir langsung menoleh ke Arab Evelyn. "eh?"
Evelyn sudah mengeluarkan kartunya santai. “Gabung aja sama punya saya."
Pria itu sedikit menoleh ke arahnya. Tatapannya terlihat sedikit terkejut. Mungkin tidak menyangka akan dibantu orang asing.
Namun Evelyn hanya melambaikan tangan santai ke arah pria itu. "Its okay- sama-sama."
Ia bahkan membuat gesture jempol penuh percaya diri.
"Sedekah memperlancar hidup."
Kasir segera memproses pembayaran sementara pria itu masih diam memperhatikan Evelyn. Entah kenapa... tatapan itu terasa aneh. Bukan marah. Bukan bingung. Melainkan seperti sedang mengamati sesuatu. Namun Evelyn yang oblivious malah langsung sibuk melihat menu.
"Hmm... saya mau paket ini..."
"Yang ini juga..."
"Oiya tambah dessert."
Kasir sampai berkedip melihat jumlah pesanannya.
Sedangkan pria di sampingnya masih berdiri diam. Beberapa detik kemudian, pria itu akhirnya bicara pelan.
"...terima kasih."
Suaranya rendah. Tenang.
Dan entah kenapa membuat bulu kuduk sedikit meremang.
Namun Evelyn hanya mengangkat tangan tanpa menoleh. "Hehe santai bang.
Semoga dompetnya cepet ketemu." ucap Evelyn santai.
Pria itu terdiam beberapa saat sebelum akhirnya pergi membawa pesanan makanannya.
curang tauuu😒😒