NovelToon NovelToon
RNG Absolut: Dari Pecundang Jadi Legenda

RNG Absolut: Dari Pecundang Jadi Legenda

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Anime / Game / Slice of Life
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: webnakama

Kurosawa Kaito adalah pria paling sial di seluruh Jepang bukan kiasan, itu fakta yang bisa dibuktikan lewat statistik. Payung selalu ketinggalan pas hujan deras, promosi kerja direbut orang lain di detik terakhir, bahkan mesin ATM pernah menelan kartunya di hari gajian.

Semua berubah saat sahabatnya memaksanya mencoba Aeon Requiem, VRMMORPG full-dive terbaru yang sedang jadi fenomena dunia. Saat membuat karakter, Kaito yang selama ini terlalu sial untuk berharap apa pun asal memasukkan seluruh poin stat awal ke satu parameter yang paling sering diabaikan pemain lain: Luck (Keberuntungan).

Yang tidak ia sangka: sistem game ini menghitung keberuntungan bukan sebagai angka kosmetik, tapi sebagai variabel nyata yang memengaruhi drop rate, critical hit, event tersembunyi, bahkan takdir NPC. Seorang pemain yang di dunia nyata tidak pernah menang undian apa pun, kini menjadi satu-satunya orang yang ditakdirkan untuk selalu beruntung di dunia yang bukan dunia nyata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon webnakama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 31 — Penjaga Keseimbangan

Mereka berlima berangkat ke lembah timur laut akhir minggu itu, kali ini nggak cuma Kaito, Rin, dan Souma kayak biasanya, tapi Mei sama Amagi juga ikut, sepakat kalo apa pun yang bakal mereka denger di sana, semuanya perlu tau bareng-bareng.

"Aku nggak pernah ke sini sebelumnya, serem juga ya suasananya." gumam Mei sambil natap sekitar lembah yang masih diselimutin kabut tipis,

"Lo bakal terbiasa, walau jujur aja gue juga masih ngerasa merinding tiap kali ke sini." kata Souma.

Perjalanan ke sana kerasa lebih tegang dari biasanya, obrolan ringan yang biasa mengalir natural sekarang digantiin sama keheningan yang cuma sesekali dipecah pertanyaan-pertanyaan kecil soal apa yang mungkin bakal mereka temuin. Amagi jalan sambil terus ngecek catatannya, kayak nyoba nyiapin segala kemungkinan pertanyaan yang mau dia ajuin begitu ketemu si entitas.

Begitu mereka nyampe di ruangan paling dalam kuil, gerbang batu itu udah menyala terang bahkan sebelum Kaito nyentuhnya, cahaya birunya berkedip nggak stabil, kadang terang kadang redup, kayak detak jantung yang nggak beraturan.

Resonansi terdeteksi: 94% (Tidak Stabil)

"Nggak stabil?" gumam Rin, natap angka itu dengan alis berkerut.

Kaito ngelangkah maju, ngulurin tangannya ke gerbang, dan begitu jarinya nyentuh permukaan batu, cahaya itu langsung menyala penuh, dengung rendah yang khas bergema di seluruh ruangan.

"Kau kembali, dan kau membawa kekhawatiran yang besar." suara itu muncul lagi, sama tenangnya kayak sebelumnya, tapi kali ini ada nada yang kerasa kayak lega.

"Kita mau tanya soal ketidakseimbangan yang lagi kejadian, orang-orang di luar sana kena efek buruk, dan waktunya... waktunya kejadian pas gue lagi bahagia." kata Kaito langsung ke inti, suaranya gemeteran tapi mantap.

"Aku tahu, dan aku mengerti kenapa itu menakutkanmu." kata suara itu.

"Jadi itu bener, kebahagiaan gue nyakitin orang lain?" tanya Kaito.

"Tidak sesederhana itu, biarkan aku jelaskan. Bayangkan keseimbangan ini seperti bendungan yang menahan air dalam jumlah sangat besar. Selama bertahun-tahun air itu tertahan, tidak mengalir sama sekali. Ketika kau mulai membuka jalannya sedikit demi sedikit, air itu mulai mengalir, tapi aliran besar yang tiba-tiba, seperti yang terjadi malam itu menciptakan riak yang menyebar jauh lebih cepat daripada yang seharusnya." jawab suara itu.

"Jadi... ini cuma efek sementara?" tanya Rin, ikut nyeletuk.

"Ya dan tidak, efeknya nyata, dan aku tidak akan meremehkan penderitaan yang dialami orang-orang itu. Tapi ini bukan tanda bahwa kebahagiaanmu salah, Kaito. Ini tanda bahwa proses ini belum selesai. Sebuah bendungan yang setengah terbuka jauh lebih berbahaya daripada bendungan yang tertutup rapat, atau yang terbuka penuh." kata suara itu.

Kaito ngerasa dadanya berat. "Jadi gue harus berenti? Berenti bahagia, berenti deket sama Rin, biar semuanya balik stabil?"

"Tidak, itu justru akan memperburuk keadaan. Menahan air yang sudah mulai mengalir hanya akan membuat tekanannya semakin besar, dan ketika akhirnya pecah, kerusakannya akan jauh lebih parah. Satu-satunya jalan yang benar adalah menyelesaikan apa yang sudah kau mulai, membuka gerbang ini sepenuhnya." jawab suara itu, tegas, buat pertama kalinya kedengeran hampir kayak marah.

"Gimana caranya? Kita udah di 94%. Apa lagi yang kurang?" tanya Kaito.

Suara itu diem sejenak, kayak lagi mempertimbangkan gimana cara ngejelasinnya.

"Resonansi yang tersisa tidak bisa dicapai lewat kebahagiaan pribadi saja. Ia membutuhkan sesuatu yang lebih besar, pengakuan dan kepercayaan dari banyak orang, bukan hanya dari mereka yang kau kasihi secara personal. Kau harus membiarkan dunia tahu kebenaran tentang apa yang kau bawa, dan membiarkan mereka memilih untuk percaya, bukan hanya kagum atau curiga dari kejauhan."

Amagi yang dari tadi diem nyatet, akhirnya nyeletuk. "Maksudnya, Kaito harus... buka identitas soal LUK-nya secara terbuka? Ke publik?"

"Bukan sekadar membuka, tapi mengajak. Ketika cukup banyak orang memahami dan mempercayai keseimbangan ini, bukan menakutinya, resonansi akan mencapai titik penuh. Ini bukan tentang kekuatan Kaito semata, tapi tentang bagaimana dunia di sekitarnya menerima kebenaran itu."

Kaito ngerasa beban baru numpuk di pundaknya. Sejauh ini dia selalu coba jaga rahasia soal LUK-nya, takut sama reaksi orang-orang, takut disalahgunain kayak yang udah kejadian pas investigasi dulu. Sekarang dia diminta buka semuanya secara terbuka?

"Itu... berisiko banget, kalo Kaito buka semuanya ke publik, bukan cuma reputasi dia yang taruhannya. Bisa aja malah jadi bahan eksploitasi, atau lebih parah, bahan buat orang-orang yang nggak suka sama dia buat nyerang balik." gumam Rin, ngerti kekhawatiran Kaito.

"Belum lagi soal keamanan, kalo publik tau seberapa besar pengaruh Kaito ke sistem, bisa aja ada pihak yang nyoba manfaatin dia secara paksa, bukan cuma minta baik-baik." tambah Amagi.

"Tapi kalo nggak dibuka, kita bakal terus stuck di titik yang sama kan? Nggak ada progress ke seratus persen." kata Souma.

Kaito ngerasa kepalanya mumet mikirin semua kemungkinan itu sekaligus.

"Aku tahu, dan aku tidak akan memaksamu melakukannya sekarang, atau dengan cara tertentu. Tapi aku ingin kau tahu, cepat atau lambat, jalan menuju keseimbangan penuh akan melewati jalan itu." kata suara itu.

"Ada yang lain yang perlu kita tau? Soal siapa yang mungkin nggak mau keseimbangan ini pulih?" tanya Kaito.

Hening sejenak, cukup lama sampe Kaito ngerasa dia mungkin nanya sesuatu yang terlalu jauh.

"Ada, tidak semua orang yang tahu tentang sistem ini menginginkan pemulihan penuh. Beberapa melihat ketidakseimbangan sebagai sesuatu yang bisa dikendalikan, dimanfaatkan, alih-alih diperbaiki. Berhati-hatilah dengan siapa kau percayai informasi ini, terutama mereka yang punya akses lebih dalam ke sistem dibanding pemain biasa." akhirnya suara itu jawab, nadanya lebih hati-hati dari sebelumnya.

Kaito inget Kirishima, inget nada suaranya yang terlalu tenang, terlalu terkontrol buat sekadar perancang sistem yang penasaran.

"Kau ngomongin soal Kirishima?" tanya Kaito, hati-hati.

Suara itu nggak langsung jawab, cahaya birunya berkedip sekali, dua kali, kayak lagi mempertimbangkan sesuatu.

"Aku tidak bisa memberimu nama secara pasti, tapi aku menyarankan kewaspadaan. Untuk sekarang, itu semua yang bisa kukatakan." katanya.

Cahaya biru itu perlahan meredup, dengungnya berhenti, dan ruangan kembali diam kayak biasa. Angka resonansi yang terpampang di panel terakhir Kaito lihat masih di 94%, tapi indikator "Tidak Stabil" udah ilang, digantiin sama tanda diam yang lebih tenang.

Mereka berlima berdiri diem cukup lama, ngebiarin beratnya semua informasi itu ngendep.

"Jadi, rencananya gimana? Kita beneran mau buka semuanya ke publik?"  kata Souma coba mecah keheningan,

"Gue nggak tau, itu keputusan besar. Gue butuh mikirin ini matang-matang." kata Kaito jujur.

"Apa pun keputusan lo, kita di sini buat dukung lo. Tapi lo bener, ini bukan keputusan yang bisa diambil buru-buru." kata Rin sambil ngegenggam tangannya.

Amagi ngangguk. "Kalo emang mau ke arah itu, kita perlu strategi yang matang. Bukan cuma buka aja tanpa rencana. Yang kayak gitu bisa jadi bumerang."

Mei yang dari tadi diem, natap Kaito dengan senyum kecil yang menenangkan. "Apa pun jalannya, aku percaya sama lo, Kaito."

Kaito natap teman-temannya satu-satu, ngerasa berat sekaligus lega di saat bersamaan. Jalan di depannya masih penuh ketidakpastian, tapi buat pertama kalinya sejak semua kekhawatiran ini muncul, dia ngerasa punya arah yang lebih jelas, walau arah itu sendiri kerasa menakutkan.

Mereka jalan keluar dari kuil itu bareng-bareng, langit senja di luar mulai berubah warna, dan Kaito, di tengah semua ketidakpastian yang masih ngambang di kepalanya, ngerasa satu hal dengan yakin, apa pun yang bakal dia putusin nanti, dia nggak bakal ngadepinnya sendirian.

Di perjalanan pulang, Rin jalan di sampingnya, diem cukup lama sebelum akhirnya nyeletuk pelan. "Lo tau, kalo lo emang mutusin buat buka semuanya suatu saat nanti, gue bakal berdiri di samping lo. Nggak peduli apa reaksi orang-orang."

"Gue tau, itu yang bikin gue nggak terlalu takut ngadepin semua ini." kata Kaito sambil senyum kecil.

Souma yang jalan beberapa langkah di depan, nengok ke belakang, nyengir walau matanya keliatan serius. "Kita tim, Kaito. Mau publik tau atau enggak, kita tetep di sini."

Mei ngangguk semangat, dan Amagi, walau nggak ngomong apa-apa, ngasih anggukan kecil yang keliatan jelas maksudnya sama.

Kaito ngerasa hangat ngeliat semua itu, campuran antara rasa takut soal masa depan dan rasa syukur karena dia nggak sendirian ngadepinnya.

Apa pun keputusan yang bakal dia ambil nanti, dia tau, dia punya orang-orang yang bakal tetep berdiri di sisinya, apa pun yang terjadi.

Langit di atas mereka udah berubah jadi ungu gelap, bintang-bintang mulai muncul satu-satu, seolah ikut menyaksikan janji tak terucap yang baru aja terbentuk di antara mereka berlima.

1
Zyren Vale
ikut meramaikan 🔥
Zyren Vale
kena kutukan nih
Zyren Vale
inti bumi kah
Tio Buki
Hadiah untukmu thor🙏🙏🙏🙏
Tio Buki
Semangat ya thor🙏👍💪
Tio Buki
Lanjut
Tio Buki
Ikut meramaikan ya thor🙏🙏🙏🙏
Tio Buki
Mampir gan👍👍👍👍
Tio Buki
Hadiah untukmu thor🙏🙏🙏🙏
Tio Buki
Ngak tau saya, yang hanya buang buang waktu saja
Tio Buki
Mungkin nama spesial
Tio Buki
Apa itu
Tio Buki
Tidak mengapa
Tio Buki
Bumi ya
Tio Buki
Siapakah dia
Tio Buki
Wow
Tio Buki
Seberapa jau kah
the virtuso
saling support yah thor👍
Giooooo
Keren ceritanya thorku 💪
Author Melda
salah suport kak mampir yah ke novel ak KKN DESA MATI👍
Author Melda: terimakasih kak👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!